Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
43. Janji Makan Siang


__ADS_3

Ran sedang memeriksa proses persiapan fit out di salah satu outletnya di salah satu mall besar yang ada di daerah BSD, Tangerang Selatan.


Dia memeriksa setiap bagian dengan seksama. Dia berkeliling ditemani Jamie selaku mamajer area. Ini adalah outlet kedua yang mereka datangi. Sebelumnya mereka memeriksa outlet di daerah Bintaro. Ran memastikan hasilnya sudah sesuai dengan konsep desain yang diajukan di awal. Bagusnya, sejak awal rapat pengajuan konsep desain dengan pihak mall hingga pelaksanaan kontruksi, semua berjalan lancar. Sehingga waktu yang ditargetkan untuk pembukaan outlet bisa terlaksana.


Setelah kurang lebih dua jam memeriksa. Ran mengajak Jamie menuju restoran untuk makan siang. Ran juga sudah janji dengan Lily untuk bertemu di sana. Lily diantar teh Yuni dari apartemen. Nanti teh Yuni kembali lagi ke apartemen setelah mengantar Lily.


"Kamu sudah sampai dimana, sayang?" Ran menelepon Lily.


"Sudah di pintu masuk mall, Kak. Tunggu sebentar ya" jawab Lily. Saat hendak menutup ponselnya, Lily melihat chat masuk dari Wini. Lily duduk sejenak di kursi yang banyak tersedia di area downtown walk untuk membalas pesan Wini.


Sementara itu, Ran juga kembali menelepon seseorang.


"Co, kamu sudah sampai? aku di resto makanan Jepang di lantai satu" Ran menelepon Rico. Dia memang berjanji temu juga dengan Rico untuk membahas rencana pembukaan outlet pakaian santai dan olahraga di salah satu hotel milik Rico yang baru dibangun di Lembang, Bandung.


"Sudah di eskalator dari tempat parkir. Tunggu saja" jawab Rico. Dia berdiri di samping Wini yang sedang membaca jawaban chat dari Lily.


Wini : Lily, aku di summa**con mall Serpong. Kantorku ada janji dengan Kak Ran.


Lily : Waah kebetulan sekali kantormu ada kerjasama dengan kantor kak Ran. Kamu sekarang bekerja dimana, Wi? btw, aku juga lagi mau makan siang dengan kak Ran di summa**con mall juga. Kita makan siang bareng donk Wi.


Wini : Aku sama bang Rico, janjian sama Kak Ran soal pekerjaan. Mendadak ini janjiannya.


Lily : kamu sama bang Rico? jadi kamu kerja di kantor bang Rico sekarang?


Wini : Iya, aku sekarang kerja dengan bang Rico, Ly. Nanti aku cerita ya.


Lily : eheemm.. Aku sih berdoa semoga kalian berjodoh ya Wi..Aamiin


Wini : eh berjodoh apa nih? 😊


Lily: Berjodoh menikah. Aaminkan, yaa


Wini: iya deh. Aamiin ☺


Lily : Ya sudah nanti ketemu di resto ya


Wini menoleh kepada Rico seraya tersenyum. Mereka sudah sampai di lantai satu. Tidak sulit mencari restoran Jepang yang disebutkan Ran. Mereka memasuki Restoran lalu mencari meja Ran. Ran dengan mudah ditemukan, karena posturnya yang tinggi dan mencolok.


Mendekati meja, mendadak Wini menghentikan langkahnya. Karena dia melihat Jamie bersama Ran di sana. Rico segera memahami situasi begitu dia melihat arah pandangan Wini. Dengan perlahan dia meraih tangan Wini lalu mengajaknya berjalan menuju meja Ran.


Wini menoleh ragu pada Rico.


"Tenang saja, ada aku" bisik Rico seraya menenangkan Wini.


"Hai, Rico....waaah kamu bersama Wini?" tanya Ran terkejut. Dia juga bisa melihat keterkejutan di wajah Jamie. Ran merasa ada kecanggungan di wajah Jamie dan Wini.


"Iya, aku sekalian ajak Wini makan siang. Maklum aku belakangan sibuk, jadi jarang ajak Wini jalan-jalan"


"Bagaimana kabarmu, Ran?" tanya Rico menyalami Ran.


"Kabarku baik, Co" jawab Ran masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rico bersama Wini. Dan bersamanya ada Jamie mantan suami Wini.

__ADS_1


"Hai, Jamie..kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?" tanya Rico dengan ramah kepada Jamie yang terlihat kikuk. Mereka bersalaman.


"Kabar baik, Co" jawab Jamie singkat.


"Kalian saling kenal?" tanya Ran. Kali ini dia semakin terkejut.


"Pernah satu sekolah di SMA di Bandung sebelum Jamie pindah sekolah ke Jakarta" jawab Rico. Ran dibuat terkejut berkali-kali.


"Kamu sudah kenal Wini, kan? calon istriku" kara Rico kepada Jamie. Jamie mengangguk.


