Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Dia itu seorang perempuan


__ADS_3

"Jelita, kenapa kamu keluar dari kamar itu?" seru Melinda dengan alis yang bertaut tajam, melihat kemunculan Jelita dari kamar yang jelas bukan kamar utama.


"Mati aku. Habis riwayatku hari ini," wajah Gavin, meringis dan berubah pucat.


Mata Jelita sontak membesar, terkesiap kaget dengan kemunculan Melinda, mama mertuanya. Seketika wajah wanita itu juga berubah pucat, dan untuk menelan ludahnya sendiri saja, terasa sangat sulit untuk dia lakukan.


"Ma-Mama, kenapa bisa ada di sini?" tanya Jelita dengan sedikit gemetar.


"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan! kamu jawab dulu, kenapa kamu bisa keluar dari kamar itu? apa kalian pisah kamar?" Alis Melinda naik ke atas, menatap curiga.


"Emm, tentu saja bukan, Mah. Tadi __" Gavin menggantung ucapannya di udara, begitu melihat tatapan mamanya yang sangat tajam.


"Mama tidak bertanya sama kamu! Mama sedang bertanya pada Jelita," ujar Melinda dengan dingin, sehingga membuat atmosfer di ruangan itu sangat menegangkan.


"Mah, aku dan mas Gavin tidak pisah kamar, kok. Kenapa aku bisa keluar dari kamar itu, karena kemarin aku belum sempat melihat-lihat isi apartemen ini. Aku sangat senang, karena aku belum pernah melihat dan tinggal di apartemen semewah ini," terang Jelita, dengan sangat hati-hati berharap alasan yang dia berikan bisa membuat mama mertuanya berhenti bertanya.


"Apa itu benar? kalian berdua tidak sedang membohongi mama kan?" manik mata Melinda masih terlihat belum bisa percaya sepenuhnya dengan penjelasan yang diberikan Jelita.


"Benar, Mah!"


"Emm, baiklah! Mama percaya sama kamu," Melinda kembali tersenyum ke arah anak dan menantunya itu.


Sementara itu, Gavin diam-diam menghela napas lega. "Emm, kenapa dia tidak jujur ​​ya? padahal kalau dia mau, dia bisa jujur. Dia memang sangat ahli dalam memainkan perannya," bisik Gavin pada dirinya sendiri dengan ekor mata yang melirik sinis ke arah Jelita.


"Mama, bawa apa itu?" tanya Jelita melihat ke arah bungkusan yang sedang ditenteng oleh Melinda.


"Oh iya, mama lupa. Ini mama bawa sarapan buat kalian berdua. Takut kamu belum masak," Melinda menyerahkan bungkusan yang berisi 3 kotak bubur ayam, yang ada di tangannya ke tangan Jelita.


"Aduh kebetulan aku lapar, Mah. Jelita memang belum masak, karena kami belum sempat belanja untuk keperluan dapur," entah malaikat mana yang datang pada Gavin, hingga dia berinisiatif mengatakan hal itu, yang secara tidak langsung bisa membuat mamanya berpikiran yang tidak-tidak tentang Jelita.


"Sudah mama duga! kalian pasti kelelahan semalam buatin mama cucu, sampai lupa buat belanja keperluan dapur," goda Melinda sembari mengerlingkan mata ke arah Jelita, hingga membuat semburat merah seketika muncul di pipi putih menantunya itu.


"Emm, udah ah, Mah, ayo kita makan!" Gavin melangkah ke dapur disusul oleh Jelita dan Melinda


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jelita, setelah ini, nanti kamu ikut mama ya!" ucap Melinda setelah bubur ayam di depannya sudah habis.


"Ikut kemana, Mah?" Jelita mengrenyitkan keningnya, penasaran.

__ADS_1


"Hari ini, mama mau mengajak kamu shopping. Kamu harus beli banyak pakaian, tas, sepatu dan yang lainnya. Satu hari ini, kita puas-puaskan belanja. Mama sudah lama menantikan hal seperti ini, bisa shopping bersama menantu mama," ujar Melinda dengan wajah yang berbinar bahagia, sangat bertolak belakang dengan raut wajah Jelita sekarang.


"Emm, gimana ya, Mah. Bukannya aku menolak, tapi hari ini Jelita sama sekali tidak bisa ikut, Mama," ucap Jelita dengan raut wajah yang benar-benar merasa tidak enak.


"Kenapa tidak bisa? bukannya hari ini Gavin mulai bekerja?" raut wajah Melinda terlihat kecewa.


"Ya, Tuhan, bagaimana ini? apa aku harus jujur, kalau aku hari ini sibuk buat bikin pesanan kue?


Jelita membatin sembari menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa tidak dijawab, Jelita?" Melinda kembali buka suara, tidak sabar menanti jawaban sang menantu.


"Emm, aku hari ini harus nyelesain pesanan kue orang-orang, Mah. Pesanannya lumayan banyak soalnya," ucap Jelita yang akhirnya memutuskan untuk berterus terang.


Gavin yang sedang minum tiba-tiba menyemburkan air dari mulutnya, karena kaget mendengar ucapan yang baru saj terlontar dari mulut Jelita.


