
"Maaf, tadi aku bicara ke Rico kalau kita akan ke Bandung bersama" Yudhistira menatap Lily.
"Tidak apa-apa. Aku justru terimakasih karena aku ada yang jagain" ucap Lily sambil tersenyum.
"Terimakasih ya, karena kamu tidak marah"Ucap Yudhistira.
Lily mengangguk."Sama-sama" lalu tersenyum.
Tadi sepulang dari gelanggang olahraga, Yudhistira mengantar Lily ke kosan untuk mandi dan ganti pakaian. Serta mengambil perlengkapan untuk pulang ke Bandung. Selama Lily di kamar, Yudhistira dengan sabar menunggu di mobil.
Sekarang mereka sudah tiba di kafe Blume.
Para pegawai yang sudah sering melihat Lily, tadi nampak terkejut saat melihat Lily datang bersama Yudhistira.
Saat Lily mau memesan, Yudhistira memanggil salah satu pegawai yang berpakaian berbeda dengan yang lain.
"Tolong bantu siapkan sarapan untuk Bu Lily " Lily dan pegawai tersebut sama-sama terkejut.
Bu Lily??gumam Lily dalam hati.
"kamu mau sarapan apa?" tanya Yudhistira
"Croissant keju kismis dan coklat hangat" jawab Lily
Biasanya setiap pelanggan disapa dengan panggilan Kakak. Kenapa sekarang dia jadi Ibu Lily? pikiran Lily masih bertanya.
"Baik, pak Ran" jawab pegawai tersebut. Siska namanya. Lily melihat id card yang dipakai pegawai itu. Jabatannya manajer kafe Blume.
Bahkan mungkin usianya di atas Lily. Lily jadi tidak enak hati.
"untuk saya juga, ya. Menu seperti biasa. Mnta tolong bawakan ke meja lantai dua di bagian luar"
"Terimakasih, Kak" ucap Lily
"Sama-sama, Bu Lily" jawab Sisca.
Aaah terdengar aneh buat Lily.
Yudhistira mengajak Lily menuju lantai dua. Lalu membuka pintu sebuah ruangan.
"Ini ruang kerjaku. Aku mandi dan siap-siap dulu."
"Kamu tunggu aku di teras ini ya." Yudhistira berjalan menunjukan balkon lantai dua. Lily mengikuti di belakangnya.
"Baik. aku tunggu, ya" ucap Lily.
Yudhistira tersenyum. Lalu menghilang di balik pintu ruangannya
Ada beberapa kursi dan meja di balkon ini. Tanaman hias yang tertata rapi dan sangat terawat membuat balkon ini menjadi sejuk. Lily memilih duduk di kursi dengan pemandangan lebih jelas ke jalan raya.
Sambil menunggu, Lily membaca beberapa pesan masuk di ponsel kantornya. Salah satunya dari pak Bram yang meminta Lily mencarikan penggantinya sebelum Lily mengundurkan diri dari perusahaan.
kemarin Lily sudah mengutarakan rencana pengunduran dirinya kepada pak Bram. Pak Bram merasa keberatan, namun tidak bisa melarang juga. Lily memberikan alasan bahwa dia diminta Papa membantu di perusahaan keluarga.
Beberapa chat pekerjaan sudah Lily balas semua. Lily tetap membalas meskipun di hari libur.
Karena ada sebagian karyawan di bagian operasional tetap bekerja di hari Sabtu.
Lily membuka ponsel pribadinya.
Pesan masuk dari Kak Angga:
Kak Angga: Ly Kaka sudah cerita soal Rakha ke Papa
Lily: Lalu reaksi Papa bagaimana,Ka?
Kak Angga: Tenang saja, Papa santai saja koq menanggapinya.
Lily:Syukurlah
Lily: Ka, Lily pulang diantar Yudhistira
__ADS_1
Kak Angga: iya, Kaka sudah tahu dari Rico. Kamu tenang saja. Semua baik-baik saja. Nanti kabari kalau sudah berangkat
Lily: iya, Ka. Nanti kaka cek juga ya location Lily ya. Tadi pagi Lily shared untuk delapan jam.
Kak Angga: siap Adik Kakak yang manis. Hati-hati ya.
Lily: iya Ka. Terimakasih Kaka sayaang
dddrrtttt, Papa menelepon.
