
Tak lama kemudian, Gavin keluar dari ruang bersalin dengan wajah yang terlihat bahagia. Semua orang yang dari tadi cemas menunggu di luar,langsung menghampiri Gavin,penasaran bagaiman keadaan Jelita dan bayinya.
"Bagaimana kondisi Jelita, Nak?" bukannya bertanya mengenai kondisi cucunya, Melinda justru menanyakan keadaan Jelita menantunya. Wajah wanita itu sepertinya belum sepenuhnya merasa tenang sampai dia tahu bagaimana kondisi menantunya itu.
Gavin tersenyum lebar, melihat kekhawatiran mamanya. Pria itu benar-benar bersyukur karena kedua orangtuanya sangat menyayangi Jelita, sama seperti menyayanginya.
"Jelita, baik-baik saja, Ma. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruangan perawatan. Setelah itu kalian baru bisa melihatnya," jawab Gavin yang tidak menanggalkan senyum di bibirnya sama sekali.
"Syukurlah! bagaimana dengan anakmu? laki-laki atau perempuan? dan apakah sehat?" tanya Melinda lagi. Selama ini, Gavin dan Jelita memang tidak pernah bertanya apa jenis kelamin anak mereka, baik itu perempuan maupun laki-laki, sama aja.
"Anakku laki-laki,Ma, Pa dan dia sehat, normal, tidak kurang satu apapun," jawab Gavin dengan raut wajah berbinar.
"Bagaimana rasanya melihat istri melahirkan, Vin?" Ganendra, buka suara.
"Bagaimana ya, Pa? Jelita yang kesakitan,tapi nyawaku yang seperti melayang. tadi itu, dadaku seperti dihimpit ribuan ton batu besar, Pa, " Gavin bergidik, karena membayangkan suasana yang begitu mengerikan yang baru saja dilaluinya.
Gavin mengalihkan tatapannya ke arah Melinda dan tiba-tiba memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan erat. Mata pria itu tampak berembun, seperti sedang menahan tangis.
"Ma, aku tidak menyangka, kalau ternyata untuk berjuang melahirkan seorang anak itu sangat menyakitkan. Aku minta maaf,kalau aku selama ini belum bisa jadi anak yang berbakti dan selalu mengecewakan Mama," ucap Gavin dengan tulus.
Melinda merasa terharu dan membalas pelukan anaknya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama akan selalu memafkanmu, Sayang. Sekarang kamu sudah tahu bagaimana perjuangan istri kamu untuk melahirkan anakmu, tolong hargai dan sayangi dia selalu. Jangan pernah sekali-kali kau menyakitinya," pesan Melinda. Ganendra tersenyum melihat istri dan anaknya yang sedang berpelukan. Pria setengah baya itu juga tidak mau ketinggalan. Dia ikut serta memeluk anak dan istrinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jelita kini sudah dipindahkan di ruang perawatan. Selain keluarga Maheswara, tampak juga Reynaldi dan Nayla berada di ruangan itu.
Seorang perawat ,terlihat memasuki ruangan itu dengan membawa bayi laki-laki Gavin dan Jelita di tangannya.
"Ini anaknya, Tuan," perawat itu memberikan bayi itu ke tangan Gavin yang langsung menyambutnya dengan wajah berbinar dan tangan yang masih gamang. Kemudian, pria itu langsung memberikannya pada Jelita untuk digendong.
"Sayang, aku Yang mengandung selama sembilan bulan, tapi kenapa semuanya mirip ke kamu? benar-benar gak adil," protes Jelita yang membuat Gavin tersenyum dan yang lainnya tertawa.
"Yang penting nggak mirip tetangga, Sayang." Gavin mengelus rambut Jelita, lalu menekan-nekan dengan lembut pipi merah si kecil dengan gemas.
