
Keesokan harinya, Maya terlihat sudah rapi dan bersiap-siap hendak keluar. Dia melewati mamanya begitu saja.
"Mau kemana, May?" tanya mamanya dengan kening yang berkrenyit.
"Mau keluar, Ma. Mau kemana lagi?" sahut Maya, cuek.
"Oh, iya ya? Mama lupa. Bukannya hari ini hari terakhir yang kamu berikan buat Gavin untuk menyetujui menikah denganmu. Kamu mau mendatangi kantornya kan?" mamanya Maya tersenyum dengan wajah berbinar, membayang kalau dia akan memiliki seorang menantu konglomerat.
"Nggak, Ma. Rencana dirubah,"
"Lho kenapa?" Mama Maya mengrenyitkan keningnya.
"Sia-sia, Ma, kalau aku menikah dengan Gavin Kalau orangtuanya masih mengganggap Jelita seorang Dewi." sahut Maya dengan nada jengkel.
Maksudnya apa sih? Mama benar -benar tidak mengerti," alis mamanya Maya semakin bertaut dan hingga matanya mengecil.
"Maksudku, kalau aku menikah dengan Gavin ,boleh, kata orangtuanya, tapi semua harta kekayaan akan dialihkan ke nama Jelita semua," jawab Maya dengan raut wajah bengis.
"What? kenapa mereka bisa menyingkirkan anak sendiri demi orang lain? benar-benar orang tua bodoh," umpat mamanya Maya yang kini ikut kesal. "Jadi kamu mau ke mana sekarang?" sambung mamanya Maya.
"Aku mau ke toko kuenya Jelita,"
"Buat apa? buat dihajar sama karyawannya itu?" kamu tidak jera ya?"
"Aku hanya memantau dari jauh aja,Mah. Kemarin aku gagal menemukan dia,aku yakin kalau sekarang dia pasrah sudah ada di sana." jelas Maya dengan ekspresi wajah penuh dendam dan kelicikan.
"Kalau dia di sana, kamu mau apain? kamu tahu sendiri kalau dia tidak bisa kamu dekati. Ingat dari kejadian ini,mama yakin kalau keluarga Maheswara sudah memperketat keamanan Jelita. Kalau kamu mendekat, bisa-bisa nama kamu Maya berubah jadi Mayat," tutur mamanya Maya memperingatkan.
"Apa-apaan sih, Ma? Mama nyumpahin aku mati?" pekik Maya kesal.
"Bukan nyumpahin, tapi maksud Mama kamu itu harus tetap waspada. Buat rencanamu sematang mungkin dulu, baru kamu eksekusi,"
Maya menarik sudut bibirnya sedikit ke atas tersenyum licik. "Mama tenang saja,aku sudah susun semuanya. Kalau Jelita hari ini ada di toko kuenya, bukan aku yang bertindak tapi manager hotel itu, Mah. Dia aku minta pura-pura memesan kue yang banyak dan minta Jelita ikut mengantarkan pesanan. Setelah itu mama tahu sendiri kan bagaimana cara kerjaku? aku akan membuat Jelita dan manager itu seakan-akan punya hubungan. Hasilnya, orangtuanya Gavin akan marah besar dan akan meminta Gavin menceraikan Jelita, Hahahahah!" Maya tertawa jahat demikian juga dengan mamanya.
"Kamu memang genius,Nak! gak menyesal mama melahirkanmu," mamanya, Maya menyambut rencana Maya dengan antusias.
__ADS_1
"Siapa dulu dong, Maya ...." Maya menepuk dadanya dengan bangga.
"Oh ya,apa yang kamu tawarkan sebagai imbalan pada manager itu? tubuhmu lagi?" tanya mamanya Maya menyelidik.
