Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Jemput istrimu ke bawah


__ADS_3

Di lain tempat, tepatnya di kantor Gavin, Jelita melangkah masuk ke dalam lobby dengan membawa rantang berisi makan siang buat Gavin. Kali ini Jelita sudah sedikit merubah penampilannya tapi tidak terlalu signifikan.


Jelita mengedarkan pandangannya, ke segala penjuru kagum dengan besarnya perusahaan suaminya. Tingkah Jelita, tentu saja menarik perhatian para karyawan yang berlalu lalang. Ada yang ingin keluar mencari makan siang dan ada pula yang baru masuk.


Jelita berusaha tersenyum ramah pada orang yang berpapasan dengannya, walaupun hanya tatapan aneh yang dia dapat sebagai balasan.


Jelita melihat kembali ke sekeliling seperti mencari sesuatu.


"Oh, itu meja resepsionisnya," batin Jelita sembari berjalan ke arah meja yang bertuliskan resepsionis.


"Siang, Mbak! aku mau bertemu sama Pak Gavin, ruangannya di mana ya?" tanya Jelita dengan sopan dan tidak lupa menyelipkan seulas senyuman di bibirnya.


Dua orang wanita yang ada di meja resepsionis tidak langsung menjawab. Keduanya justru saling silang pandang dan secara bersamaan menatap Jelita dengan tatapan merendahkan.


"Mbak, kenapa melihatku seperti itu? apa ada yang salah dengan penampilanku?" Jelita seketika merasa risih dengan tatapan dua orang wanita itu. Dia bahkan sampai ikut memperhatikan pakaiannya.


"Tidak ada yang aneh kok," batin Jelita dengan kening yang berkerut.


"Ada tujuan apa, Nona mau bertemu dengan Pak Gavin?" akhirnya salah satu dari resepsionis itu buka suara, walaupun dengan nada suara yang jauh dari kata sopan.


"Oh, aku mau mengantarkan makan siang ini, padanya. Boleh kasih tahu di mana ruangannya?" Jelita sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sikap kedua wanita itu.


"Maaf, Nona! kami tidak boleh mengizinkan orang untuk menemui Pak Gavin, sembarangan. Jadi dengan sangat kami mohon agar Nona meninggalkan tempat ini,"


"Lho kenapa begitu? aku justru ke sini karena diminta sama Pak Gavin. Dia katanya mau aku datang ke kantornya, membawa makan siang untuknya," Jelita menolak untuk pergi.


Kedua wanita resepsionis itu kembali saling pandang dan kemudian tertawa mengejek.


"Nona, kalau mau melawak, please jangan di sini! karena ini kantor bukan tempat ngelawak,"


"Siapa yang ngelawak? aku serius, Mbak."


"Nona, ucapan anda sangat tidak masuk akal. Tidak mungkin seorang Pak Gavin makan makanan dari wanita seperti anda," ledek resepsionis yang berkulit kuning langsat dan lebih tinggi dari rekannya itu.


"Emangnya wanita seperti apa saya? apa karena penampilan saya yang tidak wah menurut kalian, makannya kalian berdua bisa berkata seperti itu? Mbak, kalian ini resepsionis, kalian tahu tidak apa job desknya seorang resepsionis? Bagaimanapun penampilan seseorang itu, harus tetap kalian layani dengan baik dan ingat yang paling utama, 'sopan'." ujar Jelita dengan menekan kata sopan.


"Benar kata anda, tapi kami juga harus tetap waspada. Apalagi dengan wanita seperti anda yang kami yakini adalah salah satu penggemar Pak Gavin selain Ibu Maya yang gila itu,"


"Maya?" gumam Jelita lirih.

__ADS_1


"Maksud kalian berdua, Maya datang ke sini untuk bertemu dengan mas Gavin?"


"Iya, Nona! Seminggu yang lalu wanita itu memaksa untuk masuk, dan mengaku-ngaku kalau dia kekasih Pak Gavin. Untungnya sebelumnya Pak Gavin sudah berpesan untuk langsung mengusir wanita yang bernama Maya jika wanita itu datang," jelas sang resepsionis itu kembali.


"Tapi, itu kan Maya, dan aku bukan Maya. Jadi aku minta tolong supaya kalian berdua memberi tahukan dimana ruangan mas Gavin,". Jelita sengaja menyebut Mas Gavin, untuk membuat kedua resepsionis itu tahu kalau dirinya punya hubungan dekat dengan Gavin.


"Maaf,Nona tetap tidak bisa. Lebih baik anda keluar dari sini!"


"Kenapa tidak bisa? aku ke sini memang diminta oleh suami saya untuk membawa makan siangnya," Jelita mulai mengakui statusnya.