"Siapa nama putramu, Vin?" tanya Melinda antusias
"Namanya Gilang Joaquin Maheswara, Ma," jawab Gavin. "Bagaimana, Sayang apa kamu setuju?" sambungnya kembali bertanya pada Jelita.
"Nama yang bagus. Aku suka, Sayang!" ucap Jelita sembari mengecup pipi sang putra.
"Hallo, Gilang! selamat datang ke dunia ya, Sayang," ucap Jelita lagi.
__ADS_1
"Selamat ya, Vin, Jel!" celetuk Reynaldi tiba-tiba.
"Terima kasih, Rey,"
"Kalau begitu, kami keluar dulu ya! kami mau ke ruangan Bella," pamit Reynaldi yang mendapat anggukan kepala dari Jelita dan Gavin.
"Sampaikan salamku buat mereka berdua ya! nanti aku akan ke sana melihatnya," ucap Gavin, sebelum Reynaldi dan Nayla benar-benar keluar dari ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana keadaanmu, Bel?" tanya Nayla begitu sudah berada di dalam ruangan perawatan Bella. Sama seperti di ruangan Jelita, ruangan itu juga sudah dipenuhi dengan keluarga kedua belah pihak, baik orang tua Bella maupun orang tua Denis.
"Seperti yang kamu lihat,Nay, aku baik-baik saja." Bella tersenyum sembari memberikan putrinya pada mamanya yang memang ingin menggendong cucu pertamanya itu.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu harus banyak istirahat,biar cepat pulih," Nayla memberikan nasehat, dan Bella menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Oh ya,Den. Nanti kalau sudah pulang ke rumah, kamu harus menjadi seorang ayah yang siaga. Jangan biarkan Bella merawat anakmu sendiri," pesan Nayla.
"Siap!" jawab Denis tegas.
"Namanya, kalian kasih siapa? kalau nama anak Gavin, Gilang, kalau putrimu?" Reynaldi buka suara.
"Dania Belvana," jawab Denis lugas dan tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tidak terasa kalender sudah berganti empat kali, yang berarti Gilang putra dari Gavin dan Jelita sudah berusia 4 tahun.
Gilang, tumbuh menjadi seorang anak yang sangat tampan, cerdas dan menggemaskan, tapi selalu membuat Gavin dan Jelita kewalahan.
"Gilang, makan nasinya dong, Sayang. Nasinya nanti nangis lho kalau tidak dihabiskan," ucap Jelita, yang terlihat semakin gemuk karena sekarang, wanita itu sedang mengandung anak keduanya, dan kali ini berjenis kelamin perempuan berdasarkan hasil USG.
"Nasi bisa nangis ya, Ma?" tanya Gilang dengan wajah polosnya.
"Tentu saja bisa. Hanya saja kita tidak mendengarnya," jawab Jelita, tersenyum sembari membelai kepala putranya itu dengan lembut.
"Bagaimana nasi bisa menangis? nasi kan bukan benda hidup? Mama pasti bohong ya?" Gilang tidak langsung percaya dengan ucapan Jelita. Seperti itulah, Gilang, walaupun masih kecil tapi sudah sangat kritis dalam bertanya.
"Hmm, mama tidak __"
"Papa, pulang!" seru Gavin yang tiba-tiba muncul.
"Yee,Papa pulang!" Gilang melompat-lompat kegirangan, lupa seketika dengan apa yang dibicarakannya dengan Jelita mamanya.
__ADS_1
"Hmm anak Papa yang ganteng lagi makan ya? kenapa makanannya belum habis?" tanya Gavin langsung meraih piring berisi makanan itu.
"Gilang sudah kenyang, Pah,"
"Hmm, tapi ini masih banyak, Sayang. Gilang tidak boleh buang-buang makanan. Gilang itu harus bersyukur masih bisa makan. Di luar sana masih banyak yang susah untuk mendapatkan makanan lho. Sini biar papa suapin kamu," ucap Gavin.
