
Gavin keluar dari dalam lift dan dengan sedikit berlari langsung menghampiri Jelita. Seulas senyuman bertengger indah di bibir pria itu, hal yang tidak pernah dilihat oleh siapapun.
"Sayang, kenapa kamu tidak langsung menghubungiku?" tanya Gavin yang tidak sungkan langsung mengecup kening sang istri.
"Handphone aku ketinggalan, karena terburu-buru. Kamu sih bilang mau dimasakin makan siang, tiba-tiba." protes Jelita sembari mengerucutkan bibirnya.
"Maaf!" Gavin terkekeh.
"Harusnya kamu kan bisa mengatakan kalau kamu istriku dan minta diantarkan ke ruanganku," sambung Gavin kembali.
"Sudah, tapi mana ada yang percaya,"
"Maaf ya, Bu! kami benar-benar tidak tahu kalau ibu benar-benar Istrinya Pak Gavin," Kedua resepsionis itu, langsung mendekat dan menatap Jelita dengan wajah memelas. Tampak jelas kalau keduanya sangat takut kehilangan pekerjaan.
"Maksudnya ini apa? apa tadi mereka menghinamu?" raut wajah Gavin berubah dingin.
"Nggak kok, Mas. Cuma mereka gak percaya aja. Mereka mengira Kalau aku hanya mengaku-ngaku saja dan merupakan penggemarmu. Lagian kalau aku di posisi mereka juga mungkin tidak akan percaya, Mas. Kan tidak ada yang tahu kalau kamu sudah menikah," ujar Jelita yang sedikit berbohong demi melindungi kedua resepsionis itu.
"Makanya kalau sudah menikah itu, diumumkan jangan ditutup-tutupi. Kan begini jadinya," celetuk Ganendra, menyindir.
Gavin bergeming, tidak menjawab sama sekali sindiran sang papa.
"Ya udah, Papa pulang dulu ya! papa juga mau makan siang sama mama kalian," pungkas Ganendra.
"Iya,Pah!" seperti biasa Jelita langsung meraih tangan mertuanya dan mencium punggung tangan pria itu.
"Hati-hati, Pa!" Gavin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh sang istri.
"Kamu tidak bohong kan tadi? kamu tidak dihina sama mereka?" tanya Gavin yang sebenarnya masih belum sepenuhnya percaya.
"Tidak ada, Mas. Mereka hanya melakukan tugas agar lebih berhati-hati aja,". Jelita menjawab dengan menyelipkan senyuman, berusaha menyakinkan Gavin. Wanita itu benar-benar tidak ingin kedua wanita itu kehilangan pekerjaan, karena dia tahu sangat sulit untuk mencari pekerjaan di zaman ini.
Gavin mengembuskan napasnya. Jujur, pria itu sama sekali tidak percaya dengan perkataan Istrinya. Dari raut wajah yang ditunjukkan oleh keduanya resepsionis itu, Gavin dapat membaca kalau kedua wanita itu, sedang ketakutan, dan penyebab mereka ketakutan, pasti karena sudah berbuat kesalahan dan apalagi coba kalau bukan menghina istrinya.
Gavin menoleh menatap tajam ke arah dua resepsionis itu, yang seketika langsung menundukkan kepala, tidak berani menatap manik mata pimpinan perusahaan itu.
"Istri saya boleh saja mengatakan kalau kalian berdua tidak menghinanya, tapi aku yakin kalu kalian pasti menghinanya kan?" tanya Gavin dengan suara yang rendah tapi auranya sangat dingin.
"Maaf, Pak Gavin. Kami benar-benar tidak tahu kalau Bapak sudah menikah dan ibu ini adalah istri Bapak. Kami mengira kalau dia__"
"Kalau dia apa?" potong Gavin kembali.
__ADS_1
"Mas, sudahlah! kan aku sudah bilang kalau mereka hanya melakukan tugas aja!" protes Jelita.
"Tapi, Sayang mereka harus tetap dikasih pelajaran," ucap Gavin.
"Kalau kamu masih marah-marah, aku lebih baik pulang saja," ancam Jelita dengan mata yang menghunus tajam.
"Jangan dong, Sayang! iya deh aku nggak marah-marah lagi." Gavin akhir tersenyum dan langsung meraih rantang berisi makanan yang dibawa Istrinya itu.
"Kalau begitu ayo ke ruanganku,aku sudah sangat lapar," Dengan tangan kiri yang kosong, Gavin meraih tangan sang istri dan berlalu dari hadapan kedua resepsionis yang bisa dipastikan sangat malu sekarang pada Jelita.
"Sayang, sekali lagi, kalau kamu datang ke kantor, kamu naik lift ini aja, dan langsung ke ruanganku, tanpa harus izin pada resepsionis lagi ya," ucap Gavin yang sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mata Gavin berbinar saat melihat makanan yang dibawa oleh Jelita sudah tersaji di depan matanya. Pria itu tidak sabar ingin segera menyantap makanan itu, sampai dia tidak mendengar suara istrinya yang mengajaknya berbicara.
