Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Kenapa kamu keluar dari situ?/visual


__ADS_3

Bow Maylada as Jelita



Mik Thongraya as Gavin



Mark prin suparat as Reynaldi



Ice Paris as Denis



Kimberley Anne Woltemas as Nayla



Urassaya Sperbund  as Maya



Gavin melangkah keluar dari dalam lift dengan sedikit berlari. Mata pria itu seketika membesar dengan sempurna, melihat sosok wanita yang tertidur di depan pintu unit apartemennya.


Pria itu, mengembuskan napas dan menghampiri Jelita yang tampak tertidur pulas. Gavin berjongkok dan menatap wajah Jelita dengan cukup lama. Tampak gurat-gurat kelelahan di wajah wanita itu.


"Apa memang pemikiranku salah tentang gadis ini?" ada rasa simpati yang muncul begitu melihat wajah polos Jelita.


"Bagaimana ini? apa aku harus membangunkannya atau mengangkatnya ke dalam?" iblis dan malaikat seketika seakan berperang di dalam pikirannya. Sang malaikat mengatakan, gendong masuk, sedangkan si iblis mengatakan, biarkan saja tidur di luar.


Gavin kembali menggusak rambutnya dengan kasar. "Aku bangunkan saja, deh," Gavin berdiri dan menendang-nendang pelan kaki Jelita.


"Hei, bangun, bangun!"


Jelita seketika menggeliat dan membuka matanya dengan perlahan. Jelita sontak berdiri karena terlalu kaget melihat wajah Gavin. Karena baru saja bangun tidur, Jelita hampir saja terjatuh saat akan berdiri. Untungnya, tangan Gavin dengan sigap menangkap tubuh Jelita hingga insiden jatuh bisa dihindari.


Mata Gavin dan Jelita seketika terkunci untuk beberapa saat, hingga sampai Gavin tersadar dan langsung mendorong tubuh Jelita.

__ADS_1


"Kamu kenapa tidur di sini? kamu mau mempermalukan aku ya? kamu mau penghuni gedung apartemen ini, mengatakan kalau aku orang yang kejam, begitu?" Gavin berucap dengan nada marah, tapi matanya menunjukkan kalau tidak ada kemarahan di sana Justru yang ada rasa canggung akibat insiden yang baru saja terjadi.


"Maaf, Tuan! tadi aku sudah berkali-kali menekan bel, tapi Tuan tidak mau membukakannya untukku," sahut Jelita sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak ada orang di dalam! makanya kalau tidak tahu passwordnya, tanya. Kamu kan ada mulut untuk bertanya. Lagian kenapa kamu tidak menghubungiku?"


"Aku kan tidak tahu, nomor Tuan. Bagaimana aku bisa menghubungimu?"


Gavin bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang yang dikatakan oleh Jelita benar adanya.


"Nih, lihat! dan ingat betul-betul! Simpan di kepalamu itu!" Gavin menyebutkan beberapa angka yang merupakan password dari apartemennya.


"Udah ingat?" tanya Gavin, setelah pintu terbuka.


Jelita tidak menjawab sama sekali, tapi gadis itu menganggukkan kepala, untuk menanggapi ucapan Gavin.


"Lagian, ada ya orang bodoh seperti kamu, udah tahu pintu gak dibuka, ngapain coba masih menunggu? kenapa kamu tidak pergi ke tempat lain, ke tempat sahabatmu itu mungkin," Gavin masuk, sembari menggerutu, merutuki kebodohan Jelita.


"Itu karena aku tahu, kalau aku ini istri seseorang. Jadi, sudah sepatutnya, aku pulang ke rumah suamiku sendiri, walaupun memang aku nggak dianggap istri," timpal Jelita, sembari berlalu melewati Gavin dan masuk ke dalam kamarnya.


Gavin seketika tercenung, mendengar ucapan Jelita.


Dari ufuk timur, mentari mulai keluar dari peraduannya, walaupun masih terkesan malu-malu. Alarm dari ponsel yang diberikan oleh Nayla pada Jelita, berdering, berusaha membangunkan tuannya yang masih bergelung di bawah selimut.


Jelita membuka matanya perlahan-lahan dan dengan malas meraih ponselnya untuk mematikan alarmnya.


Walaupun rasa kantuk ada, mengingat banyaknya pesanan kuenya, Jelita tetap beranjak turun dari ranjangnya, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya berhubung tadi malam dia tidak mandi dan langsung tidur.


