Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bab 60


__ADS_3

"Kamu kenapa? apa kamu ada masalah?" tanya Reynaldi pada Gavin dengan kerutan di keningnya. Dia merasa sikap Gavin belakangan ini, terlihat aneh seperti punya beban berat.


"Tidak ada apa-apa, Rey," sahut Gavin dengan berpura-pura serius memeriksa dokumen-dokumen di depannya.


"Kamu sama sekali buka pembohong yang baik, Vin . Aku tahu benar kalau kamu sedang ada masalah. Apalagi setelah kamu kembali dari luar tadi. Sekarang kamu ceritakan padaku, kali aja aku bisa membantumu,"


"Rey, apa yang harus aku lakukan sekarang?tadi aku ketemu dengan Maya, dan katanya dia hamil anakku,"


Reynaldi mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Hamil anakmu? kenapa bisa? kamu kan tidak pernah berhubungan. Atau jangan-jangan kamu dan dia tetap berhubungan di belakang Jelita?" kening Reynaldi naik ke atas, curiga.


"Tidak sama sekali! aku juga benar-benar bingung kenapa ini bisa terjadi,"sahut Gavin sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Vin, tolong kamu berbicara yang jelas. Jangan buat aku semakin bingung," desak Reynaldi.


Tiga minggu yang lalu


"Rey, hari ini kita ada pertemuan dengan dua klien di jam yang sama dan di tempat yang berbeda. Menurutku sebaiknya kamu yang ke Cafe Denis, aku ke hotel itu," Gavin memberikan usul, karena menurutnya hanya itulah cara yang efektif dan efisien.


"Kalau menurutmu itu baik, aku nurut aja," jawab Reynaldi.


"Ya udah, sebaiknya kita berangkat sekarang," pungkas Gavin seraya melangkah keluar dari ruangannya.


Sekitar 30 menit, Gavin akhirnya tiba di sebuah hotel yang merupakan hotel milik keluarga Permana. Pria itu terlihat berjalan dengan gagah dan langsung menuju restoran hotel itu.


Seorang pria yang memakai Jas terlihat melambaikan tangan ke arahnya, dan Gavin membalas lambaian tangan pria itu.


"Sudah lama, Pak?" sapa Gavin berbasa-basi sembari menjabat tangan pria itu.


"Belum terlalu lama, Pak Gavin. Silakan duduk! Pak Gavin mau memesan apa?" tanya pria itu dengan sopan.


"Oh samakan aja dengan, Bapak,"sahut Gavin sembari mendaratkan tubuhnya duduk di kursi.


Sembari menunggu pesanan datang, mereka berduapun mulai membicarakan kerjasama.

__ADS_1


Setelah menghabiskan waktu lebih kurang satu jam dan sudah mendapatkan kesepakatan, pria yang merupakan rekan klien, Gavin meminta izin untuk pulang, sementara Gavin ingin langsung makan siang di hotel itu.


"Hai, Gavin! lama tidak bertemu!" tiba-tiba Maya muncul dan langsung duduk di samping Gavin.


"Sedang apa kamu di sini? tolong jangan ganggu saya, kalau kamu tidak mau aku permalukan," ucap Gavin ketus sembari menatap sinis pada Maya.


"Tenang, aku tidak ada niat untuk mengganggumu. Aku cuma ingin mengobrol santai denganmu," sahut Maya, tidak merasa tersinggung dengan sikap Gavin.


"Sayangnya aku tidak ingin mengobrol denganmu,"sahut Gavin masih dengan nada yang sangat dingin.


"Hayolah, Gavin. Kamu tidak perlulah munafik, kamu sebenarnya masih memiliki rasa untukku kan? aku sudah tahu alasan kamu mau menikah dengan Jelita. Kamu hanya tidak mau harta kekayaan orangtuamu jatuh ke tangannya kan?"ujar Maya dengan nada yang sangat yakin.


Gavin menautkan kedua alisnya dengan tajam dan menatap Maya dengan tatapan menyelidik. "Darimana kamu tahu itu?"


"Kamu tidak perlu tahu. Yang jelas aku benar kan?" Maya tersenyum manis.


"Aku tidak perlu untuk menjawabnya. Sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini! aku di sini mau makan siang, dan aku tidak mau makan siangku terganggu dengan wanita seperti kamu."


"Kalau aku tidak mau pergi?" tantang Maya.


"Baiklah, aku akan pergi," Maya berdiri dengan muka masam, kemudian berjalan menjauh dari Gavin.


