
"Mau berapa lama lagi kamu di sini? kenapa kamu tidak kembali ke kantor?" ucap Gavin, dingin.
"Aku akan kembali ke kantor sebentar lagi. Aku akan menghabiskan makanan ini dulu. Kan sayang kalau makan seenak ini tidak dihabiskan," sahut Reynaldi, santai tidak merasa terganggu lagi dengan sikap dingin Gavin. Justru sikap dingin Gavin kali ini, seakan menjadi hiburan tersendiri baginya. Karena dia tahu apa yang dirasakan sahabatnya itu sekarang.
"Habiskan makananmu dengan cepat, setelah itu kamu keluar dari sini!" ucap Gavin sembari menarik piring yang berisi makanan yang baru saja diletakkan Jelita di depannya.
"Kenapa harus kamu minta dia buru-buru makannya? kalau makan itu tidak boleh buru-buru, karena tidak baik pada lambung. Jadi, biarkan mas Rey, menghabiskan makanannya dengan santai," entah dari mana datangnya keberanian Jelita, hingga dia berani memprotes pria yang menurutnya memiliki mulut paling pedas itu.
Gavin, tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya dengan sedikit kasar, hingga menimbulkan bunyi yang sedikit keras. Apa yang baru saja dilakukan oleh Gavin, membuat Jelita dan Reynaldi terjengkit kaget. Kedua orang itu saling silang pandang, dan bertanya dengan isyarat mata masing-masing.
Manik mata Gavin semakin terlihat mendung, dan rahang mengeras. Pria itu lantas berdiri dari kursinya dan beranjak pergi.
"Mas Gavin, kenapa kamu pergi? makanan kamu belum habis!" seru, Jelita, mencegah pria itu untuk pergi.
"Aku sudah kenyang!" sahut Gavin, ketus tanpa menoleh sedikitpun.
"Kenapa sih dia?" tanya Jelita pada Reynaldi yang sama sekali tidak peduli. Pria itu, tetap saja menikmati makanan yang ada di depannya.
"Cuekin aja. Nanti dia baik sendiri. Mungkin dia lagi datang bulan," jawab Reynaldi santai, hingga membuat tawa Jelita pecah memenuhi ruangan itu.
"Kamu ada-ada aja. Mana ada pria yang datang bulan?" ucap Jelita di sela-sela tawanya.
"Oh, kalau suamimu itu beda. Dia satu-satunya pria yang datang bulan, di dunia ini." Lagi-lagi ucapan Reynaldi membuat Jelita tertawa terbahak-bahak.
"Bisa jadi sih? soalnya mood dia suka berubah tiba-tiba. Sama persis dengan wanita yang datang bulan," kali ini, tawa Reynaldi yang pecah mendengar ucapan Jelita.
"Ngomong-ngomong sudah berapa lama kamu bersahabat degan mas Gavin?" tanya Jelita kembali setelah dia berhasil membuat tawanya reda.
"Kamu hitung saja. Mulai dari kami duduk di bangku SMA sampai saat ini berusia 27 tahun."
"Wah lama juga ya?"
__ADS_1
"Emangnya kenapa, kamu menanyakan itu?"
"Gak kenapa. Cuma aku salut, kalau kamu bisa betah bersahabat dengan pria yang moodnya gampang berubah-ubah,"
"Sebenarnya, dia tidak seperti itu. Belakangan ini aja seperti itu,"jawab Reynaldi sembari meraih gelas minumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Gavin masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan kasar.
Dia meraih handuk kecil yang tergantung, mengering wajahnya dan melemparkan handuk itu dengan geram, setelahnya.
"Brengsek! berani-beraninya dia memanggil Reynaldi, mas." umpat Reynaldi, sembari mengepalkan tangannya. Ya, hal yang membuat Gavin kesal adalah ketika dia mendengar Jelita membela Reynaldi dan memanggil sahabat itu dengan panggilan mas.
"Sejak kapan mereka bisa seakrab itu? apa Reynaldi menyukai Jelita?" berbagai spekulasi negatif seketika berkelebat di kepalanya dan sialnya malah membuat isi kepala Gavin seperti mengeluarkan asap karena panasnya.
Gavin keluar dari kamar mandi, dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan keadaan telungkup. Kemudian pria itu, berbalik terlentang sembari menerawang ke langit-langit kamarnya. Dia bingung dan bertanya-tanya ada apa dengan dirinya sendiri, dia bisa semarah dan sekesal itu, hanya karena melihat keakraban sahabatnya dengan istrinya.
Namun, ternyata bantal itu tidak terlalu bisa membantu. Sekeras apapun dia berusaha menutup telinganya, suara tawa sahabat dan istrinya itu justru semakin terngiang-ngiang di telinganya.
"Brengsek! tidak boleh jadi ini," umpat Gavin sembari bangun dari tidurnya. Pria itu, membuka lemarinya dan meraih pakaiannya.
