Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
19. Memanggilmu Kak Ran


__ADS_3

Lily menghirup udara pagi yang segar. Sekarang jam enam pagi. Lily sudah siap dengan setelan olahraga berupa jumper hoodie dan sweatpants warna pink lembut. Lily berlari-lari kecil di halaman rumah sambil menunggu Papa turun. Dia tidak menyadari bahwa Rico sedang duduk di bangku taman sedari tadi.


ponsel di dalam tas pinggang Lily berbunyi


"Sedang apa, Ly?" Suara Ran


"Mau olahraga, Kak. Ini sedang tunggu Papa turun"


"Oh iya, mulai sekarang aku panggilnya Kak Ran saja, ya"ucap Lily


"Waaah, aku senang sekali. Dengan senang hati, Ly" jawab Ran.


"Kak Ran kan usianya sama dengan Kak Angga. Masa Lily hanya panggil nama. Tidak sopan jadinya. Dan di keluarga kak Ran, teman-teman, karyawan, semua tidak ada yang memanggil Yudhistira. Semua panggil Ran. Supaya Lily tidak kagok jadi panggilnya Kan Ran saja, ya" ucap Lily.


"Iya, boleh koq. Aku justru senang" ucap Ran


"Aku boleh alihkan ke panggilan video?" Tanya Ran meminta ijin.


Lily mengiyakan. Nampak Ran sedang berada di atas treadmill. Dia meletakan ponselnya pada holder di bagian depan treadmill. Dia sedang mengatur kecepatannya.


"Aku mau olahraga juga" Ran tersenyum.


"Outfitmu bagus sekali" ucap Ran, Lily tersipu malu. "Kamu cantik" puji Ran. Lily semakin tersipu.


"Nanti setelah zuhur, ada acara pengajian keluarga di rumah. Mama mengundang kamu datang, Ly. Sekalian kenal dengan seluruh keluarga"


"Aku sampai rumah Lily jam sepuluh ya. Jam sebelas kita berangkat" ucap Ran.


"Iya, Kak Ran. Lily tunggu ya" Kata Lily dengan senyum manis membuat Ran ingin mencubit pipinya.

__ADS_1


"Ya sudah, Ly. Kamu lanjut olahraga. Aku juga mau mulai dulu ya." Ran melambaikan tangannya seraya tersenyum.


"Iya, kak Ran. " jawab Lily dengan pipi masih merona. Aaah Kak Ran tampan sekali, dia juga sangat manis. Gumam Lily pelan. Aaiih kenapa hatinya merasakan ini lagi. Rasa bahagia yang sulit diungkapkan.


Sebenarnya selain memang keinginan Lily sendiri, Papa juga yang menyarankan untuk memanggil Yudhistira dengan panggilan Kak Ran. Semalam saat Lily menemui Papa di kamarnya, mereka berbincang.


"Panggillah dia dengan panggilan yang sopan. Selain dia adalah calon suami, dia juga usianya sama dengan Angga. Panggil dia Kakak atau abang. Dan panggil dia sesuai kebiasaan keluarganya. Menurut Rico, nama panggilan Yudhistira di keluarganya adalah Ran. Panggilan keluarganya itu adalah panggilan kesayangannya. Mungkin untuk orang-orang yang tidak kenal dia dan keluarganya, panggilan Yudhistira berlaku. Nanti bicarakan dengan Ran ya. Papa yakin dia setuju dan pasti senang kamu panggil dia Kak Ran"Ucap Papa.


Nasehat Papa di antara beberapa hal yang dibahas dalam perbincangan mereka.


Lily bahagia memiliki ayah seperti Papa. Selalu mengingatkan hal-hal kebaikan sekecil apapun.


Tiba-tiba Lily melihat Rico yang sedang duduk di bangku taman. "Aaah sejak kapan Bang Rico ada di sana?" Tanya Lily dalam hati.


"Bang Rico sejak kapan duduk di sini?" tanya Lily


"Sejak kamu keluar rumah. Tapi kamu langsung asik telponan dengan Kak Ran mu itu"Rico terkekeh menutupi rasa galau dalam hatinya.


"Bukan menguping, memang terdengar jelas, Lily sayaaaang"Ucap Rico membela diri.


Lily tertawa pelan.


Bu Lim mengantarkan infus water untuk Lily.


"Terimakasih, Bu Lim" ucap Lily, lalu meminumnya. Lily mengecap dan menggigit bibirnya pelan untuk menghilangkan sisa air di bibirnya. Dia lupa tidak bawa tissue. Rico yang tidak sengaja melihat segera melempar pandangan ke sembarang arah.


"Ya ampuun. Anak ini. apakah dia tidak sadar kalau tingkahnya membuat lututku lemas?" Rico meringis.


"Bang Rico, kenapa? Oh iya masih sakit kepalanya dari semalam?" tanya Lily lalu memanggil Pak Min yang kebetulan lewat.

__ADS_1


"Pak Min, tolong pegang dahi bang Rico, panas atau tidak ya?" Ucap Lily kepada pak Min.


Pak Min meletakan tangannya di dahi Rico. "Tidak panas, Neng" jawab Pak Min.


"Terimakasih, Pak Min" ucap Lily. Pak Min berlalu menuju garasi.


Rico diam saja saat Lily meminta Pak Min memegang dahinya. Walaupun rasanya ingin kabur. Tapi dia pasrah. Dia tahu Lily khawatir dia demam lagi seperti semalam. Tapi karena tidak ada thermo gun, akhirnya meminta tolong pak Min yang memeriksa suhu tubuhnya. Karena Lily tidak akan menyentuh dahinya. Lily selalu menjaga untuk tidak menyentuh laki-laki kecuali Papanya dan Angga.


"Aku sudah sembuh, Ly. Tenang saja" Ucap Rico


"Syukurlah" sahut Lily lega.


"Bang, Lily mau tanya donk" Lily duduk di ujung lainnya bangku taman.


"Tanya apa?"


"Sewaktu di kampus, teman-teman memanggil kak Ran dengan panggilan apa?"


"Curtis. Mr Curtis" jawab Rico.


"Oh iya nama belakangnya ya. Berarti bang Rico dipanggil, Mr Hoover ya?" tanya Lily lagi.


"Betul"jawab Rico


"Kenapa bang Rico panggil dia Ran? bukan Curtis?"


"Kami berteman akrab. Aku dekat dengan nenek dan kakeknya. Kenal dengan orangtuanya. Di keluarganya dia dipanggil Ran, kependekan dari Pangeran" Jawab Rico.


"Berarti aku sudah betul ya, panggil dia dengan panggilan Kak Ran?" gumam Lily. Seolah tidak memerlukan jawaban dari Rico.

__ADS_1


"Kamu mau panggil dia sayang juga tidak apa-apa, Ly" ucap Rico nelangsa dalam hatinya yang terlalu cemburu.


***


__ADS_2