Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Keluar dari sini!


__ADS_3

"Jadi kamu itu, putra tunggalnya tuan Ganendra?" Maya mengerjap-erjapkan matanya, masih kurang percaya.


"Menurutmu?" Gavin berucap dengan santai sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya.


"Tapi, kenapa kamu ...."


"Kenapa apa? kenapa aku bisa bekerja di perusahaan Haris sebagai karyawan biasa? dan kenapa aku tidak berterus terang padamu?"


Gavin berdiri dari kursinya dan mengitari meja, kemudian duduk di atasnya.


"Iya, kenapa kamu tidak jujur padaku? katamu kamu mencintaiku, tapi kenapa kamu tidak berterus terang tentang siapa kamu sebenarnya?"


"Itu karena mamaku mengatakan kalau kamu tidak baik untukku. Kamu hanya melihat seseorang itu dari hartanya saja. Untuk membuktikan kalau apa yang dikatakan mamaku tidak benar, aku akhirnya berpura-pura untuk menjadi karyawan biasa. Ternyata apa yang dikatakan oleh mama benar adanya," jelas Gavin masih dengan ditemani sikap sinisnya.


Maya bergeming tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Sial! ternyata aku membuang Bank berjalan demi ATM berjalan," umpat Maya merutuki kebodohannya.


"Jadi apa maksudmu memanggil kami ke sini, seolah-olah,kamu berniat menerima kerja sama dengan perusahaanku?" tiba-tiba Haris buka suara, "apa kamu mau pamer dan membuat Maya menyesal telah meninggalkanmu, begitu? aku rasa cara kamu ini sangatlah kampungan,Tuan Gavin yang terhormat. dan aku yakin, kalau Maya tidak akan pernah juga kembali padamu," imbuhnya.


Gavin berdecih dan berjalan mendekati Haris.


"Apa kamu yakin dengan itu, Tuan Haris? mau kita coba lihat?" bisiknya tepat di telinga Haris yang wajahnya seketika berubah. Entah kenapa dia merasa ragu kalau Maya akan lebih memilih Gavin nantinya.


"Sudahlah! ayo kita keluar dari sini,Sayang!" Haris yang sedikit panik, takut kalau-kalau Maya, kembali lagi pada Gavin, segera menarik tangan wanita itu, mengajaknya untuk pergi. Akan tetapi, Maya langsung menepis tangan Haris dan langsung mendekati Gavin.


"Sebenarnya, aku terpaksa melakukannya, Vin. Aku sangat butuh uang saat itu untuk pengobatan ibuku, makanya aku butuh seorang laki-laki yang bisa memenuhi kebutuhan itu. Aku tidak punya cara lain lagi, kecuali menolak lamaranmu?" Maya mulai memasang wajah malaikatnya, berharap Gavin menjadi simpati padanya.


"Oh ya?" Gavin memicingkan matanya.


"Iya, Gavin! orang yang aku cinta sebenarnya hanya kamu. Seandainya mamaku tidak sakit dan butuh banyak biaya, kamu mau karyawan biasa pun aku tidak akan mempermasalahkannya,"


"Apa maksudmu, Maya?" bentak Haris, yang kaget mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Kamu sudah dengar jelas kan tadi? apa masih perlu aku jelaskan lagi? aku sebenarnya tidak pernah mencintaimu, cintaku hanya untuk Gavin," suara Maya sedikit meninggi ke arah Haris.

__ADS_1


Haris mengepalkan kedua tangannya, dengan rahang yang mengeras dan wajah yang memerah karena emosi sudah sampai ke ubun-ubun.


"Jadi kamu masih mencintaiku? tanya Gavin dengan tatapan mesra.


"Iya, Gavin! tolong maafkan kesalahanku dulu. Apa kamu mau memaafkanku?" tanya Maya, memasang wajah sendu, memelas penuh penyesalan.


"Aku yakin kamu pasti masih sangat mencintaiku Gavin. Kamu tidak mungkin bisa melupakanku. Kita lihat saja, kamu pasti luluh dengan wajah memelasku," bisik Maya pada dirinya sendiri, sangat percaya diri.


"Ya, aku memaafkanmu, May, karena aku tahu alasan kamu melakukan hal itu hanya demi mamamu,"


"Yes! benar kan kataku. Siapa sih yang bisa menolak pesona wanita cantik sepertiku?” sorak Maya dalam hati dengan bangga dan senyum tipis.


"Jadi, apa kita bisa kembali lagi bersama?" Maya berucap dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Kenapa tidak?" jawab Gavin dengan menyunggingkan senyum manisnya.


"Aduh Terima kasih, Sayang!" Maya menghambur, hendak memeluk Gavin.


"Stop, di sana! jangan kamu berani memelukku!" Tatapan mesra yang ditunjukkan Gavin tadi seketika berubah menjadi tatapan yang sangat tajam, dan bengis.


Gavin tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru mengalihkan tatapannya ke arah Haris.