"Iya, apalagi? dan kali ini selama seminggu,Mah, tapi menurutku ya nggak masalah, karena selain nikmat, pekerjaan yang dilakukannya kali ini kan cukup sulit. Selain tubuhku, aku juga menawarkannya untuk bisa menikmati tubuh Jelita nanti, tentu saja dia nggak akan menolak," tutur Maya menjelaskan kembali.
"Oh, ya udah deh,kamu boleh berangkat sekarang. Makin cepat kan makin baik," ujar mamanya Maya.
"Baiklah,Ma! aku pergi dulu!" Maya memutar badannya dan nyaris saja melangkah menuju pintu. Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat sosok Gavin dan Reynaldi yang sudah berdiri di ambang pintu diikuti oleh beberapa polisi di belakangnya.
"Ga-Gavin!" gumamnya dengan raut wajah yang seketika berubah pucat dan tanpa sadar mundur beberapa langkah.
"Bagaimana? kamu kaget?" tanya Gavin dengan tatapan yang sangat tajam dan wajah yang memerah karena sangat marah.
"Ke, kenapa kamu bisa ada di sini? apa-apaan kamu membawa polisi juga? kamu mau menangkapku? ingat Gavin, kalau kamu tidak menyuruh polisi itu kembali, aku tidak akan segan-segan untuk menyebarkan photo-photo kita ke publik. Kamu pasti tahu kan apa yang akan terjadi setelah itu? perusahaan kalian akan bangkrut seketika, karena tidak akan ada lagi yang mau berinvestasi ke perusahaanmu," ancam Maya, berharap Gavin akan ketakutan.
Mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Maya,tidak membuat Gavin takut, justru pria itu malah tertawa terbahak-bahak, hingga membuat kening Maya dan mamanya berkerut dan pucat.
"Pak, tolong tangkap dia dan mamanya itu! aku mau mereka berdua dihukum seberat-beratnya!" titah Gavin dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Maya.
"Hei, Stop di sana! jangan asal main tangkap!" pekik Maya tiba-tiba, ketika 4 orang polisi maju hendak menangkapnya.
Gavin tersenyum smirk dan langsung menekan sesuatu di ponselnya. Tiba-tiba terdengar suara Maya yang membaberkan apa yang diperbuatnya pada Sari. Mata Maya sontak membesar dengan sempurna mendengar rekaman itu.
"Dari mana kamu dapatkan rekaman itu?" tanya Maya.
"Tentu saja dari saya, Nona Maya. Kamu tidak benar-benar percaya kan kalau aku mau mau bekerja sama dengan orang licik seperti anda,' tiba-tiba Sari muncul dari arah belakang.
"Tuan Gavin, tadi aku juga sudah merekam video rencana mereka yang hendak menjebak Non Jelita,". Sari menyerahkan bukti rekaman video itu.
"Sari, Brengsek!" Maya menghambur hendak menarik rambut Sari, namun langsung dihadang oleh Reynaldi.
"Hahahaha, ok Kalau itu memang rencanaku dan mama, tapi ingat Gavin di dalam rahimku ini ada anak kamu," teriak Maya. "Kamu tidak akan mungkin kan membuat anakmu sendiri tersiksa karena mamanya di penjara?" Maya tersenyum licik, yakin kalau Gavin akan berubah pikiran mendengar nama anak.
Gavin dan Reynaldi saling silang pandang, dan tiba-tiba tertawa.
__ADS_1
"Anak apa? anak kodok? bagaimana kamu bisa hamil, kalau kamu sendiri juga sekarang sudah tidak punya rahim lagi?" kata-kata Gavin langsung membuat Maya merasa tertohok.
"Ka-kalian jangan fitnah! siapa bilang aku tidak memilki rahim lagi? bu-buktinya aku hamil. Kamu sudah lihat sendiri kan Surai diagnosa kalau aku hamil?" ucap Maya dengan gugup.