Jelita kini sudah terlihat segar, rasa kantuk tadi, sudah berhasil diusir dengan segarnya air yang menyentuh kulitnya.


"Emm, sebaiknya aku ke dapur, untuk buat sarapan. Terserah dia mau makan apa tidak nanti," batin Jelita sembari keluar dari dalam kamar dan melangkah menuju dapur.


Jelita membuka kulkas, yang ternyata masih belum ada bahan makanan di dalam seperti yang dikatakan oleh Gavin semalam.


"Emm, apa yang harus aku masak? apa dia lupa ya, untuk mengisi kulkas?" batin Jelita sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Ya udah deh, mungkin dia lupa, lebih baik aku siap-siap buat belanja bahan-bahan kue aja. Nanti aku sarapan di luar aja," Jelita kembali melangkah menuju kamarnya. Sebelum sampai ke kamarnya, wanita itu menyempatkan diri untuk melihat ke arah pintu kamar Gavin yang masih tertutup.


"Apa dia sudah bangun? bukannya hari ini dia harus ke kantor? aku bangunkan dia nggak ya?" Jelita merasa dilema antara mau membangunkan atau bodo amat.

__ADS_1


"Ah, lebih baik aku bodo amat aja deh. Dari pada aku nanti kena makian dia," Jelita memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Gavin yang sebenarnya sudah bangun, baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu baru saja selesai mandi dan langsung berganti pakaian, lengkap dengan jasnya. Merapikan rambut dan memasang arloji ke pergelangan tangannya.



Gavin melirik ke arah arlojinya dan melihat kalau jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat, pertanda kalau dirinya terlalu cepat. Namun mengingat, jalanan Jakarta yang pasti macet di pagi hari, menurutnya, tidak ada salahnya kalau dia berangkat lebih cepat.


Gavin keluar dari kamar, dan matanya langsung melirik ke arah pintu kamar Jelita yang masih tertutup.


"Apa jam segini, wanita itu juga belum bangun? dasar pemalas!" umpatnya dalam hati, sambil melangkah menuju dapur.


Gavin seketika bergeming di tempatnya, begitu melihat ada wajah di atas kompor, pertanda kalau ada orang yang sebelumnya masuk ke dalam dapur.


Mata Gavin membesar dengan sempurna, begitu dia mengingat kalau dia belum menyiapkan apapun di dalam kulkas. Karena kemarin dia asik menghabiskan waktu bersama dengan dua sahabatnya.


"Astaga! kenapa aku bisa melupakannya? pasti tadi dia sudah mau masak," bisik Gavin pada dirinya sendiri, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jadi, dia makan apa nanti? apa aku kasih dia uang aja, untuk beli makan sendiri?" Gavin mengetuk-ngetukkan jarinya, seperti mempertimbangkan sesuatu.


"Ah, tidak akan! nanti dia bisa mengira kalau aku sudah perhatian ke dia, dan lemah. Dia sudah dewasa, aku rasa dia bisa cari jalan keluar untuk menolong dirinya sendiri, buktinya dia baik-baik saja kan kemarin? lagian aku mau lihat sampai batas mana dia kuat untuk tidak memohon belas kasihan padaku," sudut bibir Gavin tertarik sedikit ke atas, menyeringai sinis.


Gavin kembali melangkah keluar dari dapur dan meraih kunci mobilnya. Dia baru saja hendak mengayunkan kakinya, melangkah ke arah pintu, tapi dia dikagetkan dengan kemunculan mamanya di depan pintu.


"Ma-Mama, bikin kaget aja! kenapa pagi-pagi udah ke sini?" tanya Gavin dengan gugup.


"Suka-suka mama lah. Mama mau ketemu sama menantu mama. Mama mau ajak dia shopping, belanja pakaian, tas dan perhiasan," jawab Melinda dengan santai.


"Mana menantu, Mama?" Melinda mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Jelita.


"Di- dia ada di __"


"Jelita, kenapa kamu keluar dari kamar itu?" seru Melinda dengan alis yang bertaut tajam, melihat kemunculan Jelita dari kamar yang jelas bukan kamar utama.


Tbc


Visualnya sekarang aku ambil dari aktor/aktris Thailand ya, Guys. Karena di novel-novel sebelum sudah memakai aktor/aktris dari Korea dan China. Mudah-mudahan kalian semua suka.


Terima kasih banyak buat kak Sella Surya Amanda yang sudah merekomendasikan visualnya. Sending virtual hug dan love-love di udara buat kakak. 🥰😍🤗

__ADS_1


__ADS_2