Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Pertengkaran


__ADS_3

"Emm, Jelita kita cari dua sahabatku yuk! nanti aku kenalkan kami pada mereka,"


Denis mengulurkan tangannya hendak menggandeng tangan Jelita. Namun wanita itu hanya menatap tangan Denis yang terulur padanya.


"Kak, sepertinya tidak perlu, harus digandeng. Aku bisa jalan sendiri, Kak, tolak Jelita dengan halus, membuat Denis kembali kecewa.


"Oh, seperti itu ya? maaf!" Denis berusaha bersikap biasa, dengan menunjukkan senyumnya.


"Kalau begitu, ayo kita cari mereka!"pungkas Denis sembari berjalan dengan mata yang mengedar mencari keberadaan, Gavin dan Reynaldi.


"Oh itu mereka!" Denis menunjuk ke arah Gavin dan Reynaldi, yang berdiri membelakangi mereka.


"Kenapa itu terlihat seperti mas Gavin ya? begitulah, bunyi hati Jelita dengan kening yang berkerut.


"Ah tidak mungkin itu Mas Gavin. Mungkin hanya terlihat seperti sama aja. Kan banyak laki-laki yang bentuk tubuhnya sama," kembali hati Jelita bermonolog, menyangkal sendiri pemikirannya.


"Ayo Jelita! kenapa kamu masih berdiri di sana?" tegur Denis, menyadarkan Jelita dari lamunannya. "Apa kamu tidak mau aku kenalkan dengan dua sahabatku?" Denis bertanya kembali dengan alis yang bertaut.


"Eh, iya, Kak." Jelita sontak menyusul langkah Denis.


Semakin dekat jarak Jelita dan Denis pada Gavin dan Reynaldi, jantung Jelita semakin berdebar kencang, seperti baru saja habis lari maraton.


"Sob, kalian sudah lama ya?" sapa Denis sembari menepuk pundak Gavin.


Gavin dan Reynaldi sontak menoleh ke belakang. Mata Jelita membesar dengan sempurna, begitu juga dengan Gavin. Bukan hanya membesar, rahang Gavin seketika mengeras dan asap tebal seperti melingkupi kepalanya, melihat sosok Jelita.


"Mas Gavin!" gumam Jelita dengan sangat pelan.


"Sob, kenalkan ini Jelita , wanita yang__"


"Ayo pulang!" Gavin menarik tangan Jelita dengan sedikit kasar.


"Hei, kenapa kamu menarik dia?!" Denis berseru dengan tangan yang menarik salah satu tangan Jelita. Hal ini membuat Gavin semakin meradang.


"Lepaskan tanganmu!" titah Gavin dengan nada yang sangat dingin, dan mata yang gelap.

__ADS_1


"Kamu yang harusnya melepaskan tanganmu! Apa hak kamu memintaku untuk melepaskan tanganku?" Denis semakin mencengkram kuat tangan Jelita.


"Kak, Denis lepaskan tanganku!" pinta Jelita buka suara dengan raut wajah yang takut. Wanita itu tidak menyangka kalau Denis bersahabat dengan suaminya.


Denis menaikkan alisnya, dengan raut yang tidak suka mendengar ucapan Jelita yang memintanya untuk melepaskan tangannya.


"Apa kamu tidak dengar? lepaskan tanganmu darinya!" Kali ini suara Gavin mulai meninggi. Hal ini tentu saja menarik perhatian dari orang-orang yang ada di tempat itu.


"Denis, lepaskan tangan Jelita!" kali ini Reynaldi yang buka suara.


Buat apa aku lepaskan? dia tidak punya hak memintaku untuk melepaskan Jelita," Denis bersikukuh untuk tidak melepaskan Jelita.


Bugh


Tangan Gavin akhirnya melayang memberikan pukulan telak di wajah Denis, hingga dari sudut bibir pria itu mengeluarkan darah. Seakan tidak puas, Gavin hendak memberikan pukulan lagi. Untungnya Reynaldi dengan sigap menahan tubuh Gavin.


"Siapa yang tidak punya hak? hah! Justru yang tidak punya hak itu kamu!" bentak Gavin, berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Reynaldi.


"Kamu tahu siapa yang kamu bawa itu!" Gavin belum mengurangi intonasi suaranya. Kemudian pria itu menoleh ke arah Jelita yang kaget dan terlihat ketakutan melihat reaksi Gavin.


