
Cahaya matahari membias masuk melalui celah-celah gorden tipis berwarna putih ke dalam kamar hotel yang ditempati oleh Denis.
Denis terlihat menggeliat dan membuka matanya perlahan-lahan. Pria itu terlihat memijat-mijat keningnya karena masih merasa pusing. Pengaruh alkohol mungkin sudah hilang, tapi rasa pusing di kepala masih sangat menggangu.
"Di mana aku?" batin Denis sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar yang dia tahu jelas bukanlah kamarnya.
"Kamar hotel? kenapa aku bisa ada di kamar
ini?" Denis berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi tadi malam. Namun yang dia ingat hanya kejadian di mana dia mendapat pukulan dari Gavin dan karena frustasi dia minum banyak.
Denis menghela napasnya dan berniat untuk turun dari atas ranjang. Matanya membulat penuh, kaget ketika dia menyibakkan selimutnya, tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun yang menempel.
"Ada apa ini? kenapa aku te*lan*jang?" Denis berdiri dan mencari pakaiannya. Dia melihat pakaiannya masih teronggok di atasnya lantai.
Denis kembali melihat ke atas ranjang, dan matanya kembali membesar, begitu melihat ada bercak darah yang sudah mengering, menempel di atas seprei putih.
"Astaga? apa yang sebenarnya terjadi? apa yang sudah aku lakukan? apa aku sudah merusak seorang gadis?" Denis kembali berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun dia masih merasa kesulitan untuk mengingatnya.
"Oh, sial! kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" Denis menggerutu sembari mengetuk-ngetuk dahinya.
"Reynaldi! ya Reynaldi, dia pasti yang memesankan kamar ini, sebaiknya aku bertanya padanya," Denis segera mencari ponselnya yang ternyata sudah tergeletak di atas nakas. Denis yakin kalau wanita itu yang meletakkannya di sana.
Belum lagi, Denis menekan tombol memanggil, ponselnya sudah langsung berbunyi, dan orang yang sedang menghubunginya, adalah orang yang akan dia hubungi.
"Halo, Rey. Aku baru saja mau menghubungimu," ucap Denis.
"Oh, begitu? bagaimana keadaanmu sekarang,Sob? apa kamu masih di hotel?" tanya Reynaldi dari ujung telepon.
"Masih? dan aku sekarang baik-baik saja. Inj yang mau aku tanyakan, apa kamu yang memesankan kamar untukku? Denis bertanya dengan harap-harap cemas.
"Awalnya sih iya, tapi aku tadi malam buru-buru mau bawa mama ke rumah sakit, karena mamaku jatuh di dapur dan kakinya sakit lagi. Jadi, aku minta tolong sama Bella yang kebetulan juga sedang ada di hotel itu. Emangnya kenapa, Sob?"
"Bella? ma-maksudmu, Bella managerku?" Denis benar-benar shock.
"Iya, Bella siapa lagi. Wanita yang bernama Bella yang aku kenal ya cuma managermu itu. Emangnya kenapa sih?" Reynaldi terdengar semakin penasaran.
"Kamu tidak bercanda kan?" Denis kembali bertanya, memastikan.
" Sob, buat apa aku bercanda? apalagi aku tahu kalau candaan begini tidak lucu. Kamu kenapa sih? kenapa kamu berkali-kali menanyakan kebenarannya? apa ada sesuatu yang terjadi?"
__ADS_1
Denis tidak langsung menjawab. Dia kembali berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam. Tiba-tiba potongan potongan bayangan seorang wanita yang memohon dan menangis sewaktu dirinya dengan teganya merusak harga diri wanita itu, berkelebat di pikirannya.
"Den? Denis? apa kamu masih di sana?" suara panggilan Reynaldi seketika membuat Denis tersadar dari lamunannya.
"I-iya, aku masih di sini," ucap Denis gugup dan lemas.
"Kamu ada apa sih? please, jangan buat aku penasaran," desak Reynaldi, yang bisa dipastikan kalau sekarang wajah pria itu di ujung sana, pasti sedang kesal.
