
Hari ini adalah hari di mana rekan kerja Nayla yang bernama Meta akan melaksanakan pernikahannya dengan Reno. Ketegangan yang sempat terjadi antara Nayla dan rekannya itu sudah membaik, karena akhirnya Meta menyadari kalau rasa cintanya pad Reynaldi sudah lama terkubur dan dirinya ternyata sudah mencintai Reno.
Ya, wanita itu melakukan hal yang dikatakan oleh Nayla, membayangkan bagaimana sekiranya Reno bersama dengan gadis lain, ternyata hatinya sangat sakit ketika membayangkannya, berbanding terbalik ketika dia membayangkan jika Reynaldi bersama dengan wanita lain, emang masih terasa sedikit sakit, tapi tidak semenyakitkan ketika dia membayangkan Reno.
Setelah merenung beberapa hari, akhirnya Meta bisa menarik kesimpulan kalau ternyata perasaannya buat Reynaldi bukan perasaan cinta lagi, tapi lebih ke perasaan rasa bersalah, karena memang pada saat itu,cara dia sudah sangat keterlaluan saat memutuskan hubungan dengan Reynaldi tanpa sebab. Hal yang paling membuat dia bahagia, ketika dia sudah terbuka pada Reno, dan ternyata akibatnya tidak seburuk yang dia kira. Kini dia sudah diberi kebebasan yang penting jangan sampai kebablasan, dari sang calon suami.
Nayla kini sudah tampil cantik, dan siap untuk berangkat ke acara resepsi Meta dan Reno. Ia tinggal menunggu jemputan Reynaldi yang memang diundang ke sana. Kalau boleh memilih, Nayla ingin sekali berangkat sendiri, tapi kalau sendiri di sana tanpa pasangan, pasti rasanya akan lebih horor dibandingkan jika dia bersama dengan Reynaldi.
Ketika sedang asik duduk sembari melamun di teras rumahnya, tiba-tiba cahaya yang sangat menyilaukan mengarah tepat ke wajahnya, sehingga wanita itu harus mengangkat kedua tangannya untuk melindungi matanya.
"Dasar orang gila!" umpat Nayla, begitu dia tahu siapa pelakunya. Ya, siapa lagi kalau bukan Reynaldi, yang iseng menyorotkan lampu mobilnya tepat ke arahnya.
"Hei, kamu mau berangkat nggak?" Reynaldi mengeluarkan kepalanya, karena melihat Nayla yang sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.
Nayla tidak menjawab, wanita itu justru masih memasang wajah masamnya. Kenapa dia kesal? ya karena tidak adanya inisiatif dari pria di dalam mobil untuk keluar dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Ya udah, kalau kamu gak mau ikut, aku pergi sendiri ya?" ucap Reynaldi, sengaja sedikit mengancam.
"Ya udah kamu pergi aja sendiri! aku juga bisa menyetir mobilku sendiri ke sana," jawab Nayla sembari berdiri, berniat masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya.
Melihat hal itu, membuat Reynaldi, panik. Pria itu langsung keluar dari dalam mobil dan berteriak, " Eh, jangan marah begitu dong! aku tadi hanya bercanda!" cegahnya sembari berjalan menghampiri Nayla yang memang sudah menyurutkan langkahnya.
"Tuh kan panik sendiri," batin Nayla sembari tersenyum tipis, yang bahkan hampir tidak terlihat.
"Ya udah ayok!" ucap Nayla sembari berjalan melewati tubuh Reynaldi.
"Bukain pintunya dong!" cetus Nayla lagi ketika wanita itu sudah berdiri di samping mobil.
Reyna hampir saja menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, untungnya pria itu segera tersadar kalau dia melakukannya, tatanan rambutnya yang sudah rapi bisa berantakan lagi.
Reynaldi akhirnya, berjalan menghampiri Nayla dan membuka pintu mobil untuk wanita itu.
"Nah, gitu dong! jadi laki-laki itu harus gentle dan harus ada inisiatif, jangan mesti diingatkan dan disindir dulu baru mengerti," celetuk Nayla sembari masuk ke dalam mobil.
Reynaldi akhirnya lebih baik memilih untuk diam. Hal yang bisa dilakukan pria itu hanya bisa menghela napasnya dengan sekali hentakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil yang dikemudikan oleh Reynaldi akhirnya berhenti di sebuah hotel tempat di mana acara resepsi pernikahan Meta dan Reno diadakan. Sebelum disindir oleh Nayla lagi, pria itu langsung turun dan berinisiatif untuk membukakan pintu untuk Nayla.
__ADS_1
"Terima kasih!" ujar Nayla dengan ekspresi meledek.
"Kamu lagi meledekku?" tanya Reynaldi.
"Siapa yang meledekmu? kan aku cuma bilang terima kasih," sangkal Nayla.
"Iya, kamu bilang terima kasih, tapi senyummu seperti meledek. Kamu pasti merasa sekarang seperti nona besar yang dilayani sama supir pribadi kan?" tukas Reynaldi, tepat sasaran.
"Nggak, ah! kamu aja yang berpikiran seperti itu, lain kali usahakan untuk berpikiran positif,". Nayla kembali menyangkal.
"Ya udah, jangan pasang muka kesal seperti itu, sekarang sebaiknya kita masuk, keburu makanannya habis," pungkas Nayla yang langsung berjalan mendahului Reynaldi.
Reynaldi kembali menghela napasnya, dan kali ini sedikit panjang.
"Sepertinya, aku harus menyiapkan banyak stok sabar untuk menghadapinya," batin Reynaldi sembari sedikit berlari, untuk bisa mensejajarkan langkahnya dengan Nayla.
