Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
35. Luisa, Penggemar Dari Masa Lalu


__ADS_3

Lily tengah bersama Ran menghadiri acara launching produk baru dari sebuah brand ternama 'Freddo'. Yaitu brand yang menyediakan pakaian kasual. Saat ini mengeluarkan koleksi outfit untuk para kawula muda dengan desain-desain yang unik dan keren. Pemilik brand Freddo adalah ayah dari salah satu teman kuliah Ran di Inggris, Edwin.


Acara yang diadakan di salah satu hotel mewah di Jakarta ini sangat meriah. Karena menghadirkan beberapa penyanyi terkenal. Acara pun dibawakan oleh seorang host yang sering tampil di acara televisi. Beberapa selebram pun nampak duduk di kursi undangan. Karena beberapa dari selebgram dan artis-artis tersebut merupakan para brand ambassador dari brand Freddo.


Lily duduk di sebelah Ran yang tak melepaskan genggaman tangannya dari Lily. Mereka menikmati suasana yang semarak. Rasanya seperti sedang menyaksikan konser para artis.


Kemudian para model naik ke atas panggung membawakan koleksi-koleksi tersebut.


"Yang itu bagus, Kak Ran. Aku suka" Lily menatap seorang model yang mengenakan T shirt unisex dengan kerah model henley.


"Iya bagus, itu. Aku juga suka. bisa samaan kita"sahut Ran.


Mereka berdua punya selera yang sama. Dan koleksi Freddo kali ini sangat cocok dengan selera mereka.


"Ran Curtis?" seorang wanita yang lewat di depan mereka menyapa Ran. Ran menoleh.


"Iya betul. Maaf, anda siapa?" Ran mengerutkan dahi mencoba mengingat.


"Ini aku, Luisa. Kita satu SMA dulu. Kita juga sempat ketemu di Jepang. Apartemenku dekat dengan rumah kakekmu" Wanita bernama Luisa itu mengibaskan rambutnya yang dicat pirang. Lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Ran.


"Pasti karena aku sekarang lebih cantik, jadi kamu susah mengenaliku" Luisa mengusap pelan hidungnya yang mancung seraya tertawa. Ran hanya tersenyum.


"Ooh yaaa. Saya ingat. Kamu Luisa anak cheerleaders?" seru Ran agak ragu.


"Satu kampus dengan Rico di Jepang waktu itu?" tanya Ran memastikan.


"Yuup...akhirnya kamu ingat aku. Waktu di SMA, kamu kan kapten basket sekolah. Aku cheerleaders paling cantik. Kita sering dijodoh-jodohin sama satu sekolahan" Luisa kembali mengibaskan rambut pirangnya.


"Aku salah satu penggemarmu sejak dulu" lanjutnya. Sementara Ran masih berusaha memastikan bahwa wanita di depannya memang Luisa teman SMAnya.


Ran merasa ada yang aneh dari wajah Luisa. Hidungnya sekarang mancung dengan dagu runcing dan bentuk bibir aneh seperti orang yang sedang menahan rasa pedas di mulutnya.


"Tapi kamu terlalu dingin ke perempuan. sampai akhirnya aku menyerah mengejarmu. Karena kukira kamu tidak suka perempuan" wanita itu melirik Lily.


"Ini dia, perempuan yang aku suka. Perkenalkan. Ini istriku. Lily" Ran mengelus punggung Lily. Ran khawatir Lily merasa shock dengan kehadiran wanita yang sok akrab itu.


"Hai, kenalkan saya Lily" ucap Lily dengan senyum ramah.


Luisa menatap Lily dengan terpaksa ramah.


"Saya Luisa..." sahutnya dengan senyum dibuat-buat. "Istrimu muda sekali, Ran. Seperti baru lulus SMA"komentarnya.


"Dia memang masih muda. Tapi sudah meraih gelar magister" sahut Ran. Dia tidak suka ada yang meremehkan istrinya.


Luisa nampak terkejut. Tapi dia berusaha menyembunyikannya.


"Aku sempat lihat berita pernikahanmu di sosmed" ucap Luisa, dia melirik Lily dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aku mengundang semua teman seangkatan di chat group"ucap Ran.


"aah...aku tidak ikut chat group sekolah" Luisa mengibaskan tangannya.


