
Hari ini Gavin mengajak Jelita untuk menginap di hotel. Katanya untuk bersantai sejenak, melepaskan penat dari rasa lelah, bekerja selama seminggu ini.
Gavin melangkah dengan gagah, sembari menggandeng tangan Jelita, menuju kamar yang akan mereka tempati.
Setelah sampai di depan kamar yang dituju, Gavin langsung menempel kartu akses yang dia punya untuk bisa masuk ke dalam kamar. Kemudian mereka masuk setelah pintu sudah terbuka.
Jelita mengrenyitkan keningnya, ketika melihat ada sebuah gaun putih, mirip seperti gaun pengantin, tergeletak di atas ranjang.
"Itu, untuk kamu. Kamu harus pakai sekarang ya, Sayang." celetuk Gavin tiba-tiba, tahu kalau sang istri pasti sedang bertanya-tanya sekarang.
"Sayang, kenapa aku harus pakai gaun ini?" Jelita mengrenyitkan keningnya, bingung ketika Gavin, suaminya memintanya untuk memakai gaun putih yang mirip seperti gaun pengantin itu.
"Hmm, aku hanya ingin kita mengambil photo pengantin, untuk kita gantung di dinding, Sayang. Dulu kan kita menikah, tanpa resepsi dan tidak ada photo yang bagus sama sekali," jawab Gavin.
"Oh, iya ya? tapi sekarang aku kan gendutan, Sayang. Berarti hasil photonya bakal sama aja, tetap jelek," tolak Jelita,. insecure dengan bentuk badan sendiri.
Gavin menelisik tubuh Jelita dari atas sampai ke bawah."Siapa bilang hasilnya aka jelek? justru sekarang kamu terlihat semakin seksi, kamu itu selalu cantik di mataku, Sayang," sahut Gavin, meyakinkan Jelita.
"Sekarang, kamu tidak usah ragu ya? kamu sekarang dirias dulu, baru nanti setelah selesai baru kamu pakai gaunnya." Gavin melangkah keluar dari ruangan setelah menyelesaikan ucapannya.
Setelah Gavin keluar, tampak 2 orang wanita masuk, yang Jelita yakin adalah MUA yang akan meriasnya.
Tanpa menunggu lama, kedua wanita itu langsung bekerja merias Jelita. Beruntung Jelita memang sudah cantik dari awal, sehingga kedua MUA itu tidak mengalami kesulitan sama sekali saat merias Nyonya Gavin Melviano itu.
"Bu, sudah selesai! mari aku bantu untuk memakai gaunnya," ucap salah satu dari wanita MUA itu, dengar menyelipkan sebuah senyuman.
Jelita tersenyum dan langsung berdiri untuk mengganti pakaiannya dengan gaun pengantin yang diberikan oleh Gavin suaminya.
"Wah, Ibu terlihat sangat cantik sekarang!" puji dua wanita itu, bergantian.
"Benarkah?" Jelita masih saja kurang percaya.
"Iya, Bu! Tuan Gavin pasti akan terpesona dan akan semakin cinta saat melihat, Ibu nanti," salah satu dari MUA itu, berusaha meyakinkan Jelita.
"Kalau begitu, terima kasih ya buat kalian berdua,"
__ADS_1
"Sama-sama, Ibu!" sahut keduanya bersamaan.
"Sekarang, ayo kita keluar, Bu. Tuan Gavin pasti sudah menunggu!"
"Tunggu dulu! apa suami saya tidak menjemput saya ke kamar ini?" Jelita mengrenyitkan keningnya.
"Tidak, Bu! tadi Tuan Gavin meminta kami untuk langsung membawa Ibu keluar setelah Ibu selesai dirias."
"Apa sesi photonya tidak dilakukan di kamar ini? aku malu keluar dengan pakaian seperti ini," ucap Jelita, jujur.
"Buat apa malu, Bu? Ibu itu sangat cantik dengan gaun itu. Mari, Bu. Tuan Gavin pasti sudah tidak sabar menunggu Ibu," kembali salah satu MUA itu meminta Jelita untuk keluar. Untungnya kali ini Jelita menurut dan mengikuti dua wanita itu.
"Kita sebenarnya mau ke mana sih?" Jelita kembali bertanya ketika mereka keluar dari lift.
"Sabar, Ibu! Sebentar lagi Ibu pasti akan tahu," dua MUA itu, tersenyum manis.
