
Taksi yang membawa Denis dan Bella melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi menuju rumah sakit terdekat, agar Denis segera mendapatkan pertolongan.
"Den, Denis bertahan ya!" ucap Bella, dengan pipi yang sudah banjir dengan air mata.
"Sakit banget, Bel," rintih Denis dengan lirih.
"Iya aku tahu itu sakit, tapi aku yakin kamu pasti kuat," ucap Bella yang sedikit merasa ngeri melihat darah yang keluar dari bibi dan hidung Denis.
"Aku sepertinya sudah ...." Denis tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba pria itu tidak sadarkan diri.
"Den, Denis! bangun,Den! jangan bikin aku takut ah," Bella kembali menangis sembari menepuk-nepuk pipi Denis.
"Tuan, tolong lebih cepat lagi! berapa lama lagi kita sampai di rumah sakit?" pekik Bella pada sang supir.
"Iya, Nona! sebentar lagi kita akan sampai," jawab sang supir dengan menambah sedikit kecepatan.
Belum sampai ke rumah sakit, tiba-tiba taksi itu berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti, Tuan?"
"Aku kehabisan bahan bakar, Nona!" sahut supir taksi dengan raut wajah bersalah.
"Jadi bagaimana ini?" Bella mulai panik.
"Tuan tolong cegat taksi lain," pinta Bella.
"Baik ,Nona!" supir taksi itu keluar dari dalam taksi.
Sementara itu, Bella masih berusaha untuk menyadarkan Denis dengan menepuk-nepuk pipi pria itu berkali-kali.
" Den, Denis bangun! kamu bilang mau menikahiku kan? kalau iya, kamu harus bangun dulu. Kalau kamu bangun aku berjanji akan menikah denganmu," ujar Bella sembari menangis sesenggukan.
"Denis, walaupun kamu sudah menyakitiku, entah kenapa aku tidak bisa membencimu. Rasa cintaku lebih besar dari rasa benciku. Aku menolakmu bukan karena benci, tapi karena aku tidak mau kamu menikahiku hanya karena rasa tanggung jawab, bukan karena cinta, Jadi kamu bangun ya! Bella meluapkan semua isi hatinya dengan sangat emosional.
"Benarkah? jadi kamu mau menikah denganku?" Bella tersentak kaget begitu melihat mata Denis yang terbuka dan tersenyum ke arahnya.
"Ka-kamu? apa maksudnya ini?" ekspresi Bella benar-benar kebingungan.
"Nggak penting dengan apa yang terjadi, yang jelas kami sudah berjanji untuk menikah denganku. Ingat janji harus ditepati," jawab Denis sembari bangun dari pangkuan Bella.
"Jangan bilang kalau yang terjadi barusan adalah akal-akalan kamu," tukas Bella dengan mata yang menghunus tajam.
"Emm, maaf!" Denis cengengesan sembari mengangkat dua jari membentuk huruf V.
"Aaaaaa!" Bella berteriak sembari memukuli tubuh Denis.
"Kamu tahu nggak aku benar-benar ketakutan dari tadi. Aku kira kamu ...." Bella menggantung ucapannya, karena tiba-tiba kepalanya pusing dan jatuh ke pundak Denis, tidak sadarkan diri.
"Bel, Bella! jangan bercanda, dong!" ucap Denis.
"Hahaha, aku tahu kalau kamu bercanda! kamu mau membalasku kan?" Denis tertawa sembari menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Karena pergerakannya itu, kepala Bella terjatuh ke pangkuan Denis.
__ADS_1
Melihat hal itu, wajah Denis sontak berubah panik. "Bel, Bella! please jangan bercanda seperti ini!" Denis menepuk-nepuk pipi wanita yang sudah dicintainya itu. Namun, Bella sama sekali tidak merespon, mata wanita itu tetap saja tertutup.
Di tengah kepanikannya, Denis membuka jendela mobil dan berteriak ke arah supir taksi.