"Rey, A-aku telah merusaknya. A-aku tidak__"
"Merusak bagaimana? apa yang rusak? potong Reynaldi masih berusaha untuk berpikir positif, walaupun memang perasaannya sudah mulai tidak enak.
"Aku telah merusak Bella, Rey. Aku merengut paksa kesuciannya," Denis memperjelas ucapannya dengan raut wajah yang frustasi.
Tidak terdengar suara Reynaldi dari ujung sana. Denis yakin kalau saat ini, pria itu pasti terpaku tidak bisa berkata apa-apa.
"Rey, apa kamu masih ada di sana?" tanya Denis dengan suara yang lirih
"Brengsek! bajingan kamu, Denis!" umpat Reynaldi, dengan suara tinggi. "Bagaimana kamu bisa jadi sebejat itu, hah!"
"Aku benar-benar tidak sadar melakukannya,Rey. Aku tidak ada niat untuk melakukan hal bejat itu, aku benar-benar frustasi tadi malam," ucap Denis yang sama sekali tidak membalas umpatan Reynaldi, karena dia sadar kalau dirinya memang bejat.
"Ini semua bukan gara-gara kamu, Rey. Ini gara-gara aku yang memang bejat dan bajingan. Bagaimana sekarang, Rey? apa yang harus aku lakukan?"
"Goblok! kenapa kamu masih bertanya apa yang akan kamu lakukan, hah? satu-satunya yang harus kamu lakukan ya, tanggung jawab! jangan bilang kamu mau lari dari tanggung jawab?"
"Tapi ...."
"Tapi, apa? kamu mau bilang kalau kamu tidak mencintainya? dan cinta kamu untuk Jelita, begitu? kalau kamu ada di depanku sekarang, sudah habis kamu aku buat." Reynaldi benar-benar marah sekarang. Itu terdengar dari suaranya yang berapi-api dan suara napasnya yang memburu.
"Denis, Cinta itu tidak harus memiliki. Aku tahu kamu mencintai Jelita, tapi kamu harus sadar kalau Jelita istri Gavin. Kalau kamu bilang, Gavin tidak mencintai Jelita, kamu salah besar. Aku berani jamin seratus persen kalau Gavin sangat mencintai istrinya. Sekarang sebagai seorang pria sejati yang bertanggung jawab, kamu harus tahu yang mana lebih penting sekarang, cinta egoismu atau tanggung jawabmu. Ingat, kamu telah merusak hal yang tidak bisa diperbaiki lagi. Itu akan selamanya rusak. Satu hal lagi, hal yang kamu lakukan itu, pasti meninggalkan trauma yang sangat berat untuk Bella dan jalan satu-satunya, kamu yang harus menyembuhkan rasa trauma itu," tutur Reynaldi panjang lebar tanpa jeda, berharap sahabatnya itu bisa mengerti.
Denis bergeming, tidak bisa berkata apa-apa, karena apa yang terlontar dari mulut sahabatnya itu, benar adanya. Kemudian pria itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan napasnya dengan cukup panjang dan berat.
"Rey, kamu benar! aku yang sudah merusak dan aku yang harus bertanggung jawab memperbaikinya.Walaupun aku tahu, itu tidak akan bisa kembali utuh," pungkas Denis, tegas.
"Syukurlah, kalau kamu sudah menyadarinya. Satu hal lagi yang harus kamu ingat, Apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai. Jika sekarang kamu melakukan hal buruk pada seseorang dan kamu tidak mau memperbaikinya, yakinlah kalau suatu saat kamu pasti menuai karma buruknya. Demikian juga sebaliknya, kamu melakukan kebaikan, kamu juga akan menuai karma baiknya," tutur Reynaldi, bijak.
"Rey, aku matikan dulu teleponnya ya, aku mau menemui Bella sekarang." Denis memutuskan panggilan, begitu Reynaldi mengiyakan dari ujung sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam sebuah rumah mewah tampak seorang pria dan wanita setengah baya yang benar-benar merasa bingung kenapa pagi-pagi begini, Bella putri mereka satu-satunya tiba-tiba meminta untuk tinggal di luar negeri.
