
Lily, Papa dan Rico sedang bejalan pagi keliling lapangan olahraga di komplek perumahan.
Papa sudah semakin sehat. Wajahnya nampak segar dan ceria. Lily senang melihatnya.
Papa dan Rico sambil berbincang mengenai rencana Rico membangun cold storage untuk dapur restoran di hotelnya. Sesekali mereka duduk di tanah lapang yang berumput untuk istirahat. Angga tidak ikut, karena Andin merasa mual-mual setiap pagi, bawaan dari hamil.
Saat dirasa sudah cukup jalan paginya, mereka pulang ke rumah.
Saat keluar dari lapangan, ada sebuah mobil yang melaju cepat. Lily yang berjalan terlebih dahulu dari lapangan tidak menyadari, seketika Rico menarik tangan Lily ke samping. Rico berusaha tidak menyentuh tangan Lily, dia memegang pergelangan tangan Lily yang memakai tangan panjang. Saking cepat dan masih memikirkan tidak menyentuh Lily juga menahan agar Lily tidak terjatuh, Rico menahan badannya dengan sangat kuat menggunakan kaki kanannya, Tapi dia kurang menjaga keseimbangan tubuhnya akhirnya terjerembab ke tanah. Kaki kanannya terkilir.
Lily dan Papa terkejut. Rico meringis. Dia berusaha berdiri tapi gagal. Kaki kanannya terasa sakit saat digerakkan.
Lily segera menelepon ke rumah, minta pak Min Membawa mobil menjemput ke lapangan.
Rico duduk di gazebo. Meringis menahan rasa sakit. Lily duduk didepannya.
"Tahan ya, Bang. Pak Min sedang panggil tukang urut keseleo."ucap Lily merasa tak enak hati. Karena menyelamatkannya, Rico sampai cedera.
"Karena menolong Lily, Bang Rico sampai cedera" ucap Lily.
"Tidak apa-apa, Ly. Hanya terkilir. Coba kalau tadi aku tidak menarik kamu, kamu bisa terpelanting. Itu lebih parah" sahut Rico.
"Terimakasih, ya Bang" Ucap Lily.
Angga menghampiri Rico. Melihat kondisinya.
"Syukurlah masih selamat ya. Menurut keterangan petugas keamanan, mobil tadi remnya blong. Sudah diamankan oleh petugas"
"Terimakasih ya, Co. kamu sudah selamatkan Lily"Ucap Angga.
"Papa bagaimana? takutnya shock dengan kejadian tadi" Rico bertanya
"Papa baik-baik saja. Sekarang sedang mandi"Jawab Lily
"Tangan kamu tidak sakit kan?, tadi aku tarik agak kencang"Tanya Rico ke Lily
"Lily tidak apa-apa, Bang. Tenang aja. Sekarang yang penting kakinya bang Rico yang jelas-jelas terkilir sampai tidak bisa digerakkan" Ucap Lily lembut sambil menatap mata Rico.
Rico yang ditatap Lily tiba-tiba mengerang kesakitan. Lily terlonjak. Angga menahan tawanya melihat tingkah Rico.
"Lebih baik kamu mandi dulu, Ly. Bukannya nanti kamu dijemput Ran ke acara keluarganya?" Kata Angga.
"Kakak yang temani Rico"kata Angga lagi.
Lily beranjak pergi.
__ADS_1
"Kasihan banget sih, ditatap Lily sampai mengerang kesakitan" Angga tertawa.
"Aku tidak kuat ditatap penuh perhatian seperti itu. Bisa gila kalau aku diam saja. Jadi lebih baik pura-pura kesakitan" sahut Rico.
"Sesuka itu kamu ke Lily?" tanya Angga serius.
"Aku cinta dia, Ga. Bukan sekedar suka"Jawab Rico
"Sorry ya, Aku punya perasaan ini ke Lily. Dulu aku menganggap dia seperti adik. Tapi setelah dia dewasa, kulihat dia berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini dekat denganku" ucap Rico pelan.
"Rasa itu muncul tiba-tiba. Tanpa aku sadari. Dia Baik, lembut, sederhana dan anggun. Sangat mempesona, Ga. Dia berbeda."
"Tapi, meskipun tidak ada Ran. Aku yakin Lily tidak akan pernah melirikku sebagai calon pendamping hidupnya"
"terlalu buruk diriku buat Lily. Yang pantas untuk dia memang Ran" ucap Rico lagi.
