
Rakha sudah tiba di depan sebuah bangunan restoran berwarna biru yang didominasi kaca. Hanarose Resto, sebuah papan nama terpampang di depannya. Menurut Jamie, Lily dan Ran Curtis akan menemuinya di sana. Dia merasa takut untuk melangkah masuk. Dia merasa nyalinya menciut ketika teringat sosok Ran Curtis. Bahkan bisa saja ada Rico Hoover juga di sana.
Beberapa saat dia masih terpaku dalam duduknya di kursi bagian luar restoran. Mereka janji bertemu jam 11 pagi ini. Dan sekarang masih jam 10.30 pagi. Rakha sengaja datang lebih awal supaya bisa menetralkan rasa gugupnya. Jam 10.55 dia baru akan masuk ke restoran. Menurut Jamie, dia hanya perlu menyebutkan namanya kepada pegawai restoran. Karena Ran Curtis sudah menyiapkan semua. Mungkin sudah reservasi meja dan info nama tamu.
Sebuah mobil mewah berhenti di halaman parkir menarik perhatian Rakha. Dia tertegun melihat pria yang keluar dari mobil. Ran Curtis. Lalu seorang wanita keluar dari pintu lainnya yang segera dibantu turun oleh Ran Curtis. Itu adalah Lily. Lily nampak sangat cantik dengan dress panjang warna hijau muda dan kerudung warna senada. Rakha segera menundukkan kepalanya. Sungguh dia tidak berani menatapnya lebih lama.
"Pak Rakha, kenapa menunggu di luar?" Ran Curtis menyapa dengan ramah kepada Rakha yang seketika merasa membeku. Dia tidak menduga jika Ran Curtis akan bersikap sangat ramah kepadanya.
"Mmh..saya menunggu jam sebelas tepat sesuai janji" jawab Rakha gugup.
"Tidak apa-apa. Saya sudah info ke staff di sini kalau pak Rakha adalah tamu saya" ucap Ran.
"Ayo, kita masuk saja" ajak Ran Curtis. Lily yang berdiri di sebelahnya hanya menatap sekilas ke Rakha. Rakha pun sangat sungkan dibuatnya. Dia menjadi merasa tidak pernah mengenal Lily sama sekali. Lily sekarang sudah berubah. Nampak lebih dewasa.
Seorang staff membukakan pintu saat mereka hendak masuk.
" Selamat pagi, Pak Ran. Selamat pagi, bu Lily" sapa staff tersebut.
"Selamat pagi, pak. Silahkan.." staff itu mempersilakan Rakha.
"Ruang meetingnya sudah siap, pak" ucap staff itu lagi.
"Oke, Dimas. Terimakasih. Meja untuk acara makan siang apakah sudah siap?" tanya Ran.
"Sudah, Pak. Di sebelah sana. Sesuai instruksi pak Ran" jawab staff bernama Dimas tersebut.
"Oke. Terimakasih, Dimas"
"Sama-sama, Pak Ran"
Rakha terkejut mendengarnya. Jadi ini adalah restoran milik Ran Curtis juga. Aah seberapa kayakah dia? bisnisnya banyak sekali, pikir Rakha. Ternyata selain kafe Blume di Jakarta, dia juga punya restoran besar di Bandung. Belum lagi perusahaan industri fashionnya yang memiliki puluhan outlet se Asia. Lalu Rakha melirik Lily.
"Aah memang Lily perempuan istimewa. Punya suami sekaya itu tapi sikapnya tetap sederhana. Pantas saja Luisa sangat ingin menjadi seperti Lily" Gumam Rakha dalam hati.
Mereka menuju ke lantai dua. Ada sebuah ruangan di bagian ujung sebelah kanan. Sebuah ruangan meeting yang di desain dengan sangat modern namun terasa dekat dengan alam. Karena ada beberapa tanaman hias yang diletakkan dengan sangat estetik di beberapa sudut ruangan.
"Silahkan duduk" Ran membuyarkan lamunan Rakha. Rakha duduk di kursi terdekat dari tempatnya berdiri.
"Mau minum apa, pak Rakha" Ran menawari Rakha.
"Air mineral saja, Pak Ran" jawab Rakha semakin gugup.
