Bukan Istri Idaman

Bukan Istri Idaman
Bertemu Denis


__ADS_3

Jelita terlihat sudah rapi dan bersiap-siap untuk pergi. Wanita itu, menoleh ke arah pintu kamar Gavin yang tertutup.


"Emm, aku perlu pamit gak, ya?" gumam Jelita sedikit merasa ragu, sama seperti yang dirasakannya tadi, yang sempat ragu untuk pergi menemui si pengirim pesan, yang memintanya untuk datang ke cafe yang merupakan salah satu cafe besar dan bergengsi di Jakarta, yang tidak lain adalah Green cafe milik Denis. Namun karena berpikir kalau kesempatan tidak akan datang dua kali, akhirnya wanita itu memutuskan untuk datang, karena menurutnya keadaan Gavin juga sudah mendingan.


"Ah, sebaiknya aku pamit saja," Jelita mengayunkan kakinya, melangkah mendekati pintu.


Tok ... tok ...tok


"Tuan Gavin, apa kamu sedang tidur?" tanya Jelita, yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari dalam sana.


"Emm, sepertinya dia sedang tidur." gumam Jelita. Namun, untuk memastikan, Jelita mencoba untuk mengetuk pintu sekali lagi, dan hasilnya tetap sama, tidak ada respon dari si pemilik kamar.


"Tuan Gavin, aku izin keluar sebentar ya! aku ada urusan penting di luar," Jelita meningkatkan volume suaranya, berharap pria di dalam mendengar.


Baru saja, Jelita memutar tubuhnya dan nyaris melangkah, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan sosok Gavin yang menatapnya dengan tajam.


"Mau kemana kamu?" tanyanya dengan raut wajah tidak bersahabat.


"Emm, aku mau keluar, karena ada orang yang mau menjadi pelanggan setia yang butuh aku antarkan kue setiap hari. Kesempatan ini sangat sayang untuk dilewatkan,"


"Jadi, kamu mau meninggalkan orang sakit di rumah sendirian?"


"Apa Tuan masih sakit?" Jelita berjinjit untuk bisa meraba kening Gavin. "Aku rasa Tuan sudah mendingan, bahkan untuk marah-marah aja Tuan sudah kuat," sahut Jelita dengan santai, disertai dengan ledekan pada ucapannya.


"Tidak ada kaitannya, orang marah dengan sakit. Justru orang sakit lebih gampang marah dibandingkan dengan orang sehat,"


"Pantas saja kamu hampir tiap hari marah, karena memang kamu sudah sakit dari dulu," gumam Jelita dengan sangat pelan, tapi masih bisa tertangkap oleh telinga Gavin yang memiliki pendengaran yang sangat tajam.


"Apa kamu bilang? siapa yang sakit dari dulu?"


"Kamulah. Pikiranmu tapi yang sakit," ucap Jelita yang tentu saja hanyalah berani dia lontarkan dalam hati, karena dia tidak seberani itu, jika pria di depannya itu benar-benar murka nanti.


"Jadi bagaimana, Tuan, apa aku bisa pergi?"


"Kenapa kamu memanggilku, Tuan sedangkan Reynaldi, Mas?" bentak Gavin, tidak bisa lagi untuk menahan amarahnya, ketika dari tadi Jelita masih saja memanggilnya Tuan.


"Lho, bukannya itu kemauan, Tuan?" Jelita mengrenyitkan keningnya.


"Jadi kenapa kamu tadi memanggilku, mas ketika Rey masih di sini?"


Jelita mengembuskan napasnya, berusaha menahan rasa kesalnya. Wanita ini merasa kalau dirinya memang butuh ekstra sabar untuk menghadapi sikap Gavin yang berubah-ubah.


"Bukannya, kamu yang memintaku, untuk memanggilmu Tuan saja, kalau kita hanya berdua? nah tadi mas Reynaldi ada di sini, makanya aku memanggil kamu mas, dan ketika kita tinggal berdua lagi, ya aku harus kembali memanggil kamu, Tuan."


Gavin tercenung mendengar penuturan Jelita yang benar-benar tidak bisa dia sangkal.


"Mulai sekarang, kamu panggil aku Mas dimanapun itu," ucap Gavin, setelah dia terdiam beberapa saat.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Tidak ada alasannya," sahut Gavin, ketus.


Jelita kembali mengembuskan napasnya, "Iya deh,Mas." pungkas Jelita, mengalah.


"Jadi, apa aku bisa pergi sebentar, Mas?"


Semburat merah, seketika muncul di pipi Gavin begitu mendengar Jelita memanggilnya, mas, yang walaupun ini bukan pertama kalinya, tapi kali ini, entah kenapa rasanya sedikit berbeda.


"Iya, kamu boleh pergi, tapi kamu harus langsung pulang, kalau urusanmu sudah selesai." ucap Gavin seraya memalingkan wajahnya.


"Sini ponsel kamu!" Gavin menengadahkan tangannya.


"Buat apa?" Jelita mengrenyitkan keningnya.


"Sini aku bilang, ya sini! jangan banyak bicara!"


"Dasar aneh! umpat Jelita, tapi tetap memberikan handphonenya ke tangan Gavin.


Gavin terlihat menekan-nekan sesuatu di ponsel itu, dan tiba-tiba terdengar bunyi dering dari dalam kamar. Ternyata pria itu menghubungi nomornya sendiri.


