Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Jelita bertemu Maya


__ADS_3

Hari berlalu dengan begitu cepat, toko kue milik Jelita, berkembang dengan pesat. banyak orang yang datang membeli kue di tokonya. Hal ini tentu saja tidak lepas dari bantuan Melinda mertuanya, Gavin suaminya dan Nayla sahabatnya.


Sebuah mobil berwarna merah tampak berhenti di toko kue milik Jelita, dan seorang wanita yang berpenampilan glamour turun dari dalam mobil itu dan menurunkan sedikit kaca mata hitamnya, untuk memastikan apa yang ada di depannya adalah tempat yang dicarinya atau tidak.


"Hmm, benar ini tempatnya." di sudut bibir wanita yang ternyata Maya itu, terlihat sebuah senyuman yang licik.


"Kalau aku beli muffin buat Gavin, aku yakin kalau dia akan tersentuh, karena aku masih ingat dengan kue kesukaannya," batin Maya, menyunggingkan senyum lebar, penuh percaya diri.


Maya melangkah dengan angkuh masuk ke dalam toko, dan langsung disambut dengan ramah oleh karyawan Jelita.


"Selamat siang, Nona! ada yang bisa kami bantu?"


"Tentu saja! aku datang ke sini tentu saja mau membeli kue, dan sudah kewajiban kalian untuk membantu," sahut Maya, dengan angkuh dengan menurunkan kembali kaca mata hitamnya, menatap sinis ke arah karyawan yang baru saja menyapanya.


"Oh, kalau begitu silahkan dilihat-lihat dulu, Nona!" sahut sang karyawan, tidak merasa terpancing dengan sikap Maya.


"Aku mau kamu bungkuskan muffin-muffin itu," Maya menunjuk ke arah etalase yang berisi beberapa muffin.


"Baik, Nona. Apa masih ada lagi?"


"Tidak! cukup itu saja," jawab Maya.


"Emm, aku sudah tidak sabar melihat reaksi Gavin nantinya. Dia pasti sangat senang, dan dia akan merasa kalau aku adalah wanita yang terbaik dan yang paling mengerti akan dirinya," monolog Maya, sembari senyum-senyum sendiri membayangkan, reaksi Gavin nantinya.


"Kalau dia sudah ada di genggamanku kembali, aku akan dengan mudah menjebaknya untuk cepat-cepat menikah denganku, supaya anak ini memiliki papa. batin Maya sembari mengelus perutnya.


"Siang, Bu Jelita!" sapa seorang karyawan, yang disusui dengan karyawan-karyawan lain, begitu Jelita masuk. Wanita itu baru saja datang, setelah kembali dari mengantarkan kue ke cafe Denis.


"Siang, semua!" sapa Jelita, tidak lupa untuk tersenyum.

__ADS_1


"Hei, tunggu dulu. Kalau nggak salah kamu ini Jelita si cupu, si paling miskin yang sok-sokan bersekolah di SMA tunas bangsa hanya dengan modal bea siswa kan?" celetuk Maya tiba-tiba


Jelita sontak menoleh ke arah Maya, dan memicingkan matanya, berusaha untuk mengingat sosok Maya.


"Kamu, Maya ya?" ucap Jelita setelah berhasil mengingat siapa wanita di depannya itu.


"That's right. Emm, ternyata kamu belum berubah-berubah ya? tetap saja penampilan kamu seperti ini? aku kira murid berprestasi seperti kamu, sekarang sudah wah, ternyata masih seperti ini juga," Maya berucap sembari menatap Jelita dengan tatapan merendahkan.


"Kamu juga belum berubah, masih tetap angkuh dan suka menatap orang lain rendah," balas Jelita dengan seulas senyuman di bibirnya. Senyuman yang mengandung sebuah sindiran di dalamnya.


"Kamu ngapain di sini?"Jelita kembali bertanya.


"Kamu tidak seharusnya menanyakan hal itu, karena siapapun pasti tahu kalau aku ke sini pasti mau beli kue-kue mahal ini. Justru aku yang mau bertanya sama kamu, kamu mau ngapain ke sini? mau melamar kerja ya di sini? aku rasa kamu tidak akan di terima," ledek, Maya dengan sudut bibir yang tersenyum meremehkan.


