Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Babak belur


__ADS_3

Gavin dan Jelita kini sudah tiba di apartemen mereka. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23 malam waktu Indonesia Barat.


Gavin, terlihat menghitung mundur 11 jam dari jam 23 malam.


"Emm, di Canada masih jam 12 siang, berarti Denis pasti terjaga. Sebaiknya aku hubungi dia dulu," batin Gavin sembari merogoh ponselnya dari dalam saku.


"Sayang kamu masuk ke dalam kamar lebih dulu ya, aku mau menghubungi Denis dulu. Aku mau tahu sudah sampai sejauh mana perjuangannya. Apa dia sudah berhasil meluluhkan hati Denis atau tidak," ucap Gavin sembari mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Hmm, tapi aku ingin tahu juga, Sayang," wajah Jelita terlihat memelas.


"Ini sudah larut malam, kamu sudah terlihat lelah. Kamu tenang saja, nanti aku akan kasih tahu kamu apa yang kami bicarakan," bujuk Gavin pada Jelita yang belakangan ini tingkat kemanjaannya meningkat 99 derajat, dari yang biasanya. Wanita itu, terlihat sangat ingin dekat dengannya terus menerus. Namun hal itu tentu saja tidak membuat Gavin merasa risih, justru dia sangat suka dengan sikap manja Istrinya. Walaupun di saat-saat tertentu, Gavin merasa sedikit kerepotan dengan sikap Istrinya itu.


"Ya, udah deh! aku masuk dulu ya, Sayang. Ingat nanti kalau sudah selesai bicara dengan kak Denis, kamu langsung menyusul aku ke kamar,"


"Iya, Sayang!" kembali Gavin memberikan kecupan singkat di puncak kepala istrinya itu.


Setelah Jelita masuk ke dalam kamar, Gavin langsung melakukan panggilan dengan Denis, sesuai dengan yang dikatakannya tadi pada sang istri. Benar saja, baru terhubung beberapa detik, sudah terdengar suara Denis dari ujung telepon.


"Bagaimana, Den, apa kamu sudah berhasil?" terdengar helaan napas berat dari ujung sana, dan dari apa yang didengarnya, tanpa dikatakan sekalipun, Gavin sudah bisa menebak kalau Denis masih belum berhasil.


"Aku nggak tahu lagi, Vin bagaimana caranya untuk meluluhkan hatinya. Aku sepertinya ingin menyerah, tapi entah kenapa ketika aku membayangkan dia dengan laki-laki lain, aku tidak rela dan hatiku terasa sakit," ucap Denis dengan lirih.


"Itu berarti kamu sudah mencintanya," ucap Gavin, yakin sekaligus merasa lega. Entah kenapa walaupun dia tahu Jelita kini mencintanya, masih ada rasa takut yang timbul di hati Gavin, seandainya Denis berniat untuk merebut Jelita darinya.


"Apa menurutmu begitu?" terdengar keraguan dari nada suara Denis.


"Ya, aku sangat yakin, karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku mencoba membayangkan Maya, aku merasa kalau hatiku tidak bergetar lagi. Aku berharap kamu juga begitu,"


"Kamu benar,Vin. Dua Minggu ini, aku sama sekali tidak pernah kepikiran Jelita lagi, justru wajah wanita yang selalu datang ke pikiranku itu selalu wajah Bella," jawab Denis yang membuat Gavin mengembuskan napas lega.


"Jadi bagaimana? apa kamu mau menyerah?" tanya Gavin memastikan.


"Tentu saja tidak! aku akan tetap memperjuangkan cintanya. Tapi, sekarang aku benar-benar bingung, sudah terlalu lama aku meninggalkan Cafe,"

__ADS_1


"Kamu tenang saja, urusan Cafe beres. Aku sudah mengirimkan salah satu orang kepercayaanku untuk mengelola Cafemu untuk sementara, dan keuntungannya tetap masuk ke dalam rekening kamu. Yang penting sekarang kamu harus tetap semangat," ujar Gavin


"Wah, terima kasih, Vin! kamu memang yang terbaik!" ucap Denis, yang seketika merasa salah satu bebannya pergi.


"Denis, apa kamu mau mendengar saranku?" ucap Gavin tiba-tiba.


"Saran apa? kalau bagus, kenapa tidak?"


Gavin akhirnya memaparkan rencananya.


"Wah, aku rasa idemu bagus. Kenapa aku nggak kepikiran ya?" suara Denis terdengar bahagia dari ujung sana, sangat berbanding terbalik dengan nada suara di awal menjawab telepon.


"Ok lah, kamu lanjut berjuang ya, semoga berhasil. Teleponnya aku tutup dulu, aku sudah sangat lelah soalnya," Gavin memutuskan panggilan setelah Denis mengiyakan dari ujung sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gavin masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya masih terjaga dan sepertinya masih sedang menunggunya.


