Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bab 15


__ADS_3

Para karyawan perusahaan The Sky group benar-benar sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Mereka memang biasa berpenampilan rapi, tapi hari ini terlihat lebih rapi. Kenapa? karena mereka ingin tampil maksimal dalam rangka menyambut kedatangan pewaris tunggal Sky group yang hari ini akan menggantikan posisi Ganendra Maheswara ayahnya.


"Kenapa kamu bisa telat di hari pertama kamu? harusnya kamu memberikan contoh seorang pemimpin yang baik, pada para karyawan," omel Ganendra pada Gavin yang baru saja datang, telat hampir satu jam dari perkiraan.


"Maaf, Pah. Tadi ada sedikit kendala di jalan." ucap Gavin, sedikit berbohong. Padahal dia bisa telat karena insiden pagi ini dengan Jelita yang membuatnya kesal.


"Harusnya kamu kasih kabar?"


"Sekali lagi maaf, Pah!"


"Baiklah, Sekarang persiapkan diri kamu. Jangan pasang wajah kecut seperti itu!" Ganendra memberikan nasehat pada sang putra.


"Bagaimana? apa aku harus selalu tersenyum? itu bukan kebiasaanku, Pah. Yang ada nanti aku akan terlihat aneh."


"Tidak ada yang memintamu untuk selalu tersenyum. Setidaknya jangan pasang wajah tidak bersahabatmu itu! kamu harus memasang sikap berwibawa. Kamu paham?" Gavin menganggukkan kepalanya.


Hari ini, memang Gavin mau diperkenalkan pada kantor pusat saja tanpa pers konfrence. Karena atas kemauan Gavin sendiri.


Acara perkenalan Gavin berlangsung dengan lancar,dan cepat. Karena memang Gavin tidak terlalu suka berbasa-basi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Haris dengan Maya, berjalan dengan sedikit angkuh di lobby perusahaan The Sky group. Penampilan Maya terlihat seksi dan mencolok sehingga mampu menarik perhatian para karyawan the sky group.


Haris dan Maya, menghampiri meja resepsionis yang bertugas untuk menerima tamu.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak, Bu?" tanya salah satu dari dua resepsionis dengan ramah.


"Kami ke sini mau bertemu dengan pemimpin baru perusahaan ini," jawab Maya dengan angkuh.


"Apa sebelumnya sudah buat janji?"


"Tentu saja sudah. Kami dari HS Company, dan kemarin proposal kerja sama kami sudah diterima dan di suruh datang ke sini," kembali Maya menjawab dengan sikap angkuhnya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, Pak, Bu, kami tanya dulu!" Resepsionis itu, meraih telepon di depannya dan melakukan panggilan pada sekretaris Gavin untuk memastikan kebenaran ucapan Maya.


"Baik, Bu, Pak! kalian berdua dipersilahkan untuk naik ke atas, lantai 30. Kalian berdua sudah di tunggu di sana," ucap sang resepsionis itu tanpa menyebutkan bahwa Gavin, karena perintah dari sekretaris pria itu.


Haris dan Maya langsung melangkah meninggalkan meja resepsionis, tanpa mengucapkan terima kasih, hingga membuat dua resepsionis wanita itu, berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Sayang, ingat kita harus bisa mendapatkan kerja sama ini. Kamu harus bisa meyakinkan dia dengan kelembutanmu, tapi ingat, jangan sampai jatuh cinta padanya," ucap Haris kembali mengingatkan.


"Sayang, aku sudah mengerti. Kamu sudah berkali-kali mengingatkanku dari kemarin," Maya memasang wajah cemberut dengan bibir yang mengerucut.


"Maaf, Sayang! aku hanya mengingatkan saja. Jangan cemberut dong," Haris mencuri sebuah kecupan singkat di bibir Maya.


"Sayang, jangan main nyosor di sini dong," Maya mendelik ke arah Haris yang ditanggapi dengan tawa kecil dari orang yang bersangkutan.


