
"Kamu dari mana aja? kenapa baru pulang? sambut Gavin begitu dia melihat Jelita.
"Bukannya tadi aku sudah sampaikan sama mereka kalau aku beli bahan-bahan kue? mereka tidak kasih tahu kamu ya?"
"Mereka kasih tahu sih, cuma kenapa kamu lama?"
"Tadi tokonya ramai, Mas." jawab Jelita, sedikit berbohong.
"Jadi dimana barang yang kamu beli?" Gavin melihat ke arah tangan Jelita yang sama sekali tidak membawa apa-apa.
"Sebentar lagi, akan diantar ke sini, Mas."
Bersamaan dengan selesainya Jelita mengucapkan hal itu, seorang pria tampak turun dari atas motor dan menurunkan barang belanjaan Jelita.
"Tolong kamu bawa masuk sekalian barangnya, Bang!" titah Gavin sembari mengeluarkan uang 5 lembar berwarna merah sebagai tip.
"Banyak sekali,Mas?" bisik Jelita tepat di telinga Gavin.
"Tidak apa-apa! sekali-sekali ini," sahut Gavin santai.
"Tapi, takutnya nanti setiap dia ngantarkan barang ke sini, dia akan berharap mendapat tip yang besar sama seperti yang kamu kasih," protes Jelita yang benar-benar kurang setuju dengan apa yang dilakukan oleh Gavin.
"Kalau kamu keberatan, setiap hari nanti aku kasih uang khusus buat kamu kasih tip, kalau kamu tidak mau rugi,"
"Ihh, bukan seperti itu maksudku, Mas." Jelita mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, tidak perlu dibahas lagi. Sekarang kita langsung pulang saja," tampang Gavin benar-benar datar, tanpa ekspresi.
"Tunggu dulu! aku pamit sama mereka dulu," Jelita masuk ke dalam dan tidak perlu menunggu lama, Jelita kembali keluar dan langsung menyusul Gavin masuk ke dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu tidak perlu masak buat makan malam ya! kita pesan saja," ucap Gavin, ketika mereka. baru saja tiba dan masuk ke dalam apartemen.
"Kenapa?" Jelita mengrenyitkan keningnya.
"Kamu seharian ini sudah capek. Sekarang kamu mandi saja, biar aku pesan makan malam buat kita. Kamu mau makan apa?" Gavin bertanya sembari mengeluarkan handphone dari dalam sakunya.
"Terserah, Mas aja. Aku ikut aja. Aku gak pilih-pilih makanan kok," sahut Jelita yang seketika merasa lega, karena tidak perlu memasak lagi.
"Sekarang kamu mandi saja, biar aku nungguin makanannya," ucap Gavin sembari mendaratkan tubuhnya duduk menyender di atas sofa, sembari melonggarkan dasinya.
"Emm, baiklah!" Jelita mengayunkan kakinya melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
Kurang dari 30 menit, tampak Jelita keluar dari dalam kamar, sudah terlihat segar dan berganti pakaian. Wanita itu melihat Gavin yang fokus memainkan game di ponselnya.
"Makanannya belum datang ya, Mas?" tanya Jelita yang membuat Gavin tersentak, kaget.
"Eh, belum nih! mungkin sebentar lagi. Kamu datang kenapa gak bilang-bilang sih?" protes Gavin sembari memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku celananya.
"Diam-diam bagaimana? Mas aja yang terlalu fokus ke handphone,"
Bersamaan dengan itu, bunyi bel terdengar dan Gavin langsung berdiri, karena dia yakin kalau yang datang adalah makan malam mereka.
"Ayo kita makan! makanannya sudah datang," Gavin melangkah ke meja makan dan Jelita menyusul dari belakang.
Gavin meletakkan makanan di atas meja, sementara Jelita menyiapkan piring, sendok dan air putih.
Tanpa menunggu lama, suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, terdengar memenuhi ruangan itu. Mereka berdua menyantap makan malam tanpa bersuara sedikitpun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meja makan kini terlihat sudah bersih, piring bekas mereka makan juga sudah berbaris rapi di rak piring yang berada dekat dengan wastafel. Namun Gavin sepertinya belum beranjak dari tempat dia duduk.
"Mas, kenapa masih ada di sini? Mas tidak mau mau mandi?" Jelita mengrenyitkan keningnya.
"Kamu duduk dulu sebentar, ada yang mau aku bicarakan denganmu."
"Emm, ada apa sih, Mas? apa da sesuatu yang sangat penting?" tanya Jelita setelah dia duduk tidak terlalu jauh dari Gavin.
"Aku ajak dia gak ya? bagaimana kalau dia menolak?" batin Gavin, dilema.
"Lho, Mas katanya mau bilang sesuatu, tapi kenapa, Mas Gavin diam saja?" Jelita melihat ke arah manik mata, suaminya itu. Tampak jelas ada keraguan di manik mata berwarna hitam kecoklatan itu.
"Jel, hari Sabtu ini aku ada acara dengan teman-teman, apa kamu mau ikut denganku?" akhirnya Gavin memberanikan diri untuk bertanya.
Jelita tidak langsung menjawab, bukan karena tidak mau, tapi karena dia mengingat kalau tadi dia sudah berjanji akan menemani Denis ke acara reuni SMA nya.
"Aduh kenapa bisa samaan begini ya? bagaimana ini?" batin Jelita, bingung.
"Bagaimana, Jel? kenapa kamu diam?" Gavin buka suara menyadarkan Jelita dari lamunannya.
"Emm, begini, Mas kita kan menikahinya diam-diam, kalau aku ikut dengan kamu, nanti akan timbul tanda tanya dari teman-teman, Mas. Apa Mas mau, mereka tahu kalau aku ini istrimu. Kamu bisa malu nantinya, Mas," Jelita memberikan alasan, berharap Gavin bisa menerima alasan yang dia berikan.
"Kalau aku sudah berani mengajakmu, itu berarti aku tidak akan malu. Sekarang kamu jawab saja, kamu mau atau tidak?" seperti biasa sikap Gavin yang menyebalkan kembali muncul.
"Emm, sebenarnya aku tidak akan menolak, Mas. Tapi situasinya hari Sabtu ini aku juga harus menghadiri acara." ujar Jelita dengan sangat pelan.
__ADS_1
"Acara apa?" tanya Gavin, dengan tatapan penuh selidik.
"Emm, itu ... acara syukuran, ya acara syukuran. pemilik Cafe langgananku itu, mengadakan acara, makan malam bersama para karyawan karena Cafenya berkembang dengan pesat. Aku tadi sudah sudah sempat berjanji untuk datang, jadi kalau tidak jadi, aku tidak akan merasa enak," tutur Jelita, memilih untuk berbohong.
"Oh, seperti itu? ya udah tidak apa-apa. Nanti aku dan Reynaldi akan pergi sama-sama,"
"Mas tidak marah kan?" tanya Jelita memastikan.
"Marah? buat apa aku harus marah? sekarang aku mau masuk ke kamar dulu, aku mau mandi dan langsung tidur. Selamat malam!" Gavin bangkit berdiri dan langsung berdiri meninggalkan Jelita.
Sementara itu, Jelita menatap kepergian suaminya itu dengan tatapan yang merasa tidak enak.
Aduh, kok aku jadi serba salah begini ya?" batin Jelita sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Sementara itu, Gavin di dalam kamar menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan
mengeluarkan handphonenya dari dalam saku.
Kemudian dia pun menghubungi Reynaldi.
"Ya, Vin?" terdengar suara Reynaldi dari ujung sana.
"Rey, sepertinya aku tidak akan ikut ke acara reuni, kamu pergi sendiri aja ya!" ucap Gavin yang terdengar tidak bersemangat.
"Kenapa? apa Jelita tidak mau kamu ajak?" tebak Reynaldi.
"Hmm. Katanya dia ada acara di hari itu," sahut Gavin dengan lirih.
"Kalau dia tidak ikut, kita kan bisa pergi bersama, Vin. Please lah, aku nggak mau, pergi sendiri juga ke sana," ucap Reynaldi yang terdengar benar-benar ingin hadir di acara itu.
"Kenapa kamu sangat ingin hadir? apa karena kamu masih belum bisa melupakan dia?" tebak Gavin yang tidak langsung mendapat jawaban day Reynaldi.
"Sebenarnya bukan karena belum bisa melupakan, tapi lebih penasaran ingin melihat seperti apa dia sekarang," jawab Reynaldi, sembari mengingat wajah wanita yang merupakan cinta pertamanya di SMA dulu.
"Ya udah deh, demi kamu, aku ikut," pungkas Gavin memutuskan.
"Nah gitu dong!" ucap Reynaldi yang terdengar gembira. "Oh ya, Vin apa Denis ada mengirimkan pesan padamu? katanya dia sudah berhasil mengajak wanita itu untuk menemaninya hari Sabtu ini," sambung Reynaldi kembali.
"Ya, aku tahu! dia juga ada mengirimkan pesan padaku." jawab Gavin.
"Yang aku tidak habis pikir, cara dia yang ekstrim, supaya wanita itu merasa berhutang budi, dan akhirnya mau menemaninya, dia benar-benar nekad, Vin." Reynaldi berdecak sembari menggelengkan kepalanya. Walaupun Gavin tidak bisa melihat gelengan kepala sahabatnya itu.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa untuk tetap mendukung karya ini ya, guys. Please untuk tetap like dan komen. Kalau berkenan tolong di vote juga biar karya ini direkomendasikan, Thank you 🙏🏻🥰