"Bagaimana, Tuan Haris? apa kamu masih mau mempertahankan wanita murahan seperti dia?"


tanya Gavin dengan melirik sinis dan merendahkan ke arah Maya.


"Tidak akan! Terima kasih sudah membuka mataku, Tuan Gavin. Aku tidak menyangka kalau selama ini, aku sudah bodoh, berhasil termakan tipu daya, wanita seperti dia." ucap Haris yang juga menatap penuh amarah pads Maya, yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Yang pasti dia tahu, kalau keadaan sekarang dalam zona merah.


"Aku juga minta maaf padamu, Tuan Gavin,. karena sudah memecatmu dulu dengan tidak hormat. Itu semua karena hasutan dia, yang mengatakan kalau kamu selalu memperlakukan dia dengan kasar selama ini. Aku berjanji, akan memperbaiki namamu di pada karyawan-karyawan di perusahaanku yang juga sempat termakan hasutan dia," sambung Haris kembali dengan tegas dan lugas.


"Terima kasih, Tuan Haris!" jawab Gavin sembari menepuk-nepuk pundak Haris.


"Kalau begitu aku pamit dulu! dan untuk kamu Maya, mulai besok kamu tidak perlu datang lagi ke perusahaanku!" Haris beranjak keluar tanpa mengajak Maya, dan setelah Gavin menganggukkan kepala, mempersilakan.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini?" tanya Maya, menuntut penjelasan, setelah tubuh Haris lenyap di balik pintu.


Gavin menyeringai sinis mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut wanita yang menurutnya tidak punya urat malu itu.


"Apa masih kurang jelas apa yang kami ucapkan tadi? atau masih perlu aku jelaskan lagi?" ucap Gavin dengan dingin. "Apa kamu kira, aku benar-benar masih mau dengan wanita yang gila harta seperti kamu? tadi itu aku hanya bersandiwara di depanmu. Aku hanya ingin membuka mata Haris, agar dia bisa melihat jelas wanita seperti apa kamu. Yang menatap segalanya hanya dari harta," tutur Gavin dengan nada yang sarkastik.


"Kalau emang kamu wanita baik-baik, seperti alasan yang kamu katakan tadi,kamu pasti akan tetap memilih dia, karena bagaimanapun dialah yang membantu biaya pengobatan ibumu bukan? tapi sepertinya kamu manusia yang tidak tahu balas budi. Itu pun kalau benar ibumu sakit, tapi sepertinya tidak sama sekali. Kasihan sekali Ibumu yang punya anak seperti kamu yang tega mendoakan ibu sendiri sakit demi bisa mendapatkan simpati dariku." sambung Gavin kembali yang membuat Maya benar-benar tersudut, mati kutu.


"Gavin, jangan seperti ini! aku benar-benar tidak berbohong tentang ibuku yang sakit. Aku juga tulus mencintaimu dan tentang masalah balas budi, aku tahu kalau aku salah, yang meninggalkan dia, karena lebih memilihmu. Tapi ini bukan karena aku tidak tahu balas budi, Gavin. Aku hanya tidak bisa membohongi perasaanku." Maya masih berusaha untuk meyakinkan Gavin.


Gavin berdecih dan tersenyum sinis.


"Apa kamu tahu apa namanya itu?" Gavin menunjuk ke arah pintu.


"Ya, itu pintu."


"Kalau begitu kamu tahu kan apa fungsinya? sekarang kamu buka pintunya, dan keluar dari sini! jangan harap kamu bisa menginjakkan kakimu lagi di sini dan jangan berharap kalau aku bisa percaya dengan wanita ular sepertimu yang penuh muslihat." Gavin melangkah ke arah kursinya dan langsung membuka lembaran demi lembaran yang ada di depannya.


"Gavin, tolong percaya padaku, aku __"


"Keluar!" Potong Gavin dengan nada dingin dan cepat tanpa melihat Maya.


Maya masih berusaha untuk berdiri di tempat dia berdiri, hingga membuat Reynaldi yang dari tadi hanya diam, geram. Pria itu berdiri, menarik tangan Maya dan mendorong wanita itu keluar.


Maya menghentakkan kakinya,merasa nasibnya sangat sial hari ini. Dia sudah kehilangan dua pria sekaligus.


"Sial! Gavin tidak dapat, Haris juga tidak dapat. Bodoh sekali aku! tapi tenang saja, aku kan cantik, aku bisa mendapatkan pria-pria kaya lagi. Dan aku juga tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan Gavin kembali." Maya melangkah dengan senyuman licik di sudut bibirnya.


Tbc


Please untuk tetap memberikan dukungan pada karya ini dong, Guys. Like vote dan tinggal kan komentar.


Sembari menunggu ini up, bolehlah singgah ke karya2 ku yang lainnya.

__ADS_1


ada You are my destiny, Cinta terhalang janji, dosenku kekasihku dan yang lainnya. Terima kasih 🙏🏻🥰


__ADS_2