"Papa sayaaaang. Lily kangen"
"Iya sayang. kamu di mana sekarang?" tanya Papa
"Lily sedang di kafe Blume, mau sarapan dulu"
"Dengan Yudhistira?"tanya Papa membuat Lily nyaris kaget, ponselnya nyaris terlepas dari tangan.
"Iya, Pa. Lily rencananya mau cerita nanti setiba di rumah" jawab Lily malu.
"iya, tidak apa-apa. Angga sudah memberitahu Papa" ucap Papa
"Ajaklah ke rumah bertemu Papa. Hati-hati di jalan"
"Baik, Papa. Terimakasih. Lily sayaaaang Papa" Lily terharu.
Lily menghirup udara lalu menghembuskan perlahan. Betapa hari ini sangat indah.
Suara musik terdengar mengalun. Lily menikmatinya seraya memejamkan matanya untuk mengingat judul lagu. Aaah Lily sangat suka dengan lagu ini.
Shania Twain, From this moment on
From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on
I live only, for your happiness
And for your love, I give my last breath
From this moment on
Lagu yang sangat menyentuh hati. Lily membuka matanya, Yudhistira sudah ada di hadapannya. Wajah tampan dengan bola mata silver itu sedang menatap Lily dengan senyum yang membuat hati Lily kalang kabut. Lily merasakan pipinya hangat karena merona malu.
Ya Tuhan, bagaimana bisa dia sudah ada disini. Dan sejak kapan dia menatapku seperti itu. Bagaimana bisa aku tidak sadar kalau dia ada si depanku. kalimat-kalimat itu bergantian muncul di kepala Lily.
"Suara kamu bagus sekali"Ucap Yudhistira membuat Lily ingin sembunyi di balik selimut kamarnya.
You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you
Yudhistira ikut menyanyikan. Matanya menatap Lily dengan lembut.
"Kamu suka lagu ini?"tanya Yudhistira.
"Sangat suka" jawab Lily. "Dari kecil sering dengar Papa memutar lagu ini"
"Lagunya memang bagus. Ini lagu tahun 1997 kalau tidak salah. Aku masih balita saat itu. Kamu bahkan belum lahir sepertinya" Rakha berbicara seraya mengambil dompet dari dalam tasnya. Mengambil KTP lalu memberikan kepada Lily.
Lily menerimanya dengan tatapan bingung.
"Kita mulai saling mengenal. Pertama kamu bisa lihat KTP aku. Itu identitas mendasar aku"Kata Yudhistira.
__ADS_1
Lily mengerti. Lalu ia pun mengambil KTPnya dan memberikan kepada Yudhistira.
Nama : Pangeran Kenzo Yudhistira Curtis
lahir : Tokyo, 11 Desember 1994
Lily terdiam. Bagaimana bisa tanggal lahir mereka sama, hanya beda tahun. Apakah memang benar dia jodohku? batin Lily. Yang Lily tahu tidak ada yang kebetulan. Semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendakNya.
Di saat yang sama. Yudhistira menatap Lily. Lalu membaca KTP Lily.
"Bunga Lily Adeeva Suryanegara. Nama kamu cantik sekali seperti dirimu cantik dan manis. Lahir di Bandung 11 Desember 1999" ucap Yudhistira.
Apaa??aku cantik dan manis katanya. pekik Lily dalam hati tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Tanggal lahir kita sama, Tapi aku lima tahun lahir lebih dahulu"Yudhistira memandang Lily tak percaya.
"Aku pun terkejut" Lily mengembalikan KTP Yudhistira. Yudhistira melakukan hal yang sama.
"Sejak melihat kamu di mobil travel waktu itu aku langsung jatuh hati. Pembawaanmu yang tenang, senyum yang manis dan nada bicara kamu yang lembut"ucap Yudhistira.
"Kulihat kamu diantar Rakha waktu itu. Tapi kamu seperti tidak perduli kepadanya" Yudhistira menahan tawa. Lily jadi teringat, saat itu dia memang tidak megacuhkan Rakha.
"Dalam hati aku seperti merasa yakin bahwa kamu adalah wanita yang kucari. Aku berdoa agar bisa berkenalan dengan kamu, Tapi tidak ada kesempatan dan tidak ada alasan yang tepat untuk tiba-tiba mengajak kenalan"
"sampai kejadian rem mendadak dan kepala kita beradu pun menurutku waktunya belum tepat untuk mengajak kenalan. Aku malah seperti remaja yang salah tingkah waktu itu. Akhirnya kamu turun duluan dan langsung menuju mobil jemputanmu. Putus sudah rasanya harapanku. Tapi, begitu aku hendak turun, ada ponsel tergeletak di dekat kakiku. Kulihat ada fotomu sebagai wallpaper. kucoba mengejarmu tapi mobilmu sudah jalan.
