Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
53. Harus Seperti Lily?


__ADS_3

"Mereka....kesini" Luisa menutup wajahnya dengan tas. Mencoba agar tidak terlihat oleh Rico yang masuk ke dalam kafe tempatnya duduk.


"Kamu kenapa, sih? dari tadi aneh banget" Rakha menatap Luisa greget.


Luisa meletakkan telunjuk di bibirnya. "Ssssst jangan berisik".


Dia mengintip dari balik tas ke arah Rico dan Wini.


Rakha mengikuti arah mata Luisa.


Seorang laki-laki dan perempuan duduk di kursi meja di sudut ruangan. Perempuan itu mirip Lily.


Rasanya dia kenal perempuan itu. Rakha mencoba untuk mengingatnya tapi lupa dimana dia pernah melihatnya.


"Kamu kenal dengan laki-laki itu?" tanya Luisa pada Rakha.


"Tidak. Tapi sepertinya dia sangat kaya" jawab Rakha. Dia memperhatikan laki-laki itu dengan seksama.


"Dia Rico Hoover. Salah satu CEO hotel Hoover group. Dia juga anak pemilik Blue Planet Club" Luisa berbisik.


Rakha membelalakan matanya. Usianya masih muda, mungkin sama dengannya Tapi kenapa dia sangat kaya.


"Dia sudah terlahir kaya" bisik Luisa lagi. Seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Rakha.


"Kamu suka dia?" tanya Rakha. Luisa mengangguk.


"Tapi dia tidak suka padaku" Luisa berdesis. Rakha tertawa


"Kasihan sekali, kamu" Rakha melihat Luisa iba.


Luisa berdecak kesal. Karena dia tahu Rakha hanya pura-pura iba padanya.


"Sebenarnya yang aku suka sejak dulu adalah temannya, Ran Curtis. Pemilik brand Curtis Fashion. Tapi Ran Curtis tidak pernah sedikitpun melirikku. Dia malah menikah dengan gadis yang berwajah innocent" ucap Luisa.

__ADS_1


"Lalu kucoba mendapatkan Rico Hoover, tapi diapun sama. Tidak tertarik sedikitpun kepadaku."


Rakha menoleh cepat. " Ran Curtis? Suaminya Bunga Lily?"


"Kamu kenal dia?" Luisa dengan heran menatap Rakha.


"Aku kenal Lily. Sempat ada kerjasama dengan kantornya dulu" jawab Rakha tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Sekarang coba kamu lihat perempuan yang bersama Rico Hoover. Dia mirip dengan istri Ran Curtis. Kenapa sih mereka berdua koq malah suka dengan gadis berwajah biasa dan polos. Aneh sekali" Luisa menggerutu kesal. Dia memperhatikan Wini dengan seksama.


"Mungkin karena mereka perempuan baik-baik" sahut Rakha.


"Jadi kamu pikir aku tidak baik?" Luisa mendengus.


"Kamu pikir saja sendiri" Rakha terkekeh.


"Hehehe..betul juga sih" Luisa ikut tertawa.


"Rico Hoover malah mengancamku jika berani mengganggu Ran Curtis dan Lily. Karena ternyata Lily adalah adiknya. Mungkin sepupu. Karena kalau dari wajah tidak mirip sama sekali". Luisa melihat dua tas belanja yang tadi dibawa oleh Rico. Dia bahkan membawakannya untuk perempuan itu.


"Memangnya kamu bisa bersikap seperti Lily yang lemah lembut dan tidak pernah marah?"


"Sepertinya kamu cukup kenal dengan Lily, ya?" Luisa menatap Rakha penasaran.


Rakha hanya menjawab dengan tawanya.


"Jangan-jangan kamu pernah suka dengan Lily" Luisa mencibir. Rakha kembali tertawa.


"Iya, aku memang suka dengan Lily. Sayang, aku terlanjur harus menikah dengan Dina. Kalau tidak, mungkin aku yang jadi suami Lily" sahut Rakha.


"Masalahnya, Lily tidak akan suka denganmu. Memang kamu bisa bersaing dengan Ran Curtis?" Luisa menahan tawanya. Ucapan Rakha sangat jelas cuma bualan belaka.


Rakha menggaruk kepalanya. Tidak usah ditanya kalau soal bersaing dengan Ran Curtis. Semua juga sudah pasti bisa menjawabnya. Dirinya tidak ada seujung kukunya Ran. Seperti kata Dina, Lily anak pengusaha kaya sudah pasti hanya pantas dengan laki-laki yang kaya juga. Bukan laki-laki miskin seperti dirinya.

