
Lily duduk di atas rumput beralaskan tikar dan karpet lembut di taman depan rumah. Di hadapannya ada seorang bayi mungil bermata silver. Di sampingnya ada Ran yang ikut bercengkrama dengan bayi mungil itu. Sesekali mereka tertawa melihat respon putra mereka yang berusia 5 bulan.
Lima bulan yang lalu Lily melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Kaisar Kenzo Arjuna Curtis.
Mereka sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Karena Papa sudah ada tante Gita yang menemaninya. Sesekali mereka pun masih datang dan menginap di rumah papa Lily dan papa Ran bergantian. Atau mereka yang didatangi oleh para kakek dan neneknya Kaisar.
"Iya, Co. Mampir saja kemari. Bagaimana persiapannya lancar?" Ran menerima telepon dari Rico.
"Syukurlah kalau sudah beres semua"
"Ayo kesinilah. Kami tunggu kalian" Ran mengakhiri pembicaraan. Tidak lama sambungan terputus.
"Bang Rico mau kesini? sama Wini?" tanya Lily yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Ran.
"Senang rasanya melihat Wini menemukan pria yang menyayanginya dengan tulus dan memperlakukannya sebagai ratu" Lily tersenyum bahagia. Ran ikut tersenyum seraya memeluk Lily.
"Seperti Lily yang selalu diperlakukan sebagai ratu oleh kak Ran" Lily membalas pelukan Ran.
Tidak lama terdengar suara pintu gerbang dibuka oleh pak Jul, satpam rumah. Nampak mobil Rico memasuki halaman.
"Koq cepat sekali sampainya?" tanya Ran seraya menghampiri begitu Rico membuka jendela mobilnya.
"Tadi memang kami sudah beres dari hotel. Lagipula Jarak dari hotel ke rumah kalian ini kan hanya satu kilometer. Tentu saja kami cepat sampai" jawab Rico.
"Lily......Senangnya lihat kamu sudah jadi seorang ibu" Wini memeluk Lily.
"Haloo Kaisar, kesayangan tante Wini. Kamu tampan sekali siih" Wini berbicara penuh sayang kepada Kaisar. Bayi mungil itu menatap Wini sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Bagaimana persiapan acara pernikahan kalian?" tanya Lily. Dia mengajak Wini duduk di sampingnya.
Wini tersenyum bahagia dengan mata berbinar. "Alhamdulillah sudah rampung, Ly. Bang Rico memang sudah menyiapkan orang-orangnya untuk mengurus serapi mungkin. Jadi kami hanya perlu koreksi kekurangan-kekurangannya saja"
"Senangnya. Semoga lancar sampai hari H ya, Wi. Doa terbaik selalu untukmu" Lily menatap Wini terharu.
"Anna dan Lita besok mau datang kemari. mereka mau bertemu Kaisar" ucap Lily.
"Iya, mereka juga kabari aku. Besok aku agak telat datangnya ya, Ly. Karena mau temani Mama dan Papa belanja"
"Selesaikan saja dulu urusanmu Wi. Anna dan Lita juga kan agak sore sampainya"
"Pasti mereka akan histeris melihat ketampanan Kaisar kesayangan tante Wini. Kaisar bermata silver berkulit seperti porselen" Wini menatap Kaisar dengan gemas.
"Aku bisa bayangkan saat Kaisar besar nanti. Pasti jadi rebutan para gadis" ucap Wini lagi.
Lily tertawa. "Bisa saja kamu, Wi"
"Tapi harus hanya satu wanita yang dia pilih. Meskipun banyak wanita mendekatinya" sahut Ran dari kejauhan. Tawa Rico menyertainya.
__ADS_1
"Aku pun hanya memilih satu wanita, Ran" Rico merasa malu sendiri.
"Aku tidak bermaksud menyindirmu, Co" Ran tertawa karena dia tidak menduga ucapannya membuat Rico merasa malu.
"Kita berdua sama, Ran. Banyak wanita mendekati. Bedanya, aku menikmati dan kau menghindar lari" Mereka berdua akhirnya sama-sama tertawa.
Lily dan Wini tersenyum lucu melihat percakapan Ran dan Rico.
"Ly, kamu sudah tahu kalau Rakha bekerja di salah satu hotel milik bang Rico?" tanya Wini membuat Lily menoleh cepat.
"Aku baru mendengarnya" sahut Lily.
"Iya, bang Rico waktu itu cerita kalau Rakha melamar pekerjaan di salah satu hotel Hoover yang ada di Bandung"
"Sebenarnya Jamie sih yang meminta ke bang Rico. Katanya kasihan Rakha tidak punya pekerjaan"
"Menurut bang Rico, Rakha juga harus dikasih kesempatan untuk berubah menjadi baik. Lagipula dengan bekerja di hotel Hoover, bang Rico bisa mengawasi Rakha"
"Semoga dia benar-benar menjadi pribadi yang lebih baik" Wini bicara setengah berbisik. Khawatir Rico dan Ran mendengar percakapan mereka.
"Sejauh ini sih, Rakha bekerja dengan sangat baik dan bertanggungjawab. Aku rasa dia memang benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik " Sekonyong-konyong Rico ikut menimpali ucapan Wini.