"Tuan! tolong bawa kami ke rumah sakit! kekasih saya, pingsan!"
Sang supir taksi dengan sigap masuk kembali ke dalam mobil dan langsung melajukan taksinya dengan kecepatan tinggi.
Tidak perlu memakan waktu yang lama, taksi yang membawa Denis dan Bella berhenti di depan sebuah rumah sakit. Denis dengan cekatan langsung mengangkat tubuh Bella dan berlari masuk ke dalam. Karena terlalu panik tubuh wanita itu serasa ringan baginya.
Sesampainya di lobby rumah sakit, para perawat yang berjaga di sana segera menghampiri Denis dengan membawa brankar dorong serta.
Bella langsung dibawa masuk ke ruang UGD, agar langsung mendapatkan pertolongan.
"Apa Tuan juga mau diperiksa luka-lukanya," tanya salah seorang perawat, karena melihat wajah memar Denis.
"Tidak perlu, Nona! ini tidak asli," jawab Denis sembari menghapus warna biru keunguan di pipinya.
Perawat itu mengerenyitkan keningnya, kemudian masuk ke dalam ruangan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Denis berkali-kali menatap ke arah pintu yang masih tertutup dengan perasaan yang campur aduk. Ingin sekali dia menerobos masuk, karena tidak sabar untuk mengetahui keadaan Bella.
Begitu pintu terbuka,Denis langsung menghambur, menghampiri, Dokter yang baru keluar.
"Dok, bagaimana kekasih, saya?" tanyanya dengan nada tidak sabar.
"Tuan, tenang saja. Kekasih Tuan tidak apa-apa. Ini biasa terjadi pada wanita yang kehamilannya masih muda." jelas dokter itu.
"Oh, seperti itu?" ucap Denis sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa anda belum tahu, Tuan? kekasih anda sedang hamil dan usia kandungannya sepertinya masih sangat muda. Untuk memastikannya, nanti setelah dia tersadar langsung bawa periksa ke dokter kandungan," jelas dokter itu kembali, hingga membuat Denis mematung, tidak tahu mau berbuat apa lagi.
"Hamil? itu berarti anakku kan?" gumam Denis. menggunakan bahasa Indonesia.
"Iya, Tuan? Anda bicara apa tadi?" dokter itu mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Tidak ada apa-apa, Dok. Aku hanya sedang senang, karena aku akan menjadi seorang ayah," sahut Denis, sembari menyelipkan seulas senyuman di bibirnya.
"Oh. Kalau begitu selamat ya! saya pamit dulu," dokter itu melangkah pergi setelah Denis mempersilakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara lenguhan dari bibir Bella terdengar lirih. Denis yang dari tadi selalu berjaga dengan duduk di sebuah kursi sembari menggenggam erat tangan Bella, langsung berdiri degan raut wajah yang berbinar.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanyanya yang sudah mulai berani memanggil wanita itu, sayang.
"Aku kenapa ada di sini, Den?" tanya Bella sembari berusaha untuk duduk.
"Tadi kamu tiba-tiba pingsan dan aku membawa kamu ke sini," jawab Denis sembari membantu wanita itu untuk duduk.
" Ini semua pasti gara-gara kamu! aku tadi benar-benar ketakutan tahu nggak?" Bella tiba-tiba menangis kembali.
__ADS_1
Denis sontak menarik tubuh Bella dan mendekap wanita itu dengan erat.
"Maafkan aku! aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk meluluhkan hatimu. Makanya aku mengajak Brian dan istrinya untuk kerjasama, demikian juga dengan pria-pria yang memukuliku tadi, ehmm termasuk supir taksi itu,"
Bella sontak menjauhkan tubuhnya dari Denis dan menatap tajam ke arah pria itu.
