
Gavin berjalan sembari menggandeng tangan Jelita, memasuki ruangan sidang, di mana hari ini adalah sidang keputusan, penetapan hukuman untuk Maya dan mamanya. Di belakang mereka berdua tentu saja sepasang calon pengantin yang tidak lain, Reynaldi dan Nayla juga ikut serta, demikian juga dengan Denis dan Bella.
Acara sidang berjalan dengan cukup lancar, karena memang semua bukti sudah merujuk kalau Maya dan mamanya bersalah. Kedua wanita ular itu, akhirnya dijatuhi pasal berlapis, mulai dari melakukan aborsi ilegal, penipuan, dan lain sebagainya. Total hukuman yang diberikan kepada kedua wanita, ibu dan anak itu 15 tahun penjara.
Tok ... tok ... tok
palu yang diketuk ke meja oleh hakim, pertanda kalau hukuman itu sudah sah.
"Tidak! aku tidak terima dihukum segitu lama! asal kalian tahu, aku ini calon istri dari Gavin Melviano!" Maya mulai berteriak-teriak, seperti kesetanan.
"Kalian tidak tahu siapa Gavin Melviano ya? dia putra dari pemilik Sky group. Jadi sebelum dia marah, kalian lepaskan aku!" Maya semakin tidak terkontrol. Ambisinya untuk menjadi nyoya Gavin benar-benar membuat dia seperti kehilangan arah.
Tiba-tiba, Maya melihat ke arah Gavin dan Jelita. Wanita itu hendak berlari menghambur ke arah Gavin dan Jelita, dengan tujuan ingin mencelakai Jelita, yang dianggapnya sebagai penghalang dirinya untuk menikah dengan Gavin. Namun, para polisi yang berada di lokasi itu, sudah bisa membaca gelagat Maya, mereka langsung memegang tangan wanita itu dan membawanya ke penjara.
"Lepaskan aku! aku mau bunuh wanita itu! dia telah merebut calon suamiku!" Maya berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya kalah dengan tenaga dua orang polisi yang memeganginya.
Saat di dalam mobil yang membawanya ke penjara wanita, Maya tiba-tiba tertawa-tawa, lalu tiba-tiba menangis.
"Gavin itu calon suamiku. Asal kalian tahu, sebentar lagi aku akan jadi orang kaya," Maya mulai meracau, hingga membuat polisi-polisi itu mengreyitkan kening dan akhirnya geleng-geleng kepala.
Sampai dimasukkan ke dalam sel, Maya masih saja tetap meracau, kalau dia itu calon istri Gavin dan akan menjadi orang kaya. Wanita itu juga meracau kalau dia akan shopping apapun yang dia mau, traveling ke negara manapun yang dia mau. Para wanita yang satu sel dengannya, akhirnya menyebut dia gila. Sementara itu, mamanya hanya bisa menundukkan kepala malu melihat anaknya yang memang sudah terlihat seperti kurang waras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tidak terasa kalau hari yang sangat dinantikan oleh Reynaldi dan Nayla sudah tiba, dimana mereka akan dipersatukan dalam ikatan suami istri.
Malam ini adalah malam resepsi pernikahan Reynaldi dan Nayla. Keduanya tampak tampan dan cantik dalam balutan baju pengantin. Senyum lebar selalu bertengger indah, di bibir masing-masing. Reynaldi bahkan tidak ragu-ragu menunjukkan kemesraannya dengan mengecup tangan dan pipi Nayla wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Sayang, udah ah! malu tahu, dilihatin banyak orang," ucap Nayla dengan pipi yang memerah. Sifat galaknya, menguap entah kemana perginya.
__ADS_1
"Biarin aja! kamu kan sudah jadi istriku. Asal kamu tahu, kamu itu cantik sekali malam ini. Aku jadi tidak sabar ingin membawa kamu dari sini secepatnya," bisik Reynaldi yang membuat pikiran Nayla seketika traveling ke mana-mana.
"Sabar, tunggu kami semua pulang dulu," celetuk Gavin yang tiba-tiba sudah muncul bersama dengan Jelita. Di belakang sepasang suami istri itu, tampak Denis dan Bella yang tersenyum meledek ke arah Rey dan Nayla.
"Tahu tuh, nggak sabaran amat," Denis buka suara menimpali ucapan Gavin.
"Kamu aja dulu gak sabaran juga. Sampai belum menikahpun, udah kamu embat duluan. Lebih nggak sabaran mana coba, aku atau kamu," sindir Reynaldi.
"Sialan kamu! itu beda ceritanya, goblok! hari itu aku kan tidak sadar," sahut Denis, sembari meninju pelan pundak Reynaldi.
"Tapi kamu ingat rasanya kan?" Reynaldi tidak mau kalah.
" Iya dong!"sahut Denis yang langsung mendapat cubitan keras di pinggangnya oleh sang istri.
"Kalian ke sini sebenarnya mau apa sih? mau ngucapin selamat atau ngomongin masalah ranjang?" ucap Bella ketus.
"Jangan marah gitu dong, Sayang! kami kan hanya bercanda," ucap Denis sembari mengecup pipi sang istri.
