Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
55. Berlibur di Hotel Ferien 2


__ADS_3

Selain untuk keluarga, hotel ini pastinya diminati oleh anak muda  karena sangat insta-worthy. Setiap sudut di hotel ini bisa dijadikan latar yang menghasilkan foto-foto cantik untuk diposting di media sosial instagram. Lukisan-lukisan keren di setiap sudut berbaur dengan aneka bucket bunga dan tanaman hias.


Acara peresmian baru saja dimulai dengan diawali sambutan dari Rico selaku pemilik hotel dan sambutan dari bapak pejabat pemerintahan setempat. Kemudian di resmikan dengan gunting pita diikuti alunan alat musik angklung khas Jawa Barat yang membawakan lagu sunda berjudul Manuk Dadali dan Bubuy Bulan.


Ada beberapa stasiun televisi swasta yang meliput acara peresmian. Juga beberapa media berita online.


Di salah satu sudut lobi hotel, disediakan wall of fame untuk para tamu undangan berfoto.


Lily dan Ran sudah duduk di kursi yang sudah disediakan untuk para undangan. Rupanya undangan yang hadir cukup banyak.


Papa, Angga dan Andin baru saja tiba dan langsung bergabung dengan Lily dan Ran. Papa Adam dan Mama Hana sudah tiba sejak jam enam pagi tadi dan sempat sarapan bersama Lily dan Ran.


"Papa senang sekali mendengar berita ini. Sebentar lagi Papa dikasih dua cucu dari Angga dan Lily" mata Papa berkaca-kaca ketika Lily memberitahu Papa kalau Lily sedang hamil.


"Semoga Papa sehat dan panjang umur. Papa ingin melihat anak-anak kalian" ucap Papa penuh harap.


"Aamiin. Lily selalu doakan Papa sehat terus" Lily menempelkan tangan Papa di pipinya.


Papa mengelus kepala Lily dengan penuh sayang. Anak gadisnya yang manja itu kini sudah mau jadi seorang ibu. Masih teringat jelas betapa manjanya Lily kepada Mamanya. Namun sejak Mamanya meninggal, Lily memaksa dirinya untuk tidak cengeng dan harus bisa menjalani hidup tanpa Mama. Mengurung diri berhari-hari di kamarnya mengobati kesedihan dan mengatasi rasa kehilangan yang sangat mendalam. Akhirnya meminta Papa mengijinkannya melanjutkan kuliah di Jakarta sambil bekerja. Seolah ingin membuktikan bahwa dia bukan anak manja yang tidak mandiri. Dan Lily berhasil.


Papa menghela nafas, menetralkan rasa sedih dan bahagia yang menyeruak bersamaan.


"Papa sedih karena teringat Mama?" tanya Lily. Dia sudah hafal bahasa tubuh Papa dan helaan nafasnya jika sedang sedih teringat Mama.


Papa mengangguk.


"Papa sangat mencintai Mama?" tanya Lily lagi.


Papa kembali mengangguk.


"InsyaaAllah Mama sudah tenang di sana. Semoga diberikan tempat terbaik oleh Yang Maha Kuasa" ucap Papa menepuk tangan Lily dengan kedua tangannya.


"Aamiin..."ucap Lily berbisik.


Mereka berbincang tentang hal-hal lainnya, karena cukup lama juga Lily tidak pulang.


Lily ijin pada Papa untuk mencari Ran yang tadi pamit untuk mengambil ponsel yang tertinggal di kamar. Sekalian Lily juga mau ke toilet.


Lily melihat Ran sedang berbincang dengan Rico dan beberapa tamu lain di dekat kolam renang. Lily akhirnya memilih melihat-lihat angklung dan beberapa oleh-oleh khas Jawa Barat di salah satu sudut area acara. Baru saja melangkah Lily melihat Jamie yang sedang duduk dan memperhatikan Wini dikejauhan. Wini sedang sibuk menjelaskan tentang hotel Ferien kepada wartawan dari stasiun televisi swasta. Jamie terlihat begitu mengagumi Wini. Wini memang nampak pintar dan percaya diri. Sangat berbeda dengan Wini yang sewaktu menjadi istri Jamie.


"Sayang, kamu di sini rupanya" suara Ran tiba-tiba sudah ada di belakang Lily.

__ADS_1


"Iya, tadi aku ke toilet. Lalu mencari kak Ran. Tapi rupanya kak Ran sedang asik ngobrol dengan bang Rico dan tamu yang lain" sahut Lily.


"Ooh, itu tadi teman kami sewaktu di Jepang. Banyak juga yang hadir ternyata. Seperti reuni"


"kak Angga dan Andin mana? koq tidak kelihatan?" tanya Ran mencari Angga.


"Tadi kak Andin perutnya agak keram. Jadi balik lagi ke kamar untuk istirahat. Barusan Lily chat, katanya sudah membaik" jawab Lily seraya menggandeng Ran melihat-lihat lobi yang diubah menjadi galery.


"Syukurlah, kalau sudah membaik" sahut Ran.


Banyak Lukisan dipajang di sana. Dua puluh diantaranya karya Ran. Ide memajang lukisan itu dadakan tadi pagi menurut Rico. Pada saat Papa Adam membawa mobil khusus untuk mengangkut semua lukisan.