Mendengar ucapan Gavin, mau tidak mau akhirnya Gilang pun mau membuka mulut menerima suapan demi suapan dari tangan Gavin.
"Sayang, sebentar lagi Rey dan Nayla akan ke sini. Denis sama Bella juga," ucap Gavin sembari tetap menyuapkan makanan ke dalam mulut putranya.
"Aku sudah tahu, Sayang. Tadi Nayla dan Bella sudah menghubungiku,"
Di saat bersamaan, terdengar suara yang datang dari luar. Gavin dan Jelita yakin kalau itu adalah para sahabat mereka yang datang membawa keluarga masing-masing.
Benar saja, tampak dua pasang suami istri bersama dengan anak masing-masing muncul di ambang pintu. Bella tampak sedang menggendong seorang anak laki-laki yang masih berusia 1tahun anak keduanya bersama dengan Denis. Sedangkan Nayla tampak sedang hamil sama seperti Jelita.
"Gilang!" Dania putri Denis serta Reyna putri dari Reynaldi, langsung berlari ke arah Gilang yang terlihat memasang wajah masam. Bagaimana tidak, dia merasa kalau Dania dan Reyna selalu berisik dan mengganggu ketenangannya.
"Kamu lagi makan ya, Gilang?" tanya Dania, yang langsung duduk di dekat Gilang.
"Iya," jawab Gilang, singkat padat dan jelas.
"Gilang masih disuapin ya makannya? apa Gilang tidak malu, sudah besar masih saja disuap," Reyna buka suara dengan nada meledek.
Gilang tidak menjawab sama sekali,tapi tatapan tajamnya, menandakan kalau dia tidak suka dengan ucapan Reyna. Namun, sikap gadis kecil itu sangat mirip dengan Nayla mamanya yang sama sekali tidak pernah merasa takut dengan tatapan Gilang yang sangat tajam.
"Ih, Reyna! tidak boleh seperti itu! tidak apa-apa kalau makan masih disuapin, kan masih kecil. Aku aja, masih disuapin kok kalau makan," ucap Dania yang selalu siap untuk membela Gilang.
"Idih, cari muka!" cetus Reyna yang memang apa adanya.
"Mama, Papa! lihat Reyna! dia bilang, aku cari muka," adu Dania, yang langsung menangis.
"Idih, cengeng! begitu aja, menangis," Reyna mengerucutkan bibirnya, merasa kesal.
"Sudah, sudah, kalian jangan berantem lagi! main sama-sama dengan benar," Reynaldi menengahi perdebatan dua gadis cilik yang memang selalu berantem kalau bertemu tapi saling mencari kalau berpisah.
Sementara itu, Gilang melanjutkan makannya dan kali ini makan sendiri tidak memperdulikan dua gadis cilik itu.
Sementara anak-anak sedang bermain, para orang tua yang merupakan sahabat itu saling bercengkrama, bersenda gurau. Namun sesekali mereka tetap memperhatikan anak-anak mereka.
Mereka semuanya tampak sangat bahagia setelah menghadapi banyak rintangan. Mereka berharap kalau kebahagiaan akan selalu ada di dalam kehidupan mereka seterusnya.
Tamat
__ADS_1
Akhirnya Bukan istri idaman tamat juga.Terima kasih buat semua yang telah mendukung karyaku ini sampai sejauh ini. Yang selalu setia memberikan Vote, like dan komen bahkan hadiah. 💖💖💖💖 di udara dan kecup online deh buat kalian semua.Tanpa dukungan kalian semua, aku mah apa atuh. Kenapa sudah tamat?karena memang sudah sesuai dengan porsinya. Belakangan ini, aku juga gampang sakit karena kurang istirahat. Jadi, untuk sementara, aku mau istirahat dulu. Karya ini masih jauh dari kata sempurna, jadi maaf kalau tidak sesuai dengan ekspektasi kalian semua Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Guys.🥰🤗