Mereka bertiga kini tiba di depan pintu ballroom, hingga membuat Jelita sontak berhenti melangkah karena semakin bingung.
"Kenapa berhenti, Bu?"
"Apa sesi ngambil photonya di dalam?" tanya Jelita, memastikan.
Mata Jelita sontak membesar dengan sempurna, melihat dekorasi ballroom yang sangat indah dan mewah, dan tentu saja sudah ramai dengan orang-orang.
"Ah, kita sepertinya salah tempat. Lebih baik kita keluar dari sini," Jelita hampir saja ingin berbalik, ingin ke luar, tapi dia urungkan ketika dia melihat sosok Gavin yang berdiri di depannya, sedang tersenyum sembari membawa bunga di tangannya.
"Nih, buat kamu!" Gavin menyerahkan bunga yang ada di tangannya ke tangan Jelita yang gemetaran saat menerima bunga itu dari tangan Gavin.
"I-ini sebenarnya ada apa, Sayang?" tanya Jelita dengan suara yang bergetar.
Gavin tidak langsung menjawab. Pria itu justru tersenyum dan langsung berpindah tempat ke sebelah kanan Jelita. Kemudian dia meraih tangan Jelita dan menggandengnya.
"Sekarang, acara resepsi pernikahan kita, Sayang. Maaf, kalau baru kali ini aku bisa memberikan pesta pernikahan untukmu," jawab Gavin, disertai dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Jelita bergeming. Wanita itu benar-benar speechless, dan terharu. Mata wanita itu kini tampak berembun berusaha untuk menahan agar air matanya tidak keluar.
"I-ini, benaran, Sayang?" tanya Jelita yang masih terlihat tidak percaya.
"Iya, ini benaran. Sekarang kita jalan ke depan yuk!"
Gavin dan Jelita akhirnya berjalan ke depan menuju pelaminan, diiringi dengan musik yang sangat romantis dan gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan yang hadir.
"Sejak kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Jelita setelah mereka sudah tiba di pelaminan.
"Setelah pernikahan Denis dan Bella. Aku mau melaksanakan pesta pernikahan kita, sebelum Reynaldi dan Nayla menikah dua minggu ke depan." jawab Gavin, lugas
Ya, Reynaldi benar-benar memenuhi janjinya, seminggu setelah kembali dari puncak Bogor, atau sehari setelah pernikahan Denis, pria itu datang ke rumah Nayla bersama orangtuanya,. untuk melamar gadis itu. Beruntungnya, lamarannya diterima dan bahkan hari pernikahan juga sudah ditentukan yaitu tiga minggu ke depan. Oleh karena itu, Gavin tidak mau didahului oleh sahabatnya itu, makanya dia langsung mengurus semua acara resepsi pernikahannya dengan Jelita selama seminggu ini.
Jelita masih seperti orang linglung. Dia masih seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Gavin dengan kening yang berkerut
"Aku gak pa-pa! cuma aku masih belum percaya ini nyata atau cuma mimpi."
"Ini tentu saja nyata, Sayang! tegas Gavin merasa gemas melihat ekspresi wajah Jelita.
"Apa kamu suka semua dekorasinya?" Gavin kembali bertanya.
"Tentu saja aku suka. Aku tidak punya alasan untuk tidak menyukai hal seindah ini," jawab Jelita, jujur.
"Aku bahagia kalau kamu memang benar-benar menyukainya, Sayang," ucap Gavin sembari mengecup punggung tangan Jelita yang masih ada digenggamannya.
"Terima kasih ya, Sayang. Ini benar-benar ... ah aku tidak bisa mengucapkannya dengan kata-kata. Pokoknya ini benar-benar hal yang sangat membahagiakan untukku," ucap Jelita dengan mata yang kembali berkilauan karena sedang menahan tangis.
Gavin tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Jelita. Pria itu juga ikut merasa bahagia melihat kejutan yang dia berikan pada sang istri berhasil.
Gavin merangkul pinggang Jelita dan meminta Jelita untuk melihatnya. "Sayang, kamu cantik sekali malam ini, hingga aku ingin cepat-cepat membawa kamu dari sini dan menerkammu habis-habisan," bisik Gavin, membuat pipi Jelita seketika merona.
"Sayang, ingat kata Nayla kalau kita__"
"Bukan tidak boleh kan? katanya boleh tapi harus hati-hati dan pelan-pelan," Gavin langsung menyela ucapan Jelita.
__ADS_1
Tbc