
Lily sedang berada di kamar hotel. Dia baru saja selesai membuka gaun pengantinnya dibantu teh Yuni. Karena ada banyak aksesoris yang Lily tidak bisa melepaskannya sendiri. Harus dibantu orang lain.
"Sudah semua Neng. Tinggal lepas saja bajunya nanti pas mau mandi ya. Teteh pamit dulu" Kata teh Yuni setelah membantu membukakan resleting di bagian belakang gaun yang didouble dengan beberapa kancing. Juga beberapa jarum pentul dari hijab Lily.
Setelah teh Yuni keluar kamar, Ran yang baru saja selesai mandi, melongokan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Setelah memastikan teh Yuni sudah keluar kamar, dia mendekati Lily dengan handuk yang terlilit dipinggang. Lily memejamkan matanya.
"Sini aku bantu. Ups...hati-hati sayang"Ran memeluk lengan Lily saat tubuh Lily hendak terjatuh akibat menginjak bagian gaun yang sudah terbuka dan menjuntai di lantai. Wajah Lily seketika menghangat. Ada getaran aneh yang menjalar saat Ran memeluk lengannya dan memanggilnya sayang. Ditambah aroma segar dari tubuh Ran yang baru saja selesai mandi.
"Tidak usah malu. Kita kan sudah suami istri. Sudah halal untuk saling melihat dan bersentuhan." ucap Ran sambil terus membantu Lily membuka seluruh gaun pengantinnya. Lily menurut saja. Karena dia memang kesulitan kalau harus membukanya di kamar mandi. Meskipun rasa malu masih menyergap dirinya. Sekarang tinggal lapisan dalam pakaiannya yang berbahan tipis dan membentuk lekuk tubuh. Ran memegang pinggang Lily dari belakang. Lalu mencium tengkuk Lily dengan lembut. Seketika bulu halus di sekujur tubuh Lily berdiri. Ran mengelus kedua lengan Lily, lalu memutar tubuhnya saling berhadapan. Dia mengecup kedua pipi putih Lily yang saat itu sedang merona.
"Kamu mandi dulu, ya. Kasihan sudah tidak betah ya ingin mandi" ucap Ran. "Lalu shalat Isya bersama"
Lily segera masuk ke kamar mandi. Melepaskan semua pakaiannya. Lalu segera menuju shower untuk menyegarkan tubuhnya.
Saat hendak membilas sabun di tubuhnya, Ran masuk ke kamar mandi. Membuat Lily berteriak kaget. Ran tertawa pelan.
"Aku mau wudhu, sayang. Tidak usah berteriak ketakutan" ucapnya disela tawanya. Dia lalu mengambil wudhu di kran bath tub.
__ADS_1
Lily segera menyelesaikan mandinya lalu berwudhu. Dia memakai dress panjang dan setelan mukenanya saat selesai berwudhu . Lalu keluar dari kamar mandi.
Ran sudah menunggunya untuk shalat bersama.
***
"Kak Ran mau Lily buatkan sesuatu?" tanya Lily saat mereka selesai shalat.
"Tidak usah, sayang. Aku masih kenyang. Kalau haus atau lapar nanti biar aku ambil sendiri. kan banyak minuman dan snack juga buah di sini" ucap Ran seraya menunjuk minibar.
"Lily rapikan mukena dulu ya kak" ucap Lily.
Lily membuka kotak itu perlahan. Lalu menatap malu pada Ran yang hanya tersenyum saat melihat isinya.
Sepasang piyama tidur berbahan sutra lembut warna merah untuk mereka berdua.
"Pakailah. Ini hadiah khusus dari Mama" Ran mengecup pipi Lily. Kembali membuat wajah Lily merona.
__ADS_1
Lily menuju kamar mandi dengan perasaan bingung dan malu.
Dia memagutkan diri di depan cermin. Sebuah lingerie seksi dengan jubah kimono selutut. Berkali-kali Lily berputar di depan cermin melihat lingerie merah yang menempel pas di tubuhnya. Bagian dada yang terbelah sangat rendah dengan renda kecil di setiap sisi belahannya. Membuat dadanya terlihat jelas. Aah aneh sekali rasanya. Kenapa Mama Hana memberikan hadiah seperti ini? ini akan membuatku aneh nanti didepan kak Ran. Pikir Lily
"Sudah selesai ganti bajunya, sayang?" Ran membuka pintu kamar mandi bersamaan dengan Lily yang tengah membetulkan pita kecil di bagian bahu lingerienya.
Lily berteriak kaget dan gelagapan. Dia sangat panik. Sampai bersembunyi di balik kotak hadiah itu.
Ran tertawa melihat kelakuan Lily.
Lily bergegas meraih jubah kimono di dalam kotak. Lalu dengan sembarang menyelimuti badannya dengan jubah. Namun Ran terlanjur membopong Lily keluar dari kamar mandi.
"Kak Ran, aku belum pakai kimononya" Lily menunjuk kimono yang masih sembarang dia tutup di tubuhnya
Ran hanya tertawa seraya membopong Lily.
Tidak lama kemudian, lampu kamar dimatikan. Hanya temaram dari sinar lampu meja di samping tepat tidur saja yang menemani malam mereka.
__ADS_1
***