Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Aku titipkan dia ya!


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain dan masih di tempat yang sama, Denis terlihat masih frustasi. Pria itu bahkan sudah menghabiskan banyak minuman beralkohol.


"Denis, sudah cukup minumnya! sekarang kita pulang yuk!" Reynaldi yang dari tadi sabar menemani sahabatnya yang patah hati, kali ini kembali berusaha untuk menarik tubuh pria untuk berdiri. Namun lagi-lagi Denis menepis tangan Reynaldi.


"Pergi kamu! jangan pedulikan aku!" ujar Denis dengan tubuh yang sempoyongan, karena memang kondisi pria itu sudah mabuk berat.


"Denis, please jangan begini! kamu sudah mabuk berat, ayo pulang!" Reynaldi kembali menarik tubuh Denis.


Denis menyeringai sinis, ke arah Reynaldi,


"Apa pedulimu! kamu sama sekali tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Sakit Rey, sakit!" Denis memukul-mukul dadanya dengan sedikit keras. Tanpa malu, pria itu bahkan sudah meneteskan air mata.


Reynaldi menatap Denis dengan tatapan empati. Dia tahu betul apa yang sedang dirasakan oleh sahabat itu.


"Aku tahu itu pasti sakit! tapi kamu tidak boleh seperti ini. Sama aja kamu menyakiti dirimu sendiri. Kalau terjadi apa-apa denganmu, orangtuamu akan merasa sangat sedih, Sob." ucapnya, berharap Denis kali ini mendengarkan ucapannya, jika melibatkan orangtuanya.


Denis mendegus dan meletakkan kepalanya di atas meja. Tangannya kembali berusaha hendak meraih botol yang masih berisi alkohol


"Denis, please stop!" Reynaldi merampas botol minuman dari tangan Denis. "Aku tahu kalau kamu patah hati, tapi apa dengan begini, masalah akan selesai, Jelita akan datang padamu, begitu! sadar, Sob! dia itu istri sahabatmu!"


"Istri yang tidak dianggap kan? buktinya sampai sekarang, dia tidak mempublikasikan pernikahannya. Aku yakin kalau dia tidak mencintai Jelita sama sekali dan aku akan merebut dia dari si pengecut itu," Denis menyeringai sinis.


"Siapa bilang? bukannya aku sudah pernah cerita, kalau secara tidak sadar, Gavin sebenarnya sudah sangat mencintai Jelita. Kamu lihat sendiri tadi, bagaimana marahnya dia padamu," ujar Reynaldi, mencoba untuk membuka pikiran Denis.


"Diam! kenapa kamu selalu membela dia? apa karena dia lebih kaya dariku? apa karena kamu takut hidup susah kalau tidak membelanya? kamu benar-benar munafik!"


Bugh


Reynaldi mengayunkan tangannya memberikan pukulan ke wajah Denis. Pria itu kini sudah mulai hilang kesabaran, apalagi begitu mendengar tuduhan Denis yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


"Kamu benar-benar sakit ,Den. Kalau aku selalu berpihak padanya, buat apa aku masih ada di sini menemanimu, hah! Sekarang, ayo kita pulang!" Reynaldi, kali ini menarik paksa tubuh Denis.

__ADS_1


Entah kekuatan besar yang datang dari mana, Denis berhasil melepaskan diri dari Reynaldi dan bahkan mendorong sahabatnya itu.


"Kamu tinggalkan aku," Denis, kembali meraih botol minuman dan meneguknya langsung seakan yang sedang diminumnya itu air putih biasa.


"Denis, tolong jangan begini! Kamu goblok benar-benar goblok tahu nggak! kenapa kamu bisa berubah segoblok ini hanya karena cinta yang gak berbalas? harusnya kamu jangan memaksakan kehendakmu, dari awal Jelita sudah berusaha selalu menghindarimu kan? kamu saja yang berharap lebih!" kali ini, Reynaldi tidak segan lagi mengumpat pada sahabatnya itu.


"Kamu enak, bisa berbicara seperti itu, karena bukan kamu yang merasakannya. Kamu tahu, aku baru merasakan jatuh cinta, tapi kenapa harus berakhir menyakitkan begini?" Denis mengacak rambutnya, dengan kasar. Kemudian, dia meletakkan kepalanya di meja dengan kepala yang bertumpu di atas kedua tangannya.


