Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
66. Harus Segera diselesaikan


__ADS_3

Ruangan kerja Lily berada di lantai tiga, tempat departemen keuangan berada. Papa sudah memperkenalkan Lily kepada semua karyawan pagi tadi. Sekarang Lily sedang berkutat dengan data keuangan yang terpampang di layar laptopnya. Dia mencocokkan dengan bukti-bukti transaksi yang menumpuk di mejanya. Lily sangat senang hati mengerjakannya.


Staff bagian keuangan, akunting dan pajak semuanya rapi dalam bekerja. Jadi Lily tidak kesulitan membuat laporan yang tertunda beberapa bulan. Semua bukti transaksi lengkap dan tersusun rapi dalam folder.


"Selamat pagi, Bu Lily. Ini rekening koran perusahaan yang Ibu minta. Saya juga sudah buatkan foto kopinya" Yessi, seorang staff akunting muncul di ruangan Lily setelah tadi dia mengetuk pintu. Pintu ruangan memang sengaja Lily buka.


"Baik, terimakasih, Bu Yessi" ucap Lily. Tadi pagi dia sudah berkenalan dengan semua staffnya. Semua staffnya memang sudah berkeluarga dan berusia di atas tigapuluh tahun. Meskipun begitu, semua tetap menghormati Lily yang usianya lebih muda.


Triiiing!!!


Sebuah pesan masuk di ponsel Lily. Ternyata kak Angga.


'Ly, hari ini kakak tidak ke kantor. Kak Andin masuk rumahsakit. Sudah waktunya melahirkan'


Lily merasa senang dan deg-degan. Senang karena sebentar lagi dia akan punya keponakan. Deg-degan karena dia tahu bagaimana perjuangannya seorang ibu melahirkan.


***


Rakha duduk di ruang tamu rumah orang tua Dina. Dia nampak duduk gelisah di hadapan kedua orangtua Dina. Apalagi mata ibunya yang menatapnya dengan sebal, membuatnya bergidik.


"Dina sudah menceritakan semua kepada kami" ayahnya Dina membuka suara. Ibunya Dina duduk di sampingnya dengan tatapan penuh kekesalan kepada Rakha. Bagaimana tidak selama ini dia selalu membangga-banggakan menantunya itu kepada semua orang. Bahwa menantunya adalah pebisnis sukses yang kaya. Ternyata semua itu bohong.


"Dina sudah menjual semua barang yang kamu berikan. Dia berencana mengembalikan uang itu kepada orang yang berhak" ucap ayah Dina.


"Ayah minta kamu yang mengembalikannya. Ayah tidak mau ada masalah di kemudian hari yang melibatkan kami karena ulahmu" lanjutnya.


"Apalagi orang yang kamu pakai uangnya itu adalah keluarganya pemilik hotel tempat Dina bekerja sekarang. Kamu jangan macam-macam, Rakha. Suaminya saja pengusaha kaya yang sangat terkenal. Ibu tidak mau Dina dan kami kena imbas dari kelakuan kamu" ibunya Dina berujar dengan sangat kesal.


Rakha masih terdiam. Dia juga sebenarnya sudah sangat merasa ketakutan. Dia juga teringat kata-kata Luisa tentang kemungkinan bisnisnya dia bisa dihancurkan oleh Ran Curtis atau Rico Hoover. Mereka memang orang-orang yang punya pengaruh besar. Tentu saja bukan tandingannya.


Lalu dia melirik Dina sekilas. Dia baru tahu kalau Dina sekarang bekerja di hotel group Hoover.


"Surat lunas yang ditandatangani Lily juga harus kamu kembalikan. Karena kamu memaksanya menandatangani dengan menculiknya" Dina melirik sebal kepada Rakha.

__ADS_1


Ayah dan ibunya menoleh terkejut. karena Dina belum menceritakan mengenai hal ini.


"Apaa?? kamu menculik Lily? Aduuuh kamu tuh ya. Itu tindakan kejahatan" ibu Dina memekik panik.


"Jangan sampai nanti Dina keseret-seret. Ibu tidak akan tinggal diam kalau begini. Besok juga kamu harus segera kembalikan uang itu" Ibu Dina masih panik bercampur marah sambil tangannya mengurut keningnya yang terasa sakit.


"Pokoknya harus segera diselesaikan masalah ini" lanjut ibu Dina.


"Sabar, Bu. Pasti ini bisa diselesaikan. Menurut Dina,Lily kan orangnya baik. Dia pasti bisa memaafkan jika Rakha meminta maaf baik-baik" Ayahnya mencoba menenangkan.


"Semoga saja" gumam Dina.


"Ayah dan ibu tenang saja. Nanti saya selesaikan semuanya. Saya akan temui mereka untuk kembalikan uangnya dan meminta maaf" ucap Rakha sambil menundukkan kepala.


"Bagaimana kami bisa tenang? Perbuatan kamu seperti itu sangat menakutkan, tindakan kejahatan. Enak saja bilang tenang tenang" ibunya menggerutu.


"Sudah, bu. Yang penting sekarang Rakha minta waktu ketemu Lily dan keluarganya. Kalau bisa secepatnya" kata ayahnya Dina.


