
Seminggu sudah berlalu. Hubungan Jelita dan Gavin sudah semakin baik, walaupun mereka belum tidur di dalam kamar yang sama, tapi setidaknya, Jelita hampir tidak pernah mendapat kata-kata pedas dari bibir suaminya itu.
Tidak munafik dan tidak menampik, jauh di dalam lubuk hati Jelita, ia menginginkan menjadi istri yang sepenuhnya untuk Gavin, karena menurutnya pernikahan bukanlah main-main dan karena dia mendapatkan kasih sayang seperti yang dia dapatkan dari almarhum kedua orang tuanya, dari orang tua Gavin.
Akan tetapi, Jelita tidak mau berharap banyak, karena dengan perubahan Gavin seperti ini saja sudah membuat dia cukup bahagia.
Gavin keluar dari dalam kamar dengan pakaian kasual yang tentu saja tidak mengurangi kadar ketampanan yang dimiliki oleh pria itu. Walaupun Jelita setiap hari melihat pria itu, tapi dia tetap saja selalu kagum dengan ketampanan yang dimiliki oleh suaminya itu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? jangan tatap aku lama-lama, nanti kamu jatuh cinta padaku," ujar Gavin yang dibalas dengan decihan dari mulut Jelita.
"Cih, kamu terlalu percaya diri. Aku hanya heran kenapa kamu berpakaian seperti itu, apa kamu tidak ke kantor hari ini?" tanya Jelita sembari meletakkan soup ayam yang baru dia angkat dari kompor, ke atas meja.
"Bekerja? Emang salah ya, aku berpakaian seperti ini ke kantor? hari ini aku hanya sebentar di kantor, aku sengaja mengosongkan jadwal karena ada yang harus aku lakukan. Kamu hari ini tidak terlalu sibuk kan?" jawab Gavin sembari menerima piring yang berisi nasi dari tangan Jelita.
"Tidak terlalu sih. Setelah mengantarkan kue ini, aku free. Emang kenapa?" Jelita mengrenyitkan keningnya.
"Emm, hari ini aku mau mengajak kamu ke satu tempat."
"Kemana?"
"Kamu jangan banyak bertanya. Sekarang lebih baik kita sarapan dulu."
Jelita mengerucutkan bibirnya, karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Gavin.
Keheningan tercipta di antara mereka berdua, karena memang Gavin tidak suka mengobrol saat sedang makan.
"Aku sudah selesai! aku berangkat dulu ya! nanti aku akan menghubungi kamu lagi," Gavin beranjak pergi meninggalkan Jelita yang masih penasaran kemana Gavin akan mengajaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa, Jelita tiba di green cafe sebelum pukul 10 pagi, dan Denis selalu menyambut wanita itu.
"Maaf ya, aku tidak sempat untuk mengobrol, karena aku harus pergi sekarang," ucap Jelita, sembari menyerahkan kotak-kotak berisi kue ke tangan karyawan Denis.
"Kenapa kamu buru-buru?" tanya Denis yang seketika berubah kecewa.
__ADS_1
"Oh, aku ada urusan penting, Kak Denis,.jadi aku nggak bisa lama-lama," jawab Jelita dengan santun.
"Oh ya, Bella kemana? aku belum melihatnya." Jelita mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Bella, wanita yang belakangan ini, sudah akrab dengannya.
"Hari ini dia tidak masuk, katanya dia sakit," jawab Denis yang masih terlihat tidak semangat.
"Oh, apa, Kak Denis tidak pergi menjenguknya?"
"Aku rasa tidak perlu, karena katanya dia hanya demam biasa, tapi kalau kamu mau menjenguknya, aku mau menemanimu," tutur Denis penuh harap.
"Emm, aku sebenarnya ingin menjenguknya, tapi hari ini aku tidak bisa karena ada janji, Kak."
"Janji? dengan siapa? apa kamu mau bertemu kekasihmu?" tanya Denis dengan raut wajah yang terlihat cemburu saat menyebutkan kata kekasih.
"Maaf, Kak Denis aku harus pergi sekarang. Soalnya aku sudah ditunggu dari tadi. Untuk pembayaran hari ini, besok juga nggak papa," Jelita berbalik dan beranjak pergi dengan langkah cepat, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Denis yang nantinya bisa-bisa membuatnya, tidak sadar keceplosan mengakui pernikahannya.
