
Denis dan Bella kini sudah tinggal berdua dia ruang tamu. Brian dan Istrinya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua agar lebih leluasa untuk menyelesaikan masalah mereka. Brian bisa menyimpulkan kalau kedatangan Bella kali ini. Ke Canada, pasti karena ada masalah, apalagi di saat Bella memutuskan untuk menetap di Canada.
"Sebenarnya apa tujuan kamu datang ke sini?" Bella buka suara memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka berdua.
"Aku mau meminta maaf atas apa yang aku lakukan padamu, dan aku ingin menjemputmu pulang ke Indonesia," jawab Denis dengan lugas.
Bella mengembuskan napasnya dengan cukup berat."Maaf! aku tidak bisa. Aku sudah memutuskan untuk menetap di negara ini. Aku ingin berusaha melupakan apa yang sudah terjadi," ucap Bella tanpa menatap ke wajah Denis. Mulutnya bisa berkata kalau dirinya membenci pria itu, tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau rasa cintanya lebih besar dari rasa bencinya.
"Aku tahu kalau apa yang aku lakukan padamu sangat menyakitkan, bukan hanya kejadian malam itu, aku yang sama sekali tidak peka dengan perasaanmu, juga sangat menyakitimu. Apa kamu sama sekali tidak bisa memaafkanku?" suara Denis terdengar lirih dan tatapannya juga terlihat sendu menatap wajah Bella yang sama sekali tidak mau menatapnya.
"Kamu tidak perlu bahas itu lagi! sekarang sebaiknya kamu pulang saja ke Indonesia. Karena keputusanku sudah bulat."
"Tidak! aku tidak akan pulang ke Indonesia, kalau aku tidak membawa kamu ikut serta," tolak Denis dengan tegas.
"Buat apa? buat apa aku ikut kamu ke Indonesia? hah! apa kamu belum puas untuk menyiksa perasaanku? aku mohon Denis, sebaiknya kamu pulang saja, biarkan aku hidup nyaman di negara ini," air mata yang tadinya berusaha dibendung oleh Bella, kini sudah berhasil membobol sang bendungan dan sudah membuat pipi wanita itu basah.
"Tidak, Bel. Percayalah kalau aku tidak akan mengabaikan kamu lagi. Aku akan berusaha untuk menumbuhkan rasa cintaku padamu. Aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat," suara Denis terdengar sangat memelas.
"Denis, kalau kamu ingin menikahiku hanya karena rasa tanggung jawab, aku tidak mau. Sekarang kamu boleh pulang, karena bukan kamu yang tidak mau tanggung jawab, tapi aku yang menolak. Jadi, untuk ke depannya kamu tidak perlu merasa bersalah sama sekali," tutur Bella sembari menyeka butiran cairan bening yang kembali keluar dari matanya
"Tidak! aku sudah mengatakan kalau tidak akan pulang ke Indonesia tanpa kamu!" tegas Denis kembali dengan mata yang berkilat-kilat.
"Terserah kamu! yang jelas aku sudah memberikan kamu kebebasan," Bella berdiri dari tempat dia duduk dan hendak berlalu pergi.
"Bella! tolong beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab. Kalau untuk mencintai, aku akan terus belajar mencintaimu." mohon Denis yang membuat Bella mengurungkan langkahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu boleh kembali kalau kamu sudah mencintaiku, dan berdoalah mudah-mudahan di saat kamu sudah mencintaiku, aku masih memiliki perasaan yang sama,"
"Tidak! aku maunya sekarang! kita bisa menikah lebih dulu, dan aku berjanji akan bersikap baik padamu, dan belajar mencintamu," entah kenapa, ada perasaan tidak rela yang muncul di dalam hati Denis ketika ucapan Bella mengisyaratkan kalau suatu saat perasaan wanita itu bisa saja berubah.
Bella kembali mengembuskan napasnya, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sekali lagi, maaf! keputusanku sudah tetap. Sekarang kamu boleh pergi, aku mau masuk dulu," Bella akhirnya melangkah, tidak mau melihat ke belakang lagi.
