
"Cepat kamu tandatangani surat itu" Rakha kali ini tidak berteriak. Tapi berbicara dengan penuh kekesalan. Lily semakin gemetar.
"Ini kamu pakai mobil siapa, Rakha?"Tanya Lily sambil membaca surat pernyataan dari Rakha.
"Mobil Kakakku yang memang untuk taksi online. Mobilku ditarik leasing tadi pagi, karena tidak terbayar sudah tiga bulan. bisnisku tidak berjalan baik. Jadi terpaksa aku menjadi pengemudi taksi online untuk menambah penghasilan" jawab Rakha. Lily mengernyit, uang sebanyak itu bisa habis.
"Setiap sore aku tunggu kamu, Ly. Kamu susah ditemui, sombong kamu sekarang. Tapi, akhirnya keberuntungan berpihak padaku sekarang" Rakha tertawa. Mungkin pikirannya agak terganggu, pikir Lily ngeri melihatnya.
"Uang sebanyak itu kamu habiskan untuk apa?"Lily penasaran.
"Aku banyak keperluan. Biaya pernikahan, membeli rumah, membeli mobil..aku butuh semua itu. Kalau bukan dari kamu, aku dapat uang darimana?" Rakha tertawa seperti orang tidak waras.
"Kamu seperti orang sakit, Rakha" gumam Lily merinding.
"Terserah kamu mau bilang apa. Mana suratnya? sudah kamu tandatangani?" Tanya Rakha memaksa. Lily menyerahkan surat itu dengan tangan gemetar.
Rakha menerimanya lalu tersenyum puas setelah melihat tandatangan Lily sudah ada dalam surat itu.
"Bagus, Ly. Kamu memang gadis baik hati dan penurut. Sayang sekali kamu sudah tidak bisa lagi aku bohongi. Padahal aku masih perlu uang kamu" Ucap Rakha membuat Lily muak.
Sementara Angga, Ran dan Rico berusaha menahan emosi dengan apa yang mereka dengar. Mereka berharap Lily baik-baik saja dan tidak diapa-apakan oleh Rakha.
"Perbuatan kamu ini tindak kejahatan, Rakha. Kamu tidak takut? Kamu menculikku dan memaksaku menandatangani surat lunas hutang" Tiba-tiba Lily merasa punya keberanian.
Rakha berdehem. "Kamu tidak ada bukti, Ly" sahut Rakha arogan.
"Jangan katakan kepadanya kalau kami mendengar dan merekam obrolan kalian, Ly" Ran mengingatkan. Diiyakan oleh Angga dan Rico.
"Aku sudah tandatangan, sekarang turunkan aku" Pinta Lily khawatir, karena suasana di luar gelap.
"Tenang, Ly. Karena kamu sudah bisa diajak kerjasama, aku berbaik hati mengajakmu jalan-jalan dulu. Karena dulu kan kita jarang pergi jalan-jalan. Nanti di dekat bogor aku akan menurunkan kamu tidak jauh dari rest area. Kamu hanya perlu sedikit berjalan kaki" ucap Rakha seraya mempercepat laju mobilnya menembus jalanan ke arah bogor.
Lily menatap jalanan gelap di luar mobil. Dia mencoba mengenal jalanan sekeliling. Memastikan dia sudah ada di mana. Kepalanya terasa sakit sekali.
"O iya. Kamu mau mendengarkan musik, Ly? aku punya lagu kesukaan kamu. Kamu santai saja sambil nikmati lagu yang kuputar khusus untukmu"
True colors-nya Cyndi Lauper. Lily kali ini menangis mendengarnya. Dia sangat takut Rakha akan mencelakakannya. Dia takut Rakha terkena gangguan jiwa. Karena dia terlihat sangat aneh dan menakutkan.
"Lily...kamu usahakan tetap sadar ya" Ran berkata pelan di telepon.
"Oke, Lily yang manis....Aku turunkan kamu di sini ya. Kamu hanya perlu jalan kaki sebentar saja ke rest area" ucap Rakha seraya mengecilkan volume speaker di mobilnya.
"Rakha, tolong turunkan aku di rest area. Aku tidak kuat kalau harus jalan kaki" Lily nerusaha menahan rasa sakit di kepalanya. Sekarang perutnya juga sakit. Sepertinya asam lambungnya naik.
"Kamu beri aku uang tunai satu juta, Ly. Nanti aku turunkan di rest area" ucap Rakha. Dia tersenyum licik.
__ADS_1
"Tindakan kamu ini pemerasan" Ucap Lily.
Rakha hanya tertawa. Lily menatapnya benci.
"Kasih saja, Ly. Yang penting kamu selamat" kata kak Angga. Ran dan Rico masih terdiam. Mereka sangat khawatir jika pria tidak waras itu berbuat macam-macam.
"Ayo berikan uang tunainya, atau kamu harus berjalan kaki ke dalam rest area" Rakha menagih.
Lily mengambil uang di tasnya. Lalu menyerahkan sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu.
"Benar-benar gadis kaya yang penurut. Sayang kita sudah tidak bersama lagi" Rakha tersenyum culas.
Rakha melajukan mobil menuju rest area dan berhenti di depan sebuah kedai kopi franchise terkenal seIndonesia.
"Tidak ucapkan terimakasih karena sudah diantar? Biasanya kamu selalu sopan" Rakha berkata saat Lily turun. Lily menatap wajah Rakha lekat dengan tajam.
Rakha tersenyum sinis.
"Oke, Ly. Byee" Dia berlalu meninggalkan Lily dalam suasana hati dan pikiran masih kacau dan badan lemas setengah gemetar. Nyeri di kepala dan perut yang sangat hebat semakin terasa.
"Lilyyyy...kamu cepat cari tempat duduk. Tenangkan diri kamu, Ly. Katakan kamu disebelah mana?" Rico bertanya dengan cemas.
" Aku lihat di GPS, kamu di sekitaran rest area KM 62, Aku sebentar lagi sampai, Ly" Ucap Rico lagi.
"Kakak juga sedang menuju ke sana, Ly" Ucap Kak Angga.
Lily masih terdiam. Dia duduk dikursi di dalam kedai kopi mencoba menenangkan diri. Mencoba menahan tangisnya agar tidak menjadi pusat perhatian orang banyak.
"Ly, kamu dimana? Aku sudah masuk rest area" Rico bertanya.
"Di kedai kopi Memori, Bang" jawab Lily
Tidak lama mobil Rico dan mobil orang suruhannya tiba. Rico lekas mengajak Lily ke dalam mobil dan pegawainya memesankan minuman hangat untuk Lily.
Di dalam mobil Lily menangis. Menumpahkan segala kepanikan dan ketakutan yang sedari tadi dia tahan.
Ran di kamar sebuah hotel di Korea memukul dinding lemari dengan geram. Ingin rasanya dia menghajar laki-laki bajingan bernama Rakha itu. Beraninya dia menyakiti calon istrinya. Lalu terisak, karena jarak yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk Lily. Dia tidak terima Lily dihina oleh manusia itu.
"Ran, are you oke?" Tanya Rico. Mereka berempat masih terhubung dalam sambungan telepon.
Ran masih terdiam dalam isaknya.
"Ran, kamu sudah menolong Lily dengan memberitahu kami keadaan Lily. Itu sudah usaha terbaik yang kamu lakukan untuk Lily" Angga berucap.
"Iya, Ran. Selanjutnya di sini kami sebagai kakaknya yang urus Lily" timpal Rico.
__ADS_1
"Urusan si brengsek itu, biar aku saja nanti" desis Rico lagi dengan geram.
"Bagaimana Lily sekarang?" Tanya Ran khawatir.
"Lily sudah di mobil Bang Rico. Kak Ran tenang saja, ya. Lily sudah aman." jawab Lily dengan suara masih bergetar.
"Maafkan aku ya, Ly. Tidak bisa temani saat kamu dalam keadaan seperti ini"
"Tidak apa-apa Kak Ran. Yang penting Lily selamat"sahut Lily pelan.
Lily menyeruput teh hangat yang dibawakan pegawainya Rico. Lily bersandar di kursi tengah. Rico mengambil selimut dari kursi belakang yang masih terbungkus kemasan laundry. Membukanya lalu menyelimuti Lily. Lily jadi terharu. Karena Lily tahu perasaan Rico padanya.
"Bagaimana sekarang? Sudah lebih baik?" tanya Rico. Lily mengangguk.
"Ga, sebaiknya kamu balik arah saja supaya tidak kejauhan menyusul kesini. Lily sekarang aku antar pulang" kata Rico kepada Angga.
"Oke aku putar balik arah Bandung lagi. Kita ketemu di rumah. Hati-hati, Co. Titip jaga Lily" ucap Angga.
"Kamu juga, Ran. Istirahatlah. Nanti kamu lanjut chat berdua Lily saja"Ucap Rico ke Ran.
" Oke. Titip Lily. Thank you , Co"
Mobil Rico melaju menuju Bandung. Rico sesekali melirik Lily di kursi tengah yang sedang terduduk lemas dengan selimut menutupi hampir seluruh badannya. Dia sangat sayang dengan gadis itu. Hanya saja Lily bukan untuknya. Tapi sampai kapanpun, Rico akan selalu sayang padanya.
***
Perjalanan menuju Bandung lumayan ramai di jalan toll. Karena memang di penghujung pekan, Bandung selalu ramai dikunjungi masyarakat dari luar kota.
Tiba-tiba Rico mendengar Lily bergumam tidak jelas.
"Ly? Kamu menggigil?" Tanya Rico. Lily diam saja.
"Aku besarkan suhu pendinginnya ya" ucap Rico. Tidak lama kemudian Lily semakin menggigil. Padahal suhu dalam mobil sudah tidak terlalu dingin.
Rico menghubungi Angga dan Ran. Mereka menyarankan agar Lily lekas dibawa ke rumah sakit saja. Selain agar Lily segera diobati dokter, juga menjaga agar Papa tidak kaget melihat keadaan Lily.
Rico memasuki rumah sakit Cahaya hati, tempat sepupunya, Rachel, bertugas. Sebelum ke sana, Rico sudah mengabari Rachel. Begitu sampai, Rachel yang sedang bertugas sebagai dokter jaga sudah menunggu di pintu IGD dengan brankar di sampingnya bersama satu orang perawat perempuan.
Begitu sampai, Lily diam saja. Rico memanggil Lily namun tidak bersuara. Rachel segera memeriksa Lily.
"Dia pingsan. Kamu apakan dia?" Tanya Rachel dengan tatapan menghakimi Rico seraya bergegas membawa Lily ke ruang IGD. Meninggalkan Rico yang shock. Lily pingsan? Ya Tuhaann. Dan kenapa Rachel seolah menuduh dirinya yang membuat Lily pingsan, gumam Rico kelimpungan.
Rico segera menghubungi Angga dan Ran.
***
__ADS_1