Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bertemu


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Reynaldi berhenti di depan sebuah villa. Mereka berdua sampai di tujuan sudah pukul 10 malam karena jalanan yang macet.


Gavin terlihat sangat antusias ketika sudah keluar dari dalam mobil. Pria itu sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan Jelita istrinya.


"Buruan, Rey!" desak Gavin, tidak sabar.


"Haish, sabar kenapa sih?" cetus Reynaldi kesal.


"Habis kamu lambat kaya siput," Gavin tidak kalah ketus.


Reynaldi tidak menyahut lagi, karena bakal berkepanjangan nantinya.


Mereka berdua mengayunkan kaki melangkah ke pintu. Seperti biasa, tanpa disuruh Reynaldi sudah berinisiatif untuk menekan bel.


Sementara itu, di dalam villa, Nayla yang masih asik menonton mengrenyitkan keningnya, bertanya-tanya siapa yang bertamu malam-malam begini.


Wanita itu tidak langsung membuka pintu, tapi dia lebih dulu mengintip dari balik tirai.


"Gavin, Rey, kenapa mereka bisa ada di sini?" gumam Nayla dengan mata yang membesar.


Bel kembali berbunyi dan Nayla dengan cepat langsung membuka pintu.


"Kenapa kalian__"


"Mana istriku?" Gavin menyela ucapan Nayla sebelum wanita itu menyelesaikan pertanyaannya.


"Kenapa kalian berdua ada di sini?" bukannya menjawab Gavin, Nayla malah kembali mengulangi hal yang ingin dia tanyakan tadi. Kemudian wanita itu menoleh ke arah Reynaldi, dan menatap tajam pria itu.


"Kamu ya yang kasih tahu alamat sini?" tukas Nayla.


"Tidak sama sekali! jangan asal main tuduh!" sangkal Reynaldi dengan cepat. "Kamu tanyakan saja pada dia bagaimana dia menemukan alamat ini," sambung Reynaldi kembali, sembari melirik sinis ke arah Gavin.


"Kalian berdebatnya nanti saja. Sekarang tolong kasih tau di mana istriku?" timpal Gavin menghentikan perdebatan Reynaldi dan Nayla.


"Istri kamu sudah tidur, tuh di kamar itu," Nayla menunjuk kamar yang berada di bawah tangga.


"Terima kasih! sekarang silakan kalian melanjutkan perdebatan kalian tadi, aku mau lihat Istriku dulu," ucap Gavin yang membuat Reynaldi dan Nayla berdecih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gavin membuka pintu kamar secara perlahan dan melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya itu sedang tertidur pulas. Dengan perlahan juga dia menutup pintu agar sang istri tidak terbangun.


Gavin mencium tubuhnya sebentar untuk memastikan apakah dirinya bau badan atau tidak sebelum menghampiri Jelita.


"Hmm, masih wangi kok," gumam Gavin dengan sangat yakin.


Gavin kini memberanikan diri menghampiri sang istri dan naik ke atas ranjang, lalu membaringkan tubuhnya di samping tubuh istrinya itu. Pria itu menyelipkan sebuah senyuman tipis di bibirnya saat menatap wajah polos Jelita, kemudian dia mulai mengikis jarak sampai akhirnya bibirnya menyentuh kening Jelita, yang sepertinya tidak merasa terganggu sama sekali.

__ADS_1


Gavin mengrenyitkan keningnya ketika melihat raut wajah Jelita yang seperti ingin menangis.


"Mas Gavin, aku mau pulang! aku rindu, Sayang," terdengar suara Jelita, ngigau.


"Astaga, ternyata dia sedang mengigau," Gavin tersenyum dan langsung memeluk istrinya itu dengan erat dan kali ini tentu saja membuat Jelita terganggu.


"Nayla, geser ah! aku sesak gak bisa napas!" pekik Jelita sembari berusaha mendorong dada yang dianggapnya milik Nayla itu. Namun bukannya melepaskan, Gavin semakin mempererat pelukannya seakan ingin melepaskan kerinduan akan dua malam tanpa Jelita.


"Tunggu dulu! kok dada Nayla keras begini ya? apa selama ini Nayla gak punya buah da*da? jadi yang menonjol di dadanya itu selama ini apa? tapi masa sekeras ini sih dadanya," gumam Jelita sembari menekan-nekan dada Gavin.


Gavin yang mendengar gumaman istrinya itu hampir saja tertawa.


"Hmm, tapi aroma ini ... aroma ini seperti aku kenal," gumam Jelita lagi dengan alis yang bertaut. Detik berikutnya Jelita seketika tersadar begitu mengingat aroma tubuh Gavin.


Jelita kembali berusaha mendorong tubuh Gavin, dan kali ini agak sedikit lebih mudah karena Gavin sudah melonggarkan pelukannya.


"Ma-Mas Gavin! i-ini benar-benar kamu?" Jelita sontak duduk sambil mengucek-ngucek matanya, tidak percaya.


"Hai, Sayang aku di sini," Gavin tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya.


Jelita masih saja kurang percaya, dia beranggapan kalau dirinya masih sedang berhalusinasi. Wanita itu kemudian mendekat dengan ragu-ragu dan kembali menekan-nekan dada Gavin dan mencubit pipi pria itu.


