
Keesokan harinya, mereka akhirnya memutuskan untuk langsung pulang ke Jakarta. Gavin dan Jelita lebih memilih untuk pulang ke mansion keluarga Maheswara, karena permintaan sang ibu ratu, siapa lagi kalau bukan Melinda.
Begitu melihat Jelita keluar dari dalam mobil, Melinda langsung menghambur, menghampiri sang menantu dan menuntunnya dengan sangat hati-hati, seakan-akan Jelita tidak kuat untuk berjalan.
"Ma, sepertinya tidak perlu seperti ini, aku bisa jalan sendiri," ucap Jelita, merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu kan lagi hamil, jadi harus hati-hati. Mama cuma berinisiatif menggantikan seorang pria yang tidak peka, membiarkan istrinya jalan sendiri," sindir Melinda dengan ekor mata yang melirik ke arah Gavin.
"What? kok aku lagi yang kena sih?" batin Gavin, kesal.
"Ma, bukannya aku tidak mau menuntun Jelita, tapi begitu keluar dari dalam mobil, Mama sudah main lari aja, menghampiri Jelita," ucap Gavin lembut, berusaha untuk menahan rasa kesalnya.
"Alah, itu alasan kamu aja," Melinda tidak mau kalah.
"Arghh!" Gavin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Sudahlah, Vin! jangan kamu ladenin mama kamu. Jangankan untuk menang, seri aja susah," bisik Ganendra sembari menepuk-nepuk pundak putranya itu, hingga membuat Gavin terkekeh.
"Kalian berdua lagi bisik-bisik apa? kalian pasti ngomongin aku kan?" Melinda menghunuskan tatapannya.
"Nggak kok, Sayang. Kamu kok sensitif sekali sih? sekarang yang lagi hamil siapa, yang sensitif siapa?" ucap Ganendra yang menyelipkan sebuah ledekan di dalam ucapannya.
Suara tawa akhirnya pecah dari semua orang yang ada di tempat itu, kecuali Melinda yang memasang wajah masam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti hari, tidak terasa sudah seminggu waktu berlalu. Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Denis dan Bella , di mana hari ini mereka akan disahkan menjadi sepasang suami istri.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi acara resepsi pernikahan Denis dan Bella akan segera dimulai. Ya, tadi pagi mereka bersua sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama.
Bella kini sudah tampil cantik dengan gaun putih yang mengembang di bagian bawah. Rambutnya juga ditata dengan sangat sederhana, karena Bella memang tidak terlalu suka dengan hal yang berlebihan.
"Hai, Bell! boleh kami masuk?" tiba-tiba Jelita sudah berada di ambang pintu bersama dengan Nayla.
"Hei, Jelita! masuk aja! kamu apa kabar? ucap Bella sembari memeluk, Jelita.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja dan sepertinya aku tidak perlu untuk bertanya balik, karena dari raut wajahmu, aku sudah tahu kalau
__ADS_1
kamu baik-baik saja," balas Jelita, yang menyelipkan seulas senyuman menggoda di bibirnya.
"Ah, kamu bisa aja!" Bella tersipu malu.
"Akhirnya, kamu berjodoh juga ya, Bell dengan Denis? aku turut bahagia untukmu," ujar Jelita dengan tulus.
"Iya, Jel. Aku juga tidak menyangka. Jodoh memang rahasia Ilahi. Oh ya, dengar-dengar kamu sudah hamil ya? selamat ya!" ucap Bella sembari mengelus-elus perut Jelita yang masih belum terlihat kalau dia sedang hamil.
"Hmm, bukannya kita sama? dan asal kamu tahu, proses pembuatannya juga di malam yang sama," ucap Jelita dengan suara pelan dan ambigu.
"Maksudnya?" Bella mengrenyitkan keningnya.
"Hmm, gimana ya bilangnya? malam di mana Kak Denis mabuk, dan dia melakukan itu padamu, malam itu juga aku sama mas Gavin melakukan malam pertama, bukannya itu berarti proses pembuatan anak kita sama?" terang Jelita, tanpa malu-malu.
"Ehem, ehem!" Nayla berdeham, karena merasa diacuhkan semenjak dia dan Jelita masuk ke ruangan Bella.
"Eh, Maaf, Nay!" Jelita nyengir kuda. Kemudian dia kembali menatap ke arah Bella.