"Jelita, tunggu!" teriak Denis, berusaha untuk memanggil wanita itu. Namun Jelita sama sekali tidak menoleh, dan terus saja melangkah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dimana dia? ini benar kan alamatnya?" batin Jelita sembari mengedarkan pandangannya.
Pandangannya terhenti ketika mobil yang dia tahu milik suaminya, berhenti tepat di sampingnya. Gavin turun dari dalam mobil dan tersenyum tipis ke arah Jelita. Lagi-lagi Jelita selalu tidak bisa untuk tidak kagum melihat ketampanan yang dimiliki suaminya itu.
"Kamu sudah lama?" tanya Gavin, berbasa-basi.
"Belum sih. Aku juga baru aja sampai di sini." Sahut Jelita. "Kita di sini mau ngapain?" tanyanya kembali, sembari melihat ke sekeliling yang ramai dengan orang yang berlalu lalang.
"Ayo, kamu ikut aku!" Gavin melangkah melewati Jelita, dan wanita itu mengekor dari belakang dengan kerutan di keningnya.
Gavin membuka pintu kaca, dan masuk ke dalam. Di dalam sana ada 4 wanita yang langsung membungkukkan badan menyambut kedatangan Gavin dan Jelita.
Jelita semakin mengrenyitkan keningnya, ketika melihat Gavin membawanya ke sebuah toko kue yang di dalamnya sudah berjejer beberapa kue yang terlihat lezat.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu mengajakku ke sini? apa kamu mau membeli kue? aku kan bisa buat kue sendiri," bisik Jelita tepat di telinga Gavin.
"Aku tidak ingin membeli kue, tapi aku mau memperlihatkan toko kuemu sendiri," ucap Gavin yang membuat Jelita tertegun, merasa sangat sulit untuk percaya.
"Mas jangan bercanda! ini bukan toko kueku. Ayo kita pulang saja!"
"Siapa yang bercanda?" toko ini sudah aku beli untukmu dan mereka adalah karyawanmu. Aku lihat kamu sudah cukup kesulitan dan membutuhkan karyawan, jadi aku mencarikan mereka untukmu. Kue-kue itu adalah buatan mereka, jadi kamu sekarang bisa mencicipinya, apa mereka masuk kriteriamu atau tidak." jelas Gavin panjang lebar, tidak peduli dengan Jelita yang terpaku susah untuk berbicara.
Jelita tiba-tiba menarik tangan Gavin, untuk menjauh dari empat orang wanita itu.
"Mas, kenapa kamu melakukan ini tanpa bertanya dulu?" ucap Jelita dengan suara yang sangat pelan.
"Emangnya kenapa?" giliran Gavin yang mengrenyitkan keningnya.
"Mas, kalau begini, bagaimana aku bisa membayarnya nanti padamu? akan butuh waktu yang sangat lama agar aku bisa melunasinya padamu," ucap Jelita dengan raut wajah yang benar-benar khawatir.
Gavin sontak menatap tajam ke arah Jelita, hingga membuat tenggorokan Jelita seperti tercekat, sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? emangnya siapa yang suruh kamu mengganti uang yang aku keluarkan? tanya Gavin dengan nada yang sangat dingin, seperti dinginnya benua Antartika.
"Ja-jadi aku tidak perlu membayarnya? tapi kenapa? bukannya dulu kamu ...." Jelita menggantung ucapannya, karena tatapan Gavin semakin tajam, dan dingin.
"Kamu jangan banyak bertanya lagi! yang jelas ini adalah toko kuemu sendiri dan kamu tidak perlu membayar apa-apa padaku. Karena apa? karena baku suamimu, paham?" Jelita menganggukkan kepalanya dengan cepat karena takut melihat tatapan Gavin.
"Bagus! sekarang kamu coba cicipi kue buatan mereka," nada bicara Gavin, kini kembali seperti semula.
"Terima kasih ya, Mas!" ucap Jelita, walaupun hatinya masih penuh dengan tanda tanya.
"Emm," Gavin menjawab dengan singkat.
Tbc
Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak dukungannya dong, guys. Hanya like dan komen. Kalau mau memberikan vote dan hadiah, akan lebih menyenangkan pastinya. 😁🙏🏻🥰
__ADS_1