Aku tunggu saja sampai kamu menelepon. Dan jika dalam waktu 1 x 24 jam kamu tidak telepon aku mungkin akan buka ponselmu untuk mencoba cari kontak daruratmu". Yudhistira bercerita.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Yudhistira
"Kenapa waktu itu kamu naik travel? kenapa tidak bawa mobil sendiri?"Tanya Lily.
"Mobilku tiba-tiba saja harus dibawa ke bengkel waktu itu karena tidak bisa hidup mesinnya. Akhirnya aku terpaksa naik mobil travel, karena jam delapan malam ada makan malam bersama nenek dan kakek yang baru saja tiba dari Jepang"Jawab Yudhistira.
"ada pertanyaan lagi?" tanya Yudhistira.
"tidak, sudah cukup untuk saat ini" jawab Lily.
"sekarang boleh aku bertanya?" Yudhistira menatap Lily. Lily mengangguk. "Tentu saja boleh" jawab Lily.
"Siapakah Rakha? kenapa dia sewaktu di rumahsakit mengaku sebagai calon suamimu, sedangkan dia sudah beristri. Aku melihatnya memakai cincin nikah. Lalu tadi pagi kita bertemu istrinya juga. Dan anehnya, dia kenapa membiarkan istrinya yang seolah ingin mempermalukan kamu" Yudhistira meletakkan tangannya di atas meja. menatap Lily lembut. Menunggu Lily bercerita.
Lily menceritakan semua kisahnya dengan Rakha. Yudhistira mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia menghela nafas terbawa rasa kesal saat Lily menceritakan Rakha menemuinya untuk menunggunya bercerai.
"Satu hal yang membuatku sedih adalah karena merasa malu atas kebodohanku yang percaya bahwa dia baik dan tulus kepadaku."
"Kamu cinta dia?"tanya Yudhistira.
"Aku tidak cinta dia. Sekarang aku mengerti. Ternyata selama ini hanya karena respect atas kebaikan dia saja"
"Mungkin dulu aku bisa dekat dengan dia karena sering bertemu. Lalu sikap dia yang baik di awal, selalu memberikan kejutan-kejutan manis. Mungkin itu yang membuat aku merasa nyaman"
"Pada saat dia mulai menunjukan sikap-sikap tidak baik, aku merasa respect ku berkurang ke dia. Lalu saat dia ternyata menikahi orang lain. Saat itu juga respectku hilang ke dia"Lily menjelaskan.
"Aku hanya bisa berkata bahwa kamu beruntung tidak jatuh cinta ke dia. Karena kalau sampai terjadi, pasti kamu saat ini sedang terpuruk meratapi pengkhianatannya"
Yudhistira tersenyum lega.
"Permisi, Pak. Ini pesanannya" Seorang pegawai membawa pesanan mereka dan meletakannya di meja.
"Nanti kita lanjutkan lagi ceritanya. Sekarang kita sarapan dulu"ucap Yudhistira.
Sarapan pagi kali ini adalah sarapan paling romantis bagi Lily. Bagaimana tidak, di depannya duduk seorang pria yang mempesona dan diiringi alunan lagu if you're not the one-nya Daniel bedingfield. Dan makanan kesukaannya pastinya.
Kalau dipikir-pikir, kenapa pagi ini kafe sudah menyuguhkan musik-musik romantis yang cocok disuguhkan di sabtu malam, saat orang-orang mengajak pasangannya untuk makan malam romantis . Selayaknya di pagi hari itu musik yang bersemangat untuk memulai kegiatan di awal hari.
"Aku yang meminta Sisca untuk memutar lagu-lagu ini". Yudhistira berucap seolah tahu apa yang dipikirkan Lily.
Lily hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya.Aaah pantas saja. Ternyata permintaan khusus dari sang pangeran. Romantis sekali. Lily jadi tersipu.
Dan di depan Lily, Yudhistira memandang Lily yang menggemaskan serasa ingin mencubit pipinya yang merona itu.
__ADS_1
***