"Kenapa tiba-tiba begini, Sayang? apa kamu ada masalah?" tanya mama Bella dengan alis yang bertaut.
"Tidak ada, Mah. Aku hanya ingin tinggal di luar negeri saja," jawab Bella berusaha menyembunyikan apa yang sudah terjadi padanya.
"Apa ini karena kamu sudah menyerah untuk mendapatkan cinta Denis?" kali ini sang papa yang buka suara.
"Itu salah satunya. Aku merasa kalau tidak ada gunanya untuk menarik perhatiannya lagi. Hati pria itu benar-benar terbuat dari batu. Makanya aku mau ke luar negeri, untuk menata hatiku di sana," jawab Bella, lugas.
"Apa kamu tidak merasa kalau hal yang kamu lakukan selama ini, sampai mau bekerja jadi Managernya, dan rela capek-capek melakukan dua pekerjaan sekaligus, jadi sia-sia?" tanya papa Bella lagi.
"Tidak ada yang namanya sia-sia, Pah. Setidaknya aku sudah mencoba. Masalah berhasil tidaknya, itu urusan belakang. Setidaknya aku tidak penasaran lagi, kenapa dia menolak dijodohkan denganku, padahal belum pernah bertemu sama sekali. Bahkan dia tidak tahu siapa nama yang dijodohkan dengannya. Jadi, sekarang aku hanya mau, Papa dan Mama mau mengizinkanku untuk stay di Kanada untuk sementara waktu," ucap Bella penuh harap.
"Jadi, bagaimana dengan urusan hotel? apa kamu tega, membiarkan papa untuk mengurusnya sendiri? Papa masih perlu mengurus yang lainnya, Nak."
"Papa tenang saja, Risa sangat bisa diandalkan. Aku juga akan tetap memantau dari sana," Bella berusaha untuk meyakinkan Papanya.
"Lagian, untuk sementara ini, aku tidak mau menginjakkan kakiku dulu di hotel itu. Aku pasti akan sulit melupakan apa yang terjadi padaku kalau aku melihat hotel itu," bisik Bella pada diy sendiri.
Ya, Bella berada di hotel itu, bukan karena bertemu dengan teman-temannya, tapi dia di sana adalah merupakan putri dari pemilik hotel itu. Dia merupakan pimpinan yang diminta sang papa untuk mengelola hotel.
Karena dia bekerja sebagai manager di Cafe Denis dan pulang sekitar pukul 8 malam, Jadinya Bella bisa melihat keadaan hotel hanya di malam hari.
Awalnya dia melamar kerja di cafe Denis, karena merasa kesal dan merasa tidak suka dengan pria itu, yang menolak mentah-mentah dijodohkan dengannya. Padahal mereka berdua belum bertemu sama sekali, dan bahkan Denis tidak mau menanyakan nama wanita yang dijodohkan dengannya.
Sebagai seorang wanita yang cantik, mapan dan banyak dikejar pria, Bella merasa tertantang dan ingin melihat bagaimana sosok pria yang menolaknya. Sehingga dia pun rela menjadi karyawan Denis. Namun seiring berjalanya waktu, justru Bella jadi jatuh cinta dan berniat untuk menaklukkan hati pria itu. Akan tetapi, hal yang awalnya dia kira mudah ternyata sangat sulit. Pria itu tidak mudah jatuh cinta padanya.
"Bagaimana, Pa, Ma? kalian berdua mengizinkanku pergi kan?" Bella kembali mengulang permintaannya.
Kedua orangtuanya itu saling silang pandang untuk sejenak. Kemudian keduanya menghela napas berat.
"Baiklah, kalau kamu memang maunya begitu. Mudah-mudahan di sana kamu bisa menata hatimu kembali dan menemukan pria yang mencintaimu," pungkas papanya Bella, akhirnya pasrah .
"Terima kasih, Pa, Ma!" ucap Bella.
"Aku rasa aman sulit untuk menemukan pria e bisa menerima wanita kotor seperti saya, Pa, Ma," bisik Bella pada dirinya sendiri.
__ADS_1
TBc