"Kami tidak fitnah! kami sudah membawa serta dokumen riwayat pembedahan kamu. Kamu pasti tidak menyangka kalau Nayla bekerja di rumah sakit tempat kamu melakukan operasi pengangkatan rahim. Rahim kamu rusak parah karena kamu melakukan aborsi secara ilegal dan paksa. Nayla sudah memberitahukan semuanya. Dan asal kamu tahu, rumah sakit itu milik keluarga Gavin,"jelas Reynaldi yang membuat wajah Maya dan mamanya semakin pucat.
"Arghhh,ini semua gara-gara kamu! kenapa kamu berkhianat, hah?!" Maya berusaha untuk menghajar Sari.
"Kamu yang tidak tahu diri! kamu dengan teganya memfitnahku, hanya demi keuntungan kamu sendiri," balas Sari dari balik tubuh Reynaldi.
"Bukannya aku sudah bilang, kalau itu hanya untuk sementara saja? aku pasti akan melepaskanmu, setelah semua rencanaku sukses!"
"Cih! kamu pikir aku bodoh? aku yakin kalau itu hanya alibimu saja." Sari berdecih seraya menyeringai sinis ke arah Maya.
"Sudah cukup! Pak polisi, tolong bawa mereka berdua! Aku benar-benar mau Mereka berdua dihukum seberat-beratnya," titah Gavin, menghentikan perdebatan antara Maya dan Sari.
"Oh ya, manager yang kamu bayar itu juga sudah dijemput dan sudah ada di penjara, kalian berdua lakukanlah hal kotor itu, sepuasnya di penjara," sindir Gavin dengan tersenyum smirk.
"A-apa maksudmu?" tanya Maya dengan peluh yang merembes deras di pelipisnya.
"Kamu kira kalian berdua sudah aman, dengan memecat Rusdi karena tidak mau diajak kerja sama menghapus rekaman CCTV itu? kalian kalah pintar dari Rusdi yang berhasil memulihkan kembali dan menyimpan bukti rekaman CCTV itu. Jadi, sekarang kamu sudah tidak bisa mengelak lagi." ucap Gavin dengan tegas. Kemudian dia mengalihkan tatapannya ke arah mamanya Maya yang wajahnya juga sekarang sangat pucat.
"Dan kamu wanita tua, entah ibu seperti apa kamu, yang mendorong anakmu ke jurang kenistaan hanya demi bisa hidup enak. Aku heran, bisa-bisanya kamu meminta anakmu menggugurkan kandungannya, merencanakan hal keji. Pantas saja putrimu licik, karena memiliki mama seperti kamu." ujar Gavin dengan sarkas.
"Pak, bawa mereka!" titah Gavin kembali sembari memutar tubuhnya berjalan meninggalkan tempat itu, bersama dengan Reynaldi.
"Aku tidak mau di penjara! Gavin lepaskan aku, Brengsek!" teriak Maya, yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tang polisi.
"Aku juga tidak mau di penjara, lepaskan aku Nak Gavin! kalau kamu mau memenjarakan Maya, silakan! aku tidak peduli!" mamanya Maya ikut berteriak.
"Mama!" pekik Maya menatap tajam ke arah mamanya. Wanita itu benar-benar tidak percaya kalau mamanya sanggup mengatakan hal seperti itu.
"Apa? Mama benar kan? kamu itu memang tidak ada gunanya dari dulu. Lihatlah, gara-gara kebodohanmu, mama ikut di penjara. Dasar anak pembawa sial! menyesal aku melahirkanmu!" umpat mamanya Nayla memaki putrinya sendiri.
"Diam! kalau kalian berdua masih teriak-teriak, aku sumpal mulut kalian berdua! bentak salah satu polisi itu.
__ADS_1
Tbc
Guys, doakan biar aku dan suami tidak positif kena omicron ya! soalnya ciri-cirinya sedang kami rasakan sekarang. Kami sama-sama demam dan badan terasa ngilu, bercampur batuk dan pilek. Karena memang 3 hari yang lalu tetangga persis samping rumah kami terpapar covid. Terima kasih 🙏🏻😍