Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Kekesalan Meta


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan udara selama lebih kurang 20 jam lebih dari Jakarta, pesawat yang ditumpangi oleh Denis mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Pearson Toronto, Canada.


Dari Bandara, Denis langsung mencari sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari Bandara, untuk dirinya istirahat karena di Kanada sekarang masih pukul 3 pagi sedangkan di Indonesia sekarang sudah masuk hari Senin jam 2 siang. Karena waktu Indonesia lebih maju 11 jam dibandingkan negara Kanada.


Denis merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari melihat ke arah jam. Dia merasa jam itu sangatlah lambat berputar. Ingin rasanya Denis terbang ke angkasa dan memaksa matahari untuk keluar. Namun kalau itu sempat terjadi, seluruh warga negara Kanada pasti akan memaki dan mungkin menyumpahi yang tidak-tidak.


Denis meraih handphonenya dan berniat untuk bermain game, karena pria itu sama sekali tidak mengantuk akibat kebanyakan tidur di dalam pesawat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara Denis larut dalam rasa kesalnya terhadap lambatnya jam berputar, Nayla dan Meta sedang bersitegang. Apalagi permasalahannya kalau bukan mengenai Reynaldi. Meta mencap Nayla cari muka di depan mamanya Reynaldi, pria yang masih dicintainya selama ini.


Beberapa jama yang lalu.


"Pagi, Dokter Meta!" sapa Nayla dengan senyuman manis dan ramah seperti biasanya.


"Oh, Selamat Pagi, Dok! Meta membalas senyuman Nayla dengan mata yang menatap ke arah kotak makanan yang ditenteng rekannya itu.


"Tumben kamu bawa bekal." Meta menunjuk ke arah bawaan Nayla.


"Oh ini? ini bukan buatku, tapi buat tante Rosa. Kemarin tante itu bilang tidak suka dengan makanan rumah sakit." jawab Nayla dengan seulas senyuman yang tidak tertanggal dari bibirnya. Wanita itu sama sekali tidak memperhatikan perubahan pada wajah Meta.


"Oh, begitu? apa itu kamu masak sendiri?" tanya Meta lagi, dengan senyum yang dipaksakan.


"Iya. Emm, dibantu sedikit sama bibi sih," Nayla nyengir.


"Ternyata kamu bisa masak ya? tapi bagaimana dengan rasanya? aku yakin dengan segala kesibukanmu, kamu pasti jarang memasak. Jadi bisa dipastikan kalau rasanya ... gimana ya? bukannya merendahkan rasanya pasti biasa aja. Maaf ya kalau aku berbicara terlalu eksplisit," ujar Meta dengan senyum smirk, meremehkan.


Nayla mengrenyitkan keningnya, bingung dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Meta yang dia rasa bukan seperti Meta selama ini. Meta yang dia kenal yang selalu ramah,sopan dan selalu menghargai sekecil apapun yang dilakukan oleh orang lain.


"Emm, mungkin juga sih. Tapi mau bagaimana lagi, kemarin tante Rosa memintaku memasak makanan buat dia, enak tidak enak, ya bagaimana lagi? aku tidak mungkin menyuruh chef terkenal memasak hanya untuk sebuah pujian. Itu berbohong namanya," Nayla menanggapi dengan santai, tidak terpancing dengan sikap dan ucapan Meta.


"Oh ya, Dokter Meta, aku keruangan Tante Rosa dulu ya! tante itu mungkin sudah lapar," Nayla kembali berucap, kemudian berlalu dari hadapan Meta, yang tersenyum masam.

__ADS_1


"Aku ikut! aku juga mau melihat kondisi tante Rosa. Aku juga merindukannya." Meta berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Nayla.


"Asal kamu tahu, dulu waktu SMA, aku sering main ke rumah Reynaldi dan aku sangat dekat dengan tante itu. Tante Rosa dulu suka mengajari aku memasak. Tante Rosa sangat pintar memasak, asal kamu tahu," cerocos Meta, menceritakan kedekatannya dengan mamanya Reynaldi, seakan ingin menunjukkan kalau dia lebih tahu tentang mamanya Reynaldi dibandingkan dengan Nayla.


"Oh ya? Emm, apa pria pacar pertama yang ku ceritakan itu, Kak Rey?" pancing Nayla, walaupun dia sudah bisa menebak jawabannya.


"Emm, dari mana kamu tahu? apa Rey yang menceritakannya?" kalau iya, dia menceritakan apa saja?" tanya Meta dengan antusias dan raut wajah yang berbinar. Entah kenapa dia merasa yakin kalau Reynaldi masih memiliki perasaan padanya sama halnya seperti dirinya.