"Jadi, kamu dan Kak Brian kerja sama? kalian benar-benar tega. Aku sampai mengira kalau Kak Brian dan Kak Jessie tidak menyukaiku tinggal di rumah mereka. Ternyata ini semua ulah kamu," air mata Bella semakin mengalir deras.
"Tidak mungkin mereka seperti itu. Kamu aja yang terlalu berpikir berlebihan. Justru sekarang mereka lagi di perjalanan, menuju ke sini, karena mereka khawatir dengan kondisimu," ucap Denis yang kembali meraih tubuh Bella dan mendekapnya erat.
"Mulai sekarang kamu jangan terlalu berpikir banyak lagi, Karena itu akan berpengaruh pada anak kita. Secepatnya juga kita akan pulang ke Indonesia dan aku akan langsung menikahimu,"
"Tunggu dulu! apa maksud kamu dengan anak kita?" Bella menatap penuh tanda tanya pada Denis.
"Iya, anak kita. Kata dokter kamu sekarang sedang mengandung, dan aku yakin kalau itu adalah anakku," jawab Denis santai.
"Ha-hamil? aku hamil?" Bella sontak menyentuh perutnya yang masih rata.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi kita akan punya anak. Jadi, sebaiknya kita langsung menikah ya?" ujar Denis dengan lembut sembari mengelus rambut wanita itu dengan lembut.
Wajah cantik Bella seketika berubah sedih. Bukan kary tidak bahagia dengan kehadiran janin di perutnya tapi sedih karena dia masih merasa kalau Denis belum mencintainya.
"Kamu kenapa sedih? kamu tidak suka ya dengan kehamilan kamu?". selidik Denis denga alis yang bertaut.
Bella menggelengkan kepalanya. "Jadi, gara-gara apa?" tanya Denis kembali.
"Apa hanya karena anak ini, kamu mau menikahiku?" tanya Bella sembari menatap Denis dengan tatapan sendu.
"Ya, ampun Bella, apa kamu belum menyadari perasaanku? ok, Awalnya memang karena ingin bertanggung jawab, tapi seiring berkembangnya waktu, kamu sudah berhasil menempati hatiku, Sayang. Aku menyadarinya ketika aku tidak ingin kamu dimiliki oleh pria lain. Aku sekarang benar-benar mencintaimu," Denis berucap dengan manik mata yang berkilat-kilat, dan berapi-api.
"Sungguh?"
"Iya." Tegas, singkat padat dan jelas.
"Bagaimana dengan Jelita? apa kamu tidak mencintainya lagi?" tanya Bella memastikan.
"Tidak! jujur saja, rasa cintaku padanya sudah terkikis dengan rasa cintaku padamu. Kamu harus percaya padaku. Apa kamu tahu siapa yang memberikan ide konyol yang aku lakukan tadi?" Bella menggelengkan kepalanya.
"Itu Gavin! dan asal kamu tahu, dia juga yang membantuku untuk mengetahui keman kamu pergi dan di man kamu tinggal,"
"Jadi, kamu sudah berbaikan dengannya?"
"Ya tentu saja! Sekarang kamu mau kan menikah denganku?" Bella tersenyum manis dan tanpa pertimbangan lagi, wanita itu langsung menganggukkan kepalanya, dengan semangat.
Denis tersenyum bahagia dan langsung memeluk wanita itu kembali, lebih erat dari yang sebelumnya.
"Sekarang kita ke dokter kandungan ya! kita periksa keadaan anak kita,"
"Den, kalau kehamilan masih muda, Apa sudah bisa naik pesawat? perjalanan kita ke Indonesia memakan waktu yang lama, lho,"
"Emm, sebaiknya kita tanya ke dokter kandungan dulu. Mungkin dokter ada solusinya," jawab Denis diplomatis.
__ADS_1
Sementara itu Brian dan Jessie yang sebenarnya sudah tiba, dan mendengar semua pembicaraan Bella dan Denis, saling melempar Senyum dan akhirnya lebih memilih untuk pergi meninggalkan rumah sakit.
Tbc