
Rico masih duduk menyendiri di dalam gazebo. Dia memandang ke arah kamar Lily yang ada di lantai dua. Lampunya masih menyala. Biasanya malam jam segini Lily sedang mengaji. Dulu sewaktu dia tinggal di sini, dia sering mendengar Lily mengaji.
"Lily belum tidur. Masih mengaji seperti biasa. Sejak dulu dia selalu begitu. Mengaji sebelum tidur" suara Angga. Rico pura-pura memejamkan matanya sambil bersenandung. Seolah dia sedang tidak memandangi kamar Lily
"Yang sabar, Co. Pasti ada perempuan lain yang sudah disiapkan buatmu" Angga duduk di depan Rico.
"Apa, sih. Tiba-tiba bicara bijak begitu?"Rico terkekeh.
"Jangan pura-pura. Aku tahu perasaanmu ke Lily"Angga meletakan potongan buah mangga dan apel yang dibawanya dari dapur.
" Ngaco deh nih"Rico melahap sepotong mangga. Dia meringis. Agak asam. Tapi dia mengambi lagi. Lama-lama enak. Dia makan nyaris tak berhenti.
"Hatimu yang kacau" Angga tergelak.
"Bisa juga ya sang Don juan penakluk wanita, hatinya patah" Angga menggigit potongan apelnya di garpu.
Bbuuuuuk. Rico melempar bantal alas duduk. Tawa keduanya pecah.
"Sialan, kau. Senang ya aku menderita?"
"hahahahaha akhirnya ngaku juga kalau menderita"kata Angga. Kembali Rico melempar Angga dengan bantal.
"Gue sediiih, mau nangis, menderita. Puaaass?" Rico makan buah dengan lahap sampai habis.
__ADS_1
"Patah hati atau lapar?" Angga memanggil Bik Ijah yang berada di dapur.
"Bi, tolong bawakan potongan buah lagi seperti tadi" Kata Angga.
Tak lama bik Ijah datang dengan sepiring potongan buah.
"Terimakasih, Bi"
"Kalau kurang, masih banyak buahnya" Angga meletakkannya di depan Rico.
Rico memandang Angga. wajahnya kusut. Seperti tak bersemangat.
"Iya, aku sedih. Ternyata begini rasanya cinta tidak sampai. Rasanya tidak enak" gumam Rico.
"Kalau calon suami Lily itu orang lain, Aku mungkin akan berusaha. Walaupun pasti kamu tidak setuju aku dekati Lily. Tapi calon suaminya Lily itu adalah Ran. Salah satu teman terbaikku dengan segala nilai plusnya."
"Lihat saja tadi saat dia jadi imam shalat. Aku tidak bisa seperti itu. Aku minder. Dia sangat keren"Rico berucap. Angga menatap sahabatnya itu dengan heran. Seperti anak remaja yang kalah saing memperebutkan gadis impiannya.
"Aku juga sadar diri sih. Insecure buat berdamping dengan Lily."
Angga tercengang mendengar kata-kata Rico. Bisa insecure juga dia, pikir Angga.
"Jangan kasihani aku. Aku hanya sedang ingin merenung saja. Menikmati rasanya patah hati ini"Rico merebahkan badannya di lantai gazebo.
__ADS_1
"Hebat sekali, patah hati saja kamu nikmati. Langka lah orang sepertimu, Co" kata Angga sambil membuka ponselnya ketika ada panggilan masuk.
"Iya, aku ambilkan sebentar. Tunggu ya" Andin menelponnya. Meminta dibawakan kantung belanja yang tadi tertinggal di dalam mobil.
"Sudah pergi sana, aku mau merenung dulu. Nanti istrimu kelamaan menunggu."ucap Rico
"kamu menginap di sini kan?"tanya Angga sebelum beranjak pergi.
"Menginaplah. Besok pagi mau main catur sama Papamu, sudah janji tadi"jawab Rico.
"Oke, Jangan nangis kalau mau tidur. supaya mata tidak bengkak di besok hari"Ucap Angga seraya beranjak pergi.
Buuuuk, lagi-lagi lemparan bantal melayang. Keduanya tertawa terbahak.
"Gagal sedih gueee jadinyaa"pekik Rico
"Aneh, ngarep banget sedih sih" tawa Angga meninggalkan Rico sendiri di gazebo.
Rico masih tertawa. Ternyata patah hati itu rasanya sakit, tapi menyenangkan. Seperti ada penyeimbang rasa dalam hatinya. Dia terdiam. Selama ini dia selalu tidak peduli perasaan para wanita yang didekatinya. Rasa sombong bahwa semua wanita yang dia suka pasti takluk, selalu itu yang tertanam di hatinya. Saat ini dia merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya.
Kali ini bahkan dia belum berani mengungkapkan perasaan, hati sudah patah.
Dilihatnya jam di tangan kirinya, jam 22.05. Segera dia beranjak menuju kamar tamu di lantai bawah. Lebih baik dia segera tidur. Besok pagi akan jalan pagi dan main catur dengan Om Dharmawan.
__ADS_1
***