"Ini benar-benar aku, Sayang," Gavin mulai gemas.


"Tidak percaya! ini pasti mimpi," ucap Jelita sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sakit gak?" tanya Gavin.


"Ya, sakitlah, masa pakai ditanya lagi?" sungut Jelita sembari mengusap-usap pipinya.


"Nah, itu berarti kamu tidak bermimpi," Seketika Jelita tersadar dan berhenti mengusap pipinya. Wanita itu kini langsung kembali menatap ke arah Gavin.


"Ja-jadi aku tidak bermimpi?" tanya Jelita memastikan.


"Tentu saja tidak! ini aku benar-benar datang, Sayang." Jawab Gavin, kembali tersenyum.


"Ahhh, Mas Gavin!" Jelita sontak menghambur memeluk tubuh Gavin. Gavin menyambut pelukan Jelita dan mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi di puncak kepala istrinya itu.


Tiba-tiba Jelita melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangi Gavin dengan bibir yang mengerucut. Sikap Jelita tentu saja membuat Gavin menjadi bingung.


"Ada apa, Sayang?" Gavin menyentuh pundak Jelita dengan lembut. Namun langsung ditepis oleh Jelita.


"Kamu jahat! kenapa masalah sebesar itu kamu tidak pernah kasih tahu aku? apa aku sama sekali tidak kamu anggap?" Jelita mulai mengeluarkan uneg-unegnya.


Gavin menghela napasnya dengan cukup berat.


"Bukannya aku tidak mau kasih tahu, cuma hari itu aku sangat takut kehilangan kamu. Aku takut kamu percaya dan pergi meninggalkanku. Maafkan aku, Sayang!" bujuk Gavin, kembali menyentuh pundak Jelita dan kali ini tidak ada penolakan sama sekali.

__ADS_1


"Tapi, rasanya lebih sakit ketika aku tahu dari Maya sendiri?"


"Dan kamu hampir percaya kan?"


Jelita bergeming, tidak menjawab karena memang yang dikatakan oleh suaminya itu benar. Dia hampir saja percaya dengan kata-kata Maya.


"Sayang, aku tahu aku salah, tidak jujur padamu. Tapi seperti yang aku katakan tadi, aku sangat ketakutan. Bahkan saking takutnya, aku juga tidak bercerita pada Rey, atau siapapun itu." tutur Gavin, berharap Jelita tidak marah lagi.


"Sekarang, semuanya sudah beres. Maya dan mamanya sudah ada di penjara. Semua bukti kejahatannya berhasil kami dapatkan, atas bantuan Nayla, Sari dan Bella.


Mendengar nama Sari dan Bella, Jelita sontak berbalik menghadap suaminya.


"Apa hubungannya dengan Sari dan Bella?" tanyanya dengan kening yang bertaut.


Gavin kemudian mulai menceritakan apa yang sudah menimpa Sari sehingga dia akhirnya mau bekerja sama dengannya,dan juga mengenai Bella, karena wanita itu adalah pemilik hotel tempat kejadian.


"Oh, seperti itu?" Jelita menganggukkan kepalanya


"Sayang, sekarang aku berjanji mulai sekarang aku akan selalu jujur padamu,"


"Benaran?"


"Iya, benar!" ucap Gavin dengan yakin disertai dengan senyum lebarnya.


Raut wajah Jelita kini berubah berbinar, dan langsung memeluk Gavin lagi. Gavin membalas pelukan Jelita dengan sangat erat.


"Sayang, jangan-jangan erat-erat peluknya, kamu menekan anak kita," ucap Jelita yang membuat Gavin terkesiap kaget dan sontak melepaskan pelukannya.


"Apa? a-anak? ma-maksudnya? Gavin menatap ke arah perut Jelita.


"Iya, anak ... anak kita. Aku hamil, Sayang!"


Mata Gavin sontak berkilat-kilat, ingin menangis, mendengar kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Pria itu langsung menarik kembali tubuh Jelita ke dalam pelukannya, setelah itu pria itu menciumi perut Istrinya dengan bertubi-tubi.


Sementara itu, ada dua orang yang sedang menguping di depan pintu, siapa lagi mereka kalau bukan Rey dan Nayla.


"Kenapa Gavin tidak muntah-muntah ya? apa Jelita tidak ada menangis di dalam sana?" ucap Nayla yang kebetulan sangat berdekatan dengan hidung Reynaldi. Tanpa sadar pria itu menutup hidungnya.


"Eh, iya tadi aku makan pete, dan belum gosok gigi. Bau ya?" tanya Nayla sembari nyengir.


"Eh, nggak kok!" sahut Reynaldi yang jelas-jelas berbohong.


"Cih, bilangnya nggak! tuh tadi tutup hidung, karena apa? Nayla melengos pergi meninggalkan Rey.


"Haris, bagaimana ini? gimana caranya aku mau gosok gigi? sikat gigiku kan ada di kamar Jelita," gumam Nayla yang masih bisa didengar jelas oleh Reynaldi, sehingga membuat pria itu berusaha menahan tawanya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2