
Wini pergi dari kursinya. Dia memilih keluar ruangan dan pergi toilet merapikan make upnya. Menghindari Jamie dan Angel supaya tidak melihatnya. Dia malas terlibat percakapan apapun dengan mereka. Wini sebenarnya tidak masalah dengan kemesraan yang mereka tampilkan, hanya saja dia menghindari Angel yang kerap kali berbicara tidak baik kepadanya. Perempuan itu bahkan selama ini menerornya untuk cepat-cepat meninggalkan Jamie.
"Heeeii..bukankah ini miss Wini yang innocent?"Suara cempreng yang amat tidak disukai Wini terdengar di sampingnya di arah pintu keluar
"Woow, jadi kamu bridesmaid? kamu temannya sang pengantin wanita?" suara cempreng itu lagi.
"iya, saya temannya peongantin wanita" sahut Wini tanpa menoleh. Dia tahu itu suara Angel.
"O iya. Selamat ya atas status baru kamu. Saya turut berbahagia atas perceraian kalian" Angel menyodorkan tangannya. Wini menyambutnya.
"Terimakasih" sahut Wini, tetap berusaha tidak terpancing emosinya.
"Kamu sendiri saja?"Angel mulai nyinyir. Matanya melihat lihat sekitar, seolah mencari pendamping Wini.
"Bukan urusan kamu" sahut Wini datar.
"Honey, look...siapa di sini?" Angel memanggil Jamie. Jamie yang baru saja tiba di dekat mereka nampak terperangah melihat Wini.
"Heeeii, Kamu di sini juga?" tanyanya dingin. Tangannya memeluk pinggang Angel erat. Seolah mau memamerkan kemesraan. Wini pura-pura tak melihatnya.
"Dia bridesmaid. Dia sahabat mrs. Curtis junior" Angel yang menjawab.
"Oh yaaa?" Jamie memastikan Kepada Wini, seraya melihat gaun yang dipakai Wini. Memang sama dengan beberapa bridesmaid di dalam ruangan pesta.
"Sendiri saja? belum dapat penggantiku? cepatlah move on" Ucap Jamie disambut tawa Angel.
Wini hendak melangkahkan kaki menghindari mereka.
"Dia bersama saya" Suara setengah serak terdengar jelas di telinga Wini, bersamaan dengan sebuah genggaman di tangannya.
Wini menoleh. Wajah itu.....
"Akhirnya kita berjumpa lagi setelah sekian lama." Rico berkata pada Jamie.
Jamie nampak terkejut dengan kehadiran Rico. Begitu pula Angel.
"Senang bertemu lagi" Rico menepuk pundak Jamie pelan.
"Tuan Hoover? Anda di sini?"Angel menatap tidak percaya.
__ADS_1
Rico menatap Angel sambil memicingkan mata. Dia tidak mengenal perempuan ini.
"Saya bekerja di hotel Hoover Surabaya. Dua tahun yang lalu bertugas di Jakarta" Angel menjelaskan.
"Ooh begitu" sahut Rico basa basi.
"Saya teman dekatnya tuan Curtis. Kebetulan Nona Wini juga sahabatnya Nona Lily." jawab Rico.
"Oh iya kami mau menemui pengantin. Tadi mereka mencari kami untuk sesi foto bersama. Sampai bertemu lagi, Jamie" ucap Rico Lalu membawa Wini pergi dari hadapan mereka.
"Kamu kenal dia?" Angel dan Jamie bertanya bersamaan. Jamie menghela nafas.
"Sempat satu SMA sewaktu di Bandung, tapi hanya sebentar saja. Karena aku pindah ke Jakarta" jawab Jamie singkat.
"Kamu kenal dia dimana?" Jamie menatap Angel curiga. Dia tahu seberapa hebat Rico menaklukan wanita, siapa tahu Angel adalah salah satu wanita yang pernah ditaklukan juga.
"Dia salah satu CEO di hotel Hoover tempatku bekerja. Tapi dia memegang hotel di Jakarta, yang di Surabaya dipegang kakaknya" jawab Angel.
Seketika dia sadar, hotel tempat acara ini pun hotel Hoover group. Tentu saja, bukannya tuan Curtis adalah temannya. Pastilah memilih hotel milik tuan Hoover untuk mengadakan pesta pernikahannya.
Aaah..tiba-tiba rasa kesal menyeruak di hatinya. Bagaimana mungkin perempuan kampungan itu bisa dekat dengan seseorang dari keluarga Hoover?dia memaki dalam hati.
***
"Minumlah" Rico meletakan botol air minerel yang sudah dia bukakan di hadapan Wini. Mereka sudah duduk di kursi pada meja khusus bridesmaid dan groomsmen.