"Oh ya, Bel kenalkan ini Nayla sahabat baikku dari SMA. Dia ini seorang dokter kandungan,"
Nayla mengulurkan tangannya ke arah Bella yang tentu saja langsung mendapat sambutan baik dari Bella.
"Nayla,"
"Tentu saja boleh! kamu datang aja ke Sky hospital. Aku bekerja di sana," jawab Nayla.
"Iya, nanti kalau aku mau memeriksakan kandunganku, aku pasti akan ke sana," Bella kembali mengulas senyum di bibirnya.
"Ibu, Bella, acara akan dimulai. Pak Denis sudah di sini menjemputmu," tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari arah pintu, yang merupakan karyawan hotelnya.
"Oh, iya Risa. Terima kasih ya!" ucap Bella.
"Kamu sudah siap, Sayang?" Denis kini berdiri di ambang pintu. menggantikan wanita yang bernama Risa tadi. Pria itu tampak sangat tampan dengan balutan tuxedo putih dan celana hitam.
Untuk sesaat, Denis kembali terpukau dengan penampilan wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Sudah kok, Sayang," jawab Bella, tersenyum manis. "Sayang, kenapa kamu bengong?" Bella mengrenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Ka-kamu Cantik sekali, Sayang. Kenapa sih aku tidak menyadarinya dari dulu?"
"Ihh, gombal!" Bella tersipu malu.
"Aku tidak gombal, Sayang. Aku sangat jujur," ujar Denis sembari mengecup kening Bella.
"Nah, kita ada di mana sih sekarang? sepertinya kita tersesat," celetuk Jelita, bermaksud menyindir pasangan suami istri baru itu.
"Hmm, sepertinya kamu benar,Jel. Sekarang sebaiknya, kita harus keluar dari tempat ini," Nayla meraih tangan Jelita dan berlalu dari ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Denis dan Bella kini sudah memasuki ballroom, dan berjalan ke pelaminan dengan tangan kanan Bella yang berada di pinggang Denis. Lagu Endless love, mengiringi perjalanan mereka sampai ke pelaminan.
Di antara para tamu, Jelita memandang takjub pada pemilihan dekorasi pernikahan yang diusung oleh Denis dan Bella. Tatapan kagum Jelita, tidak luput dari pandangan Gavin. Seketika hati Gavin sangat tercubit dan merasa bersalah, karena belum memberikan pesta pernikahan yang benar-benar diimpikan seorang wanita.
"Sayang, kamu mau ya kalau kita buat pesta pernikahan kita seperti ini?" tanya Gavin dengan sangat lembut.
"Hmm, tidak perlu, Sayang. Yang membuat kebahagiaan pernikahan itu, bukan karena mewah tidaknya, pesta pernikahan," jawab Jelita.
Gavin menghela napasnya, merasa kalau sekarang Jelita sedang berbohong. Jauh di dalam lubuk hatinya, Gavin yakin kalau Jelita pasti menginginkan sebuah pesta pernikahan.
Acara demi acara berjalan dengan lancar. Bella di atas sana, kebanyakkan duduk, karena memang begitulah perintah Denis, yang makin ke sini semakin posesif.
Para tamu undangan, berangsur-angsur mulai meninggalkan tempat acara sampai saat sudah sangat sepi.
Gavin dan Reynaldi, sengaja menunggu para tamu undangan pulang, baru mereka berdua naik ke atas panggung dengan menggandeng pasangan masing-masing, untuk mengucapkan selamat, doa dan harapan pada sahabat mereka itu.
"Selamat ya, Sob, semoga bahagia selalu. Ingat nanti setelah masuk ke dalam kamar, dilarang mencoblos dulu!"
Semua yang mendengar ucapan Gavin, seketika tertawa, kecuali Denis.
"Kenapa tidak boleh? Bella kan sudah istriku," protes Denis dengan raut wajah masamnya.
"Yang dikatakan Gavin benar, Kak Denis. Untuk malam ini, kalau boleh jangan melakukan begituan, karena kondisi Bella yang sedang kecapean. Jadi hal ini tentu saja bisa mempengaruhi janin," Bella menimpali ucapan Gavin.
"Jadi, malam ini aku tidak bisa untuk__"
"Iya, Kak Denis, sampai kondisi Bella benar-benar fit," jawab Nayla lagi.
__ADS_1
Tbc
Wah tidak terasa, beberapa bab lagi novel ini akan segera tamat😍😍 mohon dukungannya selalu ya, guys. klik like, vote dan komen. Kalau mau kasih hadiah juga boleh