__ADS_1


Rakha menghela nafas. Dia merasa sangat menyedihkan. Selama dua tahun ini dia hidup dari uang Lily. Bahkan pakaian dan sepatu yang dia pakai sekarangpun dibeli dengan uang dari Lily. Tapi bagaimana lagi. Lily punya banyak uang. Sepertinya tidak terpakai. Sayang kalau tidak digunakan. Lagipula uang jajan bulanan dari Papanya saja sangat banyak. Belum lagi gaji dia dari PT. Raja Bumi waktu itu. Betapa dunia sangat tidak adil. Di satu sisi orang-orang seperti Lily nyaris kebanyakan uang dan seperti tidak membutuhkannya. Di sisi lain, dia bahkan tidak punya uang sebanyak itu tapi sangat membutuhkannya.


Rakha mengusap wajahnya gusar. Dia emosi jika ingat bahwa dia kehilangan Lily di saat dia nyaris mendapatkan semuanya.


Dia jadi teringat ucapan Dina tadi di telepon, bahwa Lily mempunyai rekaman suara kejadian saat dia membawa Lily pergi di taksi onlinenya. Berarti Lily merekamnya saat itu. Tapi kalau Lily mau melaporkannya, seharusnya sudah dia lakukan. Kejadian itu sudah empat bulan yang lalu, saat Lily belum menikah.


"Jadi....aku harus mulai bersikap lemah lembut ya, Kha. Supaya laki-laki seperti Ran Curtis dan Rico Hoover suka kepadaku" ucap Luisa membuyarkan lamunan Rakha.


"Memangnya yang semalam bersamamu ke club kurang kaya?" tanya Rakha.


Luisa menghela nafas, lalu menyenderkan kepalanya ke pundak Rakha.


"Kau tahu, selain dia sudah tua. Dia juga sudah beristri. Aku hanya simpanannya saja" jawab Luisa pelan.


"Kadang aku bosan menjadi simpanan. Aku mau yang single, muda dan benar-benar sayang padaku. Atau tidak apalah tua pun. Yang penting single dan tulus sayang padaku. Dan pastinya mencukupi kebutuhan hidupku" Luisa berucap penuh harap. Matanya menerawang ke arah langit-langit kafe yang penuh dengan hiasan bunga.


"Sepertinya agak sulit mewujudkannya jika kamu bermain hanya di blue planet. Mungkin kamu harus cari tempat main yang baru. Mungkin panti jompo..disana banyak pria tua kaya yang single" jawab Rakha sembarang. Membuat Luisa mendorong tubuh Rakha hingga terjatuh dari kursi.


Rakha tertawa melihat kejengkelan Luisa.


"Katamu tidak apa tuapun. Asalkan single dan kaya. Yaa disana banyak"


Luisa mencebikan bibirnya.


"Kalau mau yang muda dan hampir singel, aku masuk kriteria. Tapi aku tidak kaya dan belum tentu tulus sayang padamu" lanjut Rakha. Luisa memukul punggung Rakha kesal.


"Aaah kamu yaaa...kenapa sih tidak punya empati sedikitpun dengan apa yang kurasakan" Luisa kembali menyesap iced coffeenya. Lalu melirik meja Rico dan Wini lagi.


"Apanya yang membuatku harus berempati padamu? kamu tidak sedang dalam kesusahan. Kulihat kamu hepi hepi saja. Tinggal di penthouse mewah, mobil mini cooper, setiap hari bersenang-senang. Kamu hanya mimpi terlalu tinggi" Rakha mencibir Luisa.


Mereka memang berteman cukup lama. Selain kenal di club. Mereka dulu pernah bergabung di agency yang sama. Namun karena selalu gagal saat casting untuk peran utama, Rakha menyerah dan memutuskan keluar dari agency. Sedangkan Luisa masih bertahan hingga sekarang. Meskipun peran yang dia dapat masih sekedar peran kecil di sinetrom atau iklan. Terakhir kali mereka kerja bareng adalah saat sama-sama menjadi figuran dalam satu project film. Namun filmnya belum tayang hingga sekarang. Entahlah karena apa.


Luisa kembali memandang ke arah Rico dan Wini yang sedang berbincang.

__ADS_1


Dia bisa melihat tatapan sayang di mata Rico kepada wanita di depannya. Begitu tulus. Sama seperti tatapan Ran Curtis kepada Lily. Sebagai wanita, diapun ingin ditatap seperti itu oleh laki-laki yang menyayanginya.


***


__ADS_2