Reynaldi dan Neyla masuk ke dalam ballroom yang ternyata sudah dipenuhi dengan para tamu undangan dari keluarga kedua belah pihak.
Di antara para tamu itu tampak juga Gavin dan Jelita yang hadir sebagai tamu kehormatan. Karena bagaimanapun Meta adalah dokter yang bekerja di rumah sakit milik keluarganya.
"Itu Gavin dan Jelita, kita ke sana yuk!" Reynaldi tanpa sadar langsung meraih tangan Nayla dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
Bukannya membalas sapaan Reynaldi, justru Gavin dan Jelita saling silang pandang dan dengan kompak langsung menatap ke arah tangan Reynaldi dan Nayla yang saling bertaut.
Melihat arah tatapan Gavin dan Jelita, membuat kedua orang itu sontak menjauhkan tangan masing-masing. Reynaldi bahkan langsung memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Mereka berdua hanya bisa tersenyum menahan malu.
"Apa kalian berdua punya hubungan?" tanya Jelita yang memang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Ti-tidak sama sekali. Kami hanya beberapa kali bertemu di rumah sakit," jawab Nayla dengan gugup.
"Emm, tapi kalau dilihat-lihat, kalian berdua cocok, kenapa tidak menjalin hubungan saja?"
"Ogah! dia itu menyebalkan, Jel," cetus Nayla dengan bibir yang mengerucut.
"Walaupun aku menyebalkan, aku tetap ngangenin kan?" timpal Reynaldi, menggoda.
"Idih, jangan terlalu percaya diri! aku tidak pernah kangen sama kamu sedikitpun," ucap Nayla tegas. Dia serius atau tidak serius dengan apa yang diucapkannya barusan hanya dirinya yang tahu, yang jelas, raut wajah Reynaldi seketika berubah kecewa.
__ADS_1
"Hei, kamu nak Rey yang dulu pernah mengejar-ngejar anakku Meta kan?" tiba-tiba sepasang suami istri yang merupakan orang tua dari Meta, datang menghampiri dan menatap Reynaldi dengan tatapan curiga.
Reynaldi tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum menanggapi ucapan orang tua Meta itu.
"Apa kabar, Tante, Om!" Reynaldi mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan orang tua Meta. Namun sepasang suami istri itu sama sekali tidak menyambut uluran tangan Reynaldi, sehingga membuat pria itu menarik kembali tangannya.
"Kamu datang ke sini tidak bermaksud untuk mengacaukan pernikahan anak saya kan? ingat kamu itu hanya masa lalunya, yang tentu saja sangat jauh berbeda levelnya dengan menantu saya," ucap mamanya Meta.
"Bu, buat apa calon suami saya berniat mengacaukan pernikahan anak anda? jelas-jelas sudah ada aku." Celetuk Nayla yang tiba-tiba marah melihat sikap kedua orang tua Meta yang terlihat jelas sedang menghina Reynaldi. Reynaldi yang merasa dibela tiba-tiba tersenyum penuh makna.
Mamanya Reynaldi sontak menatap ke arah Nayla dan melihat wanita itu dari atas ke bawah.
"Ah benarkah? saran saya,Nak lebih baik kamu jangan melihat seorang itu dari wajahnya saja. Sia-sia tampan kalau tanpa harta yang banyak,"
"Ibu salah. Tidak ada gunanya juga punya harta yang banyak kalau miskin hati. Lagian siapa bilang calon suami saya ini tidak memiliki harta? asal ibu tahu, dia bukan yang ibu kenai dulu lagi. Oh ya satu lagi, harusnya ibu berterima kasih padanya karena sudah menyadarkan putri anda untuk tidak lari dari pernikahannya. Kalau tidak,anda tidak akan bisa berdiri dengan angkuhnya seperti saat ini. Asal anda tahu, putri anda bahkan sempat meminta kak Rey untuk kembali padanya." ucap Nayla dengan berapi-api. Padahal yang dihina tenang-tenang saja.
"Kamu jangan bohong! itu tidak mungkin terjadi,"
"Terserah kalau mau percaya atau tidak," Nayla menyeringai sinis.
"Ibu dan Bapak yang terhormat, Rey yang ada di depan kalian sekarang bukan Rey yang dulu. Dia bahkan bisa membeli hotel ini kalau dia mau," Gavin yang sebenarnya juga tadi marah dan ingin bersuara, kini menimpali ucapan Nayla.
"Kenapa Tuan Gavin membela dia?"
"Kenapa? karena dia sahabat sekaligus asisten pribadiku. Asal ibu tahu, dia juga sudah banyak mempunyai aset. Tapi emang pada dasarnya dia tidak suka pamer," jelas Gavin kembali yang membuat sepasang suami istri itu terdiam dan akhirnya permisi pergi.
"Huh, dasar orang tua matre. Kasihan Meta yang mempunyai orang tua seperti itu," Nayla masih saja menggerutu.
Reynaldi, Gavin dan Jelita saling silang pandang, berusaha menahan tawa. Selain ingin tertawa, Reynaldi merasa bahagia, karena tindakan Nayla yang membelanya habis-habisan, yang secara tidak langsung, wanita itu sedang menjaga harga dirinya.
"Apa senyum-senyum!" cetus Nayla yang tiba-tiba kesal melihat senyum Reynaldi yang seperti tengah meledeknya.
"Tidak ada! hanya saja aku sangat berterima kasih, karena kami sudah membelaku,calon istriku!" goda Reynaldi sembari mengerlingkan matanya.
Nayla seketika bergeming, dan pipinya langsung memerah, merasa malu mengingat tindakannya tadi.
"Auk ah, kesal!" Nayla mengerucutkan bibirnya, sementara Reynaldi, Gavin dan Jelita tertawa melihat ekspresi Nayla.
Tbc
__ADS_1