Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Salah dia sendiri tidak memohon


__ADS_3

Jelita keluar dari kamar, dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar dan pakaiannya juga sudah berganti. Wanita itu terlihat ingin melangkah ke arah kamar Gavin untuk berpamitan pada suaminya itu. Karena sekejam apapun, pria itu tetaplah suaminya.


"Mau kemana kamu?" Jelita terjengkit kaget, mendengar suara Gavin yang ternyata sedang duduk di atas sofa.


"A-aku tadi mau mengetuk kamar kamu. Aku mau izin keluar sebentar, untuk bertemu Sahabatku,"


"Untuk apa izin? kalau kamu mau pergi, ya pergi aja." sahut Gavin, cuek.


"Emm, Tuan, boleh aku meminjam uang kamu untuk ongkos angkot? nanti pulang dari sana aku akan bayar," tanya Jelita dengan sangat hati-hati, sembari menggigit bibir bawahnya.


Gavin sontak mengangkat wajahnya dan menatap Jelita dengan tajam. "Bukannya aku sudah bilang, kalau aku tidak akan memberikan uang sepeserpun untukmu? apa kamu kira aku bercanda?"


"A-aku kan tidak meminta, tapi hanya meminjam. Kalau kamu tidak mau memberikannya, tidak apa-apa! aku bisa jalan kaki ke sana." Jelita berlalu pergi, menunju pintu. Wanita itu kembali terjengkit kaget, begitu pintu terbuka tiba-tiba, dan sosok laki-laki muncul di depannya. Bukan hanya Jelita yang kaget, pria itupun terlihat kaget dengan adanya seorang wanita di depannya.


"Hai, Gavin ada?" tanya pria itu setelah rasa kagetnya reda.


"Tuan Gavin ada di dalam, Tuan!" jawab Jelita dengan sopan.


"Oh, terima kasih, Mbak!" ucap Pria yang tidak dikenal oleh Jelita itu.


Pria itu nyaris melangkah melewati Jelita,tapi tiba-tiba berhenti karena ditahan oleh Jelita.


"Ada apa,Mbak?" pria itu mengrenyitkan keningnya.


"Tuan, bisa pinjam uangnya 20 ribu aja? nanti aku janji akan mengembalikannya lewat tuan Gavin," ucap Jelita dengan sangat pelan, hampir sama seperti berbisik.


Pria itu menatap manik mata Jelita beberapa saat, untuk melihat kalau Jelita berbohong atau tidak. Kemudian pria itu merogoh dompetnya dari dalam saku dan mengeluarkan uang dari dalamnya.


"Emm, aku tidak punya uang 20 ribu, Mbak, tapi, Mbak pakai ini dulu, dan tidak perlu dikembalikan," pria itu memberikan uang selembar yang bernilai 100 ribu.


"Tapi, ini terlalu banyak, Tuan!" tolak Jelita yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa! Mbak. Pakai saja! mungkin Mbak belum gajian dari Gavin,"


Jelita seketika tersentak kaget, dia kembali melihat penampilannya. "Dia pasti mengira aku pembantu, Gavin," batin Jelita yang tiba-tiba merasa sedih.

__ADS_1


"Aku masuk dulu ya,Mbak!" pria itu melangkah masuk setelah Jelita menganggukkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hei, Sob. Siapa gadis tadi?"


"Dia istriku," jawab Gavin, dengan nada kesal.


"What?!" kamu jangan bercanda, Sob! Ini gak lucu tahu," ucap Reynaldi, yang merupakan sahabat dari Gavin.


"Apa kamu ada lihat, kalau aku sedang bercanda? aku benar-benar serius,"


"Kapan kamu menikah, dan kenapa aku bisa tidak tahu? dan kenapa berita mengenai pernikahanmu tidak ada yang tahu?" tanya Reynaldi, beruntun.


"Mama yang memintaku untuk menikahinya, karena orangtuanya meninggal karena tertabrak sama mama dan papa. Kalau tentang kenapa tidak ada yang tahu, karena aku memang tidak mau ada orang yang tahu," jelas Gavin dengan nada malas.


"Astaga! tadi aku sempat mengira kalau dia pembantu kamu, Sob."


"Penampilannya memang cocok seperti pembantu. Bahkan Sari yang jelas-jelas pembantu saja lebih modis dari dia. Makanya aku kesal banget, Rey. Aku benar-benar tidak menyangka bisa menikah dengan gadis seperti itu,"


"Aku yakin, hal itu tidak akan membantu, Rey. Bagaimanapun kita poles dia, dia akan tetap seperti itu." Gavin, menghela napasnya dengan berat.