"Terimakasih" Wini meminum perlahan langsung dari botol. Dia sampai lupa untuk menuangkan air ke dalam gelas.
"Dia mantan suamiku. Yang perempuan, istri barunya" ucap Wini tanpa ditanya. Rico bahkan tidak bertanya apa-apa. Khawatir membuat Wini tersinggung. Dia tadi tidak sengaja mendengar percakapan Wini dan dua orang itu. Karena dia memang mengikuti Wini sedari tadi.
Wini masih menunduk.
"Maaf kan saya. Tadi hanya bermaksud menolong kamu"ucap Rico.
" Tidak, apa-apa. Aku justru sangat berterimakasih"ucap Wini.
"sama-sama" sahut Rico. Kali ini dia membantu menuangkan air dari botol ke dalam gelas. Lalu memberikan gelasnya kepada Wini. Wini meminumnya.
"Aaah...terimakasih" Wini baru sadar setelah air di gelasnya habis.
__ADS_1
Rico sebenarnya sudah mencari tahu tentang Wini beberapa hari ini. Wini baru resmi bercerai tiga hari lalu. Kemungkinan besar Wini dan mantan suaminya menikah karena dijodohkan orangtua. Dan mantan suaminya berselingkuh lalu menikahi perempuan lain. Mantan suaminya adalah Jamie, teman sekolah Rico yang pernah terlibat masalah dengannya saat masih satu sekolah di Bandung.
Wini tinggal di sebuah apartemen di daerah permata hijau, Jakarta Selatan. Wini pernah bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta menjabat sebagai asisten manajer public relation, dan sudah berhenti bekerja sejak satu bulan yang lalu. Orangtuanya memiliki peternakan sapi dan beberapa minimarket di daerah Bandung dan Garut.
Namun beberapa minimarketnya sudah tutup karena sepi. Peternakan sapinya juga sedang mengalami masalah belakangan ini karena banyak sapi yang sakit dan mati. Wini memiliki seorang adik yang masih kuliah di Australia.
Hhmmm selengkap itu data yang dia dapatkan dalam beberapa hari ini. Entahlah dia tidak bisa melupakan pertemuan pertamanya dengan Wini. Dia sangat penasaran dengan Wini.
"Aku mencarimu tadi, darimana saja?" Anna duduk di samping Wini.
Rico meraih botol air mineral di hadapan Wini, lalu menutupnya. Karena tadi setelah dia membukakan tutup botolnya, dia lupa masih tetap menggenggam tutupnya di tangannya.
Anna menatap Rico dan Wini bergantian. Wini koq tiba-tiba dapat pria bule. Addduuh, Anna jadi ketakutan. Karena Wini kan sedang galau pastinya saat ini. Khawatir pria ini nanti manfaatkan Wini.
"Temannya Lily juga?" tanya Rico kepada Anna yang bengong.
"Iya. temannya Lily. Nama saya Anna" Anna memperkenalkan diri.
"Saya Rico. Temannya Angga, kakaknya Lily."ucap Rico.
"Sebentar lagi penutupan acara. Mari kita bertemu pengantin" Ajak Rico kepada Wini dan Anna.
Anna mencolek pinggang Wini seolah bertanya ada hubungan apa. Wini menepisnya seraya menggelengkan kepala. Isyarat bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa dengan pria bernama Rico tersebut.
"Yaa ampuun. Kamu tuh ya, dicariin sama Mami papimu. Ditelepon tidak diangkat pula" Rachel muncul sambil mengapit tangan Rico dengan kesal.
Wini tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya. Aah, kenapa mesti cemburu. Mungkin wanita itu kekasihnya. Siapalah aku. Pikir Wini. Anna yang masih belum hilang rasa bingungnya, semakin bertambah bingung melihat Rachel yang tiba-tiba menggandeng Rico.
"Kenalkan, ini Rachel. Sepupu saya. Rachel, ini Wini dan Anna, sahabat-sahabatnya Lily" Rico memperkenalkan mereka.
"Haaai. Waaah kalian cantik-cantik sekali. Rico tahu saja kalau yang bening ya." Rachel menyalami keduanya dengan hangat.
"Walaupun tampangnya seperti playboy. Tapi dia berhati baik" Ucap Rachel sambl setengah berbisik. Tapi sengaja supaya Rico mendengarnya.
Rico hanya tertawa mendengar ucapan sepupunya itu.
Wini seketika merasa lega. Ooh ternyata sepupu, ucapnya dalam hati. Eh, tapi apa hubungannya dengan dirinya. Kembali dia menepis perasaan aneh yang muncul di hatinya.
***
__ADS_1