"Nona, Ibu Jelita ini ...." Mia salah satu karyawan Jelita menggantung ucapannya, melihat isyarat dari Jelita untuk diam saja.


"Hei, apa kamu sedang mengusirku?


"Oh, tentu tidak sama sekali. Aku tidak mungkin bisa mengusir pembeli. Aku cuma bertanya saja, karena aku melihat kamu sudah selesai membeli kuenya. Apa aku salah?"


"Tentu saja salah, karena kamu tidak berhak bertanya seperti itu!" suara Maya mulai meninggi. Kemudian wanita itu menoleh ke arah para karyawan, "Hei, kalian semua dengar sini, kalau dia mau melamar pekerjaan di sini, sebaiknya kalian jangan menerima dia, karena aku berani jamin kalau toko ini akan sepi, karena memiliki karyawan seperti dia, ya g tidak menarik sama sekali," ucap Maya dengan ekor mata yang melirik sinis ke arah Jelita.


"Maaf, Nona! menurutku, Ibu Jelita jauh lebih menarik dari anda. benar kan teman-teman?" jawab Mia dengan berani karena mulai jengah dengan sikap angkuh Maya.


"Benar sekali, Nona! menurutku, anda itu cantik hanya karena polesan makeup aja. Kami yakin kalau anda tidak akan berani tampil tanpa make-up tebal anda," timpal karyawan lain, yang membuat wajah Maya memerah, karena emosi. Wanita itu benar-benar meradang, merasa terhina dengan ucapan karyawan toko kue itu.


"Berani sekali kalian berbicara seperti itu! apa kalian mau dipecat? hah! dimana pemilik toko ini? aku mau meminta agar kalian dipecat!" ancam Maya, dengan manik mata yang berkilat-kilat.


"Nona tidak perlu mencarinya, karena dari tadi Nona sudah berbicara dengannya," jawab Mia, ambigu.

__ADS_1


"Maksudmu?" Maya mengrenyitkan keningnya.


"Ibu Jelita, wanita yang anda hina tadi, adalah pemilik toko kue ini."


Jawaban yang diberikan oleh Mia membuat mata Maya membesar, terkesiap kaget. Dia sontak menatap kembali ke arah Jelita, menelisik sosok wanita itu dari atas sampai ke bawah.


"Kamu? kamu pemilik toko ini? hahahahaha! kalian pasti sedang bercanda," tawa Maya pecah, tawa yang mengandung ejekan.


"Tapi, itu benar Nona. Apa anda tidak menyadari, kalau dari awal ibu Jelita datang kami sudah langsung menyapa dan memangil Ibu Jelita? atau otak anda terlalu lamban untuk bisa mencernanya?" jelas Mia kembali yang disertai dengan sindiran sarkastik.


"Diam kamu! berani sekali kamu mengatakan otakku lamban, kamu sudah bosan hidup ya!" bentak Maya dengan raut wajah bengis.


"Maya, kamu jangan membentak karyawanku. Sekarang sebaiknya kamu pergi saja dari sini, kalau urusan kamu sudah selesai," Jelita yang dari tadi hanya sebagai pendengar saja, kini buka suara kembali karena bagaimanapun dia harus melindungi karyawannya.


"Oh, jadi ini benar milik kamu? hebat juga kamu ya? bagaimana kamu bisa mendapatkan toko kue sebesar ini? apa kamu jual diri ya?" ucap Maya dengan nada sinis.


Sudut bibir Jelita tertarik sedikit ke atas, tersenyum smirk. "Apa kamu sedang membicarakan diri kamu sendiri? aku bukan orang seperti kamu, yang demi mendapatkan sesuatu rela merendahkan diri sendiri atau bahkan seperti yang kamu katakan tadi, ju-al di -ri." ucap Jelita yang memberi penekanan pada kata jual diri.


"Kamu!" Maya hendak melayangkan tangannya, hendak memukul pipi Jelita. Namun dengan cepat Jelita menangkap tangan wanita itu.


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang baru saja masuk.


Jelita dan Maya sontak menoleh ke arah datangnya suara.


"Mas Gavin," gumam Jelita.


"Gavin," gumam Maya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2