"Kamu minta tolong Jamie untuk bicara dengan pak Ran. Minta ijin bertemu Lily. Kemarin aku sudah buat janji untuk hari Kamis, tapi kata ayah seharusnya yang menemui mereka itu adalah kamu" ucap Dina.


Rakha bergegas meraih ponselnya dan menghubungi Jamie.


Sekitar lima menit dia bicara dengan Jamie.


"Jamie akan sampaikan ke Ran Curtis. Nanti dikabari lagi katanya" Rakha menyimpan kembali ponselnya di saku bajunya.


"Ya sudah kalau begitu. Kabari kami juga kalau sudah ada jawaban"ucap ayah Dina.


"Mengenai proses perceraian kalian. Jangan ditunda-tunda juga. Cepat selesaikan" lanjut ayahnya.


"Iya, ingat itu. Saya tidak mau punya menantu kayak kamu. Bikin malu saja. Bagaimana kalau orang-orang tahu soal ini? Mau ditaruh dimana muka kami?" Ibu Dina mendelik ke arah Rakha, kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang tamu seraya menarik tangan Dina.


"Silahkan kalau kamu mau pulang. Jangan lupa kabari kami kalau sudah ada kabar lagi"ayah Dina mengusir Rakha dengan halus.

__ADS_1


"Baik, ayah. Saya pamit. Nanti saya kabari lagi kalau sudah ada jawaban" sahut Rakha.


Dia bergegas pergi dengan motornya menuju kafe dekat kantor Jamie. Tadi di telepon, Jamie mengajaknya bertemu. Dia sudah tahu, pasti Jamie sudah tahu memgenai perbuatannya kepada Lily. Dan kemungkinan Jamie akan memarahinya habis-habisan.


"Gue di ruangan VIP, lo masuk saja. Bilang lo temannya gue"suara Jamie di telepon ketika Rakha tiba di parkiran dan meneleponnya.


Dari kata-katanya saja sudah jelas kalau Jamie sedang marah. Rakha menghela nafas. Bagaimanapun dia memang salah. Kalau dia tidak meminta maaf kepada Lily dan keluarganya, hidupnya sudah pasti akan hancur. Bisnisnya hancur, melamar kerja dimanapum sulit. Karena sepertinya namanya sudah diblacklist di semua perusahaan. Bahkan saat dia melamar di kantor Deni Sumarno lewat bantuan Luisa. Begitu dia kirimkan data dirinya, mendadak lowongan pekerjaannya sudah terisi. Padahal sebelumnya Luisa sudah memastikan lowongan itu masih tersedia dan ajudan Deni Sumarno memastikan temannya Luisa bisa bekerja di sana.


"Jadi...kamu sekarang mulai merasa menyesal, Kha?" Jamie bertanya. Sekarang nada bicaranya mulai melunak. Mungkin iba melihat penampilan Rakha yang kuyu dan terlihat stress.


Rakha mengangguk menjawab pertanyaan Jamie. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Jamie.


"Tidak usah begitu juga ke aku. Kamu salahnya ke bu Lily, bukan ke aku" ucap Jamie seraya menghela nafas gusar.


"Walaupun aku malu juga sih begitu tahu perbuatan kamu ke bu Lily. Bukan karena dia istri bossku. Tapi perbuatan kamu itu tindak kejahatan" Jamie menatap Rakha yang masih tertunduk malu.


"Sorry, Jam. Kalau aku bikin malu. Aku juga menyesal" Rakha berkata pelan.


"Terus maksud kamu mau minta ketemu dengan bu Lily dan pak Ran apa?"


"Mau minta maaf sekaligus kembalikan sebagian uangnya Lily. Sisanya akan kucicil kalau aku sudah bisa bekerja lagi" sahut Rakha. Dia mengangkat wajahnya perlahan.


"Oke, aku akan coba minta waktu ke pak Ran."


"Sebenarnya waktu Dina minta waktu untuk bertemu, mereka sudah membolehkan. Tapi karena kali ini kamu yang ingin bertemu, kupastikan dulu ya boleh atau tidaknya" ucap Jamie. Lama-lama dia merasa kasihan juga kepada Rakha. Terlihat putus asa dan kucel.


"Pak Ran dan bu Lily adalah orang-orang baik. Kalau kamu niatnya baik, aku rasa mereka dengan senang hati memaafkan kamu" ucap Jamie lagi.


"Ya, sudah. Sekarang kita makan dulu. Kamu mau makan apa? Aku traktir kamu makan siang"Jamie menekan tombol untuk memanggil pramusaji.


"Pilihlah mana yang kamu suka. Jangan sungkan. Kita sudah kenal lama kan?. Kalau kamu mau berubah menjadi baik, mungkin kamu masih bisa jadi temanku, Kha" Jamie menyodorkan buku menu. Rakha meraihnya. Tidak lama seorang pramusaji datang menghampiri mereka lalu mencatat pesanan mereka di tablet yang dipegangnya.


Rakha menatap Jamie ragu. Ternyata Jamie masih baik padanya. Kalau diperhatikan sekarang sikap Jamie sangat berbeda. Dulu yang dia tahu Jamie orang yang sangat sombong dan arogan. Tapi sekarang Jamie terlihat sangat baik mengatur emosinya.

__ADS_1


***


__ADS_2