Di atas meja sudah tersedia botol-botol air mineral. Lalu Lily beranjak menuju rak kaca tempat menyimpan gelas. Dia mengambil dua buah gelas dan meletakkannya di atas meja di depan Ran. Ran menyodorkan satu gelas kepada Rakha. Nampaknya Lily sengaja tidak mau berinteraksi secara langsung dengan Rakha.
"Bagaimana kabarnya, sehat?" tanya Ran. Rakha mengangguk.
__ADS_1
"Silahkan minum dulu" Ran mempersilakan Rakha. Sementara Lily menuangkan air mineral ke dalam gelas Ran. Rakha pun menuangkan air mineralnya ke dalam gelas lalu meminumnya. Dia merasa sedikit tenang setelah minum.
"Sebelumnya bu Dina sudah membuat janji untuk bertemu kami. Tapi akhirnya bu Dina memberi kabar lagi bahwa pak Rakha langsung yang akan menemui kami" kata Ran memulai pembicaraan dengan serius.
"Iya, Pak Ran. Karena yang punya kesalahan adalah saya. Jadi memang saya yang harus menyelesaikannya" sahut Rakha pelan.
"Saya datang ke sini bermaksud meminta maaf kepada Lily juga kepada pak Ran selaku suami Lily atas perbuatan-perbuatan saya selama ini yang sangat merugikan dan menyakiti Lily." Rakha menatap Lily dengan ragu. Lily menatap balik Rakha seolah menunggunnya melanjutkan ucapannya.
"Saya juga meminta maaf kepada Papanya Lily dan kak Angga. Mohon disampaikan permintaan maaf saya"
"Saya sudah memakai uang Lily dengan alasan untuk bisnis bersama, tapi saya menggunakannya untuk keperluan pribadi"
"Saya juga menyesal sudah menculik Lily dan memaksa menandatangani surat lunas"
"Juga perkataan-perkataan saya yang tidak sepatutnya saya ucapkan yang menyakiti perasaan Lily"
"Saya sangat menyesal. Karena itu saya mohon untuk dimaafkan"
"Untuk uang yang saya pinjam saya akan kembalikan sebagian terlebih dahulu. Sisanya akan saya cicil setelah saya mendapatkan penghasilan lagi. Semoga Lily dan Pak Ran berkenan" Rakha berusaha menata kata-katanya dengan sangat baik. Dia sangat takut jika ada salah ucapan.
Dia meraih sebuah amplop dari dalam tasnya. Lalu meletakkannya di atas meja dan menggesernya ke arah Lily dan Ran yang duduk di hadapannya.
"Ini surat lunas yang waktu itu Lily tandatangan karena saya ancam. Saya kembalikan. Silahkan dimusnahkan. Karena kenyataannya saya belum mengembalikan sepeserpun uang Lily" ucap Rakha lagi.
"Ini jumlah uang yang saat ini bisa saya kembalikan" Rakha menyerahkan hasil cetak buku rekening kepada Lily dan Ran. Di sana tercantum saldo dari uang hasil penjualan rumah dan perhiasan yang dijual Dina ditambah uang pemberian orangtua Dina. Semua uang itu ada di rekening Dina. Semuanya berjumlah delapan ratus juta.
"Terimakasih karena pak Rakha sudah punya itikad baik untuk bertemu kami. Saya sebagai suami dari Lily pasti akan mendukung apapun keputusan istri saya. Jadi biar Lily yang putuskan" Ran menatap Lily sambil menggenggam tangannya. Lalu menepuk lembut tangannya dan mempersilakan Lily bicara.
"Karena kamu sudah meminta maaf dengan cara yang baik dan sopan. Maka sudah seharusnya saya maafkan kamu" ucap Lily seraya menatap Rakha sesaat.
"Nanti permintaan maafmu saya sampaikan juga ke Papa dan Kak Angga" lanjut Lily.
"Untuk uang yang mau kamu kembalikan, saya terima berapapun jumlahnya. Sisanya boleh kamu cicil sesuai kemampuan kamu" lanjut Lily.
"Terimakasih, sudah mau memaafkan dan memberi keringanan kepada saya, Ly"ucap Rakha lega.