"Udah ya, Sayang?" tanya Jelita sambil memperhatikan Gavin yang sibuk melepaskan dasi dan arlojinya.


"Nungguin kamu," jawab Jelita dengan nada manja.


"Ya udah aku ke kamar mandi, bersih-bersih sebentar dan ganti pakaian dulu ya," Jelita menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Gavin keluar dari kamar mandi sudah mengganti pakaian dengan piyama tidurnya. Kemudian pria itu naik ke atas ranjang dan seperti biasa pria itu langsung memeluk Jelita dan mengelus-elus punggung wanita itu.


Napas Jelita kini sudah terdengar teratur, pertanda kalau wanita itu sudah terlelap.


"Cepat sekali tidurnya," batin Gavin sembari mengecup kening sang istri yang makin ke sini terlihat sangat cantik di matanya. Kalau bukan tahu kalau Istrinya itu lelah, ingin rasanya dia menerkam Istrinya itu.


Gavin kembali menatap wajah Jelita dengan tatapan yang sendu. Seakan ada kesalahan besar yang sudah dia perbuat sehingga menimbulkan perasaan takut akan kehilangan Istrinya itu.


"Maafkan aku, Sayang! aku harap kamu tidak akan pernah meninggalkanku dan tidak percaya apapun yang dikatakan orang tentangku, " bisik Gavin walaupun dia tahu kalau Jelita tidak akan mendengar ucapannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari di Canada kini sudah mulai beranjak meninggalkan cakrawala,dan memanggil rekannya bulan dan bintang untuk segera menggantikan tugasnya.


Jam kini sudah menunggu pukul 18.00 waktu Canada. Bella bingung melihat tidak ada tanda-tanda untuk memasak makan malam. Dia yang rencananya mau memasakpun bingung mau masak apa, karena tiba-tiba Kulkas kosong, dan tidak ada yang bisa untuk dimasak.


"Hmm, aku sudah lapar, aku sepertinya harus makan malam di luar. Kak Brian sama Kak Jessie tidak ada tanda-tanda juga keluar dari kamar," batin Bella sembari melirik ke arah kamar sepupunya itu.


"Mereka kenapa ya? apa mereka sedang bertengkar?" Bella kembali bermonolog.


"Ah, tidak mungkin! tadi mereka masih mesra-mesraan kok," sangkalnya kembali dalam hati.


"Ah, sebaiknya aku pergi aja," gumam Bella sembari masuk kembali ke dalam kamarnya, untuk mengambil tasnya. Kemudian wanita itu pun langsung pergi keluar.


Bella mengrenyitkan keningnya, saat melihat tidak ada mobil kakak sepupunya yang biasanya kalau jam segini masih terparkir di pekarangan.


"Kemana mobilnya? apa mereka pergi makan malam tanpa aku? apa mereka sudah mulai merasa kalau aku ini beban buat mereka?" batin Bella dengan raut wajah yang berubah sedih. Entah kenapa, belakangan ini dia sangat sensitif.


"Sebaiknya besok aku harus sudah menyewa apartemen. Aku rasa mereka malam ini pasti sengaja meninggalkanku tanpa ada makanan sedikitpun. Ini pasti cara mereka untuk mengusirku secara halus,"


Bella akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar dari pekarangan rumah, untuk mencari taksi.


Baru saja wanita itu keluar dari pekarangan, wanita itu dikagetkan dengan pemandangan yang mencekam. Dia melihat Denis pria yang dirindukannya sedang dipukuli oleh beberapa pria. Entah apa yang terjadi Bella tidak tahu.


"Hei, jangan pukul dia! nanti dia bisa mati!(dalam bahasa Inggris)" teriak Bella sembari berusaha mendorong tubuh para pria itu agar menjauh dari tubuh Denis yang sudah terlihat lemas tidak berdaya.


"Apa salah dia? kenapa kalian memukulinya?" Bella menangis histeris.


"Kami mencurigai kalau dia mau berbuat sesuatu yang jahat. Dari tadi dia mondar mandir dan selalu melihat ke arah rumah itu. Dia pasti orang jahat yang ingin mencuri," jawab salah satu dari pria itu.


"Jangan asal menuduh! dia bukan orang jahat. Aku mengenalnya. Sekarang kalian tunggu apa lagi, tolong bantu aku membawanya ke rumah sakit," Para pria yang berjumlah tiga orang itu akhirnya minta maaf, dan berinisiatif mencegat taksi dan membantu Bella untuk memapah Denis masuk ke dalam taksi.


Tbc

__ADS_1


Mohon dukungannya dong guys. Like, vote dan komen. Kenapa? karena like vote dan komentar dari kalian semua sangat berpengaruh pada naiknya popularitas novel ini. Thank you 🙏🏻😍


__ADS_2