"Apa kabar, Wini?" tanya Jamie. Dia merasa terpukau dengan penampilan Wini saat ini. Calon suaminya memang tajir melintir, wajarlah kalau penampilan Wini sekarang sangat berbeda dengan dulu saat masih menjadi istrinya. Mungkin memang sudah selayaknya Winie dapatkan kebahagiaannya, pikir Jamie.


"Kabarku sangat baik, Jam" sahut Wini dengan ramah. Dia bisa tenang, karena Rico tetap menggenggam tangannya.


"Syukurlah" sahut Jamie dengan senyum tulusnya.


"Maaf, aku baru sampai" Lily yang baru sampai di meja terpukau melihat Jamie dan Wini yang berpegangan tangan. Lalu dia melihat Jamie. Kemudian Lily menatap Ran yang disambut kedipan mata Ran. Mereka sama-sama memahami situasi yang terjadi di sana.


"Kamu duduk di sini, sayang" Ran memanggil Lily untuk duduk dekatnya. Lily mencium tangan Ran. Lalu menghampiri Wini.


Lily memeluk Wini sambil berbisik. "Sudah pegangan tangan niih. Nanti wajib cerita yaaa" mereka berdua tersenyum dengan lesung pipi masing-masing di sisi berlawanan. Membuat Ran dan Rico saliing berpandangan. Tapi para lelaki hanya bisa menahan senyum mereka. Karena ada Jamie di sana. Mereka khawatir membuat Jamie merasa kagok nantinya. Padahal mereka bertemu untuk membahas pekerjaan.


Sekilas Wini dan Lily memang agak mirip. Namun sekarang Lily berhijab, jadi rambutnya tidak terlihat. Tapi mereka memang mirip. Berperawakan langsing dengan tinggi badan kurang lebih sama. Berkulit putih dan berlesung pipi. Meskipun lesung pipi mereka letaknya berlawanan. Yang membedakan adalah wajah Lily seperti masih anak SMA. Sedangkan Wini terlihat lebih dewasa. Mereka pantas menjadi kakak dan adik.


Mereka makan dengan tenang. Diselingi bicara tentang pekerjaan. Wini menyimak dan merekam semua pembicaraan mengenai pekerjaan di ponselnya. Agar dia tidak lupa. Dia tetap menjalankan pekerjaannya dengan baik.


Setelah selesai makan. Mereka masih membahas pekerjaan.


"Bolehlah. Kalian jalan-jalan saja dulu. Biar kami selesaikan pekerjaan kami" jawab Ran.


"Tentu bolehlah. Betul kata Ran. Biar kami laki-laki bereskan pekerjaan kami. Kalian jalan-jalan saja" timpal Rico.


Wini menatap Rico. Masalahnya dia kan sedang bekerja.


"Tidak apa-apa. Kamu jalan-jalan sama dengan Lily" ucap Rico, mengerti apa yang ada di pikiran Wini.


Lily dan Wini tersenyum senang. Mereka bergegas keluar restoran seraya bergandengan.


***


Wini membuka ponselnya ketika ada bunyi notifikasi pesan masuk.


"Jika ada yang mau dibeli, pakai saja kartu debet milikku yang kamu pegang. Tidak usah hiraukan harganya. Bersenang-senanglah dengan Lily" pesan dari Rico.


Wini termenung membacanya. Kenapa dia baik sekali? tanyanya dalam hati. Wini memang sudah hampir kehabisan uang tabungannya. Tapi bukan berarti dia mau memanfaatkan kebaikan Rico.


Apalagi hari Sabtu kemarin, Rico mengajaknya ke sebuah butik pakaian merk internasional dan menyuruhnya memilih beberapa pakaian untuk bekerja. Karena dia sekarang adalah asisten Rico yang seorang pengusaha muda ternama, jadi harus menerapkan personal branding yang bisa menjaga image Rico.


Rico memberikan sebuah kartu debet platinum kepada Wini. Ketika Wini sudah memilih tiga pasang pakaian, Rico malah menyuruhnya memilih tiga pasang lagi. Lalu mengajaknya ke toko sepatu yang harga sepatunya setara dengan gaji Wini sewaktu kerja sebagai asisten manajer public relation di Jakarta.


"Jadi kapan kalian akan menikah?"tanya Lily sambil tersenyum menggoda Wini.

__ADS_1


Wini tersenyum malu.


"Ly, sebenarnya aku hanya bekerja sebagai asisten pribadi bang Rico. Aku juga tidak tahu kalau hotel Ferien tempatku melamar pekekerjaan itu adalah milik bang Rico. Karena itu bukan hotel dari group Hoover" ucap Wini. Mereka masuk ke sebuah toko sepatu. Lalu sambil memilih-milih, mereka lanjutkan perbincangan.


"O iya, bang Rico memang mendirikan hotel baru di daerah Lembang, milik dia sendiri. Bukan milik keluarganya" ucap Lily. Dia mencoba sebuah sepatu bersol datar berwarna krem.


