
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di sebuah villa yang terletak di Bogor, tampak Jelita terbangun dari tidurnya dan menangis sesenggukan, hingga membuat Nyala yang sedang terlelap di sampingnya terbangun.
"Kamu kenapa nangis, Jel? kamu mimpi buruk ya?" tanya Nayla dengan raut wajah panik. Dia yang tadinya sangat mengantuk, matanya seketika segar tiba-tiba.
Jelita tidak menyahut sama sekali. Namun sebagai tanggapan, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak mimpi buruk, jadi kenapa kamu menangis?" Nayla mengerenyitkan keningnya.
"Aku ingin pulang ke Jakarta sekarang," sahut Jelita yang tentu saja membuat mata Nayla membesar.
"Apa? pulang ke Jakarta sekarang? di larut malam seperti ini?" dengan polosnya Jelita kembali menganggukkan kepalanya.
"Jelita, ini sudah sangat malam, kita tidak bisa pulang sekarang. Lagian kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang?" Nayla bertanya dengan suara yang sangat lembut, berusaha untuk bersabar terhadap wanita hamil sahabatnya itu.
"Aku merindukan mas Gavin, Nay. Aku biasanya kalau tidur selalu dipeluk sama mas Gavin," ucap Jelita di sela-sela isak tangisnya.
"Astaga! kalau begitu kenapa kamu tadi siang minta pergi?"
"Itukan tadi siang. Aku lupa kalau malam aku biasanya harus dipeluk," Jelita menarik cairan yang keluar dari hidungnya kembali masuk ke dalam.
Nayla menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali,lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jel, bagaimana kalau aku yang menggantikan Gavin, memelukmu sekarang? tanya Nayla, masih tetap berusaha untuk sabar, karena dia tahu kalau sikap Jelita seperti itu karena hormon kehamilannya.
"Kamu bukan mas Gavin. Dada kamu sama seperti aku, ada tonjolannya. Aroma tubuhmu juga bukan punya mas Gavin. Jadi bagaimanapun kamu nggak bisa menggantikannya," jawab Jelita.
"Kalau begitu, kamu pulang sendiri, aku mau tidur," cetus Nayla sembari membaringkan tubuhnya.
Jelita kembali menangis kencang, membuat Nayla menutup telinganya dengan bantal.
"Nay, ayo pulang sekarang!" rengek Jelita sembari mengguncang-guncang tubuh Nayla yang membelakanginya.
"Tidak mau! kalau mau pulang,pulang aja sendiri," tolak Nayla, tanpa memutar tubuhnya.
"Kamu jahat, Nay! masa tidak mau mengantarkan aku pulang? aku kan gak tahu bawa mobil, Nay." mohon Jelita yang tentu saja masih tetap ditemani dengan air mata yang menetes seakan tidak ada habisnya dari matanya.
Nayla menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan kembali ke udara, berusaha untuk membangun rasa sabarnya kembali. Kemudian, wanita itu akhirnya kembali duduk dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Jel, apa kamu ingat tujuan kita datang ke sini? kamu bilang, kalau kamu mau kasih hukuman pada Gavin kan? Selain itu kita ke sini juga demi keamananmu dan bayimu, Jel. Jadi please untuk sementara, kamu bersabar ya."bujuk Nayla
Jelita bergeming, merasa kalau yang dikatakan oleh Nayla benar. Kemudian wanita hamil itu menganggukkan kepalanya, sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang kamu tidur dulu ya," Nayla membantu Jelita berbaring dan membenarkan selimut wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gavin dari tadi sudah berulang kali keluar masuk kamar mandi, karena perutnya tiba-tiba seperti diaduk-aduk dan seperti ingin muntah.
perasaan seperti itu membuat Gavin benar-benar merasa sangat tersiksa.
"Sepertinya aku masuk angin karena lupa makan, karena masalah ini." batin Gavin sembari mencuci mulutnya di wastafel. Kemudian pria itu keluar dari kamar mandi dan berniat ingin berbaring kembali.
Baru saja dia mendaratkan bo*kongnya di atas ranjang, Gavin kembali berdiri dan berlari ke kamar mandi.
Wajah pria itu benar-benar terlihat sangat pucat sekarang. Kemudian dia keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Reynaldi. Ya, Reynaldi akhirnya memilih untuk tidak pulang, karena Gavin memintanya untuk menginap di apartemennya.
"Ada apa, Vin?" Reynaldi muncul dengan wajah bantalnya.
"Rey, bisa oleskan minyak angin ini ke punggungku?" Gavin memberikan sebotol minyak angin ke tangan Reynaldi.
"What? kamu membangunkanku hanya untuk mengoleskan minyak ini? kurang kerjaan amat kamu, Vin." rutuk Reynaldi,kesal.
"Maaf, Rey! kalau aku bisa aku sudah oleskan sendiri. Sepertinya aku masuk angin, Rey, dari tadi aku muntah-muntah terus," ucap Gavin dengan nada suara yang lemah.