"Jangan sampai Lily tahu soal perasaanku ya, Ga" ucap Rico kepada Angga.
"Tenang saja, Co."jawab Angga
" Suatu saat nanti kamu pasti menemukan gadis yang baik seperti Lily. Yang memang sudah Tuhan ciptakan untuk kamu"
Lily mendengar itu semua di balik dinding batu air mancur kolam ikan di sebelah gazebo. Lily terdiam. Tidak bisa membayangkan perasaan Rico saat ini. Tadi dia hendak berbalik ke gazebo mengambil botol minumnya yang tertinggal.
***
Selesai mandi dan berpakaian, Lily mengintip dari jendela kamarnya ke arah gazebo. Nampak Bang Rico dan Kak Angga masih mengobrol.
Pembicaraan mereka tadi mengganggu Lily. Membuatnya merasa tidak enak hati dengan Bang Rico. Antara kasihan dan serba salah jadinya. Memang lebih baik dia bersikap seolah tidak tahu apa-apa soal perasaan Bang Rico, pikirnya.
Tiba-tiba bang Rico melihat ke arah kamar Lily dan melihat Lily sedang menatap ke arahnya. Dia menatap Lily lalu tersenyum. Lily membalasnya.
Sementara dalam hati Rico saat itu berkecamuk segala rasa yang membuat dadanya sakit.
Tidak lama kemudian, Mobil Ran masuk ke halaman. Ran keluar dari mobil dan berjalan menuju gazebo.
Mereka berbincang, terlihat Ran sedang membantu Rico mengompres kaki.
Lily segera turun.
***
Ran memandang Lily tak berkedip, Rico juga. Hanya Angga yang bersikap biasa.
Lily mengenakan setelan pakaian muslim tunik warna salem dengan jilbab senada.
__ADS_1
Lalu duduk di depan Ran, tanpa menyadari bahwa dua pria di depannya sangat terpesona.
"Kak Ran sedang kompres kaki Bang Rico?" tanya Lily membuat Ran dan Rico sadar dari pesona Lily yang seolah menghipnotis mereka.
"hanya membantunya kompres dengan es batu saja. Karena kalau terkilir sebaiknya jangan langsung diurut. dikompres dengan batu es dibungkus kain selama 15 menit supaya peradangan atau pembengkakan lekas pulih. Nanti bisa kamu pakai perban compresi juga" Ran meletakan bungkusan perban yang dia bawa
Rico terdiam lalu melirik Angga yang duduk di sampingnya.
"kebetulan tukang urut keseleo tidak ada kata Pak Min" Angga berucap.
"Sekarang kupasang perban ya, Co." Ran memasangkan perban kompresi ke pergelangan kaki Rico yang terkilir.
"Naah sekarang sebaiknya kamu tiduran di kamar untuk istirahat. Usahakan posisi kakimu diganjal saja pakai bantal" Ran menyelesaikan pemasangan perban.
"ayo kita antar ke kamar" Angga lekas membantu mengangkat Rico.
Angga dan Ran membopong Rico ke kamar tamu. Rico dibiarkan istirahat.
"Terimakasih ya, Co. Kamu sudah menyelamatkan Lily" Ran menepuk bahu Rico"
"sudah tugas ku sebagai abangnya Lily untuk jaga dia, Ran." Rico menepuk balik tangan Ran.
"Terimakasih juga sudah membantuku" kata Rico lagi.
Lily dan Angga saling bersitatap melihat Rico dan Ran.
***
Lily dan Ran keluar dari kamar Rico lalu berbincang dengan Papa di ruang keluarga.
Rico di kamar tamu masih ditemani Angga.
"Dia memang sebaik dan seperhatian itu kepadaku, Ga. Sudahlah memang dia terbaik buat Lily"gumam Rico.
"Sudah, Co. Jangan galau terus. Mana Rico yang selalu ceria dan bersemangat yang kukenal?"Angga menepuk bahu Rico.
Rico tergelak. "Iya juga ya. Kenapa aku jadi secengeng itu sih"
"Tapi, kau lihat tidak tadi. Lily sangat cantik. Ya Tuhaaan"Pekik Rico sambil memegang kepalanya.
"Cantik lah. Adikku itu." Angga menepuk dadanya seraya tersenyum bangga.
keduanya tertawa.
***
__ADS_1