Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Kamu Pencuri!


__ADS_3

Situasi canggung terjadi di antara Reynaldi dan Nayla di dalam mobil Reynaldi yang akan mengantarkannya pulang. Wanita itu benar-benar merasa malu kalau mengingat reaksinya, yang menurutnya terlalu berlebihan saat membela Reynaldi . Dia sendiri bingung kenapa dia bisa setidakterima itu begitu mamanya Meta menghina Reynaldi, padahal yang dihina terlihat tenang dan tersenyum.


"Kenapa kamu diam saja?" Reynaldi akhirnya buka suara untuk menghentikan situasi awkward di antara mereka.


"Tidak kenapa-napa! kamu fokus nyetir aja, gak usah ajak aku bicara!" ucap Nayla ketus, untuk menutupi rasa malunya.


"Boleh! itu kalau kamu mau kita langsung ke surga. Kalau ke surga sih gak pa-pa, kalau ke neraka gimana? kan aku masih banyak dosa, mungkin kamu juga," ucap Reynaldi ambigu.


Nayla yang awalnya fokus melihat ke jalanan, sontak menoleh ke arah Reynaldi dan menatap pria itu dengan tajam.


"Maksudmu apa? kamu lagi ngedoain kita mati, gitu? justru aku kan bermaksud baik, meminta kamu fokus menyetir! maksudnya biar kita selamat, bukan menuju surga atau neraka," protes Nayla dengan nada sengit.


"Lah, siapa bilang? justru kalau kamu diam saja,dan aku diam saja, yang ada aku mengantuk. Kalau aku mengantuk, otomatis aku bisa bawa mobil asal-asalan, yang pastinya bisa mengakibatkan kecelakaan. Kalau kita langsung mati di tempat sih gak pa-pa, lah bagaimana kalau hidup segan mati tak mau?" jelas Reynaldi.


Nayla terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena apa yang dikatakan oleh pria itu memang sangat masuk akal.


"Nah, kalau kamu mengajakku berbicara, aku pasti tidak akan mengantuk. Kita berbicara, belum tentu bisa membuat aku tidak bisa fokus untuk menyetir kan? kan yang berbicara mulut, dan yang mendengar telinga, sedangkan mata tetap bisa fokus menatap ke depan," sambung Reynaldi kembali, yang tidak mendapat tanggapan dari perempuan jutek di sampingnya.


"Kenapa kamu diam lagi?" Reynaldi kembali bersuara, sembari melirik sebentar ke arah Nayla.


"Berbicaralah! aku tetap dengar kok!"


"Kalau aku berbicara, tapi tidak ada respon,sama aja aku berbicara sama angin,"


Nayla menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan kembali ke udara, berharap kekesalannya juga ikut terbuang bersama udara yang terbuang itu.


"Ya udah, sekarang kita mau membicarakan apa?" suara Nayla mulai kembali lembut.


"Bagaimana kalau kita membicarakan tentang pernikahan?" jawab Reynaldi.


"Pernikahan? pernikahan siapa?" Nayla mengrenyitkan keningnya.


"Ya, pernikahan siapa lagi? ya pernikahan kita lah!" ujar Reynaldi santai dan wajah tanpa ekspresi.


"Eh, emangnya sejak kapan kita merencanakan pernikahan? jangan asal ngomong deh kamu!"


Reynaldi tidak langsung menjawab, pria itu justru menepikan mobilnya dan membuka sabuk pengamannya.


"Nggak pernah sih. Bagaimana kalau kita merencanakannya sekarang?" tanya Reynaldi seraya mencondongkan tubuhnya dekat ke wajah Nayla.


Nayla seketika langsung memundurkan wajahnya dengan mata yang mengerjap-erjap, hingga hampir terbentur ke jendela mobil. Beruntungnya tangan Reynaldi dengan sigap langsung melindungi kepala wanita itu.


"Kenapa kamu tidak menjawab? bagaimana kalau kita membicarakannya sekarang?" Reynaldi mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


Karena wajah Reynaldi terlalu dekat dengan wajah Nayla, membuat wanita itu serasa mati kutu, tenggorokannya tercekat, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri dia sangat kesusahan.


Nayla tertegun beberapa saat, kemudian dia langsung tersadar dan mendorong dada Reynaldi agar menjauh darinya.


"Tolong jangan bercanda! hal seperti ini bukan untuk dibuat sebagai candaan," Nayla akhirnya bisa buka suara, tapi dengan detak jantung yang belum bisa normal.


"Siapa yang bercanda? aku serius ingin membicarakan pernikahan denganmu," Reynaldi tersenyum dan menatap manik mata berwarna hitam milik Nayla.


Nayla bergeming seraya membalas tatapan Reynaldi, untuk mencari kebenaran, apakah pria itu serius dengan ucapannya atau tidak. Wanita cantik itu kemudian menghela napasnya, begitu melihat tatapan itu penuh dengan keseriusan.


"Apa ini termasuk lamaran?" tanya Nayla akhirnya.


"Kalau menurut kamu, ini seperti lamaran, iya aku melamarmu," jelas dan tegas.


"Apa kamu tidak punya modal untuk membuat acara lamaran yang lebih berkelas?" ucap Nayla yang menyelipkan sebuah sindiran.


"Buat apa berkelas tapi tidak berkesan? yang berkelas itu menurutku sudah biasa,beda dengan hal seperti ini, yang pastinya berkesan, beda dari yang lain," jawab Reynaldi santai.


"Tapi ...."


"Tapi apa? kalau kamu mau yang berkelas, ok, bisa diatur." Reynaldi masih tetap santai.


"Apa memang sudah karakter kamu,menyebalkan seperti ini?" Nayla mulai terlihat kesal.