Reynaldi menarik napas dalam-dalam, dia sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Denis. Tiba-tiba, ada getaran yang berasal dari dalam sakunya. Reynaldi merogoh sakunya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Mbok Surti, ngapain nelpon aku ya?" batin Reynaldi sembari menekan tombol jawab.


"Iya, Mbok?"


"Den, kaki ibu katanya kembali sakit. Tadi terjatuh di dapur," terdengar suara mbok Surti yang terdengar panik.


"Aduh, Mbok cari cara sebentar untuk meringankan sakitnya. Aku akan pulang secepatnya," ucap Reynaldi yang seketika panik. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, celananya setelah panggilan terputus.


"Haris, bagaimana ini? tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian di sini." Reynaldi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, bingung mau melakukan apa.


"Sebaiknya aku pesankan dia kamar saja, biar lebih aman. Lagian kalau diantar pulang dalam kata begini bisa membuat papanya murka," kembali Reynaldi mengajak hatinya untuk berbicara.


Reynaldi akhirnya kembali menarik tubuh Denis, yang untungnya tidak memberikan perlawanan kali ini. Mungkin karena pria sudah terlalu mabuk.


Dengan langkah tertatih-tatih, Reynaldi membopong tubuh Denis, berjalan keluar dari ballroom yang dari tadi sudah sepi.


Reynaldi sudah hampir mendekati lobby tempat dia bisa memesan kamar pada resepsionis.


"Pak Rey, ada apa dengan Pak Denis?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang seketika menghentikan langkah Reynaldi.


"Bella? kenapa kamu ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan wanita yang ternyata Bella itu, Reynaldi justru balik bertanya.

__ADS_1


"Oh, ta-tadi, aku ada acara dengan teman-temanku di hotel ini, dan sekarang aku baru mau pulang, Pak Rey," jawab Bella dengan sedikit gugup, seperti ada yang tengah ditutupi oleh wanita itu.


"Pak, kenapa dengan Pak Denis? kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Bella kembali dengan nada khawatir.


"Dia minum terlalu banyak, karena patah hati. Dia baru tahu, kali wanita yang dia cintai, sudah memiliki suami,"


"Jadi, Pak Denis sudah tahu kalau Jelita sudah menikah?" Bella benar-benar terkejut sekaligus prihatin dengan kondisi Denis.


"Jadi, kamu juga sudah tahu kalau Jelita sudah menikah?"


Bella seketika menutup mulutnya, karena sudah keceplosan. "I-iya, Pak. Cuma aku tidak tahu, siapa suaminya, dan __"


"Suami Jelita, Gavin. Makanya Denis shock begini," potong Reynaldi, cepat membuat Bella membesarkan matanya terkesiap kaget.


"Pak Rey, serius?" Reynaldi menganggukkan kepalanya.


"Maaf, aku buru-buru, Aku mau memesan kamar buat Denis, soalnya aku harus bawa mamaku ke rumah sakit. Aku pamit dulu ya!" Reynaldi kembali melanjutkan langkahnya menuju lobby.


"Pak Rey, Bapak pulang saja, biarkan aku yang memesankan kamar untuknya," celetuk Bella tiba-tiba.


"Tapi?" Reynaldi sedikit ragu.


"Bapak tidak perlu khawatir. Sekarang yang terpenting Pak Rey harus membawa mamanya ke Rumah sakit kan?" Bella berusaha meyakinkan Reynaldi.


"Hmm, sepertinya aku memang harus cepat-cepat pergi. Kalau aku memesan kamar untuknya, mengantarkan ke kamar, akan memakan banyak waktu, sedangkan mama benar-benar harus dibawa ke rumah sakit. Lagian Bella bukan orang lain, dan sepertinya dia menyukai Denis," batin Reynaldi,menghalau keraguannya.


"Baiklah! aku titipkan dia ya!" pungkas Reynaldi akhirnya.


"Iya, Pak!" sahut Bella seraya menerima tubuh Denis dari Reynaldi.


"Terima kasih ya,Bel! aku pergi dulu," Reynaldi berlalu pergi dengan sedikit berlari, setelah Bella menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2