Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
44. Saling Memaafkan dan Berbaikan


__ADS_3

"Sayang, kami pindah ke Ex***so ya. Melanjutkan meeting di sana. Supaya lebih leluasa" Ran menelepon Lily yang sedang berada di Farmers Market membeli buah dan beberapa bahan untuk membuat salad.


"Iya, Kak. Lily sedang beli sesuatu di farmers market. Ka Ran ada mau dibelikan sesuatu?"


"Mmmh..mungkin buah Plum, Ly. Sudah lama tidak makan buah itu"


"Baik, Kak. Nanti Lily belikan, ya" Lily memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Suasana supermarket tidak begitu ramai. Mungkin karena ini hari Senin dan masih siang. Kebanyakan orang belanja di akhir minggu saat libur bekerja atau sore sepulang bekerja. Dia dan Wini kembali melanjutkan obrolan mereka selama berbelanja.


Sementara itu di kafe Ex***so, Rico duduk berhadapan dengan Jamie. Ran sedang ke toilet.


"Aku minta maaf atas kejadian dulu di sekolah, Co" Jamie memulai pembicaraan. Rico meletakkan ponselnya yang sedari tadi dia lihat.


"Oke, Jamie. Itu kejadian masa lalu. Kita juga masih remaja, belum bisa berpikir jernih. Aku sudah maafkan kamu" sahut Rico.


"Terimakasih, Co" ucap Jamie.


"Supaya kamu tahu, aku tidak pernah merebut Anita waktu itu. Bahkan kenal dekatpun tidak" lanjut Rico lagi.


"Iya, akhirnya aku tahu. Aku yang salah faham" Jamie nampak menyesal dan malu.


"Kita saling memaafkan saja, ya. Mulai sekarang lupakan kejadian itu" Rico menyalami Jamie.


"Soal Wini. Kami dulu menikah karena dijodohkan. Kami tidak saling suka. Tidak saling mencintai" Jamie berkata pelan.


"Aku sudah tahu" sahut Rico


"Daaan...kami tidak pernah tidur di satu tempat tidur bersama. Aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya" Suara Jamie masih diucapkan dengan pelan.


Rico menghela nafas. Dia tidak pernah berpikir soal itu. Dia menyukai Wini, dia memang mencari tahu tentang Wini. Tapi tidak berusaha tahu tentang kehidupan pribadi rumahtangganya sewaktu bersama Jamie.


"Aku bahkan hampir tidak pernah pulang. Kecuali saat ada orangtua kami datang" lanjut Jamie.


"Semoga kamu dan Wini bahagia, Co. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Setelah dua tahun bersamaku dia banyak menderita. Beberapa kali aku pernah memukulnya saat mabuk. Tapi aku menyesali perbuatanku. Aku tahu, aku sangat bersalah kepada Wini" Jamie menundukkan kepalanya.


Rico kembali menghela nafas. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang dikatakan Jamie. Bagaimana Wini dipukul saat Jamie mabuk. Kalau bukan karena Jamie sudah meminta maaf tadi, rasanya dia ingin menghajar Jamie untuk Wini.


Kenapa perempuan-perempuan baik seperti Wini dan Lily harus bertemu dengan laki-laki tidak tahu diri dan kasar di masa lalu? Apakah para laki-laki itu tidak punya hati? Selintas pertanyaan itu muncul di kepala Rico.


Ketiga kalinya Rico menghela nafas. Dia menatap Jamie.

__ADS_1


"Sepertinya Wini sudah memaafkanmu juga. Dia sudah berdamai dengan masa lalunya bersamamu yang menyakitkan"


"Aku rasa, aku tidak punya hak untuk membalas perbuatanmu kepada Wini. Walaupun aku merasa marah saat mengetahuinya. Karena itu terjadi saat kalian masih sah sebagai suami istri, dan aku bukan siapa-siapa saat itu"


"Saat ini dan seterusnya, aku akan menjaga dia. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu dan menyakitinya lagi" ucap Rico penuh penekanan.


Jamie mengangguk.


"Ya sudah. Mulai sekarang kita lupakan semua kejadian pahit di masa lalu" ucap Rico.


"Terimakasih, Co" Jamie menghela nafas lega.


"Sama-sama" sahut Rico.


Dari kejauhan, Rico melihat Ran sudah berjalan menuju kafe tempat mereka duduk. Dia melihat banyak wanita memandangi Ran. Tapi Ran memang tidak pernah peduli dengan kekaguman para wanita kepadanya. Dia seolah tidak pernah merasa kalau dirinya mampu menarik hati banyak wanita. Apalagi sekarang sudah ada Lily, di matanya sepertinya hanya Lily, Lily dan Lily.


"Sepertinya kalian berbincang sangat seru" ucap Ran saat tiba di meja.


Rico dan Jamie tertawa. Sudah tidak ada kecanggungan di antara mereka berdua. Ran sangat senang melihatnya.


"Hanya mengenang masa sekolah saja. Biasalah, kenakalan anak remaja" jawab Rico.


Bertiga mereka tertawa. Lalu mulai melanjutkan meeting lagi. Suasana jadi hangat. Tidak seperti tadi di awal jumpa.


"Soal keinginanmu untuk menyewa space di hotelku. Masih tersedia dua ruangan yang displaynya menghadap ke luar hotel. Sekarang kukirim layout ruangannya via email ke kamu" Rico mengirimkan layout ruangan hotel Ferien ke email Ran.