"Bella, kalau kamu tidak mu pulang ke Indonesia, bagaimana dengan orangtuamu? apa kamu tega meninggalkan mereka berdua di Indonesia!" teriak Denis, berharap wanita itu bisa terpengaruh dengan ucapannya. Namun,Bella tetap saja melangkah seakan tidak mendengar ucapan Denis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella menutup pintu kamarnya,dan menangis sesenggukan di dalam sana. Wanita itu mengintip dari celah-celah tirai kamarnya, melihat pria yang dicintainya itu sedang berdiri mematung. Tidak menunggu lama akhirnya pria itu masuk ke dalam taksi yang akan membawanya kembali ke hotel.
"Apa setelah ini kamu benar-benar akan pulang ke Indonesia? apa sampai segitu saja usahamu?" batin Bella yang tiba-tiba merasa kecewa.
"Hallo," sapa Indra, papanya Bella dari ujung telepon.
"Hallo, Pa. Papa dan mama sehatkan di sana?" tanya Bella, berbasa-basi.
"Sehat, Sayang! jawab Indra yang masih berpura-berpura seakan tidak tahu apa yang sudah menimpa putrinya.
"Syukurlah! apa mama dan Papa sudah makan malam?" tanya Bella kembali, karena dia tahu kalau sekarang di Indonesia sudah pukul 9 malam.
"Tentu saja udah! ini papa dan mama sebentar lagi mau tidur. Oh ya,ada apa nelpon papa? apa kamu berpikir ulang dan mau kembali ke Indonesia?"
__ADS_1
"Tidak, Pa! aku cuma mau protes sama papa dan mama. Bukannya aku sudah bilang untuk tidak memberitahukan kepada siapapun, kalau aku ke Canada? tapi kenapa Denis bisa ada di sini, Pa? dia bahkan tahu kalau aku tinggal di rumah kak Brian," ucap Bella, panjang lebar.
"Apa? Denis sudah ada di sana? cepat bergerak juga dia ya? padahal papa sempat mengira kalau dia akan kesusahan menemukan alamatmu," jawab Indra yang tentu saja menimbulkan kerutan di kening Bella.
"Maksud Papa? apa papa mau mengatakan kalau papa tidak pernah memberitahukan kemana aku pergi?"
"Iya! papa malah memberikan dia tantangan. Papa memintanya kalau dia benar-benar serius denganmu, dia harus mencarimu sendiri. Ternyata dia benar-benar bisa bergerak cepat, jawab Indra dengan nada bangga.
Bella bergeming, tidak menyangka kalau Denis ternyata datang ke Canada bukan karena dikasih tau oleh orangtuanya, tapi karena usaha sendiri.
"Nak, apa kamu masih di sana?" suara Indra kembali membuat Bella tersadar dari lamunannya.
"Iya, Pah. Aku masih di sini," sahut Bella dengan cepat.
" Nak apa kamu akan pulang ke Indonesia bersama dengan nak Denis?" terselip harapan di balik pertanyaan Indra.
"Tidak, Pah. Aku sudah memintanya untuk pulang,"
"Kenapa? apa karena dia datang hanya karena ingin bertanggung jawab saja?" tanpa sengaja, dari ucapannya, Indra mengisyaratkan kalau dia sudah tahu apa yang menimpa putrinya itu.
"Maksud, Papa? a-apa papa sudah tahu yang sebenarnya?" tanya Bella, was-was.
"Iya! Denis sudah mengatakan semuanya.Kenala kamu bisa menyembunyikan masalah sebesar ini?"
"Maaf, Pa! Aku hanya tidak ingin mama dan papa sampai kepikiran dan akhirnya membuat hubungan persahabatan papa dan papanya Denis, hancur." jawab Bella dengan lirih.
__ADS_1
"Tapi tidak seharusnya kamu menyimpan hal berat seperti itu, Bella. S ekarang mama kamu benar-benar berharap kamu menikah secepatnya dengan Denis. Kalau masalah tentang cinta, papa yakin kalau cepat atau lambat, Denis pasti akan bisa mencintaimu dengan tulus. Tolong jangan kecewakan mama dan papa!"pungkas Indra yang langsung memutuskan panggilan secara sepihak, pertanda kalau dia tidak mau mendengar alasan putrinya itu lagi.
Tbc