Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
52. Calon Ibu


__ADS_3

Lily sedang berkemas di kamarnya. Menyiapkan beberapa keperluan untuk ke Bandung.


Tadi saat bangun tidur siang dia langsung shalat dzuhur, lalu menelepon Papa. Mengabari bahwa dia dan Ran hendak pulang besok sore.


"Papa juga hari Sabtu pagi akan hadir ke acara peresmian hotel milik Rico. Kita bertemu di sana saja, nak. Supaya kamu juga tidak mondar mandir. Jadi bisa langsung ke Lembang saja" kata Papa tadi sewaktu Lily menelepon.


"Maaf ya, Pa. Lily belum sempat pulang ke rumah"kata Lily sambil menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Baru sebentar saja membereskan pakaian, koq rasanya capek sekali.


"Iya, tidak apa-apa. Kamu kan harus urus suami. Itu kewajiban utama Lily sekarang. Patuh, nurut, melayani suami dengan baik. Kamu jadi istri yang baik untuk suamimu, itu sangat membuat Papa senang" sahut Papa.


"Lily selalu mendoakan Papa sehat terus dan Papa bahagia" ucap Lily dengan rasa haru. Dia selalu memikirkan Papa yang sendirian di rumah. Walaupun Kak Angga tinggal di Bandung, tapi Kak Angga tinggal si rumahnya sendiri.


"Oh iya. Lily masih ingat dengan tante Gita?" tanya Papa.


"Tante Gita yang guru les mengaji Lily? tanya Lily. Tante Gita adalah guru les Lily mengaji sewaktu masih di bangku sekolah dasar yang merupakan adik kelas Mama sewaktu kuliah dan sudah seperti adik bagi Mama. Tapi kenapa Papa tiba-tiba membahas tante Gita? Lily mencoba menerka berbagai kemungkinan.


" Iya, betul. Nanti hari Sabtu Papa berencana mengajak Lily dan Angga bertemu dengan tante Gita" ucap Papa.


"Sekalian bertemu di hotel Rico. Tante Gita juga sekarang tinggal di Lembang," ucap Papa membuat kening Lily berkerut.


"Ada apa dengan tante Gita, Pa?"tanya Lily.


"Suaminya tante Gita sudah meninggal" kata Papa


"Innalillaahi wa innailaihi roji'uun. Kita mau melayat, Pa?"Lily terkejut.


"Meninggalnya dua tahun yang lalu, Ly. Tante Gita punya seorang anak yang masih sekolah SMP" Papa menjelaskan.


"Kita silaturahmi saja dengan tante Gita. Kamu sudah lama tidak bertemu juga kan dengannya?"


Ada rasa khawatir menyelinap dalam hati Lily.

__ADS_1


"Lily? masih dengar Papa?" tanya Papa. Karena Lily hanya terdiam dalam lamunannya.


"Iya, Pa. Lily dengar koq. Baik Papa, nanti hari Sabtu kita bertemu. Papa sehat terus ya....Lily sayang Papa. Assalaamu'alaikum" ucap Lily.


"Wa'alaikumsalaam. Papa juga sayang anak manja Papa" jawab Papa mengakhiri pembicaraan.


Lily menghela nafas. Dalam kepalanya muncul nama tante Gita yang tadi Papa sebutkan namanya. Sejak Lily SMP tidak pernah bertemu lagi. Waktu itu kalau tidak salah tante Gita menikah dan ikut bersama suaminya yang bertugas sebagai camat.


Atau jangan-jangan...ah Lily takut membayangkannya. Semoga saja bukan seperti yang dia khawatirkan. 


Lily mendengar suara Ran di ruang depan. Dilihatnya  jam di atas nakas. Jam 16.25 Rupanya Ran pulang lebih cepat dari kantor. Biasanya dari kantor pulang jam lima. Lama perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit.


"Assalaaamu'alaikum. Istriku sayang. Sedang apa?" Ran masuk ke dalam kamar sebelum Lily sempat menyambutnya di ruang tamu.


"Wa'alaikumsalaam. Lily baru saja menyiapkan pakaian yang mau dibawa ke Bandung. Tumben Kak Ran pulang cepat?", tanya Lily seraya mencium tangan Ran. Ran mengecup kening Lily.