"Pesanan kue? pesanan kue apa?" Melinda mengrenyitkan keningnya.


"Emm, aku lumayan bisa buat kue, Mah. Jadi untuk mengisi kekosongan, aku iseng-iseng untuk membuat kue dan memposting ke media sosial, eh ternyata banyak yang pesan.


"Serius?" Jelita menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Apa kamu tahu, tentang ini?" Melinda menatap ke arah Gavin.


"Mas Gavin tahu kok, Mah. Dia justru sangat mendukung. Bahkan modal untuk membuat kue-kue itu dari Mas Gavin," Jelita seketika langsung berinisiatif untuk menjawab, begitu melihat wajah Gavin yang kebingungan.


"Sejak kapan aku kasih dia modal?" batin Gavin sembari menatap bingung ke arah Jelita.


"Oh, jadi begitu? kenapa kamu tidak minta dibuatkan toko kue saja kalau begitu?"


"Aku maunya seperti ini dulu, Mah. Nanti kalau sudah banyak pelanggan, baru deh nanti dipikirkan lagi, mau buat toko kue atau nggak. Benar kan, Mas?" tanya Jelita, tersenyum ke arah Gavin yang seketika gelagapan. Namun pria itu tetap saja menganggukkan kepalanya, di sela-sela kebingungannya.


"Oh, seperti itu? kalau begitu, mama juga dukung kamu. Semoga usaha kamu lancar,


ya, Sayang,"


"Amin! Terima kasih,Mah!" ucap Jelita dengan tulus.


"Oh ya, bisa mama lihat contoh kue buatan kamu?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Mah. Tunggu ya, aku ambil handphone dulu," Jelita dengan wajah sumringah, beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponsel dari dalam tas yang dia letakkan di ruang tamu tadi.


"Ini dia, Mah!" Jelita yang sudah kembali lagi, segera menunjukkan photo-photo muffin buatannya tadi malam.


"Wah, muffin! sepertinya ini semua sangat enak. Kamu buat ini, pasti karena tahu kan, kalau Gavin sangat suka makan Muffin? atau Gavin yang memaksamu untuk membuat muffin?"


Jelita sontak tersenyum sedikit dipaksakan sembari menatap Gavin yang kebetulan juga tengah menatapnya.


"I-iya, Mah!" ujar Jelita, dengan lirih.


"Wah, tuh lihat Gavin, gadis pilihan mama, benar kan? coba kamu sama si Maya-Maya itu, pasti dia tidak tahu melakukan hal seperti ini. Tahunya pasti hanya party, dan ngabisin uang kamu, dengan hal yang tidak berguna," ucap Melinda dengan bangga.


Gavin, tersenyum kecut ke arah mamanya, yang lagi-lagi mengingatkan kebodohannya dulu yang bisa tergoda dengan Maya.


Berbeda dengan Gavin, Jelita justru mengrenyitkan keningnya karena nama Maya seperti Familiar di telinganya.


"Maya? sepertinya aku pernah dengar nama wanita itu? Hmm, tapi mungkin beda orang. Wanita yang bernama Maya kan gak cuma satu," bisiknya pada diri sendiri.


" Ya udah, kalau begitu Mama, mau pamit dulu. Gavin juga sepertinya sudah waktunya berangkat ke kantor. Lain kali kalau kamu sudah tidak sibuk, baru kita belanja bersama," pungkas Melinda sembari meraih tasnya dan meletakkannya di bahu.


"Oh iya, Mah. Hati-hati ya, Ma!" ucap Gavin dan Jelita hampir bersamaan setelah mencium punggung tangan wanita setengah baya itu sebelumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kamu berbohong? sejak kapan aku, memberikan kamu modal?" Gavin langsung menanyakan hal yang mengganjal di dalam hatinya.


"Jadi, kamu maunya apa? apa aku sebaiknya jujur tadi? bilang pada mama kalau kamu tidak akan memberikan uang sepeserpun padaku, makanya aku berniat untuk mencari uang sendiri, begitu?" sahut Jelita, dengan nada kesal.


Gavin bergeming, tidak bisa menjawab.


"Darimana kamu mendapatkan uang untuk modal itu?"


"Yang jelas, aku tidak mencuri atau meminta-minta." jawab Jelita sembari meraih tas selempangnya dan menggantungkannya di bahu. Kemudian wanita itu, hendak berlalu pergi, tapi tiba-tiba berhenti karena ditahan oleh Gavin.


"Kamu jawab yang benar, dari mana kamu mendapatkan uang?" tatapan Gavin sangat tajam seperti pisau belati yang siap menghujam jantung.


"Sahabatku yang memberikannya, puas!" Jelita menepis tangan Gavin dari lengannya.


"Oh, baik sekali sahabatmu itu? apa dia kekasihmu yang berlindung di balik kata sahabat?" tukas Gavin dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Apa maksudmu? dia itu seorang perempuan, bagaimana bisa aku memiliki seorang kekasih perempuan. Aku ini masih normal," Jelita menatap Gavin dengan sengit, tidak terima dengan tuduhan Gavin.


Tbc


__ADS_2