Tanpa Wini sadari Rico sudah sedari tadi duduk di karpet di samping Wini. Wini terlalu asik menatap Kaisar saat bercerita.
Lily menahan tawa melihat keterkejutan Wini.
"Syukurlah. Aku senang dia bisa membenahi hidupnya" timpal Ran.
Rico menatap Wini bingung.
"Aku tidak tiba-tiba ada di sini, Non. Kamu saja yang terlalu terpukau oleh Kaisar. Sampai tidak sadar kalau aku duduk di sini" Rico menggelengkan kepala. Lalu menghela nafas.
"Hmmmh kamu ya, Kaisar Kenzo. Masih bayi saja sudah merebut perhatian calon istriku" Rico berdecak seraya menatap gemas Kaisar.
"Aaah tidak bisa dibiarkan ini. Aku saja langsung meleleh melihatnya. Bagaimana dengan para wanita?" Rico tertawa kesal.
Ran, Lily dan Wini tertawa melihat tingkah Rico.
Kaisar menatap Rico sambil tertawa dengan gelak bayinya. Dia mengira Rico sedang mengajaknya bermain.
"Rupanya kamu tahu ya kalau Om Rico juga gemas sama kamu? Kamu jangan godain tante Wini ya. Nanti om nangis" celoteh Rico membuat Kaisar semakin tertawa karena senang diajak bicara oleh Rico.
"Kenapa kalian bisa punya bayi segemas ini sih, Ran...Ly?" Rico menatap Ran dan Lily bergantian.
"Yaaa..karena abah dan ambunya juga menggemaskan, Co" sahut Ran sembari tersenyum.
"Jawaban yang sangat bagus, Ran" gumam Rico.
__ADS_1
"Abah Ran dan ambu Lily?" tanya Wini penuh kagum.
Ran dan Lily mengangguk.
"Aaah, kalian sangat keren. Manis sekali panggilannya Abah dan Ambu. Sangat sunda, walaupun kak Ran sangat Eropa wajahnya. Begitupula baby Kaisar" ucap Wini sambil mencubit pipi Lily.
"Aah jadi tidak sabar melihat Kaisar besar" ucap Wini.
"Jangan begitu, Non. Kita saja belum menikah. Masa sudah tidak sabar tunggu Kaisar besar" Rico mencolek pipi Wini. Seketika tawa semuanya pecah membuat Kaisar terkejut dan menangis.
Lily segera menggendong Kaisar dalam pelukannya. Lalu menenangkannya. tidak lama bayi mungil itu kembali tenang.
"Senang ya kita semua sudah menemukan belahan jiwa masing-masing. Semoga kita semua selalu bahagia" ucap Lily.
"Semoga kelak anak-anak kita tumbuh bersama dengan bahagia" sahut Wini.
"Kalau anak kita perempuan. Aku punya firasat dia akan jadi penggemar berat Kaisar"ucap Rico sambil melirik Kaisar yang sedang menikmati pelukan hangat Lily dan belaian lembut Ran di rambutnya.
"Aku akan senang kalau seperti itu. Kalau mereka ternyata berjodoh, aku sangat bahagia. Punya menantu yang sangat tampan" sahut Wini dengan mata berbinar.
"Ya ampun, Non. Lagi-lagi impian kamu terlalu jauh sampai sudah berpikir punya menantu. Pernikahan kita masih dua minggu lagi" bisik Rico menahan tawa. Dia khawatir Kaisar akan terkejut lagi jika dia tertawa kencang.
Ran dan Lily juga menahan tawa mendengar pembicaraan Wini dan Rico.
"Aku rasa anak perempuan kalian juga pasti sangat cantik" ucap Lily.
"Aamiin" sahut Wini.
"Iya, seperti Amih dan Apihnya" ucap Rico.
Semua menatapnya.
"Iya dong. Kamu Amih dan aku Apih" Rico menunjuk Wini dan dirinya.
Kembali mereka tertawa perlahan agar tidak mengejutkan Kaisar. Karena Kaisar nampak mulai terlelap dalam tidurnya.
Langit cerah di Sabtu pagi itu begitu indah. Seindah harapan mereka yang menyongsong lembar baru kehidupan.
********
Haii readers tersayang. Mohon maaf ya author sangat lama updatenya. Karena kesibukan di real life, jadi waktu untuk update sering tidak kebagian.
InsyaaAllah nantii akan ada kelanjutan kisah para tokoh di novel ini.
Tapi author masih mau melanjutkan novel author "Namaku Daisy, bukan bebek buruk rupa" dulu yaaa. Karena sudah terlalu lama tidak update juga.
Untuk readers yang selalu setia baca "Bunga Lily untuk pangeran", author haturkan banyak terimakasih, hatur nuhun pisan atas vote dan hadiahnya. Juga komen-komen yang walaupun kadang tidak author balas, tapi author baca dengan senang hati.
__ADS_1
Mohon maaf jika ada (mungkin banyak) typo dan segala kekurangan lainnya.
Sekali lagi author ucapkan terimakasih. 🌹🌹🌹🌹🌹