Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bab 51


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi waktu Kanada. Denis yang sempat tertidur, seketika melompat dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Denis terlihat sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu langsung berganti pakaian dengan pakaian kasual.


Kemudian pria itu langsung keluar dari kamar hotel dan berniat langsung ke alamat yang sudah dia ketahui sebelumnya.


Setelah sekitar 20 menit, taksi yang membawa Denis berhenti di depan sebuah rumah khas Kanada yang asri karena dikelilingi oleh tumbuhan hijau.



Dengan langkah pasti tapi tentu saja dengan hati yang berdebar-debar, Denis melangkah menghampiri rumah itu.


"Ini benar kan alamatnya?" batin Denis sembari kembali melihat ke arah ponselnya.


"Hmm sepertinya benar. Aku coba tekan aja deh belnya," Denis mengedarkan matanya untuk melihat di mana bel rumah itu. Setelah dia menemukannya, pria itu langsung menekan dan menunggu.


Tidak perlu menunggu lama, seseorang akhirnya membuka pintu untuk Denis. Tampak seorang pria yang masih muda seperti seusia dengannya dan dari perawakannya, pria itu juga orang Asia sama seperti dirinya.


"Apa ini pria yang dimaksud Gavin? tampan sih, tapi masih lebih tampan aku," batin Denis, memuji dirinya sendiri.


"Ya, who are you looking at? ( Ya, siapa yang sedang kamu cari?)"pria itu bertanya dengan alis yang bertaut, menyelidik.


"Emm, Are you an Asian? (apa kamu orang Asia)" bukannya menjawab pertanyaan pria itu, Denis malah balik bertanya.


"Yes, I'm an Asian. Indonesia to be exact( Indonesia tepatnya)" jawab pria itu lagi dengan tatapan semakin curiga.


"Oh, berarti bisa bahasa Indonesia dong ya?" Denis sontak menggunakan bahasa Indonesia.


"Tentu saja! apa kamu juga orang Indonesia?" pria itu pun membalas dengan menggunakan bahasa Indonesia.


"Iya, aku orang Indonesia. Dari Jakarta."


"Oh, jadi kamu ke sini mau cari siapa?" tanya Pria itu lagi, tidak mau terlalu bersemangat menyambut Denis walaupun Denis orang Indonesia. Baginya dia harus tetap waspada pada siapapun walaupun orang itu sebangsa dan setanah air.


"Aku ke sini tentu saja mau menjemput calon istriku Bella. Dia ada di sini kan?" jawab Denis,dengan nada sinis seakan ingin menunjukkan kalau Bella itu miliknya bukan milik pria di depannya itu.

__ADS_1


"Bella? calon istrimu? Bella sama sekali tidak pernah cerita," jawab pria yang belum memperkenalkan dirinya itu, dengan tatapan yang semakin curiga.


"Mungkin karena dia tidak mau membuat kamu sakit hati. Dia datang ke sini karena kami ada sedikit masalah. Bukan karena dia mencintaimu," ucap Denis yang membuat kening pria di depannya itu semakin berkerut, bingung.


"Boleh aku masuk dulu? percayalah kalau aku bukan orang jahat," Denis kembali buka suara, begitu melihat pria di hadapannya itu diam.


"Ya udah, silahkan!" Pria itu menyingkir dan member jalan buat Denis untuk masuk.


"Bella!" panggil Denis begitu melihat Bella yang sepertinya baru keluar dari dapur dan hendak menuju kamar.


Bella yang merasa kalau ada yang memanggil namanya, seketika menoleh ke arah datangnya suara.



Mata wanita itu seketika membulat dengan sempurna begitu melihat pria yang ingin dia hindari sudah berada di negara yang sama dengannya dan bahkan tahu di mana dia tinggal.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bella ketus.


"Bell, siapa dia?" tanya pria yang dianggap Denis saingannya itu, dengan manik mata yang mengandung tanya.


"Benar seperti itu, Bella?"


"Tidak, Kak Brian! itu tidak benar," sangkal Bella dengan tegas.