"Suami? apa maksud Nona, anda ini Istrinya Pak Gavin?"


"Iya, aku Istrinya," jawab Jelita tegas.


Tawa kedua resepsionis itu sontak pecah, menganggap kalau Jelita tengah membual.


"Nona, ini masih siang lho. Masa udah bermimpi aja," tawa mereka berdua kembali terdengar.


" Aku tidak bermimpi. Aku benar-benar istri mas Gavin. Jelita masih berusaha meyakinkan.


"Iya, iya kami tahu kalau anda benar. Benar-benar menghayal maksudnya," terdengar kembali suara tawa mereka berdua.


"Aku sama sekali tidak berbohong!" Jelita kembali berucap dengan tegas.


"Kalau begitu coba anda telepon,Pak Gavin!"


"Itu dia, handphone aku ketinggalan gara-gara terburu-buru tadi," sahut Jelita.


"Aduh, apa Nona kira kami ini bodoh? Kalau mau cari alasan yang kreatif dikit dan masuk akal, Nona."


"Jadi, maksud kalian berdua, aku ini berbohong? sumpah demi Tuhan, aku ini tidak berbohong!" Jelita masih tetap berusaha untuk meyakinkan kedua resepsionis itu.


"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, Nona! sekarang sebaiknya anda pergi dari sini. Kalau tidak kami akan panggilkan satpam untuk menarik paksa anda keluar." salah satunya dari wanita itu meninggikan suaranya.


"Aku tidak mau! aku ingin tetap memberikan makan siang suamiku. Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh hubungi masa Gavin dan tanya kebenarannya,"


Kedua wanita itu sontak terdiam. Mereka berdua seketika tiba-tiba merasa was-was, takut kalau yang dikatakan Jelita benar atau tidak.


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara bariton seorang pria.

__ADS_1


Jelita sontak menoleh ke belakang dan langsung menghampiri pria itu.


"Papa!" Jelita meraih tangan pria yang ternyata Ganendra, papa mertuanya.


"Pak Ganendra? papa?" gumam kedua resepsionis itu yang seketika mulai keringat dingin.


"Jadi benar dia Istrinya pak Gavin? kapan pak Gavin menikah?" batin kedua resepsionis itu dengan raut wajah yang berubah pucat.


"Kamu ngapain di sini, Jelita?" tanya Ganendra dengan lembut.


"Ini, Pa mau mengantarkan makan siang buat Mas Gavin." jawab Jelita.


"Jadi kenapa kamu masih di sini? kenapa kamu tidak ke ruangannya?"


" Aku tidak tahu di mana ruangan mas Gavin, Pa. Jadinya aku bertanya pada mereka dulu,"


"Apa mereka menyulitkanmu?" kening Ganendra naik sedikit ke atas, menyelidik.


"P-Pak Ganendra kami sama sekali tidak tahu kalau ibu ini istri Pak Gavin. Kami kira dia salah satu dari wanita yang mengidolakan Pak Gavin, pak." salah satu dari resepsionis itu langsung menyambar, sebelum Jelita buka suara. Mereka takut kalau Jelita mengadu tentang sikap mereka tadi.


"Kenapa kamu yang menjawab? aku sedang bertanya pada menantuku," ucap Ganendra dengan dingin dan ekspresi datar.


"Kenapa kamu tidak menelepon suamimu?" Ganendra kembali bertanya pada Jelita dengan nada yang sangat lembut pada menantunya itu.


"Handphone aku ketinggalan di apartemen, Pah. Tadi terburu-buru ke sini," Jelita nyengir kuda.


"Lain kali, jangan lupa bawa handphone ya! Tunggu biar papa yang telpon dia, biar jemput kamu ke bawah." Ganendra meraih handphone dari dalam sakunya dan langsung menghubungi Gavin.


"Iya, Pa?" terdengar suara Gavin dari ujung telepon.


"Istri kamu di bawah, mau ke ruangan kamu. Kamu jemput dia sekarang!" titah Ganendra, khas seorang pemimpin.


"Lho kenapa dia tidak menghubungi aku? dan kenapa dia tidak meminta untuk diantarkan resepsionis?"


"Jangan banyak tanya! kamu jemput aja isteri kamu. Kalau nggak Jelita papa ajak pulang,".


"Jangan, Pa! aku ke bawah sekarang! ingat ya Pa, jangan bawa pulang Istriku," Gavin memekik dari ujung telepon. Pria itu seakan takut kalau papanya akan mengajak pulang sang istri.


Sementara itu,kedua resepsionis itu semakin terlihat takut mendengar Gavin akan turun.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2