"Tapi yang aku lihat beda. Aku berani jamin kalau dia itu cantik luar dalam. Lagian, kenapa kamu melihat fisik sih? terlepas dia itu jelek ataupun tidak, bagaimanapun dia itu tetap seorang wanita yang harus kamu hargai, apalagi dia sudah menjadi istrimu." tutur Reynaldi sembari menyilangkan kakinya.


Gavin bergeming mendengar penuturan Reynaldi yang menurutnya ada benarnya. Pria itu terlihat menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali ke udara dengan cukup panjang dan berat.


"Sebenarnya, bukan hanya karena fisiknya, tapi lebih kepada niat awalnya yang mau menikah denganku. Aku yakin kalau dia mau menikah denganku, hanya demi harta. Coba kalau aku miskin, aku yakin kalau dia tidak bakal mau menikah denganku,. bahkan untuk menatapku juga dia bakal tidak sudi."


"Dari mana kamu tahu kalau dia wanita seperti itu? kamu jangan menyamakan semua wanita itu, Vin."


"Coba kamu pikir, bagaimana dia langsung menerima mau menikah denganku, padahal dia tidak mengenalku sama sekali? tapi, karena dia tahu kalau papa memiliki perusahaan besar, tanpa berpikir panjang dia langsung menerima. Apalagi coba alasannya kalau bukan karena harta?" ujar Gavin dengan seringaian sinis di sudut bibirnya.


Reynaldi mengembuskan napasnya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Pengaruh rasa sakit karena hinaan Maya benar-benar membekas di pikiran sahabatnya itu. Sampai-sampai membuat pria itu berpikiran negatif pada wanita.


"Pantas saja dia tidak memberikan uang pada istrinya itu," bisik Reynaldi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah! sekarang tujuan kamu memanggilku ke sini buat apa?" Reynaldi mengalihkan pembicaraan, sebelum pria di hadapannya itu semakin kesal.


"Besok, aku akan mulai menggantikan papa, jadi aku mau meminta kamu untuk membantuku, kamu mau kan?"


"Kenapa aku harus tidak mau? kalau aku menolak, sama aja aku sedang menolak rejeki." sahut Reynaldi dengan wajah yang berbinar.


"Bagus deh kalau begitu. Setidaknya aku sudah sedikit tenang sekarang," ucap Gavin yang dari nada bicaranya lega, tapi tidak dengan wajahnya yang terlihat seperti ada beban.


"Hmm, bagaimana kalau sekarang kita ke cafenya Denis? tadi dia menghubungiku, meminta kita ke sana. Apa kamu tidak dihubungi?"


"Ada sih? cuma tadi aku gak angkat, karena lagi kehilangan mood gara-gara wanita itu."


Reynaldi terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru kali ini, Gavin kehilangan mood hanya gara-gara seorang wanita.


Reynaldi tersenyum tipis hampir tidak terlihat, karena ada sesuatu yang berbeda yang dia lihat dari raut wajah sahabatnya itu. Pria itu yakin, kalau sebenarnya,Gavin tidak benar-benar membenci wanita yang disebutnya Istrinya tadi.


"Jadi bagaimana? apa kita jadi ke cafenya?" Reynaldi, kembali mengulangi ajakannya.


"Ya udah, kita ke sana. Dari pada di sini juga mau ngapain." Gavin berdiri dari tempat dia duduk dan hendak melangkah . Tiba-tiba, pria itu berhenti dan menoleh ke arah Reynaldi.


"Rey, masalah pernikahanku, hanya kita berdua saja yang tahu. Denis jangan sampai tahu!"


"Kenapa? dia kan sahabat kita juga. Dia akan lebih marah kalau dia tahu dari orang lain. Dia akan merasa tidak dianggap karena aku tahu, sedangkan dia tidak," tutur Reynaldi, keberatan.


Gavin tampak terdiam dan membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Baiklah, kalau begitu! dia boleh tahu, kalau aku sudah menikah." pungkas Gavin akhirnya.


"Nah, gitu dong! oh ya kenapa wajahmu dari tadi masih terlihat muram? apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" Reynaldi menatap wajah Gavin dengan alis yang bertaut.


"Emm, tidak ada sama sekali. Itu hanya perasaanmu saja. Ayo kita berangkat sekarang!" sangkal Gavin yang langsung berlalu pergi mendahului Reynaldi.


"Dimana sekarang dia? tadi aku sepertinya terlalu kejam tidak memberikan dia uang. Apa dia benar-benar jalan kaki?" Gavin membatin dengan perasaan yang sama sekali tidak enak.


"Ah, buat apa aku mikirin dia? salah dia sendiri kenapa tidak memohon padaku tadi."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2