"Aku hanya menebak saja, sih. Kak Reynaldi sama sekali tidak pernah menceritakan apapun tentang kamu," jawab Nayla, jujur. Tidak ada niat untuk berbohong guna membuat Meta senang. Toh tidak ada gunanya kan kalau dia kebahagiaannya semu.


"Kamu pasti bohong kan? aku yakin dia pasti masih mengingat kisah kami," ucap Meta menghibur dirinya sendiri, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya kesal dengan kenyataan yang dia dengar dari mulut Nayla.


"Mungkin! kalau untuk itu aku tidak tahu. Sebaiknya kamu tanyakan langsung aja pada Kak Rey, apa dia masih mengingat semua kisah kalian berdua dan ingin mengulangnya kembali. Soalnya, itu bukan urusanku," pungkas Nayla yang membuat Meta tersenyum kecut.


"Oh ya, kita udah sampai. Ini ruangan Tante Rosa," ucap Nayla sembari memutar handle pintu, dan mendorongnya.


"Selamat pagi, Tante!" sapa Nayla dengan menyelipkan senyuman di bibir pinknya.


"Wah, selamat pagi, Sayang!" Rosa membalas sapaan Nayla dengan nada riang.


"Selamat pagi, Tante! masih ingat aku kan?" sapa Meta, memperlihatkan dirinya.


Rosa memicingkan matanya, berusaha untuk mengingat sosok Meta.


"Oh, kamu? kamu Meta kan, teman SMA Reynaldi?" ucap Rosa setelah berhasil mengingat.


"Iya, Tan. Bukan hanya teman tapi kami dulu pernah pacaran, masa Tante lupa," Meta tersenyum manis dengan ekor mata yang melirik ke arah Nayla, untuk melihat apa reaksi rekannya itu.


"Hmm gitu ya? tapi itu kan masih remaja ya? bagi Tante itu masih cinta-cinta monyet yang belum tentu berjodoh," sahut Rosa dengan senyuman di bibir tapi menyelipkan sebuah sindiran.


Meta sontak terdiam dan tersenyum kecut.


"Kamu bawa apa itu, Sayang?" tanya Rosa menunjuk ke bawaan Nayla.

__ADS_1


"Oh ini, makanan buat Tante. Tapi aku nggak tahu enak apa tidak," jawab Nayla sembari meletakkan bawaannya di atas nakas.


"Wah, kebetulan Tante belum makan. Tuh lihat makanan yang dibawa perawat tadi masih utuh," Rosa menunjuk ke arah nampan yang tampaknya memang belum disentuh sama sekali.


"Jadi apa, Tante mau makan sekarang?" tanya Nayla lagi.


"Tentu saja, Tante sudah lapar. Kalau kamu nggak sibuk,kamu suapin tante ya?" ucap Rosa dengan nada yang sedikit manja.


"Emm, boleh deh! kebetulan aku tidak terlalu sibuk." jawab Nayla sembari membuka kotak makanan yang dibawanya. Kemudian wanita itu menyendokkan makanan itu ke dalam mulut Rosa.


"Emm, enak sekali, Sayang! ini kamu masak sendiri ya?" puji Rosa dengan ekspresi wajah yang berbinar.


"Iya, Tan. Masa sih enak, Tan?"


"Sumpah, ini enak sekali! kamu benar-benar menantu idaman. Udah cantik, baik, tidak melihat materi, pintar masak lagi." kembali Rosa memuji, dengan ekor mata yang bergerak melirik Meta yang tersenyum kecut.


"Ah, Tante berlebihan! ini masakan sederhana aja, Tante."


"Mau sederhana sekalipun, kalau dimasak dengan hati, pasti rasanya enak seenak masakan chef terkenal," ucap Rosa sembari mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya dengan semangat.


"Oh ya, hari ini tante sudah bisa pulang. Sebenarnya sih siang ini, tapi aku meminta sama Rey, nanti sore aja pas kamu pulang. Supaya kamu bisa ikut mengantarkan Tante," ucap Rosa setelah dia menelan makanannya.


"Jadi, apa Kak Rey setuju?"


"Tentu saja! kalau tidak setuju, Tante hapus dari daftar KK, " ucap Rosa dengan ekspresi lucu yang membuat tawa Nayla pecah.


Sementara itu, Meta sudah merasa tidak nyaman. Dia merasa seperti makhluk tidak kasat mata di antara Rosa dan Nayla.


"Emm, Tante, Dokter Nayla, aku pamit ya! soalnya aku ada janji dengan pasien sebentar lagi," celetuk Meta yang sudah merasa gerah dan jengah dengan keakraban yang dipertontonkan oleh Nayla dengan mamanya Reynaldi.


"Oh, iya, Dok! selamat bekerja ya!" sahut Nayla, tulus.


"Cih, sok baik, aku yakin kalau kamu berpura-pura untuk menarik perhatian Tante Rosa," Meta berlalu sembari menggerutu di dalam hati.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2