Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
47. Lily Pingsan


__ADS_3

Lily menghela nafas lega setelah Dina pergi meninggalkan mereka. Akhirnya semua selesai tanpa merugikan siapapun.


Sementara Wini masih tidak percaya dengan apa yang tadi dia dengar di rekaman. Sebanyak itu uang Lily dipakai Rakha dan sejahat itu Rakha ke Lily. Juga perlakuan Dina kemarin yang sangat mengganggu. Tapi Lily masih bisa tidak marah. Dia masih bisa sangat sabar menghadapinya. Wini hanya bisa memeluk bahu Lily. Sahabatnya itu memang terlihat lemah dengan tidak membalas apapun perbuatan Rakha dan Dina. Tapi justru sebenarnya dia sangat kuat karena mampu mengendalikan emosinya dan memaafkan mereka.


"Semoga tidak ada lagi pengacau untuk kalian berdua" Ucap Rico seraya menghela nafas.


"Semoga saja" sahut Ran. Dia juga merasa lega.


"Ran, kapan kamu bertemu Luisa?" tanya Rico. Ran dan Lily menoleh bersamaan ke arah Rico.


"Minggu lalu bersama Lily di acara launching produk brand Freddo. Tapi itu tidak sengaja bertemunya. Aku juga nyaris tidak ingat kepadanya. Dia menyapaku terlebih dahulu" jawab Ran.


"Kau bertemu dengannya?" tanya Ran kepada Rico.


"Iya, hari kamis pekan kemarin. Aku memanggilnya menemuiku di Blue Planet club punya Papi. Dia salah satu yang berpotensi menjadi pengacau bagi kalian. Tapi sudah kubereskan" sahut Rico.


"Bagaimana kamu tahu itu?" tanya Ran heran.


Rico tertawa. Padahal dia belum menceritakan apapun. Tapi dia merasa lucu jika ingat ekspresi wajah Luisa saat itu. Apalagi saat Luisa dengan patuh meminum susu UHT rasa strawberry.


Rico kemudian bercerita soal Luisa yang memposting fotonya dan Ran berdua. Rico sempat meng-capture postingan itu sebelum dia menyuruh Luisa menghapusnya. Dia memperlihatkan hasil capturenya. Lalu dia bercerita saat dia menyuruh Luisa menghapus foto itu. Tentu saja membuat Ran, Lily dan Wini tertawa. Rico juga kembali tertawa, karena dia masih terbayang wajah Luisa saat meminum susu UHT.


"Terimakasih, Co. Kamu memang sahabat baikku dan abangnya Lily yang keren" ucap Ran kepada Rico.


Lily tidak menyangka bang Rico begitu peduli padanya dan Ran. Sampai turun tangan menghalau Luisa.


"Bang Rico memang abang Lily yang baaiiik sekali. Terimakasih, bang" ucao Lily.


"Sama-sama,Ran..Lily" sahut Rico


"Makanya kalau ganteng itu sadar diri, Ran. Jangan bersikap seolah-olah tidak ganteng" kata Rico kembali mengundang tawa.


"Menurutku aku biasa saja. Jangan berlebihan" kata Ran. Dia menggelengkan kepala, heran dengan perkataan Rico.

__ADS_1


"Kamu sering-seringlah bercermin, Ran. Supaya bisa lihat wajahmu seperti apa. Lily coba bantu suamimu nanti di rumah beri cermin" ucap Rico seraya tertawa. Ran memang seperti itu. Selalu bersikap biasa saja, sederhana dan santai. Padahal banyak wanita di luar sana yang tidak bisa santai jika melihatnya.


***


Selepas dari kantor Rico. Ran dan Lily berangkat ke kantor Ran. Nanti Lily pulang ke apartemen dijemput oleh teh Yuni, setelah dia menemani Ran makan siang di kantor.


Lily merasa kepalanya sedikit pusing dan merasa tidak enak badan. Hanya saja dia tidak mengatakannya kepada Ran. Khawatir Ran malah ikut pulang dan mengabaikan pekerjaannya. Padahal Lily tahu nanti sore Ran ada meeting mengenai progres pembukaan outlet di Korea yang sudah mulai berjalan pembangunannya.


Mereka sudah sampai di lobi kantor. Lily berjalan di samping Ran. Saat di dalam lift, tiba-tiba Lily merasakan udara disekitarnya serasa habis, dia merasa pengap dan sesak nafas. Pandangannya seperti kabur dan menguning. Lily seketika memegang tangan Ran supaya tetap sadar. Tapi dia tidak kuat, seketika semua terasa gelap.


Lily membuka matanya yang terasa berat dengan perlahan. Samar-samar dia melihat Ran sedang berbicara dengan beberapa orang, sepertinya dokter dan perawat. Dia juga melihat botol cairan infus menggantung di samping tempatnya tidur. Dan tangannya sudah terpasang jarum infus. Sepertinya dia ada di ruangan IGD rumah sakit.


Ran bergegas menghampiri Lily begitu dia tahu Lily sudah sadar.


"Kamu istirahat saja, sayang. Jangan bangun dulu. Tadi kamu pingsan" Ran duduk di sebelah Lily.


Lily mengangguk. Dia merasa badannya sudah tidak terlalu lemas dan kepalanya juga sudah tidak pusing.


"Kan Ran bukannya harus meeting sore ini?" tiba-tiba Lily teringat jadwal meeting Ran.


"Ya ampuun. Kenapa kamu malah memikirkan soal meetingku? Pikirkan dirimu dulu supaya pulih ya. Tidak usah pikirkan yang lain-lain" Ran mengusap perlahan kepala Lily.


Seorang wanita berpakaian dokter dan dua orang perawat yang tadi berbincang dengan Ran datang menghampiri Lily dan Ran dengan senyum mengembang.


"Oh iya. Ini dokter Jihan. Menurut dokter kamu harus diperiksa dulu, sayang. Silahkan, dokter" Ran berdiri mempersilakan dokter.


"Halo, Bu Lily. Bagaimana perasaannya sekarang? Apakah sudah merasa lebih baik?" tanya dokter Jihan.


"Sudah tidak terlalu lemas dan kepala sudah tidak pusing, dokter" jawab Lily.


"Syukurlah. Kalau dari tanda-tandanya, sepertinya bu Lily sedang hamil. Untuk memastikannya, nanti tes urin dan darah dulu ya, bu" kata dokterJihan.


Ran dan Lily saling memandang terkejut namun penuh harap. Ran tersenyum bahagia. Begitupun Lily.

__ADS_1


Lalu seorang perawat menanyakan beberapa informasi terkait dengan jadwal haidnya Lily dan keluhan yang dirasakan Lily belakangan ini. Kemudian memeriksa tekanan darah dan denyut nadi.


"Kuat ke toilet untuk ambil urin?" tanya dokter.


"Kuat, dokter" jawab Lily. Dia sangat bersemangat. Dia ingin segera memastikan hasilnya. Lily memang seharusnya haid sekitar dua hari lalu. Namun dipikirnya mundur beberapa hari itu biasa.


Perlahan dia dibantu Ran ke toilet.


"Nanti setelah ada hasilnya. Kami langsung sampaikan. Jika hasilnya positif hamil, maka lanjut pemeriksaan USG" kata dokter Jihan setelah Lily selesai dari toilet.


"Sambil menunggu hasilnya, bu Lily istirahat dulu ya" ucap dokter Jihan kepada Lily.


Lalu dokter Jihan pergi meninggalkan Lily dan Ran yang saling berpegangan tangan.


"Kita tunggu saja hasilnya ya. Apapun hasilnya yang penting kamu sehat" Ran kembali mengusap kepala Lily. Lily mengangguk.


Mereka berdua memang tidak memaksakan harus segera punya bayi. Walaupun mereka tetap berusaha. Namun tidak merasa terbebani.


"Kamu mau makan atau minum apa? Biar aku minta tolong teh Yuni belikan. Ada teh Yuni di ruang tunggu" Ran menawari Lily.


"Lily mau croisant keju kismis dan croisant coklat almond dari kafe Blume, kak" jawab Lily.


"Kalau begitu, kakak minta anak kafe kirimkan saja ya ke sini. Selain itu ada lagi?" Ran menatap Lily dengan heran. Croisant coklat almond adalah kesukaan Ran. Lily bahkan kurang menyukainya. Kesukaan Lily hanya croisant keju kismis.


"Lily juga mau buah blueberry, raspberry, strawberry dan cerry merah ya, ka" lanjut Lily.


"Aaahh..iya. Nanti biar dibawakan juga dari kafe. Selalu ada stock buah-buahan itu di sana" sahut Ran masih merasa agak aneh. Itu semua memang kesukaan Lily. Tapi Lily tidak pernah seantusias itu terhadap makanan. Apalagi sekarang sedang sakit. Rasanya aneh melihat Lily dalam kondisi sakit tapi ingin makan banyak.


Ran segera mengirimkan pesan kepada siska, manajer kafe Blume untuk segera mengirimkan semua permintaan Lily.


Lalu Ran memijat perlahan kaki Lily. Dia mencoba menenangkan Lily dari rasa gelisah menunggu hasil tes. Karena diapun merasakan kegelisahan yang sama.


***

__ADS_1


__ADS_2