"Kamu pelajari dulu. Tapi sebaiknya langsung datang saja ke hotel, supaya kamu bisa punya gambaran untuk desain outletmu nanti"


"Sabtu besok, acara peresmian hotel Ferien. Datanglah bersama Lily. Kalau Papa dan Mamamu berkenan hadir, ajaklah. Aku juga mengundang Papanya Lily. Hari ini undangannya akan dikirim oleh sekretarisku" Rico menyesap cappucinonya. Tiba-tiba dia mendapatkan satu ide di kepalanya. Tapi dia simpan saja dulu ide tersebut. Dia tidak mau terburu-buru. Dia harus tunggu sampai acara peresmian hotel Ferien selesai.


"Oh iya, kau juga datanglah, Jam. Nanti kukirim undangannya. Boleh kuminta alamat emailmu?" Rico berkata kepada Jamie.


"Oke, kuusahakan datang, Co. Terimakasih atas undangannya"


Jamie tidak menduga Rico akan mengundangnya di acara penting itu. Lalu dia menyebutkan alamat emailnya yang segera dicatat Rico dan dikirimkannya ke sekretarisnya sebagai daftar penerima undangan acara peresmian nanti.


"Angga juga hadir nanti" kata Rico.


"Baguslah, kita berkumpul di sana sekalian berlibur akhir pekan" sahut Ran di sela-sela mempelajari layout ruangan yang tadi dikirim Rico.


Meskipun Jamie bukan bertugas untuk area Bandung tapi sesekali Ran meminta pendapat kepada Jamie. Bagaimanapun Jamie adalah salah satu karyawan terbaiknya. Bahkan Ran memiliki rencana untuk memberikan posisi yang lebih baik lagi untuk Jamie, jika dalam satu tahun ini Jamie memberikan hasil kerja yang memuaskan.

__ADS_1


Mereka bertiga terlibat diskusi yang seru. Sampai tidak sadar kalau Lily dan Wini sudah tiba.


"Sudah selesai belanjanya?" tanya Ran. Dia melihat kantung belanja Lily yang ukurannya tidak terlalu besar.


"Sudah. Hanya beli beberapa buah untuk membuat salad"Jawab Lily.


"Kenapa lama sekali? Kukira kalian memborong semua isi toko" guman Rico diikuti tawa semuanya.


"Wini bahkan tidak membeli apapun" Lily tersenyum malu.


"Aku tinggal sendiri. Di apartemen makanan sudah disediakan oleh maid. Memang tidak ada yang perlu dibeli" sahut Wini. Semalam dia sudah menginap si apartemen yang disediakan Rico. Ada seorang maid disana. Semua sudah tersedia dengan lengkap.


"Aku kan sudah bilang, kamu boleh beli apapun yang kamu suka. Tidak harus makanan juga" Rico bicara kepada Wini dengan lembut membuat Jamie tidak enak hati. Selama ini dia tidak pernah memberikan uang apapun kepada Wini. Dulu dia berpikir Wini bekerja, pasti punya uang. Lagipula mereka hanya terpaksa menikah, jadi dia tidak punya kewajiban menafkahi Wini.


"Aku memang tidak ada yang perlu dibeli, bang" bisik Wini malu.


Rico menggelengkan kepalanya.


"Selama itu keliling mall....hanya untuk membeli buah? Kalian ada-ada saja" gumam Rico. Ran dan Jamie tertawa.


"Kami kan hanya jalan-jalan sambil bertukar cerita, bang" Lily bicara lalu duduk di sebelah Ran.


"Jarang-jarang mereka bisa jalan-jalan di mall berdua. Hanya jalan-jalan saja sudah membuat mereka bahagia. Lihat saja wajah mereka, ceria sekali" ucap Ran sambil tersenyum.


Lily nampak senang Ran membelanya. Rico kembali menggelengkan kepalanya melihat Ran yang membela Lily. Apalagi saat Ran memberikan perhatian kepada Lily.


"Minumlah kalau haus. Atau mau kupesankan lagi?" Ran membantu Lily memegang gelas cappucino ice dan menyodorkan ke bibir Lily.


Mungkin nanti jika dia sudah menikah juga akan seperti itu. Pikir Rico dalam lamunan seraya menatap Wini dengan senyum menawannya. Wini jadi salah tingkah dibuatnya.


"Ehemmm...jadi jumat malam sepertinya kami datang ke hotelmu, Co. Sekalian menginap di sana sampai hari Minggu. Bisa kan?" ucap Ran membuat Rico mengalihkan tatapannya dari Wini. Tadi Lily meminta Ran untuk menghentikan kelakuan Rico yang sudah membuat Wini salah tingkah tidak karuan.


"Oooh..iya... tentu saja boleh. Nanti kami siapkan untuk kalian" Jawab Rico tersadar dari lamunananya.


Lily dan Wini bertatapan sambil tersenyum. Sementara Ran hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rico. Sedangkan Jamie serba salah harus bagaimana. Masalahnya dia tidak ada pasangan. Akhirnya dia menyeruput secangkir coffee lattenya menghilangkan rasa serba salahnya.


"Lily pesan minum ya, Kak. Minuman Kak Ran Lily habiskan" Lily berdiri dari duduknya. Ran mengiyakan.


Dia mengajak Wini memesan minuman ke meja kasir. Karena nampaknya Ran, Rico dan Jamie masih lanjut membahas pekerjaan.


***

__ADS_1


__ADS_2