"Tapi kulihat kalian tadi saling berpegangan tangan. Pasti ada sesuatu kan diantara kalian?" tanya Lily menatap Wini meminta jawaban. Dia kembali mencoba sepatu lain, kali ini yang berwarna abu tua.


"Setahuku kamu selalu memakai sepatu brand Gu**i, dan brand lain yang harganya belasan bahkan puluhan juta, Ly. Kamu mau juga pakai sepatu harga ratusan ribu?" tanya Wini heran. Karena yang Lily pilih adalah sepatu yang sedang discount 50 persen padahal ada juga sepatu yang harganya memang jutaan di sini. Sejak dia kenal Lily dari masa SMA, semua pakaian Lily adalah keluaran dari brand ternama luar negeri. Meskipun begitu, Lily menganggapnya biasa saja. Dia tidak pernah bersikap sombong. Padahal semua orang di sekolah yang melihatnya sering tercengang dengan barang-barang yang Lily pakai. Karena harga satu sepatunya bisa buat beli satu unit motor matic.


"Kata siapa? kalau masa kecil sampai kuliah, dari dulu memang Mama selalu membelikanku merk-merk itu. Jadi aku tahunya ya beli sepatu di sana. Tapi setelah aku bekerja dan benar-benar mandiri aku suka juga koq sepatu merk apapun selama modelnya pas di kakiku"


"Bukan soal harganya, Wi. Kata Mama, sepatunya tuh awet bertahun-tahun. Buktinya sepatu-sepatu peninggalan Mama saja masih bagus-bagus dan sering kupakai sekarang. Aku justru beberapa tahun ini belum pernah beli sepatu merk-merk itu lagi. Punya sepatu yang baru, itupun hadiah seserahan pernikahan dari kak Ran" kata Lily.


Wini mencubit pipi Lily. Sahabatnya yang satu ini sikapnya selalu sederhana dan merendah. Tidak pernah sedikitpun bersikap sombong atau merasa lebih dari teman-temannya.


"Lalu mengenai kamu dan bang Rico bagaimana kelanjutannya? kamu malah bahas sepatu" Lily tertawa.


"Iya begitu. Aku hanya bekerja dengannya. Tadi dia hanya menolongku karena ada Jamie. Berpura-pura seolah aku calon istrinya"


"Sewaktu pesta resepsi pernikahanmu, Jamie datang bersama istrinya. Waktu itu bang Rico menolongku juga" kata Wini. Dia bercerita secara detail tentang kejadian waktu itu. Lily menyimak cerita Wini dengan seksama. Sepanjang Wini bercerita, Lily tak henti tersenyum. Dia bisa melihat rasa suka Wini kepada Rico dari binar matanya. Dan Lily juga bisa menebak kalau bang Rico suka dengan Wini.


"Bang Rico memang laki-laki baik, Wi. Dulu memang nakal waktu muda. Tapi sekarang sudah sangat berubah menjadi baik" Lily berkata ketika Wini usai bercerita.


"Kalau ternyata bang Rico suka denganmu bagaimana? kamu mau, Wi?" tanya Lily. Wini yang sedang mencoba sepatu terdiam mendengar pertanyaan Lily.


"Tapi dia terlalu 'tinggi" buatku, Ly. Kami seperti langit dan bumi" Wini menghela nafas. Dia tidak berani berhayal setinggi itu. Dia masih punya rasa takut dan trauma dari perceraiannya dengan Jamie.


"Aku kenal bang Rico sudah lama, Wi. Dia seperti kakakku sendiri. Dia tidak akan bersikap sebaik itu jika dia tidak suka. Apalagi sampai mau menjaga kamu dari Jamie" ucap Lily.


"Aku doakan yang terbaik untuk kalian. Intinya aku sangat senang jika kalian berjodoh" Lily tersenyum. Wini membalas senyumnya.


"Tidak jadi beli sepatu?" tanya Wini ketika melihat Lily meletakkan kembali sepatu yang tadi dia coba ke atas rak.


"Aku masih punya beberapa sepatu. Sepertinya belum perlu, Wi" jawab Lily.


"Kamu sendiri tidak jadi beli?" Lily balik bertanya. Karena Wini juga meletakan kembali sepatu yang dia coba.


"Aku baru dua hari lalu dibelikan sepatu oleh bang Rico" Wini menunjuk sepatu yang dia pakai.


Lily tertawa pelan. "Baik sekali calon suamimu, Wi." Lily mencubit pipi Wini.


"Dia memberikanku ini, Ly" Wini memperlihatkan sebuah kartu debet berwarna hitam.


"Kata bang Rico, aku boleh beli apapun yang aku mau"


"Tapi aku hanya beli yang memang kupakai untuk keperluan pekerjaan. Itupun kalau dia suruh saja" ucap Wini.


"Aku tidak akan berkomentar apa-apa lagi. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua"ucap Lily dengan senyum mengembang.


Lily menggandeng tangan Wini. Mereka berdua menyusuri semua toko yang ada di mall dengan wajah ceria.

__ADS_1


***


__ADS_2