
Semalaman segala nasehat datang bertubi-tubi dari segala penjuru, baik dari Brian sepupunya,dan dari istrinya, juga dari kedua orangtuanya yang meminta dirinya untuk berpikir ulang keputusan untuk tidak keras kepala menolak pertanggungjawaban Denis. Namun, entah kenapa Bella masih saja tetap pada pendiriannya untuk tidak menerima pertanggungjawaban Denis.
Hari ini,Bella berniat untuk mencari pekerjaan untuk mengisi kekosongannya. Baginya walaupun uang tetap masuk ke dalam rekeningnya, dia tidak boleh berleha-leha.
"Kak Brian, kak Jessie, aku keluar dulu ya!"
"Kamu mau kemana?" tanya Brian dengan alis bertaut.
"Aku mau cari pekerjaan,kak." jawab Bella dengan raut wajah datar.
"Cari pekerjaan? pekerjaan apa? kamu kekurangan duit?" Jessie buka suara.
"Nggak sih. Cuma dari pada bosan di rumah nggak ada kegiatan, ya lebih baik bekerja," jawab Bella santai.
"Biar gak bosan, solusinya pulang ke Indonesia dan menikah. Tiap malam bisa olahraga, ha he ho , ha he ho, Iya gak, Sayang?" celetuk Jessie yang memang terlalu frontal dalam berucap.
"Wah, kamu ya, kalau bicara suka benar," jawab Brian sembari mengecup pipi sang istri.
Sementara itu, Bella memutar bola matanya, jengah menatap sepasang suami istri yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
"Udah ah, gerah aku melihat kalian berdua. Lebih baik aku keluar dari rumah ini, bye!" ucap Bella sembari berlalu dengan wajah masam.
"Jangan lupa jalan pulang ya! kalau jatuh, bangun sendiri, gak ada ayang soalnya yang bantuin!" Jessie kembali berteriak yang disambut tawa oleh Brian.
"Rese!" umpat Bella sembari menghentakkan kakinya dan tetap melangkah menuju pintu.
"Good morning, My bebeb!"
"Astaga, kamu!" pekik Bella yang kaget, karena begitu membuka pintu, Denis sudah berdiri di depan pintu sembari nyengir kuda.
__ADS_1
"Kenapa? kaget ya? kaget karena kagum melihat ketampananku, atau kaget karena kamu nggak menyangka kalau aku yang ada di pikiranmu tiba-tiba nyata berdiri di depanmu?" tanya Denis dengan nada yang terlalu percaya diri.
"Apaan sih!" ucap Bella, sembari memalingkan wajahnya. "Kamu jangan terlalu percaya diri, aku sama sekali tidak memikirkanmu," imbuhnya. Padahal,ada rasa bahagia yang muncul ketika melihat kemunculan Denis kembali. Kemarin dia sempat mengira kalau Denis akan langsung kembali ke Indonesia begitu mendapat penolakannya.
"Masa sih? coba aku lihat keningmu! Denis menyentuh kening Bella. Mendapat sentuhan itu membuat Bella refleks menepis tangan pria itu. Namun, Denis sama sekali tidak merasa sakit hati akan reaksi Bella, karena dia tahu, kalau hal ini bagian dari perjuangannya untuk mendapatkan hati Bella kembali. Bahkan pria itu tidak menginap di hotel lagi, tapi sudah menyewa sebuah apartemen, berjaga-jaga kalau dia bakal lama berada di Canada. Dia sudah menanamkan di dalam hati, pantang pulang ke Indonesia tanpa membawa Bella.
"Apaan sih pegang-pegang?" cetus Bella.
"Nggak, tadi cuma aku mau membuktikan, apa benar kamu tidak memikirkanku? ternyata kamu bohong, di jidatmu tadi, ada kok tertulis namaku di situ." ucap Denis, yang menyelipkan candaan di dalam ucapannya.
"Jangan konyol! candaan kamu sama sekali tidak lucu," Bella tetap saja memasang wajah garangnya, padahal sebenarnya dia sudah ingin tertawa mendengar ucapan absurd Denis.