"Bella, please jangan menyangkal! aku ini calon suamimu." sambar Denis dengan cepat.


"Sejak kapan kamu calon suamiku, bukannya kamu sendiri yang menolaknya?" ucap Bella yang sudah yakin kalau Denis sudah mengetahui kalau dialah wanita yang dijodohkan dengannya dulu.


"Dulu aku menolak, tapi setelah kejadian malam __"


"Diam!" pekik Bella tiba-tiba, supaya Denis tidak keceplosan untuk mengatakan kejadian malam itu di depan pria yang merupakan kakak sepupunya itu.


"Kejadian malam apa?" pria bernama Brian itu, sudah bisa membaca gelagat aneh pada reaksi Bella yang menghentikan ucapan pria yang tidak dikenalnya itu, bertanya kembali dengan alis yang semakin bertaut tajam


"Tidak ada apa-apa, Kak. Hanya pertengkaran kecil," sahut Bella dengan gugup, tidak berani menatap mata sang sepupu.

__ADS_1


"Pertengkaran kecil apa? asal kamu tahu kalau Bella sekarang sedang mengandung anakku. Jadi lebih baik kamu mundur saja!" timpal Denis dengan bibir yang menyeringai sinis ke arah sepupu Bella.


"Mundur? mundur bagaimana maksud kamu?" tanya Brian dengan kepala yang hampir pecah, benar-benar tidak mengerti arah bicara pria yang mengaku calon suami Bella itu.


"Iya, mundur. Seharusnya kamu tahu diri, kalau Bella itu bukan untukmu. Dia datang ke sini tidak karena mencintamu, tapi hanya untuk menghindariku. Tapi aku yakin kalau dia pasti masih sangat mencintaiku, karena janin di perutnya adalah milikku," ujar Denis, sengaja melebih-lebihkan supaya Brian tahu diri dan mundur.


"Kamu hamil Bella?" tanya Brian dengan ekspresi kaget sembari menatap ke arah perut Bella yang masih rata.


"Nggak, Kak. Jangan percaya pada dia!" Bella menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari mengayun-ayunkan tangannya.


"Kamu jangan berbohong Bella! masa kamu lupa dengan apa yang kita lakukan malam itu!" ucap Denis, berusaha meyakinkan pria yang berdiri dekat dengan Bella itu.


"Hei! kamu jangan mengarang cerita ya! aku sama sekali tidak hamil. Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini " suara Bella meninggi, benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"Aku tidak sedang mengarang cerita, aku mengatakan yang sebenarnya. Boleh saja kamu mengatakan kalau kamu tidak hamil, tapi aku tidak bisa jamin satu bulan ke depannya. Entah kenapa aku sangat yakin kalau anakku sudah akan bertumbuh di dalam rahimmu," Denis terlihat sangat berapi-api saat mengucapkan keyakinannya.


Bella terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena sebenarnya hal yang dikatakan oleh Denis barusan, merupakan hal yang sangat tidak dia harapkan, tapi tidak akan membuangnya bila memang nantinya ditakdirkan tumbuh dalam rahimnya.


"Sayang, ada apa ini? kok ribut-ribut?" tiba-tiba seorang wanita yang berkulit putih, berambut pirang dan memiliki manik mata berwarna perak, muncul dan menghampiri Brian. Wanita itu sepertinya sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia walaupun aksen bulenya masih terdengar.


"Sayang?" gumam Denis, terkesiap kaget.


"Iya, kenapa? dia ini Istriku, dan ini rumah kami berdua," jawab Brian, santai.


"Jadi, kamu dan Bella ...."


"Dia adik sepupuku. Papanya adalah adik dari papaku. Apa kamu mengira kalau dia adalah kekasihku?" tanya Brian, berusaha untuk menahan tawanya.


"Sial! berarti aku dibohongi sama Gavin! Arghhh, awas kamu ya Gavin!" Denis, membatin sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, sembari nyengir kuda.


Tbc.


.Baifern Pimchanok as Bella


__ADS_1


__ADS_2