"Kenapa bisa?" Reynaldi mengrenyitkan keningnya.
"Astaga Vin! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi kalau kamu belum makan? nyusahin aja kamu ah," Reynaldi kembali menggerutu.
"Aku membangunkanmu untuk meminta tolong, bukan mendengar gerutuanmu. Kamu mau menolong atau nggak? kalau nggak mau, biar aku kembali lagi ke kamarku," Gavin mulai kesal.
"Iya, iya aku mau deh. Kita duduk di sana aja, biar aku oleskan," pungkas Reynaldi akhirnya mengalah.
"Tunggu dulu! aku mau muntah lagi," Gavin tiba-tiba berlari ke arah dapur dan Reynaldi menyusul dengan wajah panik.
"Astaga, Vin! kamu kenapa bisa seperti ini sih? bahkan tidak ada yang kamu muntahkan sama sekali," ucap Reynaldi sembari memijat-mijat tengkuk sahabat itu.
Setelah itu, Reynaldi melangkah menuju dispenser untuk mengambil air putih buat Gavin.
"Nih minum dulu!" Reynaldi menyodorkan gelas berisi air putih hangat pada Gavin.
Gavin menerima gelas itu dan langsung meneguk isinya sampai habis.
"Ya udah sekarang kita duduk di sofa, biar aku oleskan minyaknya.
__ADS_1
"Sepertinya nggak usah lagi, Rey. Aku merasa sudah baikan," ucap Gavin yang tanpa merasa bersalah sama sekali, berjalan meninggalkan Reynaldi.
Melihat Gavin yang meninggalkannya begitu saja, membuat Reynaldi menggeram sembari menggigit giginya sendiri.
Reynaldi akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar yang dia tempati. Entah kenapa rasa kantuknya tiba-tiba hilang entah kemana. Iseng-iseng pria itu mengirimkan chat pada Nayla yang walaupun dia tahu pasti sudah tidur.
Akan tetapi, pemikirannya salah. Tiba-tiba chatnya mendapat balasan dari wanita itu. Hal itu sontak membuat Reynaldi semangat dan langsung melakukan video call.
"Ada apa?tanya Nayla dengan wajah juteknya.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Reynaldi.
"Aku nggak bisa tidur lagi, karena tadi sempat terbangun gara-gara Jelita nangis tiba-tiba, minta pulang." jawab Nayla. "Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Nayla balik bertanya.
"Kita sama. Aku juga tidak bisa tidur lagi karena dibangunkan Gavin, untuk mengoleskan minyak angin ke punggungnya, karena dia tiba-tiba muntah terus. Eh, giliran mau dioleskan, tiba-tiba rasa mualnya berhenti sendiri, kan ngeselin." jawab Reynaldi dengan raut wajah kesal.
suara tawa Nayla langsung pecah begitu melihat ekspresi wajah Reynaldi.
"Sabar, ini mungkin karena ikatan batin mereka begitu kuat. Ini karena faktor kehamilan Jelita, di mana ketika Jelita menangis atau merasa sedih, akan berakibat Gavin akan merasa mual dan muntah-muntah. Jadi, kenapa rasa mualnya berhenti, ya karena Jelita di sini baru saja tertidur," tanpa sadar Nayla menjelaskan panjang lebar tentang kehamilan Jelita.
"Apa? jadi Jelita sedang hamil?" tanya Reynaldi dengan mata yang membesar.
"Eh, siapa bilang?" Nayla kembali berusaha menyangkal.
"Kamu tadi yang bilang barusan,"
"Awas kalau hal ini bocor pada Gavin! kalau sampai bocor, aku tidak mau bertemu kamu lagi, apalagi menerima lamaranmu," akhirnya jalan satu-satunya Nayla melayangkan ancamannya.
"Haish, kenapa harus seperti itu sih?" protes Reynaldi.
"Karena Jelita ingin, kalau dia sendiri yang memberikan kabar bahagia itu buat Gavin,"
"Jadi, kalau aku berhasil tutup mulut untuk tidak memberitahukan Gavin tentang kehamilan Jelita, kamu harus menerima lamaranku, deal?" ucap Reynaldi dengan semangat.
"Hal itu bisa dipikirkan nanti," jawab Nayla, gugup.
"Tidak bisa begitu. Pokoknya kamu harus janji akan menerima menikah denganku, jika aku berhasil tutup mulut," desak Reynaldi.
"Iya, iya, aku janji!" pungkas Nayla akhirnya.
"Yes!" sorak Reynaldi, yang membuat semburat merah menghiasi pipi Nayla.
__ADS_1
Tbc
Guys, maaf banget ya kalau aku bisanya up segini dulu, karena suamiku lagi demam tinggi. Kalau suamiku demam, manjanya minta ampun, pengen dipeluk terus. Aku susah banget bergerak. Ini aja menulis curi-curi waktu. Jadi harap maklum ya, Guys. Kalau nanti ada waktunya lagi, aku akan up. Terima kasih 🙏🏻,, 😁❤️😍