"Menyebalkan? apanya yang menyebalkan?" Reynaldi mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Udah ah! aku malas membicarakannya, mending kita jalan sekarang. Aku sudah ngantuk," cetus Nayla, sembari kembali melihat ke jalanan.


"Kalau aku tidak mau?"


"Aku akan turun, dan lebih baik naik taksi dari pada harus berdebat dengan orang sepertimu,"


"Kenapa kamu bisa jadi semarah ini?" Reynaldi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Kamu pikir aja sendiri!" celetuk Nayla ketus.


Nayla benar-benar kesal, hingga membuatnya ingin membelah kepala pria itu dan mengeluarkan otaknya,baru meng-upgradenya biar lebih peka.


Reynaldi masih terlihat bergeming dan seperti tidak ada niat untuk kembali menjalankan mobilnya. Nayla yang tadinya melihat ke arah jalanan, seketika melirik pria itu yang masih memasang wajah bodohnya.


"Kamu benar-benar tidak mau jalan nih? baiklah aku keluar sekarang!" Nayla dengan sigap melepaskan sabuk pengamannya. Akan tetapi ketika dia hendak membuka pintu mobil, Reynaldi langsung menahan pintu mobil.


"Apa sih mau kamu?!" suara Nayla meninggi.

__ADS_1


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Kamu pasang kembali sabuk pengamanmu," pungkas Reynaldi, mengalah. Kemudian dia pun mulai melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.


Keheningan kembali tercipta di antara Reynaldi dan Nayla. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Kenapa kamu tiba-tiba mau mengajakku menikah?" tiba-tiba Nayla buka suara, karena jujur saja ini adalah hal yang sangat membuat dirinya bingung.


"Karena mama menyukaimu," jawab Reynaldi santai.


"Oh,hanya gara-gara itu? kalau mamamu menyukai nenekku, apakah kamu juga akan mengajaknya menikah? karena kebetulan,nenekku sudah lama menjanda. Jadi nanti kamu akan aku panggil kakek, keren kan?" ucap Nayla dengan menyelipkan sindiran.


Reynaldi kembali menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya, nggak gitu juga. Maksudku, mama menyukaimu dan kebetulan aku juga merasa nyaman ada di sampingmu. Aku merasa kalau apa yang aku rasakan dulu pada Meta, kembali aku rasakan saat bersamamu," tutur Reynaldi.


"Nayla, kamu mungkin menganggap ini terlalu cepat, tapi bagiku tidak. Justru aku sangat menyesal baru bisa mengenalmu, gadis yang periang, lembut dan satu hal lagi, kamu itu tulus. Kamu tidak pernah memandang status orang. Hal itu lambat laun membuatku merasa ingin mengenalmu semakin dalam, walaupun emang aku akui, caraku sangat konyol. Asal kamu tahu, aku merasa bisa menjadi diri sendiri, tidak perlu harus menjaga image, ketika berada di dekatmu aja," sambung Reynaldi kembali dengan panjang lebar tanpa jeda.


Nayla tercenung dan diam membisu. Wanita itu menatap ke arah Reynaldi yang fokus mengemudikan


mobilnya, sehingga wanita itu tidak bisa melihat keseriusan ucapan pria itu.


"Kenapa kamu diam? apa kamu masih merasa kalau aku sedang bercanda?"


Nayla menggigit bibirnya,dan seketika ada getaran bahagia di dalam hatinya. Namun, segera dia tepis karena dia tidak mau tenggelam dalam kebahagiaan yang memang masih meragukan baginya.


"Tolong jangan bercanda lagi!" ucap Nayla yang membuat Reynaldi menghentikan mobilnya tiba-tiba, hingga membuat kening wanita itu hampir membentur dashboard mobil.


"Hei, kamu sudah gila! kamu mau aku mati ya?" pekik Nayla sembari memegang dadanya.


"Apa maksudmu mengatakan aku bercanda! kamu lihat mataku, apa aku bercanda atau tidak!" ucap Reynaldi dengan nada yang berapi-api sembari mencengkram dagu Nayla.


Nayla mengerjap-erjapkan matanya seraya menelan ludahnya. Kemudian wanita itu menatap manik mata milik Reynaldi dalam-dalam Dan benar saja, dia tidak melihat adanya kebohongan di sana.


"Kamu itu pencuri Nayla!"celetuk Reynaldi tiba-tiba


"Pencuri? apa maksudmu?" ucap Nayla dengan nada tinggi. Dia yang tadinya sudah sempat terbuai saat menatap manik mata pria itu, seketika merasa terpancing karena dipanggil pencuri.


"Ya! pencuri! kamu telah mencuri sesuatu dariku,dan anehnya baru kali ini aku tidak menginginkan kamu mengembalikannya," ucap Reynaldi, ambigu.


"Kamu gila! aku merasa tidak pernah mencuri sesuatu darimu, jangan ngomong seenaknya!" Nayla belum bisa menerima tuduhan pria itu karena dia merasa sama sekali tidak pernah mencuri apapun dari pria itu.


" Ya aku gila, gila karena kamu mencuri hatiku, dan anehnya aku tidak menginginkan kamu mengembalikannya," Mata Reynaldi terlihat berkilat-kilat saat mengucapkan ucapannya.


"Apa kamu tahu, apa yang ingin aku lakukan sebagai pembalasannya? sebagai balasannya aku ingin mencuri hatimu juga. Tapi sepertinya aku belum berhasil mencuri hatimu. Itu berarti aku harus lebih pintar mengatur strategi lagi, agar aku bisa mencurinya," sambung Reynaldi kembali dengan napas yang memburu.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah berhasil, Kak Rey! ucap Nayla yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


Tbc


__ADS_2