Gavin mengembuskan napas lega, dan memutuskan untuk memakan makanannya. Akan tetapi baru empat suap, kepala Gavin tiba-tiba pusing dan pria itu langsung tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Seperti itu ceritanya Rey. Aku bingung bangun-bangun aku ada di dalam kamar dalam keadaan polos, bersama dengan Maya. Dan sialnya, dia mengabadikan semua dalam photo dan video," Gavin menyelesaikan ceritanya.


"Kenapa kamu baru cerita sekarang goblok!" maki Reynaldi yang sekarang berperan sebagai sahabat bukan sebagai asisten.


"Saat itu aku sangat bingung, Rey. Aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku takut kalau Jelita tahu, dia akan meninggalkanku,"


"Goblok! kamu itu sudah dijebak, Vin. Seandainya kamu memberitahukannya setelah kejadian, kita bisa langsung melihat bukti rekaman CCTV. di situ bisa dilihat jelas siapa yang membawa kamu ke dalam kamar. Kalau sekarang, itu sudah sangat susah, tahu nggak. Karena rekaman CCTV langsung terhapus otomatis, kalau sudah lama," jelas Reynaldi dengan nada yang berapi-api.


Gavin tidak membalas makian Reynaldi sama sekali, karena memang apa yang baru dikatakan sahabatnya itu benar.

__ADS_1


"Jadi apa dia menuntutmu untuk menikahinya?" sambung Reynaldi.


"Iya, tadi aku bertemu dengannya, dan dia memintaku untuk menikahinya. Kalau tidak dia akan menyebarkan semua bukti yang dia punya pada publik," tutur Gavin dengan nada suara lemah.


Reynaldi menggaruk-garuk kepalanya yang paling gatal sama sekali.


"Tunggu, apa kamu percaya anak yang di rahimnya itu, anak kamu?"


"Aku tidak percaya sama sekali. Karena aku merasa tidak pernah melakukan hal itu dengannya," sahut Gavin, tegas.


"Kamu tahu, dia juga mengatakan kalau dia juga dijebak. Dan kamu tahu siapa yang dia curigai telah menjebaknya?" sambung Gavin kembali dan Reynaldi menggelengkan kepalanya.


"Dia curiga dengan Sari. Ternyata selama ini, Sari bekerja di rumahnya, dan Sari mengatakan padanya kalau dia sangat dendam dengan Jelita. Jadi satu-satunya cara untuk menyingkirkan Jelita, dia menjebak Maya agar tidur denganku, sehingga otomatis Jelita marah dan meninggalkanku dan aku mau tidak mau harus menikahi Maya," jelas Gavin panjang lebar.


"Dan kamu percaya begitu saja? bisa jadi mereka berdua bekerjasama,"


"Tidak mungkin! kamu tahu, sekarang justru Sari dipenjarakan olehnya, dengan tuduhan menjebaknya,"


"Di Penjara? apa dia memiliki bukti untuk memenjarakan Sari?" Reynaldi mengrenyitkan keningnya.


"Ada, bukti rekaman suaranya yang mengatakan kalau dia ingin membalas dendam pada Jelita, bagaimanapun caranya," ucap Gavin.


"Arghhh! aku sekarang sangat bingung Rey. Aku tidak mau Jelita meninggalkanku. Lebih baik aku kehilangan harta daripada harus kehilangannya," Gavin menggusak rambutnya dengan kasar.


"Itu bagimu? bagaimana dengan Om Ganendra dan tante Melinda? mereka pasti akan susah menerima kalau usaha keluarga turun temurun hancur begitu saja. Makanya kalau ada masalah itu cerita. Pantas saja sikap kamu belakangan ini terlihat aneh,"


"Rey, sekarang aku tidak butuh ocehanmu, yang aku butuhkan solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Entah kenapa aku yakin kalau yang di dalam rahim Maya itu bukan anakku." Gavin benar-benar terlihat frustasi.


Reynaldi diam untuk beberapa saat, mencoba memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang menimpa Gavin.


"Baiklah, Vin! sekarang kamu tenang dulu. Aku yakin kita akan bisa menyelesaikan masalah ini. Aku akan selalu ada untukmu.


Di saat Reynaldi selesai bicara tiba-tiba handphone Gavin berbunyi.


Tbc.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya? apa Gavin dan Reynaldi akan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah Gavin?


__ADS_2