Pria itu itu mengenakan pakaian, seperti biasanya dia akan bekerja. Setelah dirasa rapi, pria itu melangkah keluar dari kamar, tidak peduli dengan kepalanya yang masih belum sepenuhnya sembuh.
"Mau berapa lama lagi kamu di sini? ayo berangkat ke kantor!" ucap Gavin, menghentikan tawa dua orang itu. Raut wajah Gavin terlihat datar dan pandangan sangat dingin.
"Ke kantor? apa kamu sudah sembuh?" Reynaldi mengrenyitkan keningnya.
"Sembuh atau tidak sembuh bukan urusanmu. Justru tawa kalian berdua malah membuat kepalaku semakin pusing. Jadi dari pada semakin pusing, lebih baik aku kerja,"
"Jangan salah, kepala kamu justru akan semakin pusing kalau kamu paksaan untuk bekerja. Jadi lebih baik kamu istirahat aja dulu," Reynaldi berusaha untuk membujuk Gavin untuk tidak memaksakan diri untuk bekerja.
__ADS_1
"Lebih baik kepalaku pusing karena pekerjaan, dari pada aku pusing, karena mendengar suara tawa kalian yang jelek itu," nada bicara Gavin terdengar semakin ketus.
Reynaldi seketika menghela napas, dengan cukup panjang. Pria itu seketika menyadari sesuatu, kenapa Gavin bersikukuh untuk tetap pergi bekerja.
"Ya, udah! biar aku saja yang kembali ke kantor. Kamu istirahat aja, sampai kamu fit kembali. Maaf, kalau suara tawa kami sudah mengganggumu," pungkas Reynaldi, seraya berdiri dari tempat duduknya.
Sementara itu Jelita yang merasa atmosfir di ruangan itu yang tidak bersahabat, ikut berdiri dan meraih piring kotor, bekas makan Reynaldi.
"Biarkan Reynaldi sendiri yang menyingkirkan piring bekas makannya. Kamu bukan pembantunya!" Jelita seketika mengurungkan niatnya, begitu mendengar ucapan Gavin yang dia tahu ditujukan padanya, walaupun suaminya itu, tidak menatap ke arahnya.
Reynaldi berdecak, dan meraih piring bekas makannya sendiri, dan membawanya ke wastafel.
"Jangan cuma diletakkan begitu saja. Apa kamu berharap, kalau akan ada yang mencuci bekas makanmu?" Reynaldi yang nyaris melangkah menjauh dari Wastafel, seketika berhenti dan memutar tubuhnya kembali,. begitu mendengar ucapan Gavin. Dengan mengembuskan napas, menahan kesal, Reynaldi pun membersihkan piring bekas makannya sendiri.
"Dasar psikopat!" Walaupun sebenarnya dia ingin langsung mengucapkan hal itu dengan gamblang, tapi karena situasi hati Gavin yang menurutnya sedang tidak bersahabat, Reynaldi terpaksa hanya mengungkapkannya dalam hati.
Sementara itu, Jelita berdiri seperti orang bodoh. Sumpah demi apapun, dia benar-benar bingung dengan sikap Gavin.
"Tawa kami memang terlalu keras sih, pantas dia marah, karena merasa terganggu. Orang yang kepalanya pusing kan, memang akan semakin pusing kalau terganggu dan tidak bisa tidur," batin Jelita, berspekulasi sendiri dan merasa bersalah.
"Nah, sudah selesai! aku pergi dulu! apa masih ada yang lain?" tanya Reynaldi, masih bersikap seperti biasa, tidak tersinggung sama sekali dengan sikap Gavin. Justru dari tadi dia berusaha untuk tidak tertawa dan meledek sahabatnya itu.
"Tidak ada! kamu boleh pergi," sahut Gavin sembari menyingkir untuk memberikan Reynaldi jalan.
"Sob, rasa cemburu kamu berlebihan dan kamu terlihat mengerikan," bisik Reynaldi tepat di telinga Gavin. Kemudian Reynaldi berlalu pergi meninggalkan Gavin yang tertegun mendengar kalimat yang dibisikkan sahabatnya itu.
"Apa benar aku cemburu?" batin Gavin. " Tidak! aku sama sekali tidak cemburu. Aku hanya merasa kepalaku semakin sakit aja, mendengar suara tawa mereka. Ya, aku yakin pasti karena itu aja." tegas Gavin dalam hati dengan sangat yakin.
"Mas Rey, kue untukmu, kapan-kapan aja ya, aku buatkan!" teriak Jelita, sebelum tubuh Reynaldi menjauh. Hal itu membuat wajah Gavin kembali memerah dengan tangan terkepal. Apalagi begitu melihat Reynaldi yang kembali memutar tubuhnya sembari mengarahkan jarinya yang membentuk huruf 'o', yang siapapun tahu maksud dari tanda itu yang berarti 'ok'.
Tbc
__ADS_1