"Aku terlalu sibuk untuk ikut chat group. Maklumlah namanya juga selebgram. Selalu sibuk dengan banyak acara" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Iya dimaklumi" jawab Ran.


"Oke, Ran. Aku tinggal dulu. Sebentar lagi harus naik ke panggung" Luisa pergi dengan mata melirik tangan Ran yang tak lepas menggenggam jemari Lily.


"Oke, Luisa" ucap Ran.


"Aku tadi tidak terlalu mengingatnya. Karena seingatku dulu wajahnya tidak seperti itu"ucap Ran di kuping Lily.


"Mukanya sangat aneh menurutku. Terutama bibirnya. Aku jadi ngeri melihatnya"gumam Ran.


"Ssstt..kak Ran. Jangan gosip ah" bisik Lily.


Ran seketika tersentak. Baru menyadari kenapa dirinya tiba-tiba mengomentari penampilan orang lain.


"Bukan bergosip. Aku hanya cerita" Ran membela diri. dia meraih gelas air mineral di atas meja.


"Kalau tidak salah, bibir seperti itu di filler, kak. Supaya seksi"Lily berbisik. Ran yang sedang meneguk minuman nyaris tersedak menahan tawa.


"katanya jangan bergosip. Kamu malah melanjutkan pembahasan" Ran meletakkan gelasnya. Lily meraih tissue lalu mengusap ujung bibir Ran yang tersisa air minum.


"Yaaa..aku khawatir kak Ran masih kepikiran tentang wajahnya" jawab Lily membuat Ran tertawa.


"Untuk apa aku memikirkan dia?" Ran merasa geli dengan kata-kata Lily.


"Wanita yang selalu ada dalam pikiranku adalah kamu, sayang" Ran mengelus tangan Lily lalu mencolek hidung Lily.


Lily menatap Ran seraya tersenyum manis dan meraih tangan Ran untuk digenggamnya. Membuat perempuan berambut pirang di atas panggung menatapnya tidak suka. Lily sengaja melakukan itu. Supaya wanita rambut pirang itu sadar kalau Ran sudah beristri.


"Apakah dia sudah menikah?" tanya Lily.


"Aku tidak tahu. Aku tidak terlalu mengenalnya. Aku pun tidak pernah satu kelas dengannya semasa SMA. Hanya karena sering lihat di lapangan basket saja. Sewaktu di Jepang, dia sepertinya satu kampus dengan Rico saat Rico pindah kampus dari kampusku" Ran menjelaskan.


"Kenapa kamu bertanya soal itu?" tanya Ran


"Sepertinya dia sangat menyukai kak Ran" gumam Lily.


"Yang penting, aku hanya menyukaimu"ucap Ran.


"Kalau dia sampai berbuat macam-macam kepada kita, aku juga tidak akan tinggal diam." Ran menepuk tangan Lily.


" Aku bisa melihat rasa tidak suka di matanya saat melihatmu" Ran tertawa pelan.


"Tenang saja, sayang. Ada aku" ucap Ran. Lily mengangguk.


"Sayang, lihatlah. Itu Edwin, anak dari founder dan CEO Freddo" Ran menatap panggung saat seorang laki-laki berwajah oriental berjalan di sana bersama para model. Edwin melambaikan tangan kepada hadirin. Saat matanya melihat Ran, Ran mengangkat ibu jarinya. Edwin membalasnya.


" Dia hadir di pernikahan kita" kata Ran


"Aku tidak ingat. Karena banyak tamu yang baru kukenal" ucap Lily.


Tidak lama Edwin dan para model turun dari panggung. Edwin bergegas menggampiri Ran.


"Kau datang juga, Ran. Sorry, tadi aku tidak melihat kalian datang. Mungkin waktu aku di belakang stage" Edwin datang menghampiri Ran seraya memeluk. Lalu mengangguk kepada Lily.

__ADS_1


"Tak apa. Kau pasti tadi sangat sibuk." jawab Ran.


" Selamat ya. Produknya keren semua. Kami sangat suka"lanjut Ran.


"Thanks, bro. Tenang saja, ada outlet di Bandung. Untuk koleksi terbaru ini sekitar seminggu lagi sudah ready" kata Edwin. Lalu keduanya tertawa.