"Mas, kamu dengar gak sih yang aku bicarakan dari tadi ?" Jelita meninggikan suaranya, kesal melihat suaminya yang mengabaikan keberadaannya.
"Iya, Sayang? Kamu bilang apa tadi?" tanya Gavin yang akhirnya menoleh ke arah sang istri. Dia tidak mau Jelita marah dan pergi meninggalkannya. Dunia sekarang benar-benar terbalik. Kalau dulu, Jelita yang harus mendengarkannya, sekarang justru Gavin yang mendengarkan Jelita. Cinta benar-benar merubah segalanya.
"Nggak jadi! kamu makan aja lah! kalau begini, besok-besok aku nggak akan mau membawakan makan siang untukmu," Jelita bersedekap dengan bibir yang mengerucut.
"Aduh, jangan gitu lah,Sayang! kamu kan tahu, kalau aku sedang makan tidak suka sambil berbicara," ucap Gavin mengingatkan.
"Maaf, Mas! aku lupa," kini giliran Jelita yang meminta maaf. "Sekarang kamu habiskan dulu makanannya, nanti kita bicara lagi," pungkas Jelita akhirnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Gavin dan Jelita menggelengkan kepalanya, sembari nyengir kuda.
"Kalau begitu, kita makan sama-sama. Sini buka mulutmu!" Gavin menyodorkan sendok yang berisi makanan ke mulut Jelita. Setelah Jelita menyambut makanan yang disodorkan Gavin, pria itu juga langsung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, begitulah seterusnya sampai makanan itu habis tak bersisa.
Setelah selesai makan, Jelita langsung membereskan bekas makan mereka, dan kini meja sudah terlihat bersih kembali.
"Nah sekarang, kamu katakan lagi apa yang tadi kamu katakan," ucap Gavin sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Aku cuma bilang, supaya kamu nanti jangan pecat dua resepsionis itu,"
"Kenapa?" Gavin mengrenyitkan keningnya. Padahal tadinya dia sudah berencana untuk memecat dua resepsionis karena sudah menghina sang istri , saat Jelita pulang nanti.
"Karena mereka sama sekali tidak salah! mereka hanya melakukan tugas, yang memang harus hati-hati pada orang yang tidak dikenal. Khususnya pada wanita-wanita yang banyak alasan untuk bisa ketemu sama kamu," jelas Jelita panjang lebar.
"Lihat nanti aja!" sahut Gavin yang belum iklas membayangkan Istrinya dihina
__ADS_1
"Nggak ada lihat-lihat nanti. Awas aja kalau aku tahu, kamu memecat mereka. Kasihan mereka, Sayang."
"Kamu bilang apa tadi?" Gavin memotong ucapan Jelita.
"Aku bilang, awas jangan sampai__"
"Bukan,bukan itu! kamu panggil aku apa tadi?"desak Gavin dengan wajah yang berbinar.
"Emang aku panggil kamu apa? Mas kan?" Jelita mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Bukan! coba kamu ingat-ingat! tadi kamu panggil aku sayang. Dan kamu tahu, aku sangat suka panggilan itu," ucap Gavin, dengan senyuman sumringah.
"Astaga, Mas! hanya gara-gara itu saja kamu bisa sesenang itu?" Jelita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tentu saja, sederhana bagi orang tapi wah buatku,"
"Sudah ah! jangan alihkan pembicaraan dulu boleh? Mas kamu tahu sendiri mencari pekerjaan itu sangat susah sekarang. Kita tidak tahu, apa mereka punya tanggungan yang sangat berat di rumah atau tidak. Jadi aku mohon jangan pecat mereka ya,"
"Ok, aku tidak akan memecat mereka, tapi dengan satu syarat, kamu harus memanggiku, sayang, bagaimana?"
"Apa hubungannya sih?" protes Jelita dengan wajah yang merona.
"Ya adalah. Pokoknya kalau kamu tidak memanggilku sayang mulai sekarang, aku akan memecat mereka. Tapi kalau kamu __"
"Iya, iya. Aku panggil kamu sayang," sambat Jelita cepat.
"Nah begitu dong, coba sekarang kamu panggil aku sayang," ucap Gavin tersenyum, menang.
"Sayang," ucap Jelita ketus.
"Yang lembut dan mesra dong,"
" Iya, Sayang!" ucap Jelita yang kali ini disertai dengan senyuman.
"Oh ya, Mas eh Sayang, boleh gak aku masih mensuplay kue-kue ke cafenya kan Denis?"
"Tidak boleh!" singkat, padat dan jelas.
"Kenapa tidak boleh sih? masa kamu begitu sama sahabat kamu sendiri?" ujar Jelita dengan wajah masam.
Gavin diam untuk sepersekian detik, seperti tengah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Baiklah, boleh! tapi jangan kamu yang mengantarkan lagi ke cafenya. Sebaiknya kamu cari pegawai lagi khusus kurir. Aku tidak mau kamu kecapean," pungkas Gavin, tegas tak terbantahkan lagi.
Tbc