"hanya ada kita berdua di dalam lift ini, Sayang. Tidak akan ada yang lihat,"


"Walaupun tidak ada orang,lift ini pasti punya CCTV, jadi apapun yang terjadi masih bisa dipantau." ujar Maya, masih dengan wajah cemberutnya.


"Iya deh iya. Maaf ya , Sayang!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hmm, Nona kami dari HS Company, mau bertemu dengan CEO baru. Anda bisa memberi tahukan kami dimana ruangannya?" Kali ini Haris yang buka suara.


"Oh, jadi kalian berdua dari HS Company? tunggu sebentar ya, Pak, Bu, aku informasikan pada beliau dulu." Sekretaris itu menekan tombol intercom yang ada di atas mejanya.


"Ya,ada apa?" terdengar suara Gavin dari sana.


"Pak, perwakilan dari HS Company sudah datang. Apa aku boleh menyuruh mereka masuk?"


"Ya,suruh mereka masuk!" titah Gavin.


"Silahkan masuk, Pak, Bu!" sekretaris itu, membukakan pintu untuk Haris dan Maya, mempersilakan kedua orang itu masuk.

__ADS_1


Sementara itu,Gavin yang sudah menunggu momen ini, sengaja duduk di kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi pintu. Terlihat seringaian sinis di sudut bibir itu.


"Selamat siang, Pak ...." Maya menggantung ucapannya karena tiba-tiba menyadari kebodohan yang tidak menanyakan nama CEO perusahaan the sky group, sebelumnya.


"Emm, apa kamu tahu nama dia?" bisik Maya tepat di telinga Haris. Wanita itu tersenyum kecut begitu melihat Haris yang menggelengkan kepalanya.


"Selamat siang, Nona Maya dan Tuan Haris!" ucap Gavin dengan nada yang sangat dingin dari balik kursinya.


Maya dan Haris saling silang pandang merasa seperti mendengar suara itu.


"Sepertinya suara itu tidak asing. Apa kamu juga memikirkan hal yang sama denganku?"bisik Maya kembali, Daan Haris menganggukkan kepalanya.


Maya dan Haris menoleh ke belakang, karena tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang. Maya mengrenyitkan keningnya, begitu melihat sosok yang baru saja masuk yang tidak lain adalah Reynaldi yang dia tahu merupakan sahabat dari Gavin.


"Kamu? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Maya dengan tatapan bingung.


"Kenapa aku bisa ada di sini? ya karena aku bekerja di sini. Dan aku ini asisten pribadi CEO perusahaan ini," jawab Reynaldi santai dan lugas.


"Jangan bilang kalau ...." Maya menggantung ucapannya dan kembali berbalik menatap ke arah Gavin yang secara bersamaan juga sudah berbalik menghadap mereka dengan tatapan tajam dan tersenyum mengejek.


Baik Maya maupun Haris benar-benar bergeming, dan tidak bisa berkata apa-apa, karena terlalu kaget melihat Gavin. Maya bahkan berkali-kali menutup dan membuka matanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk memastikan kebenaran apa yang ada di depannya sekarang.


"Ga-Gavin, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Maya dengan gugup.


"Kenapa aku bisa ada di sini? jelas saja karena aku putra satu-satunya dari pemilik perusahaan ini," jawab Gavin menatap sinis ke area Haris dan Maya.


"Hahahaha, kamu kira kami percaya? wah kamu hebat bisa berani berpura-berpura untuk menjadi putra tuan Ganendra," tawa Haris penuh dengan ledekan dan masih dengan sikap merendahkan.


Gavin mendegus dengan sudut bibir yang tersenyum sinis.


"Apa kamu bisa berubah sebodoh ini,Tuan Haris yang terhormat? coba kamu pikir, sehebat apa aku, sampai bisa berada di ruangan ini, dan duduk di kursi ini, kalau hanya untuk berpura-pura saja?" sindir Gavin.


Haris tidak bisa mengelak lagi. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika melihat sebuah pigura photo dimana ada Gavin yang diapit oleh Ganendra dan Melinda.

__ADS_1


Tbc


Mohon like, vote dan komentarnya dong. Kasih hadiah juga boleh 😁🙏🏻🤗


__ADS_2