"Emm, begitu ya?" Denis memasang wajah sedih. "Eh, sepertinya kamu mau pergi,mau kemana?" Denis akhirnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Terserah aku mau kemana. Bukan urusanmu!" cetus Bella sembari mendorong sedikit tubuh Denis ke samping yang memang sedang menghambat jalannya. Kemudian wanita itu berlalu pergi meninggalkan Denis.
Namun, Denis tidak mau tinggal diam, pria itu malah mengekor dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Bella.
"Nggak! aku keluar bukan mau jalan-jalan, tapi mau cari angin,"
"Angin yang mana? angin sepoi-sepoi? angin ribut atau angin-anginan?" Denis masih mencoba untuk mencairkan suasana.
Bella menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya kembali. Terlihat dari raut wajah wanita itu, kalau wanita itu sedang sangat kesal.
"Kenapa aku tidak menyadari dari dulu ya, kalau kamu ternyata sangat menyebalkan? kalau tahu nggak bakal aku sampai menyukaimu," ucap Bella sembari mempercepat langkahnya.
"Eh, jangan salah, kadang orang yang menyebalkan itu, bikin kaget eh bikin kangen maksudnya," Denis kembali melontarkan ucapan konyolnya. Entah kenapa, Denis merasa nyaman dan merasa menjadi diri sendiri di depan Bella, tanpa harus memikirkan image.
"Ah, Terserah kamu deh!" Bella akhirnya menyerah.
__ADS_1
Keheningan terjeda cukup lama di antara mereka berdua. Tanpa terasa mereka sudah berjalan kaki cukup jauh dan seperti tanpa tujuan.
"Kita mau kemana, Bel? apa kita akan jalan kaki aja? dari tadi taksi sudah berlalu lalang lho," tanya Denis memecah keheningan, karena dia merasakan kakinya yang mulai pegal.
"Kalau kamu capek, ya berhenti aja. Jangan ikuti aku!" ucap Bella ketus. Padahal sebenarnya wanita itu juga sudah merasa capek.
"Sebenarnya nggak capek sih, justru aku senang bisa jalan berdua sama kamu, kan jarang-jarang begini. Aku cuma khawatir kalau kamu kecapean, itu saja," ujar Denis, berbohong.
"Sial! sebenarnya ini mau kemana sih? dia nggak bakal ngajak aku jalan kaki sepanjang hari kan?" batin Denis, menggerutu dalam hati.
"Aduh, gimana nih, aku juga sudah sangat lelah, tapi kalau aku duduk, nanti bakal diketawain sama dia. Tapi, sumpah, lututku sudah mau putus dari engselnya," Bella juga membatin di dalam hati.
Denis menggerakkan ekor matanya, melirik ke arah Bella. Pria itu kemudian tersenyum tipis, paham kalau sebenarnya Bella sudah kelelehan. Denis akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kaki panjangnya hingga berada persis di depan Bella.
"Kamu mau apa?" tanya Bella kaget begitu melihat Denis yang sudah berjongkok di depannya.
"Aku tahu kamu sudah capek, ayo naik ke punggungku, aku akan gendong kamu, walaupun aku tidak tahu kemana tujuan kamu sebenarnya," ucap Denis sembari menepuk-nepuk punggungnya sendiri.
"Hei, jangan gila! aku tidak mau!" tolak Bella sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa malu pada orang-orang yang berlalu lalang melihat mereka.
"Aku tidak gila! sekarang kamu cepetan naik!" Denis kembali mengulangi perintahnya.
"Nggak mau!" Bella memutuskan untuk melangkah melewati Denis.
Denis menghela napasnya, dengan sekali hentakan. Dia tidak pernah menyangka, akan sangat sulit untuk meluluhkan hati Bella.
"Ya udah kita istirahat di sana saja. Ingat bukan karena aku capek tapi aku kasihan melihat kamu," celetuk Bella tiba-tiba, sembari masuk ke dalam sebuah Cafe.
Denis tertegun untuk beberapa saat. Ingin sekali dia tertawa melihat tingkah Bella yang tetap menjaga gengsinya. Namun dia memilih untuk menahannya, dari pada Bella berubah jadi singa betina nantinya.
__ADS_1
Tbc