"Sudah! ini ponselmu, dan itu nomorku. Simpan, jangan dihapus! sekarang kamu boleh pergi!"


Kening Jelita masih saja tetap berkerut, tapi dia tidak berani bertanya lagi, karena menurutnya pria itu bisa marah kalau dirinya masih saja bertanya.


"Ya udah,aku pergi dulu ya!" tanpa sadar, Jelita meraih tangan Gavin dan mencium punggung tangan pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jelita masuk ke dalam Cafe yang bernuansa hijau sesuai dengan namanya, Green cafe. Jantungnya berdetak lebih cepat dari detak jantung normal, karena gugup.


"Silahkan duduk, Nona!" sapa seorang pelayan dengan ramah.


"Maaf, Mbak, aku mau bertemu dengan ibu Bella. Tadi ibu itu memintaku untuk datang ke sini. Apa ibu itu ada?" tanya Jelita dengan nada yang sangat sopan.


Pelayanan itu melihat penampilan Jelita dengan mata yang terpicing mulai dari atas sampai ke bawah.


"Apa dia pelayanan baru di Cafe ini?" batin pelayanan itu.


"Mbak, Mbak!" Jelita mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah sang pelayan, hingga membuat pelayan itu tersentak kaget.


"Eh, iya, Nona. Ibu Bella ada kok. Mari saya antar," pelayan itu melangkah dan Jelita mengekor dari belakang.


Pelayan itu, mengetuk pintu ruangan Bella dan membuka ketika terdengar suara lembut Bella yang menyuruh masuk.


"Bu, ada orang yang mencari, Ibu."


"Siapa?"


"Maaf,Nona nama anda siapa?" Pelayan itu menoleh ke arah Jelita.

__ADS_1


"Aku Jelita, Mbak,"


"Oh, Mbak Jelita ya? masuk, Mbak!" Bella yang mendengar nama Jelita, langsung berdiri dan meminta wanita itu untuk masuk.


Bella menatap Jelita dengan tatapan heran, karena dia sempat berpikir kalau wanita yang bernama Jelita itu pasti berpenampilan menarik, walaupun memang penampilan wanita itu tidak bisa menutupi kecantikan yang dimiliki Jelita.


"Emm, Mbak kita langsung ke ruangan pemilik Cafe ini yuk!" Bella tidak mau memperpanjang rasa herannya. Dengan tersenyum ramah wanita itu mempersilakan Jelita untuk keluar lebih dulu.


Bella mengetuk pintu dan terdengar suara pria yang meminta untuk masuk dari dalam.


"Pak Denis, orang yang aku katakan tadi sudah di sini,"


"Oh, suruh dia masuk, Bel!" titah Denis.


"Ayo masuk, Mbak!" ucap Bella sembari memberikan jalan untuk Jelita.


"Selamat sore, Pak ...."


Denis yang tadinya masih menatap ke arah notebooknya, langsung mengangkat wajahnya, begitu mendengar suara lembut Jelita.


"Oh, Selamat sore. Aku Denis," Denis mengulurkan tangannya, dan langsung disambut dengan senyuman manis di bibir Jelita.


"Aku, Jelita, Pak." sahut Jelita tanpa menanggalkan senyumannya.


Denis tertegun melihat senyum di bibir Jelita, yang menurutnya sangat menghanyutkan. Pria itu bahkan sampai lupa untuk menarik kembali tangannya. Hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian Bella.


"Sepertinya, Pak Denis tertarik dengan wanita ini. Ternyata Pak Denis menyukai penampilan yang sederhana," Bella menghela napas, dengan wajah yang berubah sedih.


"Pak, Pak Denis!" Jelita yang merasa risih, berusaha untuk menyadarkan pria itu.


"Eh, i-iya! silahkan duduk!" Denis gugup dan dengan cepat langsung melepaskan tangannya


dari tangan Jelita.


Pembicaraan kerja sama akhirnya mencapai kata sepakat, Jelita akan mengirimkan kue-kue buatannya ke green cafe setiap harinya, dan Jelita akan langsung mendapat bayarannya hari itu juga. Selama berbicara, Denis tidak berhenti mengagumi wajah Jelita yang menurutnya sangat cantik walaupun penampilannya tidak terlalu modis seperti wanita-wanita yang dilihatnya selama ini.


"Baiklah, terima kasih ya, Pak Denis sudah percaya pada saya. Kalau begitu aku pamit dulu!" Jelita berdiri dari tempat dia duduk dan berinisiatif untuk menjabat tangan Denis lebih sebelum dia pergi.


"Kenapa harus buru-buru? bagaimana kalau kamu minum kopi dan makan sesuatu dulu?" Denis berusaha mencegah Jelita untuk pergi, karena entah kenapa dia masih ingin mengobrol dengan wanita itu.


"Maaf, Pak Denis. Aku tidak bisa, karena aku masih ada urusan. Terima kasih buat tawarannya!" tolak Jelita, dengan sopan.


"Oh, seperti itu? ya udah deh, mungkin lain kali aja," sahut Denis dengan raut yang sedikit kecewa.


Sementara itu, Bella yang memperhatikan semua itu, merasakan hatinya seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Namun jauh di lubuk hatinya, dia tidak serta merta membenci Jelita, karena dia tahu, kalau ini bukan salah Jelita dan Jelita sama sekali tidak terlihat ada niat untuk menggoda Denis.


Tbc.


Mohon dukungannya selalu ya, Guys. 🙏🏻🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2