"Kakak mengkhawatirkan Lily. Memangnya tidak boleh pulang cepat kangen istri sendiri?" Tanya Ran terkekeh. DIa melonggarkan dasi. Lalu Lily membantunya melepaskan.


"Bagaimana tadi pulas tidurnya?"


Lily tersenyum malu. "Pulas. Lily banyak tidur hari ini. Ya ampuun...nyender di kursi sebentar langsung tidur. Selonjoran di karpet juga tidur"


"Baguslah. Supaya cukup istirahat." Ran mengusap rambut Lily. Lalu duduk di kursi di depan tempat tidur.


"Anak aku apa kabarnya? Dia tidak nakal kan?" Tanya Ran mengusap perut Lily.


Lily tertawa. "Kan belum dua bulan usianya, Kak. Belum terasa apa-apa"


"Iya, aku hanya tanya, dia tidak nakal kan?" Ran ikut tertawa. Dia tidak sabar menunggu bayi dalam perut Lily menendang-nendang saat disentuh atau diajak berbicara seperti yang dia baca di internet.


"Tentu donk. Dia anak yang sangat baik" sahut Lily mengusap-mengusap perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"Sini Kakak wakilkan menciumnya. Kasihan kamu tidak bisa mencium anak kita" Ran tersenyum menggoda Lily. Lily mencubit lengan Ran pelan.


"Iya susah, bagaimana coba caranya Lily mencium perut sendiri?"Lily merengut sedih.


"Jangan sedih begitu. Kamu kan setiap saat bersamanya" kata Ran memghibur Lily. Lily tersenyum kembali.


"Kak Ran mandi dulu. Nanti Lily siapkan teh hangat dan kue" ucap Lily seraya memberikan handuk bersih dari lemari.


Selesai mandi Ran memakai pakaian yang sudah Lily sediakan di atas tempat tidur. Lalu menyusul Lily ke ruang depan yang sedang menonton televisi sendirian. Teh Yuni sore ini sedang mengambil selimut, sprei dan pakaian kerja di laundry. Sekalian ke supermarket membeli buah pir untuk Lily. Kebetulan stok buah di kulkas sudah habis. Karena besok sore mau ke Bandung, jadi hanya beli untuk malam ini dan besok pagi saja.


"Minggu depan kita lihat-lihat rumah ya, sayang. Sepertinya kita harus pindah dari apartemen. Supaya memudahkan untuk kemana-mana. Kalau anak kita sudah lahir, kita butuh tempat tinggal yang lebih luas dari ini" ucap Ran setelah meneguk teh hangat di cangkirnya.


"Lily ikut kak Ran saja. Selama bersama kak Ran, Lily senang" ucap Lily.


"Tapi Lily memang lebih suka tinggal di perumahan dibandingkan di apartemen. Karena ada pekarangan. Dan rasanya udara lebih segar kalau menurut Lily" ucap Lily sambil meletakan sepotong cake di piring kecil untuk Ran.


"Nanti kita lihat-lihat di internet dulu saja. Kalau sudah ada beberapa pilihan yang menarik, baru kita datangi" kata Ran. Dia menyuap sesendok kue seraya memperhatikan raut wajah Lily yang nampak gelisah.


"Kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ada apa?" tanya Ran ketika Lily sedang memikirkan kata-kata Papa tadi di telepon.


"Lily khawatir Papa mempunyai calon Ibu untuk Lily dan kak Angga" sahut Lily bergumam.


"Calon ibu? maksudnya Papa mau menikah lagi?" Tanya Ran dengan gamblang.


Lily mengangguk. Dia sedari tadi sangat takut dengan kalimat itu. Jika itu terjadi. Berarti Papa sudah melupakan Mama. Dan itu membuat Lily sedih.


"Kamu takut Papa melupakan Mama jika menikah lagi?" pertanyaan Ran kembali membuat Lily mengangguk.


Lily bersandar di bahu Ran seraya memainkan ujung kaus Ran. Pikirannya sudah dihinggapi banyak ketakutan. Hatinya menjadi tidak tenang.


Ran hanya mengusap pelan punggung Lily supaya Lily merasa tenang. Dia belum berani berkomentar apapun. Khawatir nanti salah bicara membuat mood Lily tidak baik. Sedangkan dia sedang hamil. Jadi Ran hanya mencoba membuat Lily tenang saja saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2