"Kenapa kamu masih diam, hah!" Jelita terjengkit kaget mendengar gelegar suara Gavin yang semakin tinggi.


"Hei, Jangan berani-beraninya kamu membentaknya!" suara Denis tidak kalah tinggi tidak terima dengan bentakan Gavin ke arah Jelita.


"Diam kamu!" Gavin mengarahkan jari telunjuknya ke arah Denis.


"Ka-Kak Denis, Mas Gavin itu suamiku," akhirnya tercetus pengakuan dari mulut Jelita.


"A-apa? ka- kamu jangan bercanda!" mulut Denis seakan sulit untuk berbicara.


"Apa masih kurang jelas? wanita yang kamu kelabui ini, ISTRIKU!" ucap Gavin sembari memberi penekanan pada kata istriku.


Denis terdiam, berdiri seperti patung. Pria itu masih sulit untuk percaya. Pria itu menatap ke arah Reynaldi, meminta penjelasan dari sahabatnya itu. Denis terduduk lemas, begitu dia melihat Reynaldi menganggukkan kepala. Bukan hanya Denis, semua orang yang ada di tempat itu, juga kaget mendengar kenyataan kalau Gavin sudah menikah.


Gavin kembali meraih tangan Jelita dan hendak beranjak pergi dari tempat itu. Namun pria itu kembali berhenti dan menatap ke arah orang-orang.

__ADS_1


"Jangan sampai ada yang menyebarkan kejadian ini! kalau kalian masih mau hidup aman. Kalau sempat ada yang menyebarkan, sampai ke lubang semutpun akan saya cari!" sentak Gavin, hingga membuat orang yang ada di tempat itu, ketakutan dan dengan sigap menghapus video yang sempat mereka rekam tadi. Setelah selesai dengan ucapannya, Gavin menarik tangan Jelita, beranjak keluar dari ruangan itu.


"Arghhh!" teriak Denis sembari mengacak-acak rambutnya,sampai berantakan.


"Sabar, Sob!" Reynaldi menepuk-nepuk pundak Denis. Pria itu benar-benar dilema sekarang. Antara menyusul Gavin atau tetap menemani Denis.


Di lain pihak dia khawatir, kalau Gavin gelap mata pada Jelita karena terlalu murka, tapi dia juga khawatir melihat keadaan Denis yang terlihat sangat frustasi sekarang. Reynaldi takut kalau Denis berbuat macam-macam yang bisa merugikan diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, tolong lepaskan tanganku! pinta Jelita dengan lirih sembari meringis kesakitan akibat cengkraman tangan Gavin yang sangat kuat.


Karena amarah yang amat sangat, membuat Gavin tidak peduli dengan rintihan Jelita. Pria itu bahkan semakin mengencangkan cengkeramannya. Dia merasa kalau dirinya sedang mengepalkan tangannya, lupa kalau pergelangan tangan Jelita ada di dalam cengkeramannya.


Pria itu membuka pintu mobil dan dengan kasar mendorong tubuh Jelita masuk ke dalam mobil. Pria itu juga membanting pintu mobil dengan sangat keras tepat di wajah sang istri hingga membuat istrinya itu terjengkit kaget.


"Mas? kamu marah ya? maafin aku, Mas!" ucap Jelita, dengan lirih. Namun Gavin seakan tidak mendengar. Kabut kegelapan seakan menutupi hati dan pikiran pria itu.


Gavin memukul dan mencengkram kemudi dengan sangat kencang, untuk melampiaskan amarahnya. Kemudian pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga membuat rasa takut menyerang Jelita.


"Mas, tolong jangan begini! aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu,"


Gavin tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan mendadak, hingga membuat kepala Jelita hampir terbentur ke dashboard mobil.


Gavin menoleh ke arah Jelita dan menatap istrinya itu dengan tatapan yang sangat tajam.


"Kamu tidak berniat berbohong, tapi kamu sudah berbohong!" ucap Gavin dengan nada yang sangat sinis.


"A-aku benar-benar minta maaf. Aku __"


"Arghhh!" teriak Gavin yang amarahnya kembali meluap, ketika bayangan Denis yang datang bersama dengan Jelita tadi kembali datang ke dalam pikirannya. Pria itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu, Jelita sekarang hanya bisa pasrah sembari berpegangan kencang pada pintu mobil.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2