
Dengan sedikit kesusahan, karena tubuh Denis yang memang berat untuk dirinya yang berbadan kecil, Bella membawa Denis masuk ke dalam sebuah kamar.
Bella membaringkan tubuh Denis, membuka jas dan sepatu pria itu. "Akhirnya, selesai!" Bella mengembuskan napas lega, kemudian melakukan peregangan karena otot-ototnya yang sedikit merasa pegal.
Bella menatap wajah Denis dengan tatapan yang sendu. "Ternyata rasa cintamu sangat besar buat Jelita. Tidak ada gadis lain yang bisa singgah di hatimu. Sayangnya kamu jatuh cinta pada orang yang salah," batin Bella dengan hati yang sakit seperti tercubit.
"Sebaiknya aku harus keluar dari kamar ini," Bella baru saja nyaris melangkah, tapi tiba-tiba Denis menarik tangannya dengan sangat kencang, hingga tubuh Bella terjatuh menimpa dada Denis yang bidang.
"Jelita, aku tahu ini kamu. Aku yakin kalau kamu akan datang lagi menemuiku. Kamu tahu,Gavin tidak pernah mencintaimu, hanya aku yang mencintaimu dengan tulus," Denis meracau, melihat wajah Jelita di wajah Bella.
"Maaf, Pak aku Bella bukan Jelita. Pak Denis salah orang," Bella berusaha untuk bangkit dari atas dada Denis, tapi lagi-lagi Denis kembali menarik tubuh Bella dan memeluk dengan erat.
"Kamu jangan bohong! kamu itu Jelita. Kamu jangan pergi ke mana-mana ya, Jel. Aku tulus mencintaimu, Jelita! yakinlah kalau Gavin tidak mencintaimu."
Bella seakan sulit untuk bernapas karena pelukan Denis yang sangat erat. "Pak, tolong lepaskan aku! aku benar-benar bukan Jelita, aku ini Bella," mohon Bella yang masih tetap berusaha untuk melepaskan diri.
"Tidak! kamu Jelitaku! jangan mencoba untuk menghindariku!" Denis tetap kekeh dengan pemikirannya sendiri. Pria itu bahkan langsung membalikkan tubuh Bella hingga kini tubuh wanita itu berada di bawah tubuh Denis.
"Kamu cantik sekali, Jelita! kamu itu milikku, bukan milik Gavin. Kamu tenang saja, walaupun dia lebih kaya dibandingkan aku, tapi aku bisa memberikan apapun yang kamu mau," Denis membelai wajah Bella yang masih dia anggap Jelita.
__ADS_1
Sementara itu, Bella kembali berusaha memberontak dengan mendorong keras tubuh Denis hingga pria itu jatuh dari atas tubuhnya dan berbaring terlentang di samping Bella.
Bella kembali duduk dan hendak pergi lagi. Bohong kalau dia tidak merasa sakit hati, dipeluk, tapi memanggil-manggilnya dengan nama wanita lain.
Baru saja dia berhasil berdiri, lagi-lagi tangan Denis menarik tangannya hingga kembali terjatuh ke arah ranjang. Pria itu juga kembali naik ke atas tubuh Bella dan menciumi wajah Bella.
"Aku yakin, Gavin bahkan belum pernah menyentuhmu. Jadi, sekarang aku yang menyentuhmu," ucap Denis yang masih berada di alam bawah sadarnya.
Tanpa sempat menghindar, bibir Denis sudah berada di atas bibir Bella. Denis Melu*mat bibir Bella dengan ganas dan panas. Bella berusaha untuk melepaskan diri, tapi tenaganya kalah kuat. Entah dari mana datangnya tenaga pria itu, tubuhnya tidak bergerak barang se inci pun dari tubuh Bella, padahal gadis itu sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
Bibir Denis kini sudah merambah turun ke leher ,dan tangannya juga sudah mulai aktif menjamah area-area sensitif di tubuh Bella.
"Tolong jangan lakukan ini, Pak Denis. Aku bukan Jelita, aku Bella," Bella masih berusaha untuk memohon, di sisa-sisa tenaganya. Namun, Denis seakan bukan dirinya sekarang. Kabut gairah sudah menguasai pria itu sekarang, sehingga dia tidak mau mendengar permohonan Bella lagi.
"Tolong hentikan, Pak Denis! sadar Pak, sadar!" desis Bella dengan raut wajah memelas.
"Arghhh!" Bella tiba-tiba berteriak kesakitan ketika sebuah benda tumpul berhasil menerobos mahkota yang dia jaga selama ini. Darah mengalir segar dari inti wanita itu.
Tanpa memberikan waktu pada inti Bella untuk menyesuaikan pada benda asing yang baru saja menerobos paksa untuk masuk itu, Denis sudah menggerakkan pinggulnya dan menghentak dengan kuat. Hingga menimbulkan nyeri pada inti Bella.
__ADS_1
Bella kini hanya dapat meringis, dan menangis dalam diam. Dia tidak menyangka kalau niat baiknya untuk membantu Denis, berakhir dengan hancurnya kehormatan yang dia jaga
Hal yang paling membuat wanita itu semakin sedih, di saat Denis sudah akan mencapai puncak bukit nirwana, pria itu malam meneriakkan nama Jelita.
Denis kini terkulai lemas dan tertidur di saat dia sudah berhasil menuntaskan hasrat terkutuknya. Sementara itu Bella hanya bisa duduk menangis, sambil memeluk lututnya. Wanita itu, merasa dirinya benar-benar kotor dan tidak memiliki harga diri lagi.
Dengan menahan rasa sakit di organ sensitifnya, Bella turun dari atas ranjang dengan kaki yang gemetar, hingga membuat wanita itu terduduk di lantai. Wanita itu kembali berusaha untuk berdiri dengan berpegangan pada tepi ranjang. Ia, berjalan dengan tertatih-tatih untuk memungut pakaiannya.
Setelah dia memungut pakaiannya, Bella beranjak masuk ke dalam kamar mandi, untuk sedikit membersihkan tubuhnya.
"Aku kotor, aku kotor," ucap wanita itu dengan tangan yang secara kasar menggosok tubuhnya, berharap dengan apa yang dilakukannya mampu membuat dirinya bersih kembali. Namun, seketika dia menyadari sekuat apapun dia menggosok tubuhnya, noda itu tidak akan bisa hilang. Yang hilang tidak akan bisa kembali lagi.
"Aku benci kamu, Denis, aku benci!" teriak Bella sembari menangis sesunggukan.
Setelah puas meratapi nasibnya di dalam kamar mandi, Bella kembali keluar dari dalam kamar mandi dan tubuhnya sudah dibalut dengan pakaian.
Wanita itu meraih tasnya dan menggantungnya di pundak. Wanita itu kembali menatap ke arah Denis yang masih pulas tertidur, bahkan belum mengenakan pakaian sama sekali.
"Kamu benar-benar jahat, Denis! tapi entah kenapa mulutku mengatakan aku benci tapi hatiku menolak." batin Bella dengan mata yang berkilauan menahan air mata.
__ADS_1
Kemudian wanita itu, memutuskan untuk beranjak keluar dari dalam kamar dan berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal wanita itu berusaha menahan perih pada intinya ketika sedang berjalan.
Tbc