"Kita ini tukaran beli produk. Untuk pakaian formal dan olahraga, aku sangat cocok dengan produkmu" ucap Edwin.


Mereka berbincang beberapa hal dengan sangat asik.


Sementara Lily masih penasaran dengan Luisa. Karena tadi Lily tidak sengaja melihat Luisa diam-diam mengambil foto Ran. Lalu Luisa berbisik pada seorang temannya, dan mereka sama-sama menatap ke arah Ran. Kemudian temannya berucap "Woow". Meskipun suaranya tidak terdengar, tapi gerak bibirnya bisa Lily baca.


"Kenapa wanita itu seperti tidak tahu malu. Bukankah dia tahu bahwa Kak Ran sudah punya istri? Seolah dia tidak menghormatiku sebagai istri kak Ran." pikir Lily.


Tidak lama Luisa menghampiri mereka lagi. Lalu berdiri di samping Edwin.


"Edwin, kamu tahu? Ran adalah teman SMAku" Luisa memegang bahu Edwin tanpa ragu.


Edwin menoleh, terkejut karena Luisa datang tiba-tiba.. "oh yaa?? ujar Edwin. Dia menatap Ran memastikan ucapan Luisa.


"Iya, satu sekolah waktu SMA. Tapi kami tidak pernah satu kelas. Makanya tadi aku sempat lupa saat Luisa menyapaku" ucap Ran. Luisa nampak malu.


"Bolehkah aku minta foto bersamamu dan istrimu, Ran?" tanya Edwin kepada Ran. Saat mereka hendak mengatur posisi berfoto, Luisa memutar untuk berdiri di sebelah kiri Ran. Sedangkan Lily di sebelah kanan Ran. Sejenak dia tersenyum ke arah meja di seberang mereka. Rupanya teman Luisa diam-diam tengah mengambil foto mereka. Lalu Luisa segera bergeser menjauh dari mereka ketika asisten Edwin sudah siap memotret mereka.


Lily yang berdiri di samping Ran, tersenyum ke arah kamera saat mereka berfoto bersama. Walaupun dia tahu Luisa tengah menatapnya tidak suka. Lily pun tahu aksi yang dilakukan Luisa dan temannya secara diam-diam tadi.


Mereka beranjak pulang setelah rangkaian acara selesai.


Saat mereka sampai di lobby hotel, mereka bertemu Luisa lagi.


"Raaan..boleh minta nomor ponselmu?"Luisa sudah siap dengan ponselnya untuk mencatat.


"Ya ampuun, kenapa wanita ini sangat tidak tahu malu?" pikir Lily.


Ran menyebutkan sepuluh angka. Lily mengerutkan keningnya saat mendengar Ran menyebutkan nomor itu. Luisa nampak senang.


"Oke, thanks ya Ran. Nanti aku chat kamu. Byeee" dia berlalu seraya melambaikan tangannya dengan genit. Lalu menatap Lily sambil tersenyum sinis, seolah ingin membuat Lily cemburu. Aneh sekali, pikir Lily.


Lily bersikap seperti tidak ada apa-apa. Dia tidak mau menunjukkan rasa cemburu di depan wanita yang berusaha menggoda suaminya. Dia tahu harus bersikap seperti apa.


"Kan Ran berikan nomor siapa tadi? Sepertinya bukan nomor kak Ran" ucap Lily.


Ran tertawa pelan. "Itu nomor customer service kafe Blume. Akun bisnis"


Lily menatap Ran dengan mata terbelalak. Ya ampuun ternyata suaminya iseng juga mengerjai Luisa.


Dia bisa membayangkan jika Luisa nanti mengirimkan chat kepada nomor tersebut. Akan ada chat jawaban otomatis dari sistem.


"wanita seperti Luisa pantas dikerjai, anggap saja beri pelajaran. Dia sendiri tidak tahu malu dan tidak menghargai kamu sebagai istriku" ucap Ran setelah mereka sampai di dalam mobil.


"Aaah..terimakasih, kak Ran Sayaaang"Lily memeluk Ran dari samping.


"Nanti jika dia chat, dia akan dijawab otomatis oleh sistem" Ran bergumam, lalu memandang Lily.

__ADS_1


Mereka berdua tertawa membayangkan wajah kesal Luisa.


***


__ADS_2