"Tau tuh, kalau mau ngucapin selamat, ya ucapin aja. Jangan jadinya lari ke mana-mana," Reynaldi menimpali ucapan Bella, seakan-akan bukan dirinya yang memulai pembicaraan itu.
"Kamu duluan, Sayang yang memulai," ucap Nayla dengan raut wajah kesal.
"Kami langsung pulang aja ya, Rey, Nay, bye!" Gavin meraih tangan Jelita, dan berlalu dari depan Reynaldi dan Nayla.
"Aku juga!" Denis tidak mau ketinggalan. Pria itu juga meraih tangan Bella dan berlalu dari hadapan pengantin baru itu.
"Hei, kalian gak jadi ngucapin selamat nih," pekik Reynaldi, sebelum kedua sahabatnya itu menjauh.
"Tidak jadi! kamu songong soalnya!" jawab Gavin yang disambut anggukkan kepala oleh Denis, menyetujui ucapan Gavin.
"Sialan kalian berdua!" umpat Reynaldi yang disambut tawa dari Gavin dan Denis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jantung Nayla semakin berdetak kencang, saat dia dan Reynaldi kamar yang hendak mereka tempati malam ini sudah semakin dekat.
__ADS_1
Reynaldi hanya tersenyum tipis, tahu kalau saat ini Nayla sedang sangat gugup, terbukti dari telapak tangan wanita itu yang terasa sangat dingin.
Nayla semakin bertambah tegang ketika masuk ke dalam kamar setelah pegawai hotel itu membukakan pintu untuk mereka. Sementara itu, Reynaldi sedang berbicara sejenak dengan pegawai hotel itu.
"Kamu kenapa, Sayang?" Nayla terjengkit kaget karena tiba-tiba Reynaldi sudah memeluknya dari belakang.
"Ti-tidak ada apa-apa!" sahut Nayla, gugup. Entah kenapa, walaupun dia dan Reynaldi sudah sering bertemu, tapi setelah sah jadi suami istri begini, wanita itu menjadi merasa canggung, apalagi ketika memikirkan apa yang akan mereka lakukan malam ini.
Reynaldi, memutar tubuh Nayla dan merengkuh pinggang Istrinya itu. "Apa kamu takut?" tanya Reynaldi dengan tatapan lembut.
"Ti-tidak!" sahut Nayla
"Kalau kamu tidak takut, kenapa kamu bisa berkeringat seperti ini? padahal suhu di kamar ini sangat dingin,"
"Emm, a-aku hanya gugup karena tidak terbiasa. Aku __"
"Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan pernah mau memaksamu untuk melakukannya sekarang jika kamu memang tidak mau. Sekarang sebaiknya, kamu mandi dulu ya, nanti kita gantian. Sini biar aku buka resleting gaunnya," Reynaldi membuka resleting di belakang gaun Nayla, hingga memperlihatkan kulit punggung wanita itu yang putih mulus. Reynaldi meneguk ludahnya sendiri berusaha untuk menahan diri untuk tidak menerkam Nayla.
Dengan pipi yang memerah, Nayla langsung melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Reynaldi yang hanya tersenyum menatap tubuh sang istri dari belakang. Setelah Nayla selesai mandi, kini gantian dengan Reynaldi.
Reynaldi keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu langsung naik ke atas ranjang untuk bergabung dengan Nayla yang sudah lebih dulu berbaring di atas kasur.
Reynaldi menatap wajah istrinya dan menyentuh bibir yang biasanya ngomel-ngomel itu. Kemudian, pria itu mendekat dan mengecilkan benda kenyal itu. Merasa tidak ada perlawanan, Reynaldi memberanikan diri untuk melakukan lebih, yaitu melu*mat dengan sangat lembut, hingga membuat Nayla terbuai dan berusaha untuk membalas ciuman yang diberikan oleh Reynaldi.
Reynaldi melepaskan ciumannya, ketika sudah mulai merasa sesak untuk bernapas. Baik Reynaldi maupun Nayla, sama-sama meraup oksigen untuk mengisi rongga paru-paru mereka yang sudah kosong.
"Sekarang, kamu tidurlah! kamu seperti sangat lelah hari ini. Kita bisa melakukannya kalau kamu sudah siap," ucap Reynaldi, yang sebenarnya sangat bertentangan dengan keinginan hatinya.
"Apa kamu sangat menginginkannya?" bukannya langsung memejamkan matanya, Nayla justru balik bertanya.
"Bohong kalau aku bilang tidak menginginkannya, tapi kembali lagi, aku tidakau melakukannya, jika kamu juga tidak menginginkannya," jawab Reynaldi, yang tetap dibarengi dengan senyum di bibirnya.
"Kamu boleh melakukannya sekarang, jika kamu memang menginginkannya, karena mau sekarang, besok atau kapanpun itu, hal ini pasti juga akan terjadi," ucap Nayla, yang membuat wajah Reynaldi seketika berbinar bahagia.
" Serius?" Reynaldi memastikan, dan Nayla menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
__ADS_1
Reynaldi bersorak gembira, "Tentu saja aku menginginkannya, bukan hanya menginginkan, tapi sangat, sangat menginginkannya," ucap Reynaldi sembari melompat ke atas tubuh Nayla.
Tbc.