"Sama-sama. Saya harap kamu tidak mengulangi perbuatan ini kepada siapapun" ucap Lily dengan tatapan tajam.
"Baik, Ly. Terimakasih sudah mengingatkan" Rakha tertunduk. Meski begitu hatinya merasa tenang.
"Oke. Masalah ini kita anggap selesai. Semoga ke depannya hanya ada hal- hal baik dan kita dihindarkan dari semua hal buruk" ucap Ran dengan lega. Dia senang akhirnya masalah ini selesai. Rakha sudah menyadari semua kesalahannya dan meminta maaf. Lily juga sudah memaafkan.
"Tolong berikan nomor rekening untuk saya transfer uangnya" Kata Rakha.
"Kemungkinan besok baru ditransfer. Karena semua uangnya berada di rekening milik Dina" lanjut Rakha.
__ADS_1
"Baik, tidak masalah" Lily meraih kertas dan pulpen yang tersedia di atas meja. Lalu menuliskan nomor rekening banknya di sana.
"Kamu bisa kirimkan ke nomor ini" ucap Lily seraya menyerahkannya kepada Rakha.
Sementara Ran nampak menelepon ke staff di lantai satu.
"Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai untuk masalah ini" ucap Ran membuat Rakha merasa dirinya diusir.
"Sekarang kita lanjut makan siang di lantai satu. Saya juga mengundang Jamie" Ran berdiri dan mempersilakan Rakha berjalan lebih dulu.
Rakha terkesiap. Ternyata dia bukan diusir, melainkan diajak makan siang. Dia jadi malu sendiri.
"Ayolah jangan sungkan. Kita sudah berdamai, bukan?" Ran menepuk bahu Rakha. Rakha mengangguk.
"Terimakasih banyak, Pak Ran. Anda baik sekali" ucap Rakha.
"Sama-sama. Ayo silakan"
Mereka berjalan beriringan menuju lantai satu. Nampak Jamie melambaikan tangannya. Rakha menghampiri Jamie. Ran dan Lily singgah ke dapur terlebih dahulu. Hari ini ada acara makan siang bersama beberapa teman dan pertemuan dengan rekanan perusahaan di sore hari, jadi Ran memastikan menu yang akan dihidangkan nanti sudah siap dan sesuai.
"Bagaimana? sudah beres?" tanya Jamie pada Rakha.
"Sudah. Mereka dengan sangat baik menerima permintaan maafku" jawab Rakha.
"Syukurlah" gumam Jamie ikut lega.
" Mereka memang orang-orang yang sangat baik" ucap Jamie.
"Saking baiknya, aku jadi malu" Rakha menghela nafas. Dia melihat Lily dan Ran berjalan ke arah mereka.
"Silakan pesan apa saja" kata Ran. Lily hanya tersenyum dan menganggukan kepala kepada Rakha dan Jamie. Ran duduk di depan Rakha dan Lily duduk di sebelah Ran di depan Jamie.
Tidak lama kemudian Wini dan Rico tiba. Rupanya mereka juga diundang makan siang oleh Ran dan Lily.
"Sudah beres ya?" tanya Rico kepada Ran saat melihat Rakha. Ran mengangguk.
"Kenalkan. Ini Rakha, temannya Jamie juga temannya Lily" Ran memperkenalkan Rakha kepada Rico dan Wini.
Walaupun sebenarnya Rakha sudah pernah melihat mereka di kafe saat bersama Luisa. Rico juga sudah tahu bahwa itu adalah Rakha. Karena selama ini dia menyelidikinya.
Mereka berbincang dengan santai dan akrab seolah mereka semua berteman baik sejak lama. Melupakan segala persoalan yang pernah terjadi. Masalah antara Rakha dan Lily di masa lalu, juga masalah Jamie dan Wini di pernikahan mereka yang gagal. Semua sudah mereka anggap sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus diikhlaskan dan tidak perlu diungkit lagi.
Sikap Ran dan Lily yang seperti itu membuat Rakha merasa dirinya sangat buruk. Dari mereka dia belajar tentang kebaikan. Bagaimana kebaikan hati bisa begitu terasa menyebar dan seolah menularkan kebaikan kepada yang lainnya.
***
__ADS_1