Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bab 36


__ADS_3

Gavin masuk ke dalam apartemen dengan aura yang masih gelap, hingga membuat Jelita merasa ngeri.


Gavin menarik tangan Jelita dan mendorong wanita itu masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa kamu membohongiku, hah?" acara syukuran? acara syukuran apa yang kamu maksud?" Gavin mendorong tubuh Jelita, hingga tubuh wanita itu tidak bisa bergerak lagi, karena ada tembok dan kedua tangan Gavin yang mengurungnya.


"Maaf, Mas. Aku saat itu sangat bingung mau ___,"


"Buka baju kamu!" titahnya dengan tatapan yang tajam bak pisau yang yang siap dihujam ke jantung, memotong ucapan Jelita.


"Heh? bu-buka baju?" Jelita menyilangkan tangannya di depan dada.


"Buka baju kamu!" suara Gavin semakin meninggi.


"Mas, to-tolong ja-jangan seperti ini! kalau kamu mau melakukanya, ini bukan cara yang benar. Ini termasuk pelecehan,"


Bugh


Gavin tiba-tiba meninju tembok yang berada persis dekat dengan kepala Jelita, hingga membuat wanita itu menutup matanya, terjengkit kaget.


"Aku bilang buka baju kamu ya buka!" bentaknya persis di wajah Jelita, hingga membuat wanita itu, semakin ketakutan.


"Berani-beraninya kamu tampil cantik di depan laki-laki lain! buka baju ini, dan buang jauh!" Gavin mencengkram pundak Jelita.


"I-iya aku akan buka nanti di kamarku," jawab Jelita, gemetaran.


"Tidak ada nanti, buka sekarang! aku benci melihat kamu memakai gaun ini, dan rambut ini, lipstik ini, semuanya aku BENCI!" Gavin benar-benar dilanda emosional yang sangat tinggi sekarang. Pria itu bahkan menghapus lipstik di bibir Jelita menggunakan tangannya dengan sedikit kasar.


Ya, selain karena melihat Jelita bersama dengan Denis, hal yang paling membuat pria itu marah adalah melihat Jelita yang berpenampilan cantik di depan pria lain bukan di depannya. Dia kesal, karena Jelita tampil cantik untuk pertama kalinya di depan pria lain, bukan di depannya.


"Mas, Gavin! please jangan seperti ini! aku kan sudah bilang kalau aku akan membukanya, tapi izinkan aku untuk kembali ke kamarku, karena di sini aku tidak mempunyai pakaian ganti," Jelita memohon. Manik mata wanita itu juga sudah mulai terlihat berembun karena sudah mulai dipenuhi dengan cairan bening yang siap menjebol bendungan yang dibangun oleh Jelita mulai dari tadi.


"Kenapa? apa kamu tidak mau aku melihat tubuhmu? aku ini suamimu, apa kamu lupa akan hal itu? hah!"


"Aku tidak lupa, Mas, tapi ... ah, baiklah aku buka sekarang!" dengan tangan gemetar, Jelita mulai menurunkan kain yang menutupi pundak hingga sampai ke lengan. Kemudian, wanita itu memejamkan matanya dan mengembuskan napasnya sembari menurunkan pelan-pelan gaun yang dia pakai, hingga terjatuh ke lantai.


Gavin tertegun melihat tubuh Jelita yang kini hanya berbalut pakaian dalam. Tubuh pria itu seketika bereaksi dan mulai sedikit memanas. Bahkan pria itu tanpa sadar, menelan ludahnya sendiri. Untuk pertama kalinya dia melihat tubuh wanita yang setengah polos seperti sekarang.

__ADS_1


Masih setengah polos saja, sudah berhasil membuat sesuatu yang ada di bawah sana menggeliat. Gavin tidak bisa membayangkan kalau seandainya tubuh Jelita benar-benar polos, mungkin sesuatu itu tidak hanya menggeliat, tapi juga kan menyerang. Namun, pria itu memalingkan wajahnya, berusaha untuk menahan hasratnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Jelita belum berani untuk membuka matanya. Dari sudut matanya, cairan bening yang sedari tadi berusaha untuk dia bendung, akhirnya berhasil membobol sang bendungan. Entah kenapa dia merasa seperti sangat direndahkan sekarang.


"Nih, kamu pakai ini!" Gavin meletakkan kaos oblong dan juga celana karet miliknya ke tangan Jelita.


Jelita dengan perlahan, membuka matanya. Ia mengrenyitkan keningnya, melihat sepasang pakaian yang ada di tangannya. Padahal dia mengira kalau Gavin akan melampiaskan amarahnya dengan menggagahi tubuhnya.


"Kenapa kamu masih diam? apa kamu mau aku memakanmu sekarang? hah!"


Jelita menggelengkan kepalanya dengan cepat dan langsung mengenakan pakaian yang diberikan oleh Gavin.


"Sekarang kamu jelaskan, bagaimana kamu bisa membohongiku?" suara Gavin mulai merendah, tapi aura dingin masih tetap mendominasi. Pria itu mendapatkan tubuhnya duduk di atas ranjang, memasang wajah serius.


"Emm, karena aku benar-benar merasa bingung mau jawab apa ketika kamu mengajakku. Di satu sisi aku sebenarnya mau ikut kamu, tapi aku sudah berjanji pada Kak Denis untuk pergi dengannya. Itu karena aku merasa berhutang budi, karena dia sudah menolongku dari dua orang perampok," jelas Jelita, yang jelas-jelas Gavin sudah tahu akan hal itu.


"Brengsek!" umpat Gavin. "Apa kamu tahu, kalau itu semua hanya akal-akalan dia? Kami sudah berhasil dia kelabui," suara Gavin kembali meninggi, dan napasnya kembali memburu. Bukan karena Denis yang membohongi Istrinya tapi lebih mengingat kondisi Jelita yang saat itu pasti sangat ketakutan.


"Ma-maksud kamu apa, Mas? akal-akalan apa yang kamu maksud?" Alis Jelita bertaut, gagal paham.


"Apa kamu belum mengerti dengan yang aku maksud? dua orang itu adalah orang yang dibayar Denis. Mereka ingin merampok kamu, dan Denis muncul sebagai pahlawan." Jelas Gavin masih dengan napas yang memburu.


"Buat apa dia melakukan hal itu?"


"Kamu ini pura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh? asal kamu tahu dia menyukaimu? Sial! berani-beraninya dia menyukai istri sahabatnya," umpat Gavin, sembari mengepalkan tangannya.


Jelita bergeming tidak berani buka suara lagi. Wanita itu tidak mau membuat Gavin semakin bertambah marah.


"Tapi, kenapa dia bisa semarah ini? apa dia sedang cemburu?" batin Jelita, sembari menelisik ekspresi yang ada di wajah Gavin.


"Tidak! tidak mungkin dia cemburu! dia hanya tidak terima aku bohongin yang otomatis membuat dia merasa tidak dihargai. Ya, pasti gara-gara itu," Jelita kembali bermonolog pada dirinya sendiri.


"Kamu, apa kamu tidak mengakui kalau kamu sudah menikah pada Denis? kenapa dia bisa seberharap itu ke kamu? apa kamu selalu tebar pesona ketika bertemu dengannya?" tukas Gavin bertubi-tubi, dan dia benar-benar benci dengan pemikirannya.


"Aku tidak pernah tebar pesona, aku selalu bersikap biasa,".


"Iya ya, Denis juga pernah bilang begitu kan? kalau wanita itu tidak pernah meresponnya?" batin Gavin menyetujui ucapan Jelita.

__ADS_1


"Dan masalah mengakui pernikahanku, bukannya aku tidak mau mengaku kalau aku sudah menikah, tapi kamu sendiri kan yang dulu meminta agar aku tidak memberitahukan siapa pun tentang pernikahan kita?" Jelita mejelaskan alasannya dengan sangat hati-hati.


Gavin tercenung, tidak bisa membantah alasan yang diberikan oleh istrinya itu. Namun dia diam hanya untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, pria itu kembali menatap Jelita dengan tajam.


"Tapi, kamu sudah lihat, kalau aku sudah mengakuimu di depan Maya, dan karyawan-karyawanmu, harusnya kamu bisa belajar dari situ, kalau aku tidak keberatan, jika kamu juga melakukan hal yang sama,"


"Aku mengira hal itu hanya berlaku padamu, dan aku tidak berhak," ucap Jelita, seadanya.


"Oh begitu ya? bagaimana dengan Nayla? kenapa kamu berani memberitahukan tentang pernikahan kita dan tentang apa yang aku lakukan padamu?"


"Na-Nayla? ba-bagaimana kamu bisa tahu tentangnya?" Jelita mulai panik.


"Kamu tidak perlu mengetahuinya, yang jelas sahabatmu itu sudah berani memakiku di depan orang-orang, sebagai suami yang tidak bertanggung jawab," ucap Gavin yang sengaja melebih-lebihkan.


Hal itu membuat wajah Jelita berubah pucat, bukan karena takut dimaki-maki oleh Gavin, tapi lebih memikirkan nasib Nayla sahabatnya. Jelita takut kalau Nayla akan kehilangan pekerjaannya, di rumah sakit ternama milik keluarga Gavin itu.


"Mas, aku minta maaf! di-dia sahabatku, makanya aku berterus terang padanya. Aku yakin dia tidak sengaja memaki-maki kamu di depan banyak orang. Tolong jangan pecat dia ya!" mohon Jelita dengan wajah yang memelas, membuat Gavin mengrenyitkan kening, bingung.


"Apa hubungannya denganku? kenapa aku bisa memecatnya?" batin Gavin, berusaha mencerna ucapan Jelita.


"Oh iya, aku tahu, pasti karena sahabatnya itu, bekerja di rumah sakit papa," batin Gavin dengan sudut bibir yang tersenyum tipis.


"Aku tidak sekejam itu. Sekarang sebaiknya kita tidur saja," Gavin berdiri dan mengayunkan kakinya melangkah ke arah lemari dan mengeluarkan piyama tidurnya.


"Kamu mau kemana?"


Jelita yang sudah sempat melangkah, hendak keluar dari kamar Gavin, menyurutkan langkahnya, mendengar ucapan suaminya itu.


" Aku mau kembali ke kamarku," sahut Jelita sembari menggigit bibirnya.


"Tidak usah! mulai malam ini, kamu tidur di kamar ini. Tidak ada lagi yang namanya tidur terpisah. Kamu mau bertanya kenapa? jawaban nya karena kamu istriku," ucap Gavin yang bisa menebak kalau Jelita akan menanyakan alasannya.


"Heh?" Jelita tertegun dengan mata yang mengerjap-erjap, bingung.


"Ada apa ini? kenapa dengannya?" batin Jelita.


"Ngapain kamu masih berdiri di sana? naik ke kasur dan tidur! aku mau ganti pakaian dulu,"

__ADS_1


"Ta-tapi aku lapar, aku belum sempat makan tadi," celetuk Jelita dengan polosnya.


Tbc


__ADS_2