Awalnya hanya pameran kesenian Sunda dan oleh-oleh saja. Namun untuk menambah ramai suasana, lukisan-lukisan itu sekalian saja dipamerkan sebelum di pasang di gedung tiga.


Setelah acara gunting pita, Rico juga melakukan serah terima lukisan-lukisan itu dari Ran kepadanya.


Lily mencolek pinggang Ran, lalu mengarahkan matanya kepada Jamie yang masih duduk memperhatikan Wini.


"Penyesalan memang selalu datang di akhir" Ran bergumam. Lily menatap Ran.


"Dari tatapannya, aku tahu kalau Jamie sedang menyesal melepaskan Wini yang sekarang terlihat sangat memukaunya. Dulu mungkin Wini tidak menarik baginya. Tentu saja, karena dulu Wini tidak bahagia. Wajahnya pasti selalu diselimuti kesedihan." Ran mencoba menilai dari sudut pandangnya.


"Sekarang Wini bahagia. Karena Rico memberikan support sehingga Wini merasa percaya diri dan berharga. Dia merasa punya value. Lihat saja wajah dan sinar matanya sekarang. Terlihat optimis dan bahagia" ucap Ran.


"Bukan hebat, sayang. Itu kan bisa dipelajari. Aku sebagai pemimpin perusahaan harus punya kemampuan menilai karakter seseorang. Orang-orang yang kutemui juga berbagai macam karakternya"


"Seperti aku bisa mengetahui perasaan Rico kepadamu" ucap Ran sambil terkekeh membuat Lily membelalakan matanya.


"Maksud kak Ran?" tanya Lily memastikan maksud ucapan Ran.


"Sesayang itu dia ke kamu. Bukan hanya sekedar sayang kakak ke adik. Tapi dia pernah jatuh cinta padamu" Ran memeluk pinggang Lily erat.


"Tapi dia takut kamu akan menjauh jika kamu tahu kalau dia jatuh cinta padamu. Meskipun sebenarnya kamu tahu perasaannya kepadamu, dan kamu memilih pura-pura tidak tahu" Ran mencubit pipi Lily gemas.


"Agak rumit ya. Tapi kenyataannya seperti itu kan?" Ran tetap menggandeng Lily menyusuri lobi.


"Kurasa, Kak Ran adalah seorang cenayang" gumam Lily takjub.


Ran tergelak mendengarnya.


"Aku mengenal Rico dengan baik. kami tiga tahun bersama setiap hari selama di Jepang. Meskipun dia sering kelayapan main, tapi dia pasti pulang ke rumah nenek. Tidur di kamarku. menceritakan segala hal. Apartemennya malah nyaris tidak pernah ditempati"

__ADS_1


"Cara dia menatapmu, mengajakmu bicara, sikapnya yang sangat menjaga dan melindungi diri dan kehormatanmu, itu cukup bagiku untuk tahu perasaan sebenarnya kepadamu. Dia menganggapmu seperti sebuah berlian di dalam kotak kristal yang rapuh"


"Dia hebat, bisa meredam rasa sedihnya dengan sempurna. Karena rasa sayangnya ke kamu sangat dalam" Ran mengajak Lily keluar dari lobi. Mereka menuju kolam renang.


"Kenapa Kak Ran baru sekarang membicarakan soal ini ke Lily?" tanya Lily. Dia sangat kagum dengan kata-kata Ran yang benar semuanya.


"Baru kepikiran membicarakannya denganmu. Karena selama ini aku sangat sibuk dengan perasaanku ke kamu. Hatiku terlalu bahagia sepertinya setelah menikah" kata Ran membuat pipi Lily merona.


Jamie melintas di depan mereka.


"Jamie..." panggil Ran.


Jamie menoleh, baru menyadari bahwa ada Ran dan Lily di dekatnya.


"Sendiri saja?" tanya Ran.


"Bersama orangtua, pak. Itu mereka sedang berbincang dengan orangtua Wini" jawab Jamie. Tangannya mengarahkan ke salah satu meja. Nampak kedua orangtua Jamie dan orang tua Wini sedang berbincang hangat. Sangat akrab.


"Oke, Jam. Bersenang-senang, ya. Nikmati liburannya" ucap Ran. Jamie mengangkat ibu jarinya seraya tersenyum lalu berjalan ke arah meja kedua orangtuanya.


Mereka memanggil Jamie rupanya.


Ran menghela nafas.


"Semoga saja tidak ada kejutan istimewa dari Rico ya, sayang. Yaa meskipun ada, semoga saja Jamie dan orangtuanya kuat dan berlapang dada" ucap Ran.


"Kejutan apa? Kak Ran sudah seperti cenayang betulan" Lily tertawa pelan.


Ran justru ikut tergelak melihat ekspresi Lily.


"Bukan cenayang, sayang. Aku memang hafal Rico seperti apa. Sepertinya dia akan melamar Wini malam ini" bisik Ran membuat Lily membulatkan matanya.


"Waaah kalau itu terjadi, Lily sangat senang" Lily memekik pelan. Lalu menarik tangan Ran menuju meja untuk menikmati hidangan.


"Sekarang, kalau hati senang bawaannya lapar, Kak. Kita makan dulu ya"


Ran hanya bisa menuruti kemauan Lily. Mana sanggup dia menolak keinginan Lily. Apalagi sekarang Lily sedang hamil.


Di sudut lain Papa sedang